Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
25. Itu Bukuku


__ADS_3

i


Hari Senin, selepas upacara, Gilang langsung dipanggil Bu Yuni untuk ikut dengannya masuk ke ruang guru, aku yakin, dia disuruh ngerjain soal yang jauh lebih susah.


Sedang aku dan bersama teman-teman yang lain, duduk di kursi masing-masing sambil menunggu hasil akhirnya. Memang, Bu Yuni juga sudah membuat kesepakatan untuk tidak melanjutkan membicarakan hasil tes Gilang yang dianggap curang, sampai hari ini tiba.


“Eh, Gilang, udah berangkat, tuh.” kata Gyan sambil duduk menghadapku.


“Iya. He he he.”


“Jadi, kenapa dari kemarin dia, ga masuk?”


“Diare, katanya.”


Gyan ketawa. “Serius?”


“Iya.”


“Terus, pas dia ngilang, ke mana, katanya?”


“Toilet, pup.” kataku malu sendiri.


Gyan kembali ketawa, rasanya dia seperti memiliki pemandangan yang berbeda sama Gilang. Saking penasaran, aku jadi tanya langsung sama dia.


“Kamu udah ga sebel sama Gilang.”


Gyan agak kaget. “Udah engga, kok.” katanya senyum.


Aku merasa sangat lega mendengarnya.


“Kamu tenang saja, semua teman kelas, juga gitu, kok.”


“Loh? Kok bisa?”


“Kemarin, pas hari Sabtu, pulang sekolah, pengurus OSIS nyamperin kami, terus minta semua anak kelas sepuluh sebelas masuk ruang OSIS, aku gz lihat ada kamu, jadi aku yakin, kamu pasti ga ikut, kan?”


“He he he, engga.” kataku. “Terus, kalian disuruh ngapain?”


“Kami disuruh jelasin kenapa kami nganggap Gilang curang, terus mereka minta bukti.”


“Terus?”


“Ga ada. Semuanya cuma ngomong berdasarkan asumsi mereka. Kamu tahu sendiri, kan?”


“Iya. Siswa malas malah dapat nilai paling bagus.”


“Iya itu. Terus, ketua OSIS-nya bilang gini: ‘Aku bisa ngeluarin kalian dari sekolah karena kalian nyebar fitnah.’”


“Haaah?!” seruku jadi ikut takut sendiri.


“Iya.”


“Serem.”


“He’eh, semua pada teriak ga setuju. Terus ketua OSIS nampilin nilai-nilai Gilang di LCD.”


“Terus?”


“Gila! Nilainya, ga ada yang di bawah delapan.” ujar Gyan penuh rasa kemustahilan.


“Masa?” Aku nanya karena ga percaya.


“Serius!” serunya menguatkan pernyataannya sebelumnya.


“Terus, gimana kelanjutannya?”


“Ketua OSIS bilang lagi, kalau nilai itu diambil dari buku nilai guru yang mengajar di kelas kita. Katanya juga, Gilang pernah ikut LCC pas SMP.”


“Gilang pernah ikut LCC pas SMP?!”


“Iya, juara dua tingkat provinsi.”


Aku tersentak mendengarnya, tidak kusangka, dia pernah mencapai tingkat itu.


“Ada fotonya.” kata Gyan lagi sambil meraih hp dari dalam tasnya, kemudian mengutak-atik sebentar dan memberikannya kepadaku.

__ADS_1


Aku lihat Gilang pakai seragam SMP, lengannya juga panjang kayak sekarang, ditambah, dasi yang dia pakai juga dislempangin. Terus, megang piala tinggi.


“Aku ga nyangka.” kataku sambil mengembalikan ponsel milik Gyan.


“Apalagi aku.”


“Terus?”


“Ya teman-teman pengin minta maaf pokoknya,”


“Syukurlah.”


Aku menhembuskan napas penuh kelegaan. Tidak disangka, pengurus OSIS bertindak menghentikan gosip hoaks tentang Gilang. Untung saja, dulu, kak Geta tidak mengkuti kemauan Gilang yang mengira aku sama Kelvin udah pacaran, padahal sih engga!


Tak lama kemudian Gilang masuk bersama Bu Yuni, sontak semua siswa bangun dan mengerubunginya kecuali aku. Mereka meminta maaf karena sudah menuduh yang bukan-bukan, aku juga lihat Kelvin tampak menyesali perbuatannya. Tapi, jawaban dari Gilang membuat semuanya ketawa: “Belum lebaran, ga ada THR.”


Seakan mengendalikan suasana, Bu Yuni menyuruh semua duduk di kursi masing-masing.


Gilang duduk di sisiku sambil memberikan senyuman.


Aku membalas senyumnya dengan hal yang sama. “Hai,” sapaku.


“Hai, sayang” sapa Gilang membuatku syok.


Di depan sana, Bu Yuni menjelaskan bahwa LCC diadakan sekarang untuk memilih calon peserta yang bakal menjadi peserta LCC di Banyumas TV.


Acaranya akan diadakan di aula sekolah. Tiap kelas mengirimkan tiga siswa sebagai perwakilan.


Diambil dari kelas IPA, IPS, Bahasa, semua kelas sebelas, dan seluruh kelas X. Kelas XII tidak ikut karena harus fokus untuk ujian kelulusan. Jadi total yang ikut ada enam puluh enam siswa dari 22 kelas.


Dari kelasku yang terpilih adalah Gilang, Gyan, dan aku—Kelvin ga termasuk karena salah satu nilainya ada yang dapat enam. Tapi aku menolaknya dengan alasan tidak percaya diri, dan menyilahkan Arya untuk menggantikanku. Untung saja, semuanya setuju tanpa protes. Jadi, aku bisa melihat aksi Gilang nanti. He he he.


🌹🌹🌹


ii


Sampai di aula, peserta langusng digiring masuk dan diberi nomor dada masing-masing. Aku ingat, saat itu Gilang memakai nomor 24, sesuai tanggal kelahiranku. Aku suka. Aku juga yakin Gilang pasti bakal menang.


Kan dia Gilangku, udah manggil aku sayang, lagi. He he he.


Pas acara dimulai, semua tidak boleh ada yang mendekat ke aula, karena dianggap bisa memberikan kecurangan berupa bantuan.


Kemudian, setelah diperiksa, peserta diberi sebuah pensil saja lalu duduk sesai dengan nomor dada mereka.


Ujiannya ketat banget. Kata batinku.


Empat puluh lima menit kemudian, Gilang datang menghampiriku yang duduk sendirian di gazebo depan kelas X-11, sambil baca buku karya Gilang. Setidaknya ada 34 puisi yang isinya sangat jelas ditujukan untukku, karena memang ada namaku di sana, sedangkan 66 sisanya tentang kehidupan, keluarga, pendidikan, dan politik. Singkat-singkat namun istimewa.


Gilang duduk di sisiku sambil menyerahkan sebotol sari kacang hijau.


“Makasih.” kataku.


“Sama-sama.” Sedang Gilang meminum sekotak cokelat.


“Gimana, tadi?”


“Apanya?”


“Ujiannya.”


“Oh, iya, udah selesai.”


“Ih! Maksudnya, bisa ngerjain, ga?”


“Bisa.”


“Yakin, kalau jawabanmu benar?”


“Kalau ga yakin, ga aku jawab. Kan, jawaban yang salah ngurangin skor satu.”


Iya juga, sih, benar apa katanya. Tapi maksudnya bukan itu Gilang! Gimana, sih?


“Semoga, kamu lolos.” doaku.


“Aamin.” jawab Gilang. “Eh, kamu abis nyuri ya?”

__ADS_1


“Hah? Engga! Sembarangan!” bentakku.


“Lah, kok kamu bisa punya buku itu?” Gilang nanya.


“Aku dapat ini dari Mamah.”


“Yah, Mamah nyalip aku lagi.” katanya dengan ekspresi sedih membuatku ketawa.


“Emang, kamu mau ngasih buku ini?”


“Engga.”


“Loh, kok?”


“Ya, aku mau ngasih buku yang lain.”


“Apa?”


“Baru selesai, besok aku di suruh ke Jakarta buat launching.”


“Waaah.... apa judulnya?” tanyaku takjub.


“Itu bukuku.” katanya sambil menatapku seakan menunjuk buku yang sedang kupegang.


“Hah?”


“Iya.”


“Ih! Serius dong!”


“Aku serius.”


“Judulnya, itu bukuku?” Aku nanya.


“Iya.” Gilang jawab.


“Aneh. He he he.”


“Makasih.”


“Tentang apa itu?”


Gilang tampak berpikir seperti mencoba mengingat-ingat. “Hmmm....” Menatapku. “Seorang penulis berhati dingin, yang dihidupin lagi hatinya sama seorang guru yang tinggal di sisi apartemennya.”


“Cara hidupin kembalinya, gimana?”


“Kalau Frankenstein disetrum, ini ditemani.”


Aku ketawa sedikit. “Ditemani?”


“Iya.”


“Maksudnya, si penulis itu suka sama sang guru?”


“Iya.”


“Ah, mudah ditebak, ga asik.”


“Mau aku ceritain?”


“Boleh.” kataku.


Kemudian, Gilang menjelaskan secara rinci novel buatannya. Aku sempat ketawa, menangis, dan penasaran ketika Gilang menceritakannya. Ternyata, perkiraanku salah, novel itu ternyata ga bisa ditebak!


Kalau kamu mau baca novel Gilang, boleh. Cari aja, nama penanya Danu Banu.


🌹🌹🌹


iii


Ketika habis Gilang ceritakan isi novelnya, mendadak aku mendengar suara pengumuman. Ada sembilan nama yang disebut untuk mengikuti ujian kedua. Gilang, Arya, dan Gyan, semua dipanggil. Aku senang sekali mereka bertiga lolos.


“Yah, maaf, aku harus pergi, lagi.”


“Kamu ga pergi, kan ada aku di hatimu.”

__ADS_1


Gilang senyum mendengarnya, aku juga. Rasanya seperti bunga-bunga cinta bermekaran di sekeliling kami.


Kemudian, dia melangkah menuju aula.


__ADS_2