
i
Ba'da shalat Jum'at aku mendapat pesan dari Baim untuk mendatangi sebuah perusahaan milik salah satu channel TV sebagai tamu undangan dalam rangka menguak kejadian tentang berita orang hilang, tapi aku menolaknya karena ada hal lain yang harus kuurus terlebih dahulu, yakni: kontrak.
Ya, aku masih belum bisa menerima pernyataan Direktur untuk melakukan kolaborasi dengan Clara. Sekali lagi, aku tekankan bahwa aku tidak membencinya, satu-satunya yang menjadi masalah di sini adalah karena dia wanita. Kalau saja yang menjadi partnerku menulis seorang pria, tentu aku tidak akan bersikeras—berulang kali membujuk Direktur seperti hari ini.
Sayangnya, kekeraskepalaanku tidak membuahkan hasil, Direktur tetap kukuh akan pendiriannya dengan alasan kontrak telah ditetapkan, dan nitizen sudah mengetahui kabar tersebut.
Ah, ya, di dunia ini nitizen seakan menjadi penguasa segalanya. Sering kali hanya makin menyusahkan masyarakat, dengan membolak-balikkan fakta atau menyebar berita hoaks. Menyebalkan!
Bahkan setelah aku meminta bantuan kepada Pak Heru, Pak Zurri, Bu Sumiarti, dan Mas Beni; semuanya hanya menyuruhku untuk mengikuti keputusan Direktur, dan apa yang tertulis di dalam kontrak. Lebih daripada itu memang, jika aku tidak bisa menyelesaikan naskah ini di awal bulan Februari tahun depan, aku harus bersiap membayar denda sebesar Rp. 50.000.000.- dan atau dipenjara paling lama sepuluh tahun.
Penjara? Huh.... aku memang terkadang membayangkan bagaimana kehidupan di balik jeruji besi. Seperti apakah susasana di sana? Benarkah itu hanya tempat bagi para kriminal? Atau memang ladang untuk berbisnis?
Tapi, selain pikiran-pikiran tentang pekerjaan, otakku juga terus menari, berusaha menebak keadaan Lutfi sekarang.
Semoga saja dia tidak dengan pria lain, semoga saja dia tidak mencintai pria lain, semoga saja dia sehat, semoga saja dia tidak stres, semoga saja tidak ada yang melukainya, semoga saja dia rajin makan, semoga saja dia rajin mandi, dan semoga saja dia merasakan kerinduan yang kubisikkan kepada angin sore.
Di ruang pribadi, selepas meminta kabar tentang Lutfi kepada seluruh temanku, aku duduk di meja kerja sambil kepala menengadah. Menatap langit-langit kamar. Dada kembang kempis dengan napas berat.
Dari penglihatanku, aku merasa dinding-dinding tembok mulai merapat, dan atap berputar hebat, sedang alas yang kutapaki bergerak bak gelombang dahsyat di laut lepas. Lebih daripada itu, setiap kali aku menarik napas bagian jantung merasakan nyeri yang berlebih. "Ah, apa sakitku kambuh?"
Aku memejam, menikmati segala ketidakberdayaanku. Sambil otak berusaha memunculkan wujud Lutfi, aku mencoba tenang.
Wajah cantinya mempesona seindah bunga mawar yang mekar saat matahari terbit. Senyumnya anggun dan makin memunculkan aura kelembutan dari dalam dirinya. Kedua bola matanya berkilat bagai kilauan cahaya bulan purnama.
Ah, mungkin aku terlalu berlebihan dalam menggambarkan Lutfi. Tapi, begitulah caraku memandangnya. Tidak bermaksud melebihkan apalagi mengurangi.
Aku yakin, sesiapapun pria di dunia ini, yang baru melihatnya sekali saja akan langsung jatuh hati. Itu pasti! Aku yakin, dan sangat yakin. Seperti aku yang langsung menaruh hati kepadanya saat baru berjumpa.
Benar, kalian bisa menyebut kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama. He.... seperti kisah fiksi saja. Tapi, yah.... aku mengakuinya.
🌹🌹🌹
ii
Delapan tahun lalu.
Ajibarang, tahun 2010.
Aku duduk dengan kepala tertunduk sembari bertumpu tangan yang memeluk lutut di pematangan sungai, di mana tidak ada orang di sekitar sini. Demi menyembunyikan dera air mata di bawah tangisan langit.
Hari itu, aku benar-benar kacau. Kesedihan dan penyesalan bersinkronisasi dengan sempurna mengubek-ubek hati dan otakku.
Kekecewaan yang berlipat karena hubungan asmara semasa bocah membuat dadaku sesak dan sulit untuk bernapas. Bagaimana mungkin aku tidak kecewa, dia—wanita sialan itu mendekatiku selama dua bulan ke belakang, dan memaksaku untuk menjadi pacarnya dengan ancaman dia bakal bunuh diri kalau aku menolak.
__ADS_1
Tentu saja, awalnya aku menghiraukan ocehannya itu. Sebelum akhirnya aku terpaksa menerima dia setelah dia menyebar gosip ke seluruh warga sekolah kalau kami sudah berpacaran. Kujalani hubungan ini dengan keterpaksaan yang teramat, mencoba untuk tahu alasan di balik dia memintaku menjadi pacarnya.
Awal kami berpacaran dia sangat baik. Mengajak pulang bareng, menunggu aku latihan pencak silat, menelfon saat mau tidur, dan membantuku mengerjakan tugas. Ya, baik untuk orang introvert sepertiku.
Iya, iya, aku akui, perlakuannya tidak jauh berbeda dari teman biasa.
Oke, lanjut!
Di situ, setelah enam hari menjalani hubungan, aku mulai tertarik kepadanya, dan mencoba membuka hati untuknya. Maksudku, aku berusaha menerima dan mencintainya. Tapi....
Aku mendapat telfon dari sahabatnya dia—wanita sialan itu, katanya si WS (Wanita Sialan) lagi makan bareng cowok lain di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari terminal Wangon. Aku segera pergi untuk membuktikannya.
Apakah kali ini akan jadi kali ketiga dia makan bareng cowok lain?
Dan benar, si WS sedang bermesraan bersama pria yang mungkin dua atau tiga tahun lebih tua darinya. Mereka saling suap satu sama lain, sedang tangan satunya saling menggenggam bak pengantin baru yang sedang bulan madu.
Aku melangkah ke arah mereka. Lalu menyalami si pria sambil berkata: "Aku pacarnya,"
Dia tampak kebingungan dan memandang si WS dengan tatapan kesal.
"Apa-apaan, sih, kamu?!" Si WS berseru, tapi aku tidak peduli. Sama sekali tidak melihat ke arahnya.
Kutepuk pundak si pria. "Selamat, ya. Karena kau juga berhasil ditipu kayak aku." Aku bangkit dan meninggalkan keduanya begitu saja.
Telingaku masih sempat mendengar si pria berseru: "Berani-beraninya kamu bohongin aku! Kita putus!"
Kujawab dengan gelengan kepala, kemudian berkata: "Kami baru pacaran seminggu. Aku juga ga suka sama dia."
"Hah?! Se-seminggu?" Si pria terkejut. "Aku udah mau setahun."
"Oooh.... berarti kamu yang diselingkuhin. Bukan aku. Ya udah, aku masih ada urusan." kataku lalu pergi dengan sepeda.
Selanjutnya, aku tidak tahu-menahu bagaimana kelanjutan dari hubungan mereka. Karena tepat pada malam harinya, setelah dia menelfon dan mengomeliku karena sudah mengganggu dia dengan gebetannya—yang ketiga, itu yang kutahu, yang aku ga tahu ada berapa?—aku meminta putus dan mengganti nomor teleponku.
Jadi, dari hal itu, kalian pasti bisa tahu bagaimana kecewanya aku terhadap dia. Dan kalian harus setuju dengan julukan yang kuberikan padanya: si wanita sialan!
Tapi, hari ini, aku sedang tidak galau karenanya, aku hanya merasa kecewa terhadap wanita yang menjadi pacarku pertama. Dari hal itu, aku makin takut untuk memiliki hubungan dengan wanita, seperti pacaran maksudku.
Semoga saja, itu tidak merubah pribadiku menjadi takut terhadap wanita, atau membuatku tidak mau menikah, apalagi berubah homo. Jangan sampai!
Dan tentunya hal itu tidak pernah terjadi, karena tepat di hari ini, aku jatuh hati kepada seorang wanita yang seumuran denganku, yang mana delapan tahun ke depan sedang kuperjuangkan mati-matian agar bisa kembali berjumpa dengannya. Ya, dia, Lutfi.
Tapi sebelum masuk pada kejadian itu, aku akan menjelaskan hal lain yang membuatku menangis selain rasa kecewa akan sebuah pengkhianatan.
Pertama, untuk pertama kalinya dalam sejarah aku hidup, aku mendapat nilai nol untuk ulangan harian matematika.
__ADS_1
Ya, gila memang! Selama ini, sejak aku TK sampai kelas 3 SMP, nilai matematikaku paling rendah ya cuma 75. Tidak pernah kurang dari itu.
Kenyataannya, aku lebih pandai menghitung daripada membaca. Dan benar, aku lebih suka hitung-menghitung ketimbang menulis dan membaca.
Tapi, aku harus menerima kenyataan kalau ulangan harian matematikaku kali ini mendapat nol. Dan itu semua gara-gara aku ketiduran.
Ya, mau bagaimana lagi, namanya juga ngantuk, ya tidur obatnya. He....
Kedua, karena nilai ulangan harianku dapat nol, aku harus bersiap menghadapi omelan Mamah yang pasti tidak akan cepat berakhir.
Zaman dulu, setiap selesai ulangan, harus ditandatangani oleh orang tua sebelum dikembalikan kepada guru. Jika tidak, siswa akan diberi nilai nol meski dia mendapat nilai seratus sekalipun.
Mungkin, baiknya aku tidak memberitahu Mamah soal nilaiku yang ancur parah. Tapi, aku tidak berani menyembunyikan apa pun dari orang yang paling mengerikan di dunia. Iya! Mamah jawabannya.
Yaa... Ibu, Bunda, Mamih, Umi, Mboke, dan lain sebagainya, sama, lah.
Ketiga, karena diomelin Mamah akibat ulangan harian dapat nilai nol, aku harus terima kalau uang jajanku bakal dikurangi.
Keempat, karena uang jajan dikurangi itu berarti aku tidak bisa membeli keperluanku sehari-hari dan menabung secara bersamaan. Dan artinya, aku harus berhenti main PS demi menghemat uang supaya bisa membeli kado untuk ulang tahun Mamah tujuh bulan lagi.
Ya, masih lama, tapi aku ini hanya seorang siswa yang cuma dapet penghasilan dari uang jajan. Karena sudah kelas 9 SMP jadi aku dilarang lagi membuat dan menjual komik.
"Ah, rasanya semua menjadi kacau gara-gara kebiasaanku tidak tidur pas malam. Semoga saja, aku ketemu orang yang bisa cepat ngobatin penyakitku ini."
Nah, dari kesemua hal yang telah kujelaskan, tentunya kalian tahu apa yang sedang kurasakan ini. Sedih, kecewa, marah, kesal, benci, dan segala luapan emosi yang berkecambuk menjadi satu. Memaksa aku untuk terus mengeluarkan air mata penyesalan.
Dan, bersama hujanlah aku bisa berlindung dari pertanyaan orang-orang, bersama hujanlah aku bisa membohongi semesta, bersama hujanlah aku melepaskan segala asa, bersama hujanlah aku mendengar suara lembut darinya.
Aku terkejut setelah merasa tidak ada lagi rintikan air yang membasahi tubuh. Menengadah kepala, dan ada sebuah payung di atas kepalaku. Kulihat siapa pemiliknya.
Aku tersentak "Dia, dia cewek yang selalu telat pas Try Out!" hatiku berseru.
"Hatimu boleh sakit, tapi tubuhmu jangan diikutkan." katanya sambil menyerahkan payung itu, kemudian pergi dengan payungnya yang lain.
"Da-darimana dia tau?" Hatiku kembali bersua.
Dari hal itulah benih cinta muncul. Membuatku terobsesi untuk mengenal dirinya lebih jauh, untuk membalas kebaikannya dengan memberi segala hal yang dia butuh, untuk membuatnya tersenyum, untuk membuatnya bahagia, untuk mendapatkan hati dan cintanya, serta untuk mati demi dirinya.
🌹🌹🌹
iii
Masih dalam posisi memejam, aku mulai merasa air mata keluar dan melintasi pipiku. Kubuka kelopak mata, mencoba memandang atap dengan tatapan berair.
"Lutfi, benar-benar pergi. Dia, sudah tidak lagi denganku. Kenapa dia pergi? Apa salahku?"
__ADS_1
Air mata menetes lebih deras daripada sebelumnya. Langit-langit, dinding kamar, dan alas; semuanya bergerak lebih gila daripada sebelumnya. Dan napasku makin berat dan dada sakit saat aku mencoba menghirup udara.
Mendadak terdengar dering ponsel pintarku di balik kebisingan suara air menubruk atap-atap rumah. Dalam ketidakberdayaan aku mencoba meraihnya dengan susah payah. Tapi, aku gagal. Aku ambruk dan kehilangan kesadaran bersama kemelut hujan.