
Hari Rabu, di kantin, sewaktu istirahat, aku duduk satu meja sama Gyan, Kelvin, dan Arya. Aku ga tahu kenapa semua ini kembali terjadi, awalnya aku cuma makan sama Gyan, tapi Kelvin sama Arya tiba-tiba main nimbrung gitu aja.
Kalaulah makanan Gyan dan makananku sudah habis, pasti aku langsung kabur dengan berbagai alasan. Tapi sayangnya, hidangan itu baru kami dapat setelah menunggu antrian yang sangat panjang.
Aku juga ga mungkin ninggalin Gyan gitu aja. Semoga Gilang ga salah paham lagi.
Gyan memersilahkan mereka buat makan bersama, terus ngomong ini itu yang ga perlu.
“Eh, kata kelas sebelah, katanya nanti ga ada pelajaran.” kata Arya.
“Apa iya, Vin?” Gyan bertanya.
Dia mengangguk. “Aku disms Bu Yuni tadi pagi, katanya mau ada tes kesehatan.”
“Buat apa?” Gyan kembali tanya.
“Nyari tahu siapa yang udah pakai narkoba sama yang lagi hamil.” jawab Arya menyerobot.
“Emang ada, ya?” tanyaku.
“Aku sih ga tahu.” kata Kelvin akhirnya. “Arya, kamu kan punya teman kakak kelas. Tahu, ga?”
Arya menelan minumannya kaget. “Bentar-bentar....” Mengelap mulutnya yang basah. “Iya ada, dua tahun lalu.”
“Ih, seram.” kata Gyan.
“Aku yakin di kelas kita juga ada.” kata Kelvin.
“Siapa?” Aku sama Gyan tanya sewaktu tanpa direncanakan.
“Itu yang sering tidur di kelas.”
“Kok gitu?” Gyan nanya.
“Ya, mungkin gara-gara sering minum kali.”
Aku agak jengkel mendengarnya, meski pernyataannya ada kemungkinan betul. Aku yakin, Gilang tidur di kelas bukan karena minum-minuman keras atau sebagainya, tapi karena hal lain. Mungkin karena begadang, atau kerja malam, atau lainnya.
Kalaulah benar Gilang tidak seperti dugaanku, harusnya aku mencium bekas aroma bir dan sebagainya. Tapi, setiap hari duduk di sampingnya, aku tidak pernah nyium aroma yang aneh-aneh. Dan lebih tepatnya, Gilang kayak ga punya bau.
“Bisa jadi. Tapi kata kakak kelas, jadi bisa tahu golongan darah juga.” jawab Arya.
“Oh, gitu.” kata Gyan.
“Kamu apa, Yan, golongan darahnya?” tanyaku.
“Hmmm....” Dia tampak berpikir. “Kalau ga salah, O.”
“Kalau kamu, Lufi?” Kelvin nanya, duluin Gyan.
“Ga tau. Kalian berdua apa?” tanyaku mencoba antusias, padahal sih ga pengin tahu.
“Aku, A.” kata Kelvin.
“Aku, B” kata Arya.
“Beda semua, ya?” kataku.
“Kayaknya kamu O deh Fi, kayak aku.”
“Kenapa sih, Yan?” Aku nanya.
__ADS_1
“Ya, cuma sering ngerasa kita mirip.”
“Jadi golongan darahnya juga sama, gitu?” tanyaku.
“Mungkin.” jawab Gyan.
“Aku sih setuju sama Gyan,” kata Arya menimpali.
“Bisa juga, A, kayak aku.” ujar Kelvin.
Kulihat Arya dan Gyan ketawa sedikit sambil bilang: “Itu sih maumu.” Dengan kompak.
Aku cuma senyum. Yang kutahu, goldar A itu rajin. Jadi ga mungkin aku yang sering berangkat telat goldarnya A. Kalau goldar B, itu berantakan, seenaknya sendiri, terlalu bebas, ga mungkin juga aku. Biasanya goldar B ada sama siswa-siswa nakal. Terus, goldar AB, aneh. Aku sangat yakin ini goldarnya Gilang. Tapi ga tahu deh. Soalnya goldar AB kan termasuk goldar yang langka. Dan terakhir, goldar O, sesuai mood.
Ya, aku sih lebih cocok sama pendapatnya Gyan, kalau goldarku O. Ga tau deh, nanti gimana hasilnya.
Tak lama dari itu, aku terkejut karena melihat Gilang mendatangi meja kami, lalu menyapa: “Hai,”
Aku senang, akhirnya Gilang kembali seperti semula. Meski akhirnya membuatku merasa malu, entah kenapa.
Semua menjawab kecuali Kelvin. Aku tidak tahu apa alasan dia begitu. Aku saja yang gerogi masih berusaha kuat untuk membalas salamnya.
“Lutfi,” panggilnya.
“Ya, Gilang.”
“Cuma nyapa.”
“Iya. He he he.”
Aku bingung sendiri kenapa saat itu malah ketawa. Biasanya juga aku sebal. Ga tahu deh, aku lagi aneh mungkin.
“Tumben ga tidur, lehernya encok?” Kelvin nanya.
“Ciyeee.... perhatian.”
Kelvin senyum pahit lalu melengos.
Aku, Gyan, Arya, terus ada juga beberapa siswa lain yang mungkin mencuri dengar pembicaraan mereka, pada ketawa.
“Mau mijitin?”
“Ogah, amat. Emang aku tukang pijet kamu, apa?” tanyanya judes dengan wajah marah.
“Emang pengin dianggep pacar?” Gilang menjawabnya datar, membuat orang-orang perlahan mengerubung sambil ketawa. Lalu kembali berkata sebelum Kelvin membuka mulut. “Maaf ya, aku ga nerima kamu. Aku udah cinta orang lain.”
“Peduli amat.”
“Siapa tuh?” tanya entah siapa dalam kerumunan seakan menghiraukan jawaban Kelvin.
Dan sebenarnya, hatiku juga nanya gitu. Penasaran. Semoga aja rasa itu masih buat aku.
Gilang menepuk pundak Kelvin dan berbisik tapi keras. “Kamu tahu ga, aku cinta Lufi.”
Sesaat orang-orang pada ketawa, begitu juga Gyan sama Arya. Ada juga yang bilang: “Ciyeee....” Kemudian mereka bubar entah kenapa.
Kelvin senyum sambil memandangku.
Pasti mukaku waktu itu memerah.
“Tapi, malu bilangnya.” kata Gilang.
__ADS_1
Kamu juga udah ngomong langsung lewat telpon! Lupa? Ih! Ngeselin deh. Tapi lucu. He he he.
“Barusan udah bilang.” ujar Kelvin ketus.
“Kan ke kamu bukan ke Lutfi.”
“Dia dengar, kan?”
“Mudah-mudahan.” jawab Gilang sambil melirik ke arahku.
Aduh! Selain karena Gilang mengungkapkan itu terang-terangan, ketika aku melihat senyumnya, makin membuat jantungku berdegup tidak beraturan.
“Jadi, kamu ga usah ngarep lebih ke aku.” kata Gilang lagi.
Kelvin ketawa kecil, tapi ada rasa kesalnya.
“Ya sudah, silahkan dinikmati, masakan mamih kantin.”
“Iya.” jawab kami kompak.
“Kamu, ya engga.” katanya menatapku yang sedang menikmati sari kacang hijau.
Aku ketawa sambil garuk kepala.
Gilang melengos. “Mamih kantin!” Serunya. “Mie goreng pakai kuah, satu.”
“Siaaap!”
Deg! Aku, dan mungkin semua orang yang mendengarnya sudah pastilah terkejut.
Apa enak, mie goreng pakai kuah? Aneh.
Tanpa sadar aku ketawa.
“Tambah sambal, ya?”
“Oke. Minumnya apa”
“Air es, manis.”
“Oke.” jawab mamih kantin seakan sudah terbiasa dengan jenis pesanan anehnya, itu.
Gilang duduk di kursi seberang sendirian. Seakan mengasingkan diri dari keramaian suasana kantin.
Rasanya, saat itu, aku ingin segera pindah dan menemaninya. Tapi ga tahu kenapa, pas itu, aku diem aja.
Juga, aku merasakan hal lain. Ga biasanya Gilang begini. Maksudku di hari-hari sebelumnya, Gilang selalu tertutup dan diam. Tapi kini, setelah kejadian kemarin yang dia ngejauhin aku, mendadak Gilang berbuah menjadi pemberani, seperti seekor singa yang mendadak menunjukan taringnya.
Benar, Gilang memang sangat cocok jika diibaratkan sama singa. Pendiam tapi ganas, pemberani nan gagah.
Aduh! Memikirkan itu bikin aku makin terkesipu malu.
Di depanku, Kelvin melihat ke arah lain sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya dengan keras.
Bisa kubaca di matanya, sepertinya dia sangat terganggu oleh kata-kata Gilang. Aku tebak, gitu. Cuma nebak. Dan sangat yakin tebakanku benar. Tapi aku ga peduli, saat itu, aku sangat senang karena Gilang kembali seperti semula, dan ternyata dia memang cinta sama aku.
Hanya aku percaya, Kelvin mulai tidak suka dengan Gilang sejak saat itu. Dari semenjak Kelvin tahu kalau Gilang mencintaiku. Karena kata Arya, siswa yang duduk sama Kelvin, Kelvin itu naksir sama aku. Tapi aku cuma senyum mendengarnya. Karena mengenai soal itu, aku sudah menduganya sejak lama.
Aku bisa tahu dari sikap dan perilaku Kelvin kepadaku, termasuk nelpon abis pulang sekolah atau malam-malam cuma buat nanya soal PR atau nyanyi lagu-lagu romantis, traktir makan—meski aku ga pernah mau, cerita hal-hal yang ga jelas, usaha ngelawak tapi garing—karena udah sering aku dengar sebelumnya, dan banyak lainnya. Itu semua adalah modus untuk mendekatiku.
Tapi Kelvin berbeda dengan Gilang yang diam-diam memerhatikanku dan memberikan bantuan sesuai apa yang sedang kubutuhkan, memahami perubahan kecil dalam diriku, dan tentunya, Gilang melakukannya secara hati-hati tanpa memaksa masuk daerah terlarangku: masalah pribadiku. Perasaanku.
__ADS_1
Ya, mereka adalah dua orang yang jauh berbeda. Dan jika disuruh memilih, aku akan jauh lebih memilih si Aneh, Gilang daripada Kelvin yang terkenal paling rajin di kelas.
Memang, terkadang yang anehlah yang paling dicari-cari dan menjadi pilihan utama.