
i
Dering ponsel pintar membangunkanku dari bunga-bunga tidur. Aku mengambil posisi duduk, mengatur napas, dan mengucek mata. Lalu melihat siapa yang menghubungiku.
"Nomor tidak dikenal. Mungkin aja penting."
Kujawab panggilan itu. "Hallo," sapaku.
"Akhirnya bisa dihubungi, juga." jawab suara seorang wanita.
"Apa mesti kumatikan?" pikirku.
Belum sempat aku membuat kesimpulan, suara itu kembali menyaut. "Di mana kamu?!" seru suara di sana.
"Ini siapa, ya?" Aku balik nanya.
"Clara. Kamu di mana?!" Dia mengulang pertanyaannya.
Oh.... "Mesh,"
"Hmmm...." gumamnya. "aku tunggu kamu jam sembilan malam di—"
"Kenapa minta ketemunya malem?" tanyaku menyerobot.
Kudengar dia mendengus. "Emang kamu pikir, sekarang jam berapa?!" Dia membentak.
Kulihat ke arah arloji di lengan kananku. Dan aku tersentak. Jam delapan malam! Sudah berapa lama aku tidur?
"Udah, pokoknya aku tunggu di Cafe Jangkung jam sembilan. Nanti aku kirim alamatnya." ujarnya tergesa-gesa.
"Gimana kalo besok aja?" Aku mencoba menawar.
"Aku besok ke luar kota, sampe seminggu. Udah ga ada waktu lagi. Kalo kamu mau, kamu bisa nunggu aku terus bayar dendanya." Dia menjelaskan.
"Iya, aku tunggu di jam sembilan." kataku terpaksa.
"Oke," jawabnya lalu menutup telfon.
Aku menghembus napas panjang. Merasa sangat malas untuk menemui dia, apalagi malam-malam begini. Kalau saja aku tidak ketiduran, kalau saja aku tidak tidur kelamaan, dan kalau saja dari awal bukan Clara pasanganku menulis pasti tidak akan semerepotkan ini.
Sambil menggerutu nasib jelekku, aku bangkit dari ranjang lalu bebersih diri dan melaksanakan qadha 4 shalat fardhu yang sudah kutinggalkan.
Qadha di sini berarti melaksanakan shalat setelah batas waktu yang ditetapkan. Ini hanya boleh dikerjakan dalam kondisi tertentu.
Kondisi pertama, telat mengerjakan shalat di luar kesengajaan. Seperti ketiduran, atau kelupaan, kemudian baru sadar setelah waktu shalat sudah lewat. Dalam kondisi ini, orang itu diwajibkan untuk segera melaksanakan shalat setelah dia sadar.
Dalil ketentuan ini adalah hadis dari Anas bin Malik, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang kelupaan shalat atau tertidur sehingga terlewat waktu shalatnya, maka penebusannya adalah dia segera shalat ketika dia ingat." (HR. Bukhari dan Muslim).
Nah, dari hal ini, sangat sesuai dengan kondisiku sekarang. Aku tidak sengaja ketiduran dan melewatkan 4 waktu shalat fardhu, jadi aku bergegas untuk menebus dengan shalat.
Mengqadha empat waktu shalat juga pernah dipraktikkan oleh Rasulullah Saw. saat terjadi perang yang membuat beliau meninggalkan 4 waktu shalat, yaitu Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya ketika berkecamuk perang Khandaq di tahun kelima hijriyah.
Dari Nafi’ dari Abi Ubaidah bin Abdillah, telah berkata Abdullah: "Sesungguhnya orang-orang musyrik telah menyibukkan Rasulullah Saw. sehingga beliau tidak bisa mengerjakan empat shalat ketika perang Khandaq hingga malam hari telah sangat gelap. Kemudian beliau memerintahkan Bilal untuk melantunkan adzan diteruskan iqamah. Maka Rasulullah Saw. mengerjakan shalat Dzuhur.
Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Maghrib. Dan kemudian iqamah lagi dan beliau mengerjakan shalat Isya." (HR. At-Tirmizy dan AnNasa’i).
Selanjutnya, untuk kondisi kedua dan ketiga kalian bisa mencari tahu sendiri dengan belajar bersama Ustadz atau Ustadzah, jangan asal nyari di Mbah Google. Nanti bisa-bisa salah paham lagi.
Aku juga tidak perlu menuliskan secara detail karena buku ini tentang kisahku bukan penjelasan-penejelasan agamis secara merinci.
Kalau di antara kalian ada yang tidak menyetujui caraku beribadah, aku harap kalian bertindak secara bijak dan tetap memegang teguh keyakinan kalian tanpa memaksaku untuk sesuai dengan keyakinan kalian.
Karena selama ini, aku beribadah berdasarkan keyakinanku yang sudah ada keterangan jelas sumber dan sanadnya. Yang tentunya aku dapatkan dari guru-guruku, baik di sekolah maupun di pondok.
Oke, berhenti berdebat, kita lanjutkan ceritanya.
🌹🌹🌹
ii
Aku sampai di tempat yang Clara tunjukkan, tapi aku tidak menyangka kalau dia mengajakku ke tempat seperti ini, Cafe maksudku.
Dari dulu, aku dan Lutfi selalu menghindari tempat-tempat yang remang seperti Cafe karena kebanyakan anak-anak nakal suka main di situ. Dan, mungkin saja Clara itu termasuk wanita nakal, atau memang kebiasaan orang Jakarta nongkrong di Cafe?
Hmmm.... dengan berat hati, aku melangkah masuk. Kemudian salah seorang pelayan membukakan pintu dan melempar senyum ramah sambil menyilahkan: "Selamat datang di Cafe Jangkung, silahkan. Untuk berapa orang?"
"Apa semua cafe kayak gini?" pikirku. "Aku nyari orang," Aku berkata.
"Teman atau pasangan?" tanya pelayan lagi.
Aku bingung menjawabnya. Maksudku Clara bukan temanku. Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya. Tapi.... "Rekan kerja," Ya! Itu adalah jawaban yang paling tepat menurutku.
__ADS_1
"Re-rekan kerja?" Si Pelayan nanya membuatku bingung. "Maaf sebelumnya dengan siapa, ya?"
"Hmmm...." gumamku. "Danu Banu,"
"Oooh.... baik, mari saya antarkan." ajak pelayan.
Aku menyetujuinya dengan anggukan. Melangkah di belakang pelayan. Kemudian kulihat seorang wanita duduk di meja bundar dengan diameter kurang lebih 50 cm dan kursi saling berhadapan.
"Silahkan," kata pelayan ramah.
Aku mengangguk, kemudian pelayan pergi dan melaksanakan tugasnya, lagi.
"Tepat waktu," ujar Clara mengejutkanku yang sedang sibuk mengamati isi cafe. "Silahkan duduk."
Aku menggeleng. Lalu meletakkan surat pernyataan pengunduran kontrak di atas meja. "Silahkan ditandatangani," ucapku sambil menaruh bolpoin di atasnya.
Dia menerima, membaca, dan menutupnya. "Aku mau tandatangani ini, kalau kau mau duduk terus jelasin alasanmu nolak buat nulis bareng aku."
Aku mengalihkan pandangan, memunggunginya. Sangat tidak ingin duduk berdua dengan dia, apalagi kalau sampai ada orang yang menganggap kami sedang berkencan. Jangan sampai!
"Tio sama Mas Beni, ga bilang apa-apa?" Aku nanya tanpa menghadap ke arahnya.
"Aku ingin dengar langsung darimu,"
Mendengar jawaban Clara barusan membuatku makin sebal, dan merasa percuma kalau tidak menurutinya, hanya akan membuat waktuku makin lama dengannya. Jadi, aku membalik badan, menghadapnya. Meski mataku melihat ke arah lain.
"Duduk, ga enak ngobrol sambil berdiri."
Aku mendengus kesal. Menarik kursi dan membanting diri di atasnya.
"Mau pesan apa?" Dia menawarkan.
Tidak kutanggapi. "Aku masih ada perlu, jadi tolong cepat tandatangani surat pernyataan itu."
Dia menghembus napas. Meminum pesanannya. Lalu aku bisa merasa kalau dia sedang menatapku tajam. "Jelaskan," pintanya. "ada salah apa aku sama kamu? Sampe-sampe kamu nolak buat nulis bareng aku."
"Ga ada alasan khusus, aku emang ga suka nulis bareng cewek, selain Lutfi." Aku menjelaskan.
"Lutfi?" Dia nanya.
"Iya. Tunanganku,"
"Tunanganmu? Kamu udah tunangan?!" tanyanya sedikit berseru.
Dia tersentak, lalu menandatangani surat pernyataan itu. Kemudian memberikannya kepada aku.
Kuterima, dan aku cek isinya. Benar apa tidak sudah dia tandatangani. Aku tidak mau kalau harus kembali menemuinya, untuk kali kedua. Apalagi dengan kondisi yang sama seperti sekarang.
"Udah aku tandatangani, kok."
Tidak kutanggapi. Aku bangkit dan terkejut setelah mendengar suara seorang pria berteriak: "Kak Gilang!" Suara itu jelas kukenal. Itu milik Adit. Dia adalah muridku dan Lutfi. Aditia Yuda Kartika, namanya.
Dulu sewaktu SMA kami mengajar Adit dan teman-temannya untuk berlatih pramuka di SD-nya. Dan kebetulan, Adit ini sangat dekat dengan kami. Bahkan kami sendiri sudah menganggap Adit sebagai seorang adik. Ya, meski tingginya mencapai 182 cm atau lebih malah.
Kalian tahu lah maksudku. Masa iya adik lebih tinggi dari kakaknya? Namanya adik, harusnya lebih kecil, kan?
"Kak Gilang ngapain di sini?!" Dia nanya tapi membentak marah. "Sama cewek lagi. Oooh.... jangan-jangan,"
Belum sempat aku menjawab, Adit sudah kembali berseru: "Kak Gilang selingkuh, ya?!" Sambil menggebrak meja.
Aku tersentak mendengarnya. Bangkit, dan berdiri di hadapannya. "Jangan sembarang kamu Dit!" kataku menyangkal pernyataan Adit.
"Sembarangan gimana?! Buktinya ada kok. Kak Gilang lagi duduk berdua sama cewek ini. Mentang-mentang Kak Lutfi lagi ilang, jadi gini, ya? Seenaknya sendiri! Kencan sama cewek lain!" Dia masih berteriak-teriak.
Tidak biasanya Adit begini. Maksudku Adit yang kukenal tidak pernah marah, bahkan dia tidak pernah sekalipun membentak aku. Tapi kali ini, dia berubah menjadi orang lain. Menjadi pria yang tidak kukenal.
"Apa aku emang udah buat kesalahan yang fatal?" pikirku.
"Aku lagi ngurus kerjaan, Dit. Novel." kataku mencoba menjelaskan.
"Mana ada, orang ngurus kerjaan di Cafe, malem-malem lagi!" Dia menyangkal dengan masih bernada tinggi.
"Ah, ya.... ini semua salahku, gara-gara aku ketiduran dari pagi sampe malem, aku jadi harus ke cafe malem-malem." bisik hatiku.
"Apa iya, ga ada waktu lagi?! Sampe harus ketemu malem-malem di cafe. Cafe itu kebanyakan tempat buat orang-orang nakal. Buat remaja yang lagi nyari pasangan. Kak Gilang malah sengaja main ke cafe."
Mendengar pernyataan Adit barusan sebenarnya aku ingin membentak: "Lah.... udah tau gitu, ngapain kamu ke cafe juga? !" Tapi itu hanya bersuara di dalam hatiku saja. Tidak sampai keluar lewat mulut.
"Dit," kataku sambil menepuk pundaknya. "aku bakal jelasin. Kamu ga usah teriak-teriak. Ga enak sama pelanggan yang lain, sama yang punya cafe juga."
"Aku yang punya cafe!" serunya membuatku kembali terkejut.
__ADS_1
"Kamu sekarang jadi bos cafe?" Aku nanya dengan penuh rasa bangga.
"Iya! Kenapa?! Ga percaya?!" Dia masih membentak.
Aku tergelitik. Menyalaminya dan mengucapkan selamat. "Waaah.... selamat Dit. Aku ga nyangka kamu sekarang punya usaha sendiri. Aku bangga sama kamu, Dit."
"I-iya Kak, makasih." katanya dengan nada yang lebih rendah kali ini. "Eh, bentar dulu! Jangan ngalihin topik, ya?! Ini siapa?!" Adit kembali membentak membuatku jengkel.
"Ah.... nyebelin!" Hatiku menggerutu.
"Gue Clara," ujar dia mendahuluiku. "kenapa lo sewot?! Dateng-dateng langsung nyolot." Wanita itu bersua seakan mengibarkan bendera dimulainya perang.
"Serah aku lah! Mulut-mulutku! Lah, kamu ngapain selingkuh sama Kak Gilang?! Dia udah punya tunangan! Jangan deket-deket!" gerutu Adit.
"Gilang?" Clara nanya. "Gilang siapa?"
"Lah ini Kak Gilang!" Adit masih berseru.
"Gue kenalnya Danu, bukan Gilang!" Clara mengelak.
"Ini maksudnya apa, sih?!" Adit nanya ke aku. "Pake nama samaran segala! Kak Gilang bener-bener kurang ajar, ya?! Berani-beraninya khianatin Kak Lutfi!"
Aduh.... "Ini semua salah paham, Dit. Aku bisa jelasin." kataku mencoba menenangkan dia.
"Ga ada yang perlu dijelasin lagi!" bentaknya. Adit benar-benar memasang wajah murka. "Semuanya udah jelas banget! Kak Gilang main sama cewek lain, malem-malem, terus kenalannya pake nama samaran. Itu udah bener-bener keterlaluan banget, Kak!"
"Kami ga ada hubungan apa pun, Dit." ujarku menerangkan. "Kamu bisa nanya sendiri ke orangnya langsung, kalo kami emang ga ada hubungan apa pun."
Adit menatap tajam ke arah Clara.
Wanita itu tertunduk. "Ka-kami.... kami emang ga ada hubungan apa pun,"
"Nah, kan...." bisik batinku.
"Tapi, aku suka sama kamu Danu!" Clara berseru membuatku syok.
"Hah?!" Aku kaget.
"Tuh kan, aku bilang juga apa?! Kak Gilang selingkuh!"
"Dia emang suka sama aku, tapi bukan berarti aku jadi selingkuh sama dia, Adiiit!!!" Hatiku menggeram.
Aku tidak bersuara bukan tanpa alasan. Badanku sudah mulai lemas. Tenggorokanku kering, dan sangat sakit ketika digunakan buat ngomong. Jadi, aku lebih banyak diam.
"Danu, aku suka sama kamu! Aku bener-bener udah lama suka sama kamu." Clara kembali berseru.
"Diam kamu wanita perusak suasana!" Hatiku membentak. Ingin rasanya aku membungkam mulutnya yang merah akibat kebanyakan memakai lipstik.
"Tunanganmu pergi. Ya udahlah, lupain aja dia! Masih ada aku di sini yang peduli sama kamu Danu."
"Dasar wanita kurang ajar!" geram Adit sambil menyiram kepala Clara dengan minuman di atas meja.
Aku terkejut, tapi tidak banyak bertindak. Lebih tepatnya aku mematung akibat nyeri punggung yang menjalar hebat ke seluruh tubuh.
Benar! Seperti kaku, mati rasa.
Splak!
Clara membalas cepat dengan menampar pipi Adit lalu bilang: "Kamu yang kurang ajar!" Kemudian menarik tanganku. "Danu, ayo pergi dari cafe gila ini."
Adit dengan sigap menghentikannya. "Kamu yang pergi kamu dari sini!"
Clara masih mengarahkan pandangannya ke arahku.
"Aku bilang: 'Pergi dari siniii!!!'" bentak Adit keras dan lantang. Menggema ke seluruh ruangan dan pastinya menyebar ke segala tempat di sekitar cafe miliknya.
Dengan wajah terpaksa, Clara mengambil tas milinya dan pergi meninggalkan cafe. meninggalkan aku begitu saja setelah dia menimbulkan kesalahpahaman yang luar biasa.
"Ah, dia benar-benar membuatku repot." Hatiku kembali bersua.
Adit mengarahkan kedua bola matanya yang melotot kepadaku. "Jelaskan, Kak!"
Aku diam. Tidak sanggup menjawab.
"Jelaskan, Kak!" Dia membentak dengan suara yang lebih keras.
Adit mengangkat kerah bajuku kuat-kuat ke atas dengan wajah penuh marah. "Aku bilang: "Jelasiiin!!!" serunya persis seperti saat dia menjadi pemimpin upacara 17 Agustus di tingkat Kecamatan.
Keras, menggelegar, dan membuat penging.
Aku ingin sekali menjawab dan menjelaskan segala kesalahpahaman ini kepadanya, tapi apa daya, tubuh tidak dapat kukontrol. Dan....
__ADS_1
Brug!
Tinjunya mendarat tepat di pipi kananku. Membuatku terpental menubruk meja hingga kayu itu rusak parah. Selanjutnya dalam pandangan yang mulai kabur, aku melihat orang-orang mendekat. Sebagian pelayan menjagal Adit supaya tidak melanjutkan aksi heroiknya. Sedang aku pingsan.