
i
Aku dan Tio tiba di Jakarta pukul delapan pagi. Kami memutuskan untuk datang ke perusahaan 0000 demi melaporkan hasil tugas selama 3 hari ke belakang, supaya nantinya kami bisa langsung istirahat. Jadi, tidak perlu lagi was-was soal gaji yang bakal dipotong 15% kalau sampai datang telat—lebih dari jam 11 siang.
Sampai di ruang Direktur aku dan Tio duduk berjejer sambil menghadap ke arahnya. Kemudian aku menyerahkan naskah kasar kepada Direktur. Dia menerimannya lalu membacanya dengan seksama.
"Hmmm...." gumamnya. "ternyata lebih dari harapan."
Aku diam. Menunggu dia menyelesaikan kalimatnya. Bagaimanapun dari kalimatnya ada 2 kemungkinan: "lebih baik atau lebih buruk". Yang manapun, aku tetap harus bersiap menerima hasilnya.
Direktur meletakkan sebendel kertas itu lalu menatapku tajam dengan jari saling tumpang tindih di atas meja. "Jadi, kau masih berencana membuat naskah ini seorang diri?"
Kujawab dengan anggukan.
Dia menghela napas. "Apa kau sanggup menyelesaikan ini di akhir bulan Januari mendatang?"
Aku ngangguk yakin.
"Hmmm.... Mas Danu, kalau kau memutuskan untuk menulis seorang diri, kau juga harus mengambil kontrak dari Clara." Direktur menjelaskan.
Aku tak bergeming, begitu pula dengan Tio. Dia memasang raut wajah serius, sangat serius. Berbeda dari keseharian yang dia tunjukkan kepada orang-orang.
"Seperti kontrak yang sudah ditandatangani olehmu sebelumnya. Kau pasti sudah membacanya, bukan? Kalau kau tidak bisa mencapai waktunya, kau harus membayar denda—"
"Lima puluh juta," kataku menyerobot kalimat Direktur.
Sedang Tio berteriak histeris. "Hah?! Li-lima puluh juta? Aku kira ga sebanyak itu."
"Jadi, jika kau mau dan siap menanggungnya seorang diri ....kau tinggal menghitung jumlah dari dua kali lipatnya." ujar Direktur.
"Du-dua kali lipat Direktur?" Tio nanya tergagap.
Direktur menjawabnya dengan anggukan.
"Be-berarti.... se-seratus juta!" Tio kembali berseru. "Nu.... seratus juta, Nu! Itu duit loh, Nu! Seratus juta lagi, Nu! Apa kamu yakin mau nanggung sendirian?"
"Keputusan ada ditanganmu, Mas Danu." ucap Direktur sambil tersenyum.
"Saya setuju, Direktur."
"Hah?!" teriak Tio. "Jangan asal main setuju aja, Nu! Pikirin dulu baik-baik Nu!"
"Aku sudah memikirkannya selama dua minggu ini. Dan itu keputusanku." kataku yakin.
"Baik." ujar Direktur menyerobot Tio yang mau bicara. "Kalau kau menyetujuinya, kau tinggal meminta Clara untuk mundur dari kontrak ini."
"Lah, aku kira, aku ga perlu lagi hubungin dia. Kenapa ga Direktur aja sekalian yang minta dia mundur. Kenapa aku harus dibikin repot kayak gini segala?!" Hatiku menggerutu.
Tapi aku cuma berani bilang: "Baik,"
Direktur menyerahkan sebuah berkas pernyataan pengunduran diri kontrak Clara sekaligus penyerahan kontrak seutuhnya kepada aku. Kemudian aku dan Tio menyalami Direktur, dan keluar dari ruangannya.
🌹🌹🌹
ii
Di ruang tunggu perusahaan 0000. Aku mengajak Tio untuk ngobrol sebentar dengan maksud meminta bantuannya supaya dia mau menjelaskan isi surat pernyataan ini dan meminta tanda tangan Clara.
Tapi, Tio menolak. Dia sangat tidak ingin berurusan dengan sebuah denda yang memiliki kemungkinan besar bakal menyusahkan aku. Tio masih bersikukuh memintaku supaya melanjutkan kontrak bersama Clara, agar naskah ini selesai dengan cepat, sebelum waktu yang ditetapkan. Akhir bulan Januari tahun depan, 2019.
Merasa percuma terus memaksanya. Aku beralih kepada orang lain. Meminta bantuan Mas Beni, Pak Heru, dan Pak Zurri. Tapi ketiganya menolak dengan alasan yang sama seperti Tio.
"Sepertinya aku memang harus menghubungi Clara. Maaf Lutfi, tapi kali aku benar-benar sedang sangat terpaksa."
Kubuka e-mail Clara. Mengetik pesan untuknya tentang aku yang minta dia mundur dari kontrak dan aku yang akan menanggung semua risikonya. Kemudian ditambah dengan sebuah foto surat pernyataan pengunduran diri dari kontrak yang diberikan Direktur sebelumnya.
Pesan terkirim. Tidak butuh waktu lama untuk aku mendapat balasan dari Clara. Dia menjawab:
"Aku kurang paham. Jelasin aja langsung. Tapi bukan sekarang, aku sedang ada perlu. Aku akan menghubungimu nanti."
Aku tidak menjawab. Mengacuhkannya. Dan membaringkan diri di atas ranjang. Pegal mulai menjalar ke seluruh tubuh. Seakan semua rasa lelahku selama 3 hari melakukan perjalanan dan pencarian Lutfi di Singapura berkumpul menjadi satu.
Aku mengulet, merentangkan tubuhku supaya mengendorkan otot-otot yang tegang. Sekali, dua kali, tiga kali, dan aku berhenti setelah pingganggku terasa lebih pegal dan nyeri.
Apa aku sudah tua? Padahal, umurku di tahun 2018 baru menginjak 22 tahun—pas kelas X SMA memang aku paling muda, lima belas tahun—Apa umur segitu memang terbilang sudah tua sampai membuat aku sakit pinggang? Hmmm.... rasanya bukan. Apa mungkin ada masalah dengan sumsum tulang belakangku? Ah, semoga saja tidak.
Aku pernah membaca kalau nyeri punggung bawah disebabkan oleh hal-hal di luar penyakit yang mendasari. Contohnya meliputi aktivitas berlebihan seperti berolahraga keras atau terlalu sering mengangkat beban, duduk dan berbaring dalam waktu lama, tidur dalam posisi yang tidak nyaman, penggunaan tas punggung yang tidak pas, atau manipulasi kiropraktik.
Dalam hal di atas, mungkin aktivitas berlebih termasuk dalam kriteria yang kualami saat ini. Tapi, kalau dugaanku benar, ini masalah sumsum tulang belakang. Aku mesti cepat-cepat mengatasinya.
Bila kerusakan pada jaringan otak dapat menimbulkan kelumpuhan, gangguan sensibilitas, penglihatan maupun gangguan lainnya. Maka kerusakan pada sumsum tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan anggota gerak, sulit buang air besar atau kecil atau tidak dapat menahan kencing maupun buang air besar, tergantung lokasi kerusakan yang terjadi di sumsum tulang belakang itu sendiri.
Dalam hal tersebut, memang aku selama 2 minggu ini tidak bisa berak. Dan hanya kencing paling sering sehari sekali. Bukankah itu aneh?
Maksudku, aku sudah terbiasa berak setiap hari, dan kencing paling sedikit ya 5 kali sehari. Iya, betul, setiap sebelum shalat fardhu biasanya aku pasti kencing dulu.
Jadi, tidak ada salahnya kalau aku menebak sakit pinggangku sekarang ini termasuk gejala kerusakan pada sumsum tulang belakang. Meski aku harap itu cuma encok biasa.
Aku memejam dan mengatur napas. Mencoba untuk membuat diri senyaman mungkin. Hingga tidak lama kemudian aku tertidur.
🌹🌹🌹
iii
Aku tersadar setelah ada tangan yang menindihi punggung tangan kananku. Kelima jarinya masuk dan melengkapi ruas-ruas jariku. Kulihat ke arah pemiliknya, dia, "Lutfi!"
Lutfi senyum menatapku, kemudian melihat ke arah rawa di sisi pematangan sawah Jatilawang. "Aku ga nyangka," kata dia akhirnya. "kamu bisa nemuin aku."
"Ne-nemuin kamu? Masa iya? Gimana caranya? Seingetku aku lagi tiduran di kamar? Masa iya aku udah nemuin kamu? Apa ini cuma mimpi, lagi?" Hatiku memunculkan beragam pertanyaan yang tidak sanggup kujawab satupun.
Tangan kiri Lutfi meraih ponsel dari dalam ransel. Mengutak atiknya hingga terdengar sebuah musik yang dulu pernah kunyanyikan sebagai pengantar tidur untuknya, yang pernah kulantunkan di acara ulang tahun sekolah untuknya. "Tentang Rindu" lagu Di Muhammad Devirzha.
__ADS_1
*Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan
'Ku mengingat tentang dirimu lagi
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
Rindu
Dan waktu 'kan menjawab
Pertemuanku dan dirimu
Hingga sampai kini
Aku masih ada di sini
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
Rindu
Dan bayangmu
Akan selalu bersandar di hatiku
Janjiku pasti 'kan pulang bersamamu
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
'Ku hanya diam
Menggenggam menahan
Segala kerinduan
Di setiap malam
Ingin engkau datang
Dan hadir di mimpiku
Selalu di mimpiku
Rindu*
Burung berkicau ria mengiringi instrumen yang mengalun merdu dan menenangkan. Angin menghembuskan dedaunan kering hingga membuat jalur bagi mereka untuk menari-nari di udara. Pancaran cahaya jingga keemasan dari matahari terbenam turut membawakan nuansa romantis bagi kami berdua—aku dan Lutfi. Tentunya juga bagi para pasangan yang sedang menghabiskan waktu mereka sambil menikmati sunset di Rawa Situ Bamban.
"Bakal kayak gini terus apa ga, ya?" Lutfi nanya.
"Hmmm..... apanya?" Aku balik nanya.
"Kamu,"
"Kamu?"
"Kamu Gilang!" seru Lutfi sambil menepuk pundak kiriku.
"He," Aku ketawa.
"Hmmm...." gumamnya dengan wajah jengkel. "terus bakal kayak gini selamanya apa enggaaa?!"
"Emang mau jadi Malinkundang?" Aku nanya.
"Kok jadi Malinkundang?" Lutfi balik nanya.
"Lah iya, selamanya duduk."
"Jadi batu gitu?" Dia memastikan.
__ADS_1
"Iya," jawabku.
Lutfi lagi-lagi menepuk pundakku pelan. "Serius, ih...."
"He," Aku ketawa. "aku bakal usaha buat terus sama kamu."
"Kalo aku tiba-tiba ilang, gimana?"
"Kok ilang? Emang duit, gampang banget ilang?" kataku meledek.
Tapi jawaban itu bukan dari diriku sekarang, aku bahkan tidak bisa mengendalikan tubuh dan omonganku. Apa mungkin ini memang sebuah ingatan? Sebuah mimpi?
"Gilang!" bentak Lutfi.
"He," Aku ketawa.
"Serius, ih...."
"Iya,"
"Iya apa?"
"Iya aku bakal terus sama kamu. Kalo kamu ilang ya aku bakal terus nyari kamu." ujarku menjelaskan.
"Janji?" pinta Lutfi.
"Aku janji,"
"Janji ga bakal nyerah buat nyari aku?"
"Aku janji ga bakal nyerah buat nyari kamu."
"Janji ga bakal selingkuh meski aku lagi ga tau ke mana?"
"Aku janji ga bakal selingkuh meski kamu lagi ga tau ke mana."
Lutfi senyum kepada aku yang juga melempar senyum kepadanya. "Makasih," kata Lutfi.
"Sama-sama," kataku.
"Jadi kalo aku ilang, kamu bisa nemuin aku ga?" Lutfi kembali nanya ke topik sebelumnya.
"Selama ini, main petak umpet kamu kalah terus, kan?" Aku meledek.
Lutfi menepuk pundakku. "Sombong!"
"He,"
"Kamu pake jurus apa sih kok bisa selalu tau aku di mana?"
"Jurus?"
"Iya," Angguk Lutfi.
"Jurus.... aku cinta sama Lutfiii!!!" Aku berteriak membuat kami menjadi pusat perhatian.
"Jangan kenceng-kenceng, ih! Aku ga budeg tau." kata Lutfi manja.
"He,"
"Kalo tiba-tiba ga bisa nemuin aku, gimana?" tanyanya setelah semua pandangan tidak lagi tertuju kepada kami.
"Mustahil!" Aku mencoba menyangkal.
"Beneran, loh, ya!" Lutfi menegaskan. "Awas aja kalo nanti sampe ga bisa nemuin aku!"
"Ya.... kamu jangan sengaja pergi, dong." pintaku.
"Ih, ya terserah aku, dong! He he he,"
Mendadak angin berhembus kencang, sangat kencang, saking kencangnya hingga menghamburkan ratusan daun kering di sekeliling kami, sampai kemudian semuanya berubah menjadi serba putih.
"Apa yang terjadi? Di mana aku?"
Aku mulai melangkah, mencoba keluar dari ruang serba putih. Saat kedua bola mata melihat sosok Lutfi. Aku berlari dan mencoba memanggilnya. Tapi, dia tidak berbalik, tetap melangkah menjauh.
"Apa? Apa yang terjadi sebenarnya? Lutfi, tolong jangan pergi, jangan tinggalkan aku!"
Aku tersandung dan jatuh, jatuh yang tidak kunjung menubruk alas—berhenti, seakan aku baru saja terjun dari atas gedung dengan tinggi ribuan meter, melebihi puncak gunung tertinggi di dunia.
Awalnya aku meronta, mencoba menghentikan kejadian yang tidak masuk akal ini. Paling tidak, aku berusaha keluar dari alam mimpi. Tapi, setelah beragam usaha kulakukan dan tiada membuahkan hasil, aku hanya diam sambil menikmati pemandangan langit putih di ruang serba putih.
Aku menengadah sambil mengatur napas. Seketika ada secarik kertas yang ikut jatuh tidak jauh dari aku. Dengan sigap aku meraihnya. Kulihat ada sebuah tulisan di sana, bentuk yang sangat kukenal. "Ini, tulisan Lutfi!"
Kemudian, dalam kondisi yang terus saja jatuh aku membacanya:
"*Berpikir Keras"
Jika aku tak lagi bisa meluluhkan hatimu dengan tutur kata dan kasihku. Akankah hatimu masih untukku?
Jika aku tak lagi bisa memberi apapa padamu. Maukah kau terus bersamaku?
Jika aku tak mampu lagi untuk memahamimu. Sanggupkah kau bersabar dan bertahan untukku?
Jika aku tak lagi menghubungimu. Akankah kau terus mencariku?
Jika semua yang ada padaku bersisa sebuah kesalahan karena kutukan hidupku. Bagaimana kau akan menjalani hidupmu*?
Aku tertunduk. Dengan rintikan air yang keluar dari sudut mataku. Merasa kepergian Lutfi disebabkan oleh keegoisanku. Selalu ingin menang sendiri dalam segala hal. Kini, aku menangis.
Air mata ini menjadi saksi bisu, betapa besar kerinduan dan penyesalan yang menjelma di hidupku.
__ADS_1
"Lutfi, tolong maafkan aku dan kembalilah.... aku butuh kamu."