Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
31. Pengakuan


__ADS_3

Masih di hari yang sama. Aku duduk diam terpaku bersama Gilang yang sedari tadi tanpa kata, selama kurang lebih setengah jam.


Ketika akhirnya kami melalui alun-alun Banyumas, Gilang mendadak bersuara. “Maaf, baru datang.”


Aku diam, tak kutanggapi.


“Maaf, baru ngomong.”


Aku tetap acuh.


“Aku nunggu kamu selesai makan mie ayam dulu, tadi.”


“Oh.”


“Kamu, nungguin aku ngomong?”


“Ga.”


“Kamu, khwatirin aku?”


“Ga.”


“Kamu, mikirin aku terus?”


“Ga.”


“Kamu, kangen aku?”


“Ga.”


“Kamu lagi malas?


“Menurutmu?!”


“Kamu, lagi ngambek.”


“Ga!”


“Kamu, lagi marah?”


“Ya!”


“Kenapa?”


“Nanya mulu! Wanita ga suka ditanya!” Aku membentak marah, mengacuhkan suaraku yang keluar dengan keras di sepanjang jalan. Kalau nanti orang yang protes, aku bakal bilang kalau itu semua gara-gara Gilang.


Biarin dia kena marah, dia juga seenaknya sendiri.


“Oke, ga nanya.” katanya dengan nada tetap tenang, seakan tidak peduli denganku yang terus jutek dan membentaknya. “Tadi aku di rumahmu dari jam tiga.”


“Ga nanya!”


“Ga apa-apa, lagi pengin cerita.”


“Oh.”


“Iya, aku juga rindu kamu.”


“Heh?!” Aku berseru, bingung harus menanggapi apa.


Diam. Hening beberapa saat, lalu kudengar Gilang kembali berkata: “Selasa kemarin, aku ga jadi ke Jakarta.”


Aku terkejut mendengarnya. Ingin sekali aku berseru: “Dasar pembohong! Katanya pergi setelah pulang sekolah? Apa? Penipu!”


Tapi aku cuma bilang: “Oh.”


“Iya, soalnya aku minta launching-nya diundur biar bisa ikut lomba hari Rabunya.”


“Oh.”

__ADS_1


Jadi ternyata karena Gilang minta acaranya diundur.


“Karena belum jelas, aku ga berani ngasih tahu ke kamu.”


“Oh.”


“Nah, abis Subuh, Pak Zurri minta aku buat ke Jakarta secepatnya.”


Hah? Kok gitu? Repot dong? Aku bertanya sendiri tanpa berani berkata-kata.


“Kamu tahu, siapa Pak Zurri?”


“Wanita ga suka ditanya!” Aku kembali membentaknya.


“Oya lupa.” kata Gilang seakan tidak masalah dengan aku yang terus membentaknya berulang kali. “Aku langsung ke terminal. Tapi pas udah di dalam bus, tiba-tiba beliau bilang kalau permintaanku buat ngundurin acaranya, ternyata boleh. Ya, aku ga jadi pergi.”


Oh gitu. Kata hatiku. Tapi tetap tidak mengubah apapun kalau Gilang pergi membiarkanku gitu aja.


“Mumpung ada Ibu-ibu yang datangnya telat, terus kehabisan tiket, aku kasih aja punyaku.” ujarnya menambahkan.


Aku merasa lega, karena tiket yang Gilang beli tidak terbuang percuma. Tapi, aku tetap diam.


“Terus, abis itu, mumpung aku lagi di terminal, aku naik bus aja sekalian, buat ke alun-alun Banyumas, soalnya rumah dikunci, Mamah lagi keluar buat kerjaan, ga tahu apa, lupa.”


“Oh,” jawabku masih marah, meski sebenarnya aku mulai paham dengan apa yang Gilang rasakan kemarin.


Menunggu sesuatu yang tidak jelas, padahal jarak terlampau jauh—Wangon sampai ke Jakarta itu butuh waktu tujuh hingga delapan jam—dan harus siap membeli tiket, memang sangat tidak nyaman. Mungkin sama dengan ketidaknyamananku selama empat hari ini.


“Nah, pas busnya jalan, aku nelpon kamu, aku juga n22gasih tahu ke kamu kalau aku lagi di perjalanan. Terus, kalau kamu ingat, aku mau ngasih kejutan sama kamu.”


Aku ingat, sangat ingat pas Gilang ngomong kayak gitu hari Rabu. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, kalau kejadian sebenarnya seperti itu.


Tapi tetap aku jawab dengan jutek: “Ya.”


“Pas sampai di alun-alun, aku nyariin kamu meski Mamah bolak-balik nelpon aku buat pulang.”


“Kenapa?”


“Makasih.” katanya gembira. “Mbah Hada, Kakekku, Ayah dari Ayahku, beliau drop, kurang darah. Kata Mamah, stok darah di RS Ajibarang lagi abis, makanya aku disuruh cepetan pulang. Soalnya cuma aku yang goldar-nya AB.”


Aku menjawab kalimat Gilang dengan gumaman.


“Nah, pas aku lagi nyariin kamu, tiba-tiba aku ketemu Fera, Lilikku. Dia masih SMP, sih, kelas tujuh. Tapi berhubung urutan keluarga dari ibu, jadi aku manggil dia Lilik.”


“Oh.” Aku jawab. Masih kurang percaya dengan penjelasan Gilang.


“Katanya, dia lagi nonton temannya yang ikut lomba Cerdas Cermat, dia juga nyuruh aku pulang. Maksa malah. Tapi aku ga mau, soalnya aku belum ketemu kamu.”


“Oh.”


“Pas aku mau nyari kamu, lagi, mendadak ada mobil berhenti di depanku, dan ternyata, itu mobilnya Padhe, Kakak dari Ayahku. Beliau marah-marah, terus nyuruh aku pulang. Jadi, mau ga mau, aku harus ikut mobil Padhe, Lik Fera juga ikut, sekalian pulang, soalnya rumahnya ga terlalu jauh dari rumahku, sama rumah Padhe.”


Aku bisa merasakan penyesalan yang teramat besar dari nada Gilang bicara, tapi aku tetap kekeh untuk menahan amarahku sebelum Gilang memberi sesuatu yang lebih daripada sebelum-sebelumnya.


Bukan maksud aku sok jual mahal atau tidak mau peduli dengan kondisi orang lain. Tidak!


Sekali lagi kukatakan, aku ingin Gilang berjuang lebih untuk bisa mendapatkanku. Aku ga mau dia menganggap mendapatkanku dengan mudah, jadi nantinya dia juga membuangku dengan mudahnya.


“Di jalan, pas kamu telfon, Fera ngagetin aku, terus karena kaget, hp-nya ga sengaja kelempar keluar mobil.”


Saat mendengar dan langsung membayangkan-nya, jujur, aku mau ketawa, tapi kutahan.


“Abis itu, aku ke RS buat donor darahku ke Mbah Hada, dan ga tahu kenapa, aku malah ga bisa bangun seharian. Padahal biasanya, aku ga pernah kayak gitu.”


Sungguh sebetulnya aku sangat khawatir mendengar hal itu darinya. Tapi aku cuma diam.


“Besoknya, pas hari Kamis, kata Padhe, aku kecapean, jadi semalaman aku diinfus buat ngembaliin cairan. Aku juga baru inget kalau seharian pas hari Rabu kemarin, aku ga makan, ga minum. He,”


Aduuuh.... aku hammpir menangis mendengar kenyataan yang Gilang alami. Tapi aku berusaha tidak bersuara. Aku ga mau menambah khawatir untuknya.

__ADS_1


“Lah, aku maksa diri buat sekolah. Pas baru nyampe gerbang sekolah, Mang Budi ngasih tahu kalau kamu ditampar Kelvin kemarin....” Mendadak kalimatnya terhenti. “Maaf, aku tidak ada buat melindungimu.”


Suara Gilang, makin membuatku iba. Rasanya seperti yang ditampar Kelvin adalah dirinya.


“Ga apa-apa.” kataku akhirnya dengan nada normal.


“Jadi paginya, aku datengin meja tuh anak, terus nampar dia. Pas dia ngelawan, karena reflek, aku bikin dia bonyok. Maaf, aku nyesel udah sok jagoan.”


Sebenarnya, aku ingin sekali berterima kasih padanya, tapi waktu itu aku cuma bilang: “Aku tahu, kok.”


“Karena itu, aku disuruh pulang cepat. Jadi aku ke rumah dan ceritain seperlunya ke Mamah.”


“Hmmm....” jawabku.


“Abis itu, aku dapat pesan dari Pak Zurri kalau acaranya dimulai jam delapan pagi, hari Jumat. Terus, aku pamit ke Mamah buat jenguk kamu, tapi aku tetap ga nemuin rumahmu sampai Isya. Kepaksa, deh, aku berangkat ke Jakarta malamnya.”


“Oooh....”


Diam. Sekitar semenit waktu berlalu dengan keheningan.


Sungguh aku tidak dapat membayangkan bagaimana lelah dan khawatirnya dia dengan semua itu.


Gilang ternyata benar-benar berusaha melalukan yang terbaik untukku. Agar dia bisa ikut LCC, agar dia memberiku kejutan karena kehadirannya yang tiba-tiba, agar dia juga tetap bisa membantu keluarganya, agar dia bisa menjengukku, agar dia bisa ke Jakarta.


Aku tahu sekarang, dia melakukan semua itu supaya semua hal bisa dia atasi, tapi kenyataan tidak selalu berhasil sesuai rencana. Dan aku, memaklumi hal itu.


Kini, sungguh, aku hanya menunggu, dia kembali bertingkah biasa. Aku juga berharap, Gilang bisa beristirahat, meski sebentar. Aku yakin, pikirannya terus mengkhawatirkan kondisiku.


“Fi....” panggilnya.


“Ya.”


“Maaf.” katanya.


“Udah, ga apa-apa.” kataku.


“Maaf karena ga ada kabar.”


“Iya.”


“Maaf udah bikin kamu sakit.”


“Iya.”


“Maaf karena aku sibuk mengurus banyak hal.”


“Iya.”


“Maaf karena sampai sekarang aku makin cinta kamu.”


Aku tercekat mendengarnya, tak sanggup berkata-kata. Dan akhirnya aku tidak bisa lagi menahan, aku tersenyum. Hal yang bagiku sudah sangat lama tidak bisa kulakukan, dan kini telah kembali.


Aku senang, dengan penjelasannya yang entah jujur atau tidak—aku yakin, sih, jujur—membuatku merasakan kelegaan, seakan aku baru bisa menghirup udara lepas dengan nyaman.


Kulihat dari pantulan spion, air mata Gilang tumpah ruah membasahi pipinya.


Kenapa? Ada apa? Aku hanya bertanya-tanya sendiri.


“Makasih, kamu masih memberiku kesempatan. Aku....” kata Gilang yang mendadak suaranya menjadi bindeng sambil mengelap mukanya yang basah. “aku sangat senang bisa di dekatmu lagi, Lutfi idolaku.”


Itulah harinya, hari pertama sebutan itu kudengar langsung darinya. Pengakuan bahwa dirinya yang mengidolkanku. Pengakuan bahwa dirinya mencintaiku.


Aku lega sekarang. Aku bahagia sekarang. Dan aku bersama Gilang sekarang.


“Aku juga senang, kamu datang, lalu menjelaskan semuanya.”


Dia mengangguk. Senyum di bibirnya berkilat lebar, membuatku terpesona.


Kembali aku meletakkan daguku di atas pundak kiri Gilang. Menikmati kebersamaan dengannya, aroma khas miliknya, dan sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa nyaman serta tak ingin jauh-jauh darinya. Sesuatu itulah adalah cinta miliknya yang begitu besar, dan hanya untukku seorang.

__ADS_1


Kini, kuakui sekarang. Aku juga mencintaimu Rizky Gilang Kurniawan.


__ADS_2