
i
Siswa yang terpilih untuk berangkat ke Banyumas, mewakili sekolahku menjadi peserta Cerdas Cermat di alun-alun Banyumas, adalah Gyan, Arya, dan Fajar, siswa kelas XI IPA-1 yang selama kelas sepuluh menjadi paralel satu.
Siswa lain boleh ikut kalau mau. Sebenarnya malah dianjurkan untuk ikut, biar jadi suporter. Tapi ada syaratnya, bayar ongkos sendiri buat transpot bolak-bali. Untung saja, karena kelasku kemarin menjadi juara satu, sekolah menggratiskan biaya transpot untuk semua siswa kelas X-11. Ayeeee!
Sebetulnya, aku ingin tidak ikut, karena Gilang juga ga ada. Tapi Gyan dan Ateg, teman-temanku pada ikut, jadi ga mungkin aku tidak ikut juga. Terlebih, kata Gilang, kapan lagi masuk TV? Yaaa.... akhirnya aku ikut deh.
Aku juga sempat nanya sama Gilang, apa launching-nya bakal disiarin di TV. Tapi kata Gilang, engga, paling dipost ke medsos doang.
Aaaah, aku ga sabar pengin liat acara Gilang kayak gimana. Eh, lomba Cerdas Cermat, he he he.
🌹🌹🌹
ii
Untuk bagian lombanya aku singkat saja. Pokonya semua berlangsung persis seperti saat di sekolah. Baik dari ujian pertama sampai terakhir. Sekitar ada 130 sekolah dari SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Banyumas yang mengikuti lomba. Dan, kami sangat bergembira karena meraih juara 1.... harapan. He he he. Iya, maksudnya juara 4.
Sebelum pulang ke sekolah, kami di sarankan mencari makan di sekitar alun-alun Banyumas, juga kata guru-guru supaya bisa menikmati suasana Banyumas untuk beberapa waktu, tapi dilarang jauh-jauh.
Kelvin ngajak aku makan, awalnya aku ga mau, karena takut menjadi gosip lagi, tapi karena Ateg, Gyan, sama Arya ikut juga, aku ikut. Atau, aku mau karena bagiku Gilang sudah tahu kalau aku tidak pacaran sama Kelvin. Kami berlima makan di sebuah warung di pinggir jalan.
Ketika kami sedang asik mengobrol mendadak Gyan nunjuk-nujuk ke arah Utara di mana terdapat sebuah kantor yang memang tidak jauh dari tempat kami makan.
“Eh, itu bukannya Gilang, ya?”
“Iya, sama cewe lagi.” tambah Arya.
“Pacarnya, kali.” timpal Kelvin.
Aku mencoba menerka jauh, tapi samar, aku tidak jelas melihat karena mataku yang minus. Segera saja, tanpa pikir panjang aku bergegas berlari menghampiri pria yang dikira Gyan adalah Gilang, dan memang aku merasa itu adalah dirinya. Aku juga tahu, kalau teman-teman menyusulku dari arah belakang.
Ketika aku hampir sampai, sialnya pria itu masuk ke dalam mobil sebelum aku sempat memastikan kalau itu dirinya atau bukan. Langsung saja kutelfon Gilang.
“Kenapa kamu lari?” tanya Ateg terengah-engah.
Kupandang ke arah sisi kaca mobil yang kebetulan terbuka. Ketika Gilang mengangkat telfon aku juga melihat pria di dalam sana beraksi seakan menerima panggilan. Aku jadi mengira, itu benar-benar Gilang.
“Hallo.” sapanya.
“Kamu di mana?” tanyaku terburu-buru.
“Ada apa?”
“Kamu di mana?!” Aku nanya agak bentak.
“Di.... mobil.” jawabnya sedikit panik.
“Jujur, kamu tadi ga ke Jakarta, ya?!”
“Kok, kamu nanya gitu?”
“Jawab aku, Gilang!”
__ADS_1
Gyan merangkulku, seakan berusaha menenangkanku.
“Aku jadi pergi, kok.”
“Kamu jadi pergi ke Jakarta, apa engga?!!!”
Tuuut.... tuuut.... tut. Mendadak telfon mati makin membuat amarahku memuncak. Kucoba hubungi lagi tapi nomornya ga aktif.
“Gimana?” Ateg nanya.
Aku menggeleng, lemas. Tampak Gyan dan Ateg khawatir, sedang Arya dan Kelvin berekspresi kesal entah kenapa.
“Mungkin aku yang salah lihat, Fi.” kata Gyan agak menyesal.
Aku kembali menggeleng. “Itu Gilang, Yan. Pas aku telfon, cowo di dalam mobil juga ngangkat telfon. Itu pasti dia!”
“Mungkin, cuma kebetulan.” Ateg menanggapi.
“Engga Teg!” Aku membentak membuatnya takut. “Itu beneran Gilang. Dia lagi nyembunyiin sesuatu dari aku.”
“Abis jalan sama cewe itu kali.”
“Arya!” Gyan berseru seakan meminta dia diam.
“Apa salahnya? Kan dia mengundurkan diri jadi peserta LCC, bikin kita ga jadi juara pertama. Itu semua gara-gara dia, tahu!”
“Iya benar. Dia lebih mentingin pergi sama cewe tadi.” tambah Kelvin makin membuatku lemas.
Aku melangkah menuju meja makan kami sebelumnya untuk mengambil tas. Ketika sampai, Gyan menggenggam tangan kiriku. “Fi, kamu mau ke mana?”
“Kamu mau pulang?” Ateg nanya.
Aku ngangguk.
“Biar aku antar.” kata Kelvin menghadang langkahku.
“Ga usah.” jawabku.
“Ga apa-apa, biar aku antar.” kata Kelvin memaksa dengan menarik tasku.
Aku membanting tangannya. “Sopan, ya!”
“Makannya, pulang sama aku.”
“Ga!”
“Pulang sama Kelvin aja, pulang sendiri bahaya.” ujar Arya.
“Ga!”
Mereka berjalan mengiri langkahku.
“Kenapa, sih, kamu mikirin Gilang yang bahkan ga peduli sama kita?” Kelvin nanya membuat amarahku memuncak.
__ADS_1
Kuhentikan langkah dan menatapnya. “Apa maksudmu?!”
“Kamu ga dengar tadi Arya ngomong apa? Dia itu lebih milih pergi sama cewe lain, bikin kita jadi ga juara.”
“Vin, cukup Vin.” ucap Gyan menengahi, Ateg juga.
“Biarin, dia mau ngomong apa.” kataku.
“Dengar ya! Yang selama ini peduli sama kamu itu kami, bukan Gilang!”
Arya berusaha menjagal Kelvin yang menampilkan raut wajah penuh akan amarah.
“Vin, udah!” bentak Gyan. “Mending kita pergi aja.”
“Eh, bentar!” kataku. “Maumu apa, sih?” tanyaku ke Kelvin.
“Aku mau kamu berhenti ngejar-ngejar Gilang! Aku ada di sini buat kamu Lutfi.”
“Kamu gila, ya?” Ateg nanya mendahuliku.
Kemudian aku, Gyan, dan Ateg pergi begitu saja, namun lagi-lagi Kelvin berseru: “Ya, kejar tuh cowo egois! Yang berandalan. Seenaknya sendiri. Bikin repot! Kerjar terus, bareng terus sampe puas!”
“Udah biarin, Fi. Jangan didengerin.” kata Gyan.
“Kurang ajar banget, itu anak.” kata Ateg ikutan marah.
“Kejar tuh si preman sekolah!” seru Kelvin.
Aku tersentak, makin tidak terima dia berkata begitu kepada Gilang. Langsung saja aku membalikan badan, menghampirinya dan menamparnya.
Kelvin memegang pipinya sesaat, kemudian membentakku: “Dasar, cewe ga tahu diuntung!” Lalu menamparku hingga aku terjatuh.
Mendadak orang berdatangan karena penasaran. Sedangkan Kelvin dibawa kabur Arya entah ke mana.
Gyan dan Ateg membantuku berdiri, kemudian duduk di kursi kami sebelumnya. Tak lama kemudian guru-guru dan teman lainnya juga pada datang. Mereka menanyakan ada persoalan apa. Tapi tak kujawab, bahkan Gyan dan Ateg tidak mau memberitahu kepada mereka.
🌹🌹🌹
iii
Aku duduk di bangkuku ditemani Gyan, Ateg, dan Bu Yuni. Mereka berusaha membuatku tenang.
Saat itu, hatiku sungguh kacau dan sudah mencair untuk keluar dari kedua bola mataku.
Entah apa yang harus kulakukan, hanya diam memandang kosong ke luar kaca jendela yang kujadikan sebagai sandaran kepalaku.
Sungguh makian tadi sudah sangat menyakitkan. Tak kusangka, dia akan bilang begitu. Tak kusangka, dia akan menamparku.
Kuseka air mataku dan terkenang kalimat yang Gilang tulis:
“Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin naksir sama kamu. Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin beda banget sama aku. Aku tahu: kamu tahu, kalau Kelvin bukan cowo baik-baik kayak tampangnya yang sok-sokan pakai kacamata. Tapi, aku juga tahu: kamu ga tahu, kalau aku cocok sama kamu, berdasarkan golongan darah.”
Kamu benar Gilang, Kelvin ga sebaik tampangnya. Dia itu emang KM yang bejat! Seru hatiku.
__ADS_1
Bus terus melaju menyusuri jalan raya untuk menuju ke sekolah, tapi pikiranku melayang ke Glang.
“Gilang, ada apa denganmu?”