
i
Hari minggu, sekitar pukul 05:15 WIB. Gila! Dia, sudah datang! Siapa? Gilang!
Memang, sebelumnya, aku tidak membuat janji dengan Gilang akan bertemu jam berapa. Tapi, aku tidak menyangka, dia sudah berada di halaman depan kost sambil membantu ibu kost menyapu halaman.
Aduh! Aku belum siap Gilaaaang.
Sontak, teman-teman kost lain menimbrung. Mengintip pria itu melalui jendela sambil bisik-bisik: “Eh, siapa itu?”; “Anaknya ibu kost, apa?”; “Waaaah....”; “Siapa ya namanya?”; “Sekolah di mana sih dia?”; “Aku pengin kenalan.”; “Tapi malu, belum mandi.”
Ih! Aku benar-benar risih dibuatnya. Tapi itu salah Gilang juga sih.
Jadi, selama itu, kubiarkan saja dia dan melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Merapikan tempat tidur, menyapu dan mengepel kamar, menyuci, kemudian menjemur, lalu mandi.
Selepas mandi, kerumunan itu belum bubar. Dan waktu aku mau ke kamar mendadak Ateg keluar dari kamarnya, bikin aku kaget.
“Ada apa sih, ribut-ribut?” tanyanya.
“Itu, Gilang di luar.” jawabku.
“Hah, ngapain dia?” Ateg nanya dengan nada kaget.
“Tadi, sih, lagi nyapu sama ibu kost.”
“Kok bisa?”
Aku berbisik di telinga Ateg, tak ingin orang lain mendengar. “Tadi malam dia nelpon.”
“Oooh, terus dia ngajak kamu jalan?”
“Ssstt.... pelanin suaramu.” pintaku.
“Iya, iya. Apa, sih?” tanyanya agak bingung.
“Aku ga sengaja kepancing mau ke rumah dia.”
“Loh?!” Ateg berseru membuat kerumunan itu sedikit melengos ke arah kami.
“Ssstt....” ujarku.
“Iya, maaf.” katanya. “Lah, kok bisa gitu?”
“Dia sakit, jadi aku niat mau jenguk dia.”
“Sakit apa emang dia?”
Aku sungguh tidak mungkin bilang pada Ateg kalau Gilang sakit diare terus aku jadi mau ke rumahnya. Nanti, bisa-bisa Ateg makin memojokanku.
“Ada pokoknya.” jawabku.
“Oke, terus?” tanyanya.
“Dia ga mau, malah maksa mau datang.”
“Terus?”
“Reflek deh, aku minta dia datang buat jemput aku terus main ke rumahnya.”
“Waaa—”
Ateg hendak berseru tapi untung saja masih sempat kubungkam mulutnya dengan kedua tanganku.
“Maaf, maaf.” katanya. “Terus apa masalahnya?”
“Lihat,” kataku nyuruh Ateg melihat ke arah kerumunan itu.
“Itu masalahnya?”
Aku mengangguk. “Terus gimana?”
“Bilang aja, itu pacar kamu.”
“Hah?!” Kini gantian aku berseru membuat mereka memandang kami risih.
__ADS_1
“Jangan berisik!” bentak Ateg namun lirih.
“Masa aku ngaku-ngaku kayak gitu?”
“Udah, ga apa-apa, aku yakin, Gilang juga ga masalah, kan?”
“Aku harap, sih, gitu.” jawabku.
Memandang ke arah luar. Aku benar-benar tidak mengerti ada apa di dalam dirinya hingga membuat mereka terpaku untuk terus memandangnya.
Aduh, kok aku ngerasa kesel ya?
Tanpa sadar akhirnya aku melangkah ke arah mereka lalu berkata: “Udah bubar-bubar. Beres-beres gih, sono.”
“Yeee.... ganggu kesenangan orang aja.”
“Eh, sewot.” Kujawab dengan nada yang sama.
“Elu duluan yang sewot!”
“Eh, dengar, ya!” kataku agak marah. “Dia itu, Gilangku, dia adalah milikku. Jadi, jangan ganggu hubungan kami.”
“Oooh....” kata mereka kompak lalu meminta maaf dan membubarkan diri.
Syukurlah, kata hatiku.
Mendadak aku mendengar Ateg ketawa lirih. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Aduh, aku jadi malu sendiri.
Langsung saja aku berlari ke kamar dan mengunci pintu. Sedang dari luar, aku mendengar Ateg berseru: “Dia, Gilangku! Dia adalah milikku!”
“Ateeeeeeeeg!”
“He he he.” Dia ketawa terus sampai suaranya tidak kudengar lagi.
Aku jadi lemas dibuatnya. Ga nyangka, aku baru saja memperebutkan Gilang, dan mengaku kalau dia adalah milikku.
Ah, aku benar-benar bingung dengan diriku. Semoga saja Gilang tidak mendengarnya.
Segera aku mengalihkan semua hal yang baru terjadi untuk bersiap menemui Gilang.
🌹🌹🌹
ii
Kamu pasti tahu kenapa aku baru menemui Gilang sejam berikutnya. Beres-beres itu butuh waktu lama, belum itu memilih baju, jaket, tas, sepatu, terus dandan, terus uang jajan—ga mungkin aku ke rumah Gilang ga bawa tentengan.
Kulihat dia segera berdiri. Gilang kali ini memakai kaos putih polos, jaket biru dongker bertutup kepala yang tidak digunakan dengan dua garis putih pada lengan kanan, serta celana biasa yang juga sewarna dengan jaketnya. Simpel, tapi benar-benar istimewa.
Sedang aku, tanpa sengaja memilih mengguna-kan baju tunik putih yang didobel jaket biru dongker, celana lejing biru dongker, dan tas putih kecil.
Waaaah, rasanya seperti mau kencan. Bisik hatiku.
“Hai,” sapanya.
“Hai,” jawabku gugup.
“Waaah.... pakaiannya serasi banget.” kata ibu kost.
Aku yakin, mukaku pasti merah.
Kulihat Gilang senyum, tapi tetap memandangku. Kemudian agak mendekat dan berbisik. “Kamu sejuta kali lebih cantik dari biasanya.”
Aku terkesima mendengarnya. Lebih karena, seperti kesan dia baru saja mencium pipiku, meski nyatanya tidak. Ah, aku meleleh dibuatnya.
“Ya sudah, kalian hati-hati di jalan.” kata ibu kost.
Aku dan Gilang menyalaminya tanpa kata. Lalu Gilang mengajakku melangkah setelah menarik tanganku. Sungguh, aku sangat tidak tahu harus bilang apa.
Sampai di gerbang kost, Gilang memakaikanku helm warna hijau, sedang dia makai helm hitam. Katanya, ga usah ikut-ikutan sinetron yang boncengan ga pakai helm, tidak sesuai aturan, ngasih contoh ga benar. Padahal, keselamatan itu penting, tentunya karena aku belum punya SIM.
Aku sedikit ketawa mendengarnya.
“Jangan peluk.” katanya membuatku syok.
__ADS_1
“Engga.” jawabku agak jengkel. Padahal aku ngira dia bakal minta, eh, justru ngelarang.
“Tapi pegangan, ya?”
“Hah?” Aku terkejut mendengarnya. Mengangguk dengan ragu-ragu. Kemudian aku naik ke sepeda motor matic merah milik Gilang.
Aduh, aku makin senang dibuatnya. Memang, aku lebih suka cowo yang makai motor matic, ga nyeremin soalnya.
Motor melaju, keluar dari gang kost, melewati Masjid Agung, kemudian belok kiri setelah pertigaan, lurus terus hingga melalui SMAN Purwokerto, lalu belok kiri di perempatan lampu merah, dan....
Cuma itu yang aku ingat. He he he.
Di jalan, kami saling diam. Rasanya seperti ada jarak di antara aku dan Gilang, terutama dari posisi duduk. Aku ga nyangka, Gilang ga minta dipeluk, atau mungkin, memang belum waktunya? Entahlah, tapi, saat itu, aku sangat gembira bisa naik motor berdua dengan dia, Gilangku yang kutunggu-tunggu.
Eh, sejak kapan dia jadi Gilangku? Ah, aku ga peduli. Kan dia selalu cuek ke orang lain, tapi ke aku engga, berarti jelas kalau dia lebih ngutamain aku dari apapun.
Ketika melewati alun-alun Purwokerto mendadak Gilang berkata: “Nanti malam kita ke sini.”
Aku bingung, tidak tahu harus jawab apa, hanya diam bersama degup jantung yang tidak bisa diam.
🌹🌹🌹
iii
Gilang muter-muter terus, lewat jalan kecil, susur-susur gitu. Pokoknya bikin aku pusing, juga laper, sih, tapi dikit. Karena penasaran jadi aku nanya langsung sama dia: “Ini kamu mau bawa aku ke mana, sih?”
“Ke rumahku.”
“Rumah kamu emang muter-muter banget apa jalannya?”
“Engga, siapa bilang?”
“Lah, ini buktinya kamu muter-muter terus.”
Dia ketawa, tapi aku ga dengar, aku cuma lihat ekspresinya dari spion yang sengaja diarahin ke aku. Katanya, kayak gitu, biar mastiin aku ga kejatuh di jalan. Kurang ajar, kan, dia?
“Terus?” Aku nanya.
“Terus?” Dia ikutan nanya.
“Iya terus rumahmu di manaaaa?!” tanyaku geget sendiri.
Gilang ketawa tanpa suara, persis kayak dia lagi senyum, tapi berkali-kali. “Di Wangon.”
“Jauh, dong?”
“Kamu, tahu?”
“Iya, itu ngelewati Ajibarang.”
“Oooh, rumahmu di Ajibarang?”
“Iya, di Pancurendang.”
“Terima kasih sudah membantu.” kata Gilang.
“Ma-maksudnya?” tanyaku.
Dia ketawa bikin aku sadar kalau barusan aku ngasih tahu ke Gilang tentang daerah tempat tinggalku. Aduh, payahnya aku.
“Terus, kenapa muter-muter?” Aku nanya buat ngalihin rasa maluku.
“Biar kamu laper.”
“Aku udah laper, Gilang.” kataku sambil me-mukul pundak kanannya, eh dia ketawa. “Sekarang, jam berapa coba?”
Gilang menarik lengan kanan jaketnya dengan tangan kiri, kemudian meski agak kesusahan, tetap dia paksain buat lihat angka di jam tangannya.
“Hmmm.... jam delapan lebih dikit.”
“Tuh, udah mau siang.” kataku.
Gilang ketawa, lalu minta maaf, tapi aku diemin.
__ADS_1
“Mau makan sekarang?” tanyanya.
“Boleh.” jawabku.