Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
29. Keajaiban


__ADS_3

i


Malamnya, aku tidak bisa tidur. Aku masih terbelenggu soal bagaimana Gilang menganggapku saat ini. Aku salah, hubungan tanpa status membuatku merasa hanya menjadi tempat singgah sementara buatnya.


Aku ingin Gilang segera menjelaskan semua yang telah dilakukannya selama dia tidak menghubungiku. Dan memberitahukan kepadaku, hubungan apa yang sedang kami jalani ini. Aku tidak mau terus terbelenggu dalam segala rasa sesak yang tidak menentu.


Juga, aku harus segera pulih. Karena, selepas Maghrib tadi, Gyan dan Ateg mengirimku pesan kalau besok ada acara tafakur alam, ke pantai Menganti.


Aku ingin ikut kegiatan besok, karena yang kuharapkan bisa pergi ke pantai. Tapi aku juga pengin sama Gilang. Maksudnya dia ikut kegiatan tafakur alam juga, sama aku, juga sama teman-teman lain di sekolah.


Rasanya sudah sangat lama aku tidak pergi ke pantai, mungkin sewaktu aku SMP, itu pun karena menemani acara liburan sekolah Ibnu.


Aku ingetin lagi, deh, Ibnu itu adik pertamaku. Nama panjangnya Syahid Ibnu Fatah, selisih tujuh tahun sama aku.


Aku tetap pengin ikut, tapi aku belum sehat. Gilang juga belum ada kabar. Aaah! Aku pengin semuanya jelas, ga kayak gini!


Masa iya, Gilang ga punya waktu buat beli hp atau nelpon aku dari wartel? Masa iya, Gilang ga hapal nomorku, padahal, kan, cuma ada satu kontak nomor di hp-nya, dan itu nomorku? Masa iya, Gilang terus ngebiarin aku kayak gini?


Ih, Gilang gimana, sih?!


Adzan Isya berkumandang, dan kurasakan, tubuhku jauh lebih lemas dari sebelumya.


Pokonya, saat itu, aku disuruh istirahat untuk menaikan tensiku yang setelah dicek ulang oleh Bu dokter, masih tidak ada bedanya dengan empat hari yang lalu. Beliau juga terus mendesak Ayah agar aku diopnam.


Tapi aku menolak dan terus menolak, karena aku sangat ingin bisa pergi ke pantai besok. Tapi, aku juga pengin ketemu Gilang. Aaah! Bingung.


Namun kenyataan, tidak sejalan dengan bayanganku, setiap ingin pindah tempat, aku harus dibantu Ayah atau Mamah, entah digendong maupun dipapah. Bahkan hingga jam sepuluh malam, aku, masih belum ada kemajuan apapun.


Aku benar-benar sedih. Pertama Gilang tidak ada, kedua dia masih belum menghubungiku, dan ketiga aku tidak bisa ikut ke pantai besok.


Aaaah.... aku menangis sejadi-jadinya sampai tengah malam.


Akhirnya, setelah merasa tubuh tidak akan lagi mampu berjalan sesuai sugestiku, aku memutuskan menyerah untuk bisa ikut kegiatan besok, tafakur alam.


🌹🌹🌹


ii


Adzan Subuh berkumandang, sebelumnya aku terus terbangun berulang kali karena mimpi buruk. Ah, sungguh sedih hal itu terjadi padaku.


Selanjutnya, aku melaksanakan shalat Subuh dengan sebelumnya tayamum. Kemudian berdoa, berharap, ada suatu keajaiban datang padaku, agar aku bisa bertemu Gilang dan pergi ke pantai Menganti.

__ADS_1


Dan, tiada disangka, keajaiban itu benar-benar menghampiriku!


Saat itu, jam 04:40 WIB. Ayah masuk ke kamarku dan memanggilku dengan lembut. Aku jawab lalu menjelaskan bahwa aku sudah shalat dan ingin segera pergi ke sekolah biar bisa ikut tafakur alam.


Dari keremangan kamar, aku sangat ingat, beliau senyum lalu bicara lirih persis seperti orang sedang berbisik: “Iya Kak, Ayah bantu beres-beres perlengkapanmu, Mamah juga udah nyiapin air panas buat kamu mandi, sekarang lagi masak, tuh, buat sarapan.”


Aku kaget, sangat tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Serius, Yah?”


“Iya.” kata beliau.


Aku begitu gembira dibuatnya, langsung saja, seakan mendapat tenaga tambahan, aku berusaha duduk, lalu ayah menyalakan lampu kamar.


“Mau pake baju apa, Kak?” tanya Ayah.


“Olahraga, Yah. Tapi bawa baju ganti.” jawabku dengan tertatih-tatih melangkah untuk mandi.


“Oh, ya, ya. Baju gantinya apa, Kak?”


“Apa, ya, Yah?”


“Kan, Kakak yang mau makai.”


“Lah, Ayah usul, ya, Yah!” seruku manja.


“Ya boleh, Yah.”


Aku memang sering begitu sama Ayah, ngomong teriak-teriak. He he he. Ga sopan, sih, memang, tapi bagaimanapun, aku mencoba mengejar waktu. Jadi maklumi saja, tapi jangan ditiru.


Di dapur, aku lihat Mamah lagi masak, ga tahu apa. Lalu beliau membantuku masuk kamar mandi, kemudian memberiku seember air panas dan handuk. Selanjutnya aku mandi.


Sekitar, setengah jam kemudian aku baru keluar, itu karena aku harus keramas, soalnya sudah lima hari aku hanya menyeka tubuhku, maksudnya bukan aku, sih, tapi Mamah. He he he.


Aku masuk kamar buat berpakaian, semua sudah disiapkan dengan rapi oleh Ayah. Wuhuhu, Ayahku memang idolaku.


Setelah berpakaian dan mengecek perlengkapan dalam tas, aku memakai syal putih yang Gilang beri dan jaket cokelat tua yang dulu Mamah belikan pas beliau ada acara di luar kota. Kemudian menuju ruang makan, tapi jalanku masih pincang karena setiap merasa dingin pasti flu tulangku kambuh.


Di ruang makan, aku makan sambil Mamah menasehatiku agar hati-hati di sana, semoga lekas sembuh, dan berbuat hal baik untuk banyak orang. Pokoknya pas itu, Mamah lagi baik-baiknya.


Selesai makan, aku menuju pintu samping buat makai kaos kaki dan sepatu. Lalu kembali masuk karena Mamah yang nyuruh, supaya ga harus muter dulu. Kasihan katanya.


Ketika hampir sampai pintu depan, Ayah memberiku uang saku dan tas serta doa keselamatan. Jujur aku bingung, kenapa Ayah lakuin hal itu di rumah. Ga mungkin kan, dengan kondisiku begini, aku disuruh ngebus lagi ke sekolah, nanti telat dong!

__ADS_1


Dan setelah keluar rumah, aku tersentak melihat seorang pria sedang duduk di motornya. Siapa? Ya, Gilang! Iya, dia Gilangku.


“Gilang!” kataku terkejut. Dia juga memakai seragam olahraga sepertiku.


Keajaiban benar-benar terjadi. Doaku, langsung dikabulkan. Dan yang membuatnya menjadi kenyataan adalah dia, pria aneh, Gilang.


“Hai,” sapanya sambil senyum. “Sudah baikan?”


Aku mengangguk, lalu menoleh sesaat untuk melihat reaksi kedua orangtuaku.


Aku sangat bingung, mereka justru menyilahkan aku agar pergi dengan pria itu. Padahal, sebelumnya, ketika Ayah tahu aku menyimpan kontak cowo, hp-ku langsung dibanting. Kata beliau, aku ga boleh ditipu sama cowo nakal yang maunya cuma senang-senang.


Tapi, yang ada kini, berbanding terbalik. Kenapa? Ada apa? Aku ga tahu!


Gilang turun dari motornya, menghampiriku, kemudian menyalami Ayah dan Mamah. “Kami berangkat dulu, Yah, Mah.”


“Iya, hati-hati di jalan.” kata Mamah.


“Jangan ngebut.” kata Ayah.


“Siap.” kata Gilang.


Dia mengambil ranselku, lalu memapahku untuk melangkah, dan membantuku naik ke motornya. Sungguh, saat itu aku hanya diam dan mengikuti alur. Pikiranku masih terbelenggu oleh rasa kemustahilan yang terjadi waktu itu.


Setelah duduk sempurna di atas motor, Gilang membenarkan syal yang kupakai. Katanya, dipakai yang benar, biar ga jatuh syalnya.


Kurang ajar, kan? Harusnya kan, biar hangat, atau biar aku ga kedinginan. Ah, gimana, sih, Gilang?!


Kemudian memakaikanku helm hijau, sedang dia helm hitam. Persis seperti awal aku memboncengnya hari Minggu lalu.


Setelah semua dirasa telah beres, Gilang menjalankan motornya dengan sangat pelan.


Di perjalanan, dia diam seribu bahasa. Saat kulihat dia dari pantulan spion, wajahnya tanpa ekspresi, membuatku bingung harus ngomong apa.


Kesannya seperti dia sedang marah padaku. Padahal yang harusnya marah, kan, aku!


Ada apa? Kenapa kamu datang cuma buat diam? Kenapa senyum yang kulihat barusan lenyap dengan cepat? Kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kamu ga jelasin semua yang kamu lakuin kemarin? Kenapa? Ada apa Gilang? Tolong katakan sesuatu!


Hatiku hanya terus berseru tidak menentu, tanpa mulut berani mengeluarkan sepatah kata seperti sebelumnya. Entahlah, mungkin aku dan Gilang saat itu sedang membisu.


Setelah akhirnya masuk ke wilayah Karanglewas, aku merasa cape karena duduk tanpa sandaran. Seakan mengerti kondisiku, tangan Gilang bergerak dan menarik perlahan helm yang kupakai hingga membuat daguku menempel pada pundak kirinya.

__ADS_1


Aku diam. Menuruti kemauannya, dan perlahan semua lelahku lenyap. Aku kembali mencium aroma khas dari seorang Gilang, pria pendiam nan aneh.


Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Sungguh, di dekat Gilang rasanya, begitu nyaman. Rasanya, begitu menenangkan. Rasanya, sakitku lenyap seketika. Rasanya, aku tak mau ini segera berakhir.


__ADS_2