
i
Setibanya di Kebumen, aku ingat waktu itu pukul setengah sembilan pagi, kami hampir mendekat ke arah jalan masuk pantai Menganti yang memang sangat menanjak. Dan di pos awal, seperti biasa—kata warga setempat—penumpang bus harus turun dan jalan sejauh kurang lebih 10km untuk mencapai pantai Menganti.
Meski sebenarnya waktu itu masih belum dibuka untuk wisata, hanya sebagai pelabuhan bagi para nelayan. Tapi berhubung ada siswa dan guru SMAN Purwokerto yang berasal dari Kebumen, menyarankan untuk tafakur alam ke tempat itu, dan sudah mendapat izin dari pengurus desa setempat.
Jadi, secara bergiliran bus mengeluarkan para penumpangnya, untuk kemudian bus pergi ke lahan lebar milik warga setempat sebagai tempat parkir.
Motor Gilang terus melaju, mendahului siswa-siswi SMAN Purwokerto yang baru saja jalan paling 5km.
Aku dapat memastikan raut wajah mereka iri dengan kami, terlebih Gilang sengaja memelan dan bertanya kepada mereka—teman kelas X-11, “Jadinya jalan?”
Tapi tidak mendapatkan respon apapun kecuali seruan sinis.
Aku juga lihat Gyan dan Bu Yuni tampak kelelahan. Merasa tidak tega, aku meminta Gilang untuk mencari cara supaya bisa membantu mereka.
Lalu, Gilang mengunjungi rumah warga setempat agar mau jadi tukang ojeg. Total ada tiga tukang ojeg yang akhirnya memboncengkan Ateg, Gyan, dan Bu Yuni. Sedang lainnya, kata Gilang, dibiarkan saja, supaya bisa memeriahkan kegiatan yang mereka agungkan.
Aku tahu maksudnya, kalau mereka seakan mengutamakan ke pantai lebih dari apapun.
Sampai di pantai, semua turun dari tukang ojeg—dulu masih belum ada gerbang utama untuk membayar tiket masuk. Gilang membayar ketiga ojeg tadi.
Aku sungguh tidak tahu, berapa banyak uang yang dia bawa waktu itu, aku juga ga mau tahu. Karena bagiku, yang terpenting, aku sama Gilang.
Selanjutnya kami berpisah setelah mereka berterima kasih dan memberikan doa supaya kami lekas jadi pasangan. Aku juga tahu, kalau Bu Yuni menantikannya. Jelas dari raut wajahnya.
Tapi, Gilang malah bilang: “Kami udah jadi pasangan, lihat, kami cuma berdua, kan?”
Semua pada ketawa, aku juga. Kadang emang dia tingkahnya kayak anak kecil. Polos, lucu, nggemesin.
🌹🌹🌹
ii
Sebelum kulanjutkan ceritanya, aku ingin menulis sedikit tentang pantai Menganti, agar kau memiliki gambaran tentang tempat itu, tepatnya saat tahun 2010.
Pantai Menganti memang masih tergolong baru, dan baru dibuka tahun 2011 untuk wisatawan. Sebelumnya, hanya sebagai pelabuhan bagi para nelayan. Tapi tidak jarang bagi warga Kebumen, tahu akan pesonanya.
Panorama alamnya selain pantai dengan pasir putih, ada juga terumbu karang yang masih asri, serta perbukitan Kars. Tak heran, kalau pantai Menganti mendapat julukan sebagai Hawainya Indonesia. Memang beberapa tahun ke depan, pantai Menganti menjadi salah satu tujuan utama bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kebumen.
Kalau kamu mau ke sana di tahun 2019, setidaknya harus merogoh kocek Rp. 12.500,00 atau sekitarnya. Dan harus siap buat menempuh jalan berkelok yang naik turun.
Tapi tenang, aset untuk menuju ke sana, sekarang sudah bagus, tidak seperti dulu yang jalannya tidak menentu, kadang batu kerikil, kadang tanah biasa.
Oya, aku juga dengar, kalau ada cerita di balik pengambilan nama “Menganti”. Sebenarnya kamu juga bisa searching lewat google, tapi supaya lebih afdol akan kutulis saja.
Dulu kala, seorang panglima kerajaan Majapahit melarikan diri ke daerah pesisir Selatan Jawa Dwipa, karena memiliki hubungan dengan kekasih yang tidak direstui oleh Raja.
Mereka kemudian berjanji untuk bertemu di tepi samudra yang memiliki pasir putih nan indah.
Sepanjang hari, panglima menanti pujaan hatinya di atas bukit kapur, sambil memandang laut lepas. Sayangnya, yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.
Dari penantian itulah muncul sebutan Menganti, kalau bahasa Inonesanya, ya, “Menanti”.
Tapi ada versi lainnya juga. Yaitu, sebuah persahabatan antara Syekh Maulana Malik Ibrahim—salah satu wali songo—dengan Syekh Subair.
Keduanya melakukan perjalanan untuk menyebarkan agama Islam, tapi perjalanannya dilakukan secara terpisah.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah itu, pantai Menganti memang menjadi tempat penantian yang paling menentramkan dengan panorama sekitar dan pantai yang indah.
Di tahun 2011, aku juga dengar kalau, pantai Menganti pernah dijadikan sebagai tempat ajang lomba selancar nasional.
Oya, kalau kamu mau menikmati keseluruhan dari keindahan pantai Menganti, kamu bisa pergi ke mercusuar yang ada di puncak bukit. Tingginya 20m, dulu dibangun Belanda tahun 1912-1915. Ga tahu sekarang masih boleh dipakai apa engga.
🌹🌹🌹
iii
Gilang menghentikan motornya di dekat pohon kelapa yang tingginya paling dua setengah meter, tepat menghadap pantai.
Aku segera melepaskan helm. Terasa angin menyeka kulitku dengan lembut, aku juga mendengar debur ombak seakan memberi ucapan selamat datang untuk kami berdua. Selanjutnya aku melepaskan jaket dan menaruhnya di atas motor, persis seperti yang Gilang lakukan.
Kulihat dia mengeluarkan sebuah kamera dari dalam ranselnya. Katanya, baru beli, buat foto-foto aku. Dia juga mengambil minuman dan keresek hitam panjang yang dia dapat dari toko bunga, serta dua tentengan warna putih, entah apa isinya. Tapi tetap menggendong tas miliknya.
Sebenarnya aku senang bercampur malu mendengarnya, tapi yang kulakukan justru memukul pundaknya, eh, Gilang ketawa.
Selanjutnya, kami duduk sejajar di atas batang pohon kelapa yang tumbang, dengan sesekali Gilang memotret keindahan pantai maupun diriku.
“Minum dulu.” katanya.
Aku menerima botol minum yang sudah dibuka penutupnya, kemudian menyerahkannya kembali kepada Gilang, agar dia juga ikutan minum.
Selanjutnya kami menikmati pemandangan pantai, pasir putih yang menjadi tumpuan bagi kaki, angin laut yang menyeka kulitku dengan lembut, hembusannya tenang namun cukup keras didengar telinga. Aku juga lihat banyak burung berterbangan.
Ketika menoleh ke arah belakang, aku bisa menikmati keindahan bukit yang tinggi nan hijau. Ada juga sebuah air terjun di sana.
Indah banget pokoknya, terlebih karena di sini aku bersama Gilang yang mengidolakanku dan mencintaiku. Hihihi.
__ADS_1
Kulirik ke arah Gilang, tampak senyum merekah di wajahnya. Tapi aku yakin, di balik senyuman itu, tersimpan berjuta rasa sakit, lelah, dan segala hal tidak mengenakkan lainnya.
Mendadak aku jadi penasaran dengan yang dia lakukan pas di Jakarta, sama khusnya tadi pagi, yang sampai bikin kedua orang tuaku memasrahkan aku pergi dengannya. Akhirnya aku nanya: “Pas Jumat kemarin, kamu sampai Jakarta jam berapa?”
Gilang menengadah kepala, sepertinya berusaha lebih menikmati hembusan sang angin. “Hmmm.... sekitar jam enam. Abis itu ngojek sampai ke Monas, baru di sana aku dijemput Pak Zurri pakai mobilnya.”
“Kamu ga sarapan?”
Gilang menatapku lalu ketawa. “He, engga.”
Aku memukul bahu kirinya. “Kebiasaan.”
“Maaf.”
“Jangan diulangin! Makan itu juga penting, tahu!”
“Yaaa.... kalau ada yang ingetin.” katanya seakan memberi kode agar aku mau jadi pengingat untuknya.
“Ya tinggal minta.” kataku menanggapi harapannya.
“Oke. Fi, kamu mau ga, terus ngingetin aku buat makan?”
“Heh?! kok, aku?”
Nah kan, beneran minta ke aku. He he he.
“Aku maunya kamu, gimana?” tanyanya serius.
“Emang kamu mau bayar aku berapa?” tanyaku meledek.
Jujur, aku bakal marah kalau Gilang jawabnya, dibayar pakai cinta. Kalau kayak gitu, bagiku dia lagi gombal, ga ada bedanya sama cowo lain. Dan, untungnya, Gilang menjawabnya beda, dan jawabannya itu baru pertama kali kudengar selama enam belas tahun hidup di dunia.
“Nafkah mingguan, uang jajan harian, sama uang belanja bulanan.”
“Hah?!” Aku kaget bercampur bingung harus jawab apa. Soalnya, aku tahu, yang biasa ngasih begituan, ya, suami.
“Iya.” jawabnya dengan tetap tenang. “Kamu ga mau? Padahal Ayahku ngasih jatah ke Mamahku kayak gitu.”
“Terus, ma-maksudnya?”
Dia senyum membuatku kehabisan kata-kata. Rasanya seperti, aku diajak nikah secara tidak langsung.
Aduuuh.... aku bisa pingsan saking bahagianya. Terlebih, untungnya, entah bagaimana, sakitku yang sebelumnya cukup membuatku dan kedua orang tuaku repot, kini sudah tidak terasa.
Gila! Gilang memanglah obat paling manjur untukku.
Menghembus napas, mengalihkan pada hal lainnya. “Terus, abis itu, ngapain aja di Jakarta?”
Matanya masih terasa sangat tajam menatapku. Cukup lama dia diam, namun akhirnya menjawab juga. “Cuma buat launching novel, itu bukuku, sama tanda tangan buku-buku para penggemar, terus ambil pesananku, baru mampir shalat Jumat.”
“Pesanan apa?”
“Ini.” kata Gilang seraya menyerahkan bingkisan di tangan kanannya.
“Oleh-oleh, ya?” tanyaku meledek.
Gilang ketawa. “Udah pesen lama, sih, tapi baru jadi kemarin.”
“Terus, abis shalat, kamu pulang?”
“Iya, tapi nunggu jam dua sore. Soalnya tiketnya, adanya mulai jam segitu.”
“Oooh.... sampai rumahnya jam berapa?”
“Sekitar jam sepuluh malam, lah.”
Aku tersentak mendengarnya, karena langsung terbayang bagaimana lelahnya dia kemarin, dan sekarang tetap mau memboncengkanku ke pantai Menganti, yang jaraknya juga ga dekat, butuh 1 jam 40 menit dari SMAN Purwokerto.
Sungguh, aku senang, Gilang terus berjuang demi memenuhi keinginanku. Terlebih tadi pagi, dia sudah menjemputku gasik, atau mungkin lebih gasik.
“Kamu, sih, di rumahku dari jam berapa?”
Gilang menggumam, memejam sambil menenga-dah kepala, lalu menatapku. “Abis shalat Subuh.”
Deg! Mendadak aku seperti diberitahu kalau dia sampai lebih gasik dari itu. Iya, aku berpikir begitu karena sebelumnya, Gilang bilang, kalau masih belum tahu di mana rumahku. “Jujur, kamu nyari rumahku dari jam berapa?”
Dia kaget lalu mengalihkan muka.
“Gilang!” seruku.
Dia menggaruk-garuk kepala dan kembali menatapku dengan bergerak secara perlahan. “Jam.... satu, he.”
“Hah?!” Aku berteriak, kulihat Gilang sedikit berekspresi takut.
“He,” Dia ketawa.
“Kamu berarti ga tidur?”
__ADS_1
“Ya tidur, itu, antara jam sepuluh sampai jam tengah satu.”
Aku sebenarnya hampir meledakkan seluruh air dari kedua mataku, tapi untung saja bisa kutahan. Aku benar-benar tidak menyangka. Gilang butuh begitu banyak perjuangan untuk bisa menemukan rumahku.
“Terus, kok bisa tahu rumahku?”
“Aku nanya ke bapak-bapak yang jadi imam shalat. Dia ga jawab, malah nanya alasanku nyari alamatmu. Ya, aku jelasin, deh, semuanya ke beliau.”
“Se-semuanya?”
“Iya.” jawabnya semangat. “Kenapa?”
“Jangan-jangan....” kataku sangat tidak percaya.
“Iya, bapak-bapak itu, Ayahmu.”
Duar! Sepertinya khayalanku memunculkan ledakan yang teramat dahsyat.
Aku menunduk, sangat terkejut mendengarnya. Itu pasti alasan mereka—Ayah dan Mamah—mengizinkanku pergi sama Gilang.
“Kamu cerita apa aja ke Ayah?” tanyaku akhirnya dengan nada panik.
“Semuanya.”
Aduh! “Tentang apa?”
Wajah Gilang tampak kebingungan, tapi dia tetap menjawabnya dengan cepat. “Soal aku ngidolain kamu.”
Hah?! “Apalagi?”
“Soal kamu bolak-balik telat.”
“Terus?”
“Soal sakitmu.”
“Terus?”
“Soal aku nganter kamu pakai gerobak sampah.”
Hah?! Gila, ya?! “Apalagi?”
“Semuanya. Semuanya aku ceritain. Bahkan aku juga bilang kalau aku cinta sama kamu ke beliau.”
Deg! Rasanya ada sesuatu yang menikam seluruh jiwa ragaku, hingga tak bisa bereaksi seperti sebelum-nya. Di pikiranku sekarang penuh akan pertanyaan: “Bagaimana sekarang? Ayah, Mamah, mereka sudah tahu semuanya. Bagaimana? Apa yang harus kulaku-kan? Apa aku akan dipaksa menjauhi Gilang? Apa aku akan di pindah sekolah?”
Kulihat ke arah Gilang, di wajahnya juga penuh akan penyesalan. Dia juga mengatakannya langsung. “Maaf.”
Aku menghembus napas. Biarlah, lagi pun, semua telah terjadi. Aku juga yakin, mereka tidak akan memintaku menjauhi Gilang, apalagi pindah sekolah. Aku yakin tidak.
Karena nyatanya, setelah Gilang menceritakan semuanya, Ayah justru memberitahukan rumahku kepada Gilang. Mamah juga menyutujui aku pergi dengan Gilang.
Sekarang, aku jadi mikir begini: “Apa mungkin Ayah sama Mamah udah ngerestuin hubunganku sama Gilang?”
Kembali kutatap wajah tampan Gilang dan memberinya senyuman. Tak lama, akhirnya dia tersenyum seperti semula. Mungkin Gilang tahu, kalau aku justru berterima kasih atas kecerobohannya.
“Lain kali, kamu istirahat dulu, ya?” pintaku.
“Aku ga bisa istirahat kalau ga ada kabar tentangmu.” katanya.
Mendengarnya membuatku tersenyum bahagia. Memandang keresek di depanku. Kulihat isinya.
Ada celana hitam, kaos putih sama jaket biru dongker. Tapi aku cuma lihat sekilas.
“Buat aku?” Aku nanya.
Gilang ngangguk. “Dipake sekarang, ya?”
Sebetulnya, aku memang ingin segera memakai-nya, tapi takut Gilang mikir gimana gitu. Dan seakan mengetahui kemauan terpendamku, Gilang segera menarik tanganku dan melangkah.
“Ke mana?” tanyaku.
“WC.” jawabnya.
“Ngapain?”
“Ganti baju, lah.”
“Kan, bisa dipake kapan-kapan.”
Gilang mendadak menghentikan langkah lalu menatapku tajam. “Ga, nanti orang-orang cuma nganggep kita teman sekolah, gara-gara pakai seragam olahraga kayak gini.” katanya dan kembali melangkah tapi tetap menggenggam tangan kananku. “Abis kamu ganti, baru aku. Bajunya couple, biar pada percaya kalau kita ini pasangan.”
Deg! Aku bingung harus menjawab apa. Tapi jujur, aku sangat gembira saat Gilang bilang begitu.
Akhirnya, hari ini benar-benar tiba. Waktu yang kutunggu-tunggu selama ini telah datang. Hari di mana Gilang akan memperjelas hubungan kami.
Aku senang, sangat gembira. Hingga membiarkan diriku terjerat dalam genggaman tangannya yang membuatku merasa aman.
__ADS_1