
i
Kami sampai di Singapore Changi Airport jam 5 kurang seperempat sore.
Selama perjalanan aku hanya terus menimbang pasal Lutfi dengan mata memejam. Sedang Tio, dari suara yang kudengar dia berulang kali meminta ini itu kepada pramugari.
Ya, namanya cowok, pasti usaha deketin cewek. Umumnya gitu, untung aja aku termasuk cowok ga umum makanya ga deketin cewek.
Baru kali ini rasanya senang bisa beda sama orang lain.
Kebanyakan, orang bergolongan darah AB tidak suka dibedakan dengan orang umum, apalagi disebut: "Aneh" Bagi mereka, semua yang mereka lakukan adalah hal yang wajar, tapi tentu tidak bagi orang umum. Dan sebaliknya.
Contohnya adalah mengurung diri di kamar. Bagi orang umum, hal itu dilakukan hanya saat ada masalah, gabut, mager, sakit, atau lainnya. Tapi bagi orang bergolongan darah AB, mengurung diri di kamar adalah kegiatan yang biasa dilakukan setiap hari. Ya, rutinitas.
Mirip penghuni kamar. Rebahan aja sampe kasurnya gepeng.
Oke, lanjut ke cerita.
Aku mengajak Tio untuk melaksanakan shalat Ashar kemudian shalat Maghrib—waktu Maghrib di sana pukul 17:15—di tempat yang sudah disediakan setelah bertanya kepada petugas. Untung saja, meski norak dan kikuk Tio cukup pandai berbahasa Inggris. Meski cuma: "Yes, no. Yes, no."
Lalu bagaimana kami bisa nanya tempat ibadah orang muslim?
Pertanyaan yang bagus!
Bukan bermaksud menyombong diri. Karena kebiasaanku nonton film buatan luar negeri, aku cukup paham dengan bahasa Inggris dan bahasa Jepang—sebagai cowok sewajarnya suka anime. Jadi aku bisa memahami apa yang dikatakan Si Petugas, sedang kami menjawab dengan bantuan google translate. He....
"Gimana sekarang?" tanya Tio selepas shalat.
Aku tertunduk. Berpikir bahwa aku ingin cepat mencari Lutfi lagi. Tapi aku meminta: "Kita cari penginapan, sama makan."
"Di sekitar sini?"
Aku ngangguk. "Yang paling murah,"
"Ha ha ha," Tio ketawa.
Sedang aku meringis.
"Eh bentar," ujar Tio. "kita kan belum nuker duit. Emang di Singapura pake rupiah juga, ya?"
"Di bandara kayaknya ada," jawabku.
"Tempat penukaran uang maksudnya?" Dia memastikan.
Aku menyetujuinya dengan isyarat.
"Oke, kita cari itu dulu, ya?" pintanya.
Aku mengangguk setuju.
🌹🌹🌹
ii
Nukar uang, sudah. Cari makan, sudah. Cari tempat penginapan, sudah. Semua yang diperlukan sudah selesai dipersiapkan. Malam ini, selepas makan, Tio mengajak aku untuk berdiskusi: menentukan tempat-tempat buat nyari Lutfi.
Aku ga nyangka, dia bakal mikir kayak gitu. Aku pikir, dia cuma kepikiran buat main dan beli oleh-oleh di Singapura. Nyatanya, dia lain—berbeda dari persepsiku. Maafin aku Tio, kamu emang teman yang luar biasa!
"Mau nyari di mana aja?" Dia nanya.
"Tempat yang terkenal di Singapura apa aja?" Aku balik nanya.
"Pst! Banyak, Nu. Ada...." Kepalanya melengos berpikir sejenak, lalu kembali menatapku dengan seringai menyebalkan. "ga tau. He he he,"
Aku sudah menduganya. "Cari aja di internet,"
"Oke." Dia melaksanakan tugas sesuai perintahku. "Lucu juga, ya?"
Aku diam, tidak menanggapi omongannya.
"Dua orang pria tanpa pengalaman naik pesawat, pergi ke Singapura tanpa tau apa pun tentang tempat itu, terus.... parahnya, dua-duanya ga bisa bahasa Inggris. Ha ha ha,"
Aku senyum mendengarnya. Kalau dipikir-pikir itu memang lucu, sih.
"Nu, coba kapan-kapan kamu tulis aja." kata Tio sambil memandang ke arahku dengan tatapan penuh harap.
"Nulis apalagi?" tanyaku agak kesal. "Baru aja Jum'at kemarin kamu minta dibikinin novel tentang kamu sama pacarmu, sekarang apalagi?"
"Ha ha ha, kalo itu kapan-kapan aja ga masalah. Ga usah buru-buru!" Dia berseru senang. "Kalo sekarang, aku mintanya kamu nulis perjalananmu."
"Maksudnya?"
"Kamu bikin cerita tentang usahamu nyari Lutfi. Kan siapa tau dia beli, terus baca, terus nyamperin kamu, deh."
Hatiku tergugah mendengar omongan Tio. Memang selama ini aku selalu menulis apa-apa yang sudah kulakukan setiap hari, tapi aku belum memiliki keinginan yang kuat buat nerbitin cerita kayak begituan.
Pendapat Tio barusan adalah hal yang sangat tepat dan masuk akal, menurutku. Namun, ada hal lain yang harus kutunda, sebelum aku mengirimkan kisahku ke penerbit. "Kalo kisahnya udah tamat,"
"Ma-maksudnya.... kalo kamu udah nemuin Lutfi, gitu?"
Aku mengiyakan dengan anggukan.
"Lah, kalo kaya gitu, sih, sama aja kamu nyari lagi sampe ketemu." gerutunya.
"Buku ga bagus kalo ga ada kesimpulan di akhirnya, kan?" Aku nanya.
Tio menghela napas. "Iya, sih. Tapi ada juga buku yang sengaja dibuat nggantung."
"Jadi dibikin seri, gitu?"
Tio ngangguk.
"Aku bakal mikir." kataku. "Terus, udah ketemu belum, tempat mana aja?"
"Oya, sampe lupa." Tio ketawa. Kembali menatap ke arah hp-nya. Mengolak-aliknya. "Nih," Lalu menyerahkannya kepadaku.
Aku menerima hp-nya, membaca dan memilih.
"Si Bos ngasih izin berapa hari?" tanya Tio.
"Ga dibaca kemarin?" Aku balik nanya.
"He he he, engga."
Aku mendengus. "Tiga hari,"
"Berarti tinggal dua hari, nih di Singapura?"
"Dimulainya besok, bukan hari ini."
"Kok bisa gitu?"
Aku menghembus napas kesal. "Makanya, lain kali kalo dikasih apa-apa, dipahami dulu."
"He he he, maaf." katanya sambil garuk kepala.
__ADS_1
"Hari ini, kamu diizinin buat besuk aku. Tiga hari besok buat nemenin aku nyari materi."
"Lah, bukannya nyari Lutfi?" tanggapnya.
"Ya, itu materinya." jawabku.
"Oooh.... jadi isi bukunya—"
"Iya," Aku menyerobot.
"Ha ha ha, akhirnya kamu ngasih tau juga."
Aku ngangguk. Padahal di hati: "Kemarin ga ngasih tau karena aku belum kepikiran mau nulis apa."
"Eh, tapi itu isinya tentang perjuanganmu, berarti?"
"Mungkin,"
"Ha ha ha, tulis aja Nu. Ga usah dengerin Direktur. Ha ha ha,"
Kutatap ke arahnya dengan pandangan kesal.
"Ho ho. Sorry, sorry. Kamu butuh konsentrasi, ya?"
Tidak kutanggapi dan kembali memilih. Beberapa saat kemudian aku mengembalikan handphone Tio.
"Gimana?" Dia nanya.
"Besok kita ke bandara," Aku jawab.
"Hah?! Ngapain?"
"Di sana ada tempat wisata, aku juga mau cek CCTV." kataku menjelaskan.
"Oooh.... ya, ya. Setiap cek tempat juga mesti cek CCTV seminggu kemarin, kan?" tanyanya memastikan.
Aku ngangguk.
"Ya udah, sekarang kamu tidur dulu. Aku masih ada perlu."
"Mau telfonan?" Aku menebak.
Wajah Tio berubah tercekat dengan bola mata berputar-putar, membuatku terkekeh.
"Ga papa. Mumpung lagi anget-angetnya."
"He he he,"
Tio membantuku berbaring di atas ranjang, sedang dia menata kasur lantai untuk tempatnya tidur. Memang dia memilih penginapan yang sangat murah, hanya ada satu tempat tidur dan meja makan berkaki pendek di sini.
Perlakuannya lagi-lagi membuatku tidak enak hati. Tapi dia bilang sebelumnya: "Ga papa biar hemat, biar bisa beli oleh-oleh yang banyak. Lagian aku dibayarin tiket pesawat buat pulang-pergi."
Hmmm.... padahal aku niatnya bayarin dia cuma tiket buat berangkat. Tapi, ya sudahlah. Tio juga sudah mau bantu aku banyak hal. Anggap saja ini sebagai balas budiku kepadanya. Meski masih kurang rela, sih. He....
"Semoga, kali ini bisa membuahkan hasil." Aku berdoa dan mencoba untuk tidur. "Aku rindu kamu, Lutfiku."
🌹🌹🌹
iii
Seharian ini, aku dan Tio memutari bandara Singapore Changi Airport. Mulai dari pintu masuk, loket pembelian tiket, ruang tunggu penumpang, Enchanted Garden, Butterfly Garden, Jewel Changi Airport, HSBC Rain Vortex, Kinetic Rain, Discover Singapore, So Chocolate, Entertainment Deck, Harrods, Longcamp, Giordano, dan beberapa tempat perbelanjaan lainnya, sampai pintu keluar dan tempat parkir. Kami juga tidak lupa untuk selalu mengecek CCTV di setiap tempat yang berbeda. Tapi, masih saja tidak membuahkan hasil.
Oya, sebelumnya, yang berulang kali bertanya kepada si pemilik atau si pengurus tempat adalah Tio. Benar! Dia sudah jago bahasa Inggris sekarang.
Kemarin, setelah menelfon pacarnya, Tio berulang kali berdialog bahasa Inggris dengan google, sampai larut malam. Aku tidak menyangka, kegigihannya membuahkan hasil yang luar biasa. Meski beberapa kali, dia tetap harus membuka hp-nya lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di luar kemampuannya.
Dari inti pembahasan itu, kalian tinggal membuat opsi yang memiliki kemungkinan paling tinggi untuk digunakan. Jadi, kalian tinggal menghapalkan dialog tersebut. Lalu saat praktik, kalian mesti memaksa—mengarahkan lawan bicara kalian untuk bercakap sesuai dialog yang sudah kalian pelajari.
Nah, kalau mereka tidak menjawab sesuai yang kalian harapkan, kalian tinggal pakai deh google translate. Simpel, kan?
Ga perlu repot-repot bayar kursus mahal-mahal—kursus bahasa Inggris dulu kalo mau liburan ke luar negeri.
Keesokan harinya, karena kondisiku sudah membaik, kami membagi tugas. Tio pergi ke Merlion Park, S.E.A Aquarium, Sentosa Island, Everton Park, Marina Bay Sands, dan Orchard Road and Bugis Street—sekalian beli oleh-oleh di sana, katanya.
Sedang aku mengunjungi National Museum of Singapore, National Gallery Singapore, Esplanade, dan kantor polisi. Aku ke sana buat minta tayangan ulang CCTV seminggu lalu di jalan-jalan dekat bandara Singapore Changi Airport. Barang kali aku akan melihat Lutfi, karena itu adalah jalur yang harus dilalui sebelum mengunjungi berbagai tempat di Singapura. Tapi ternyata hasilnya: nihil.
"Gimana?" tanya Tio setelah kami kembali berkumpul di penginapan yang sempit, karena bayarnya murah.
Aku menggeleng. Kulihat dia membeli berbagai macam benda. Mulai dari baju, makanan, sampai souvenir. Tapi dari ekspresi dan pakaian yang dikenakannya sudah cukup membuktikan kalau Tio lebih dulu mencari Lutfi ketimbang beli oleh-oleh. Mungkin....
"Aku juga sama. Ga ada yang pernah liat Lutfi sebelumnya. Apa mungkin dia malah ga ke Singapura, ya?" tanya Tio asal menebak.
Aku ngangguk. "Aku juga ngira gitu,"
"Kamu ngira dari kapan?"
"Pas di pesawat,"
"Lah, kalo kamu udah ngira Lutfi ga ke Singapura, kenapa ga bilang aja langsung? Kan kita masih bisa batalin penerbangannya. Jadi ga buang-buang duit kayak gini." jelas Tio berargumen. "Ya.... emang itu duitmu, sih."
"Pesawatnya udah terbang duluan. Masa iya mau minta turun? Kan bukan ojeg atau angkot yang bisa turun di sembarang tempat. Emang, kamu bisa terbang apa?"
Tio mendadak ketawa. "Ha ha ha, lucu, lucu...."
"Lucu? Aku ga lagi nglawak." kataku kesal.
"Berarti, ini bener-bener buat liburan jadinya." ucapnya dengan seringai lebar.
Aku menghembus napas panjang. "Begitulah,"
"Eh, Nu, aku baru inget. Kenapa sih kamu ga mau nulis bareng Clara? Apa kamu ada masalah sama dia?" Tio nanya kepada pembahasan yang bagaimanapun aku harus bersiap menghadapinya lagi, setelah sampai di Jakarta besok.
Memang, maksimal kami harus tiba di Jakarta hari Jum'at sebelum pukul sebelas siang, jika tidak kami harus membayar denda dengan uang gajihan dipotong 15%. Aku benar-benar heran dengan Direktur, kenapa dia menetapkan waktunya sama seperti waktu buat kontrak sebelumnya? Ada apa sebenarnya di balik waktu itu?
"Satu-satunya masalah cuma: 'dia wanita'." jawabku.
"Hah?! Alasan konyol macam apa itu?!"
Aku menghela napas. "Kau sendiri tau, gimana aku, kan?"
"Hmmm...." gumam Tio. "kamu emang beneran ga berubah, ya?"
Aku mengangkat bahu, lalu memposisikan diri untuk berbaring di atas ranjang. "Kamu juga sama. Udah tau namaku Gilang, masih aja manggil pake nama pena."
"Ha ha ha, lebih gampang soalnya."
"Hmmm...." gumamku. "eh, Yo," Aku memanggilnya beberapa saat kemudian.
"Kenapa?"
"Tadi, pas shalat Maghrib, aku ga sengaja ketemu mertua."
"Hah?!" Dia berseru. Memaksa aku bangun. "Me-mertua itu maksudnya orang tuanya Lutfi?"
Aku ngangguk. "Aku ketemu Ayahnya,"
__ADS_1
"Te-terus, terus gimana?" tanya Tio mendesak.
Jadi gini....
🌹🌹🌹
iv
Selepas shalat Isya, ga tau di masjid mana aku lupa, orang-orang, kan pada keluar. Nah, yang terakhir keluar itu, Ayahnya Lutfi. Aku sangat yakin dari fisik dan suara beliau. Dan memang, beliau yang nyamperin aku duluan.
"Gilang," sapa beliau.
"A-ayah," Aku kaget. Cepat-cepat menyalami beliau, lalu memeluknya.
"Belum apa-apa udah nangis, kenapa, sih kamu?"
Aku menggeleng sambil membasuh wajahku dari air mata.
"Kamu ngapain di Singapura?" Beliau nanya.
Aku tertunduk. Berusaha sebisa mungkin menahan tangis. "Lu-Lutfi.... Lutfi ilang, Yah...."
"Loh, kok bisa ilang? Kan kamu abis tunangan sama dia. Gimana, sih, kamu?"
"Hah?!" Aku terkejut. "Gimana? Gimana apanya? Orang Lutfi juga anakmu, koh! Kenapa malah balik nanya aku?! Aku udah pusing banget iniii.... kenapa ga dikasih tau aja sekalian, di mana Lutfi?" Hatiku menggerutu, sangat ingin bertanya demikian.
Tapi nyatanya aku cuma berani bilang: "Ada orang yang liat Lutfi ke bandara,"
"Hmmm.... terus?" Beliau nanya.
"Aku cek lewat CCTV bandara," Aku jawab.
"Iya, terus?"
"Aku liat Lutfi beli tiket ke Singapura,"
"Terus?"
"Aku nyamperin ke sini,"
"Oooh.... jadi gitu," kata beliau lalu mengajak aku duduk. "Kalo ada orang beli baso, apa mesti dia yang makan?"
Aku menggeleng.
"Nah, sama, Lutfi beli tiket ke Singapura apa pasti dia yang make?"
Aku menggeleng. "Itu buat Ayah, ya?"
Beliau ngangguk kemudian merangkulku. "Kamu masih nyari Lutfi?"
"Masih," jawabku.
"Kenapa nyari dia?"
"Karena dia ilang,"
"Ha ha ha," Beliau ketawa sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Kenapa? Apanya yang lucu? Apa jawabanku aneh? Apa aku salah jawab?" Hatiku bertanya-tanya sendiri.
"Aku bersyukur anakku milih kamu,"
Aku senyum mendengarnya. Merasa sangat tersanjung.
"Tapi,"
"Aduh, kalau udah mulai "tapi" ga enak nih." bisik batinku.
"kamu masih belum bisa nemuin Lutfi juga, ternyata."
Aku kembali tertunduk dengan perasaan bersalah.
"Menurutmu, apa yang bikin anakku pergi?" Beliau nanya.
Aku menatap ke arah beliau dengan pandangan ragu.
"Jangan bilang, kalo kamu ngira anakku punya cowok baru!"
Aku menjawabnya cepat dengan gelengan kepala.
Beliau menghembus napas panjang, lalu berkata: "Aku mendidik anakku, Lutfi, supaya menjadi anak yang berpendidikan dan berprinsip. Dan kau sendiri sudah merasakannya, bukan?"
Aku mengangguk setuju. Memang selama menjalin hubungan dengan Lutfi, dia yang sudah mengantarkanku ke jalan yang lurus dan benar. Seperti kesetiaan misalnya.
"Jadi, apa mungkin, anakku yang berpendidikan dan berprinsip, yang bahkan sudah bertunangan denganmu lalu pergi karena ada orang ketiga?"
Mendengar hal itu seakan aku tersengat listrik statis. "Itu benar, buat apa aku meragukan Lutfi?! Dia adalah manusia paling setia di dunia yang pernah kukenal. Dan dia bahkan mengajarkan orang-orang agar memiliki kesetiaan seperti dirinya." Hatiku bersua.
"Kalo kamu jadi cowok masih sering ragu, kamu ga bakal bisa nemu di mana Lutfi."
Deg! Itu, itu dia kuncinya! Ternyata itu dia jawaban yang kucari selama ini. "Keyakinan". Aku, sebagai pria bergolongan darah AB, memang selalu sulit untuk memutuskan sesuatu dan hanya mengambil jalan tengah.
Mungkin, sesuai apa yang Ayah Lutfi bilang, selain menguji kesetiaanku, Lutfi juga sedang menilai bagaimana aku mengambil keputusan. Dan aku yakin, setelah aku bisa melakukan keduanya, aku akan bisa dianggap sebagai pria yang lebih dewasa, dan Lutfi akan kembali kepadaku. Pasti. Pasti. Pasti, kan? Hmmm.... mungkin, sih.
Ya, sangat susah memang membangun kepercayaan diri.
"Ya sudah, Ayah pamit dulu. Kamu jaga diri baik-baik." kata beliau sambil menyalamiku lalu pergi.
Sedang aku menjawab salam dan menjabat tangan beliau kemudian mengantar sampai ke depan teras masjid.
🌹🌹🌹
v
"Kalau gitu, udah pasti, ya?" tanya Tio setelah aku selesai bercerita.
Aku ngangguk. "Ini semua ujian,"
"Dan ke Singapura bukan sekadar jalan-jalan, karena bisa jadi ketemu sama mertua, kan?"
Aku menyetujuinya dengan isyarat.
"Eh, tapi kenapa kamu ga ikut ke rumah beliau aja?" Tio nanya.
"Besok harus balik kerja, kan?" Aku balik nanya.
"Iya juga sih. Oya, kamu inget, deadline-nya dimajuin?!" Dia berseru.
"Iya, aku harus paksa Clara buat batalin kontrak nulis bareng aku."
"Aku bakal bantu, Nu! " tegas Tio.
"Makasih, Yo."
"Yoi. Itung-itung buat bayar ganti rugi tiket. He he he,"
__ADS_1
"He," Aku ikutan ketawa.