Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
17. Seleksi LCC


__ADS_3

i


Hari Kamis, sebelum pelajaran dimulai, aku menyempatkan diri untuk menggarap soal LCC yang kudapat dari Gyan kemarin. Beberapa telah kuhapal, tapi soal-soal perhitungan sungguh tak kulirik.


Kata Gyan, ada 100 soal yang diambil dari mapel bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sejarah, PPKN, geografi, sosiologi, kimia, biologi, serta dua pelajaran paling tersulit bagiku: matematika dan fisika.


Total ada sepuluh mapel. Jadi setiap satunya keluar sebanyak 10 soal. Dan aku belum bisa menebak tentang apa saja itu.


Selain dua pelajaran yang sangat menghambat untukku, kata Gyan, setiap peserta harus lolos seleksi tertulis yang dilaksanakan dalam waktu satu jam, dengan syarat lulus, nilai setiap mapel 7. Jadi rata-ratanya juga minimal 7. Setelah itu baru bisa mengikuti tanding jawab cepat. Dan pemenangnya yang bakal mewakili sekolah. 3 orang.


Coba bayangkan, bagaimana membagi 100 soal dari 10 mapel dalam waktu 60 menit? Mendapatkan hasil yang tepat dari pertanyaan itu saja, aku tidak bisa. Jadi aku bilang pada Gyan kemarin, kalau aku pasti tidak akan bisa mewakili kelas untuk ikut lomba LCC.


Tapi masih ada kriteria lain buat ikut tes jawab cepat. Pertama, harus masuk tiga besar. Kedua, setiap mapel tidak boleh ada nilai dibawah tujuh. Sungguh syarat yang merepotkan, menurutku.


Mendadak, entah berapa lama dan entah apa alasannya, Gilang diam sembari terus memerhatikanku. Tidak biasanya, atau barangkali lehernya sedang encok, karena biasanya dia terus nengok ke sisi kiri, sepanjang waktu dan setiap hari, untuk tidur. Entahlah, aku tidak mau membahasnya.


Lama kudiamkan, namun justru membuatku risih. Jadi aku bertanya: “Ada apa?”


Dia menggeleng.


Aku kembali belajar. Mengulas kembali bahasa-bahasa latin tumbuhan maupun hewan, proses pencernaan, proses pernafasan, dan sebagainya. Tapi, jujur, aku tidak bisa fokus ujung mataku berulang kali melihat ke arah Gilang yang masih saja menatapku tajam.


Menghembus napas. Memandang ke arahnya. “Udah, ngomong aja.”


Dia menggumam.


“Udah ngomong aja.”


Tak ada jawaban, Gilang cuma senyum dikit.


“Gilang!”


“He.” Dia ketawa.


“Ih, kamu kenapa, sih?” kataku geget sendiri.


“Hmmm.... kamu semangat banget, ya?”


“Semangat?”


“Iya. Dari tadi belajar mulu, padahal kemarin juga udah belajar.”


Benarkah? Tanyaku sendiri.


“Kamu yakin ga mau lolos seleksi?”


Aku menggeleng.


“Kenapa?” Dia nanya.


“Aku ga yakin.” Aku jawab.


“Ga yakin gimana?”


“Aku ga terlalu paham mapel hitungan.”

__ADS_1


“Jadi?”


“Ya, jadi aku ga bakal bisa lolos seleksi.”


“Kata siapa?”


“Ha?” Aku bingung. “Kata siapa, apanya?”


“Kata siapa, kalau kamu ga bisa lolos seleksi?”


Aku menunduk, merasakan ketidak percayaan diri yang teramat.


“Gimana kalau kita taruhan?” tanya Gilang mendadak, membuatku syok.


Kupandang kedua bola matanya yang menatapku tajam. “Hah? Taruhan?”


Dia ngangguk.


“Itu dosa tahu, aku ga mau.” ujarku, lalu melengos.


“Loh, kenapa?”


“Ih, tahulah, sebel.”


Aku benar-benar bingung dengan Gilang. Bisa-bisanya dia ngajak taruhan, padahal aku sedang ngerasa pesimis. Bisa-bisanya dia nanya kenapa taruhan itu dosa. Bisa-bisanya dia bikin aku jadi ga mood belajar.


“Emang taruhan apa coba?”


“Ga tahu.” kataku ketus.


Aku kembali memandang dia yang kupikir ada sesuatu yang berbeda padanya di hari itu. Tapi, aku masih belum menyadarinya.


“Siapa di antara kita yang nilai tes nanti paling tinggi, boleh minta apapun, tapi hanya satu hal, gimana?”


“Boleh minta apapun?”


Gilang ngangguk. Senyum di wajahnya merekah, melunturkan segala rasa dan pikiran negatif di hatiku. Jujur aku tertarik dengan ajakannya. Tapi aku sedikit khawatir kalau-kalau nanti Gilang yang menang—meski bagiku saat itu ga mungkin—bisa saja dia meminta yang aneh-aneh. Aku terlalu takut untuk ambil risiko.


“Tenang, aku juga ga bakal minta aneh-aneh kok.” katanya menepis keresahan hatiku.


Aku bingung, dari mana dia bisa tahu, sering tahu apa yang sedang kupikirkan diam-diam. Entahlah, yang pasti, saat detik itu juga, jujur, aku lebih bersemangat agar dapat nilai sempurna. Jadi aku kembali mengacuhkan Gilang dan membuka lembar-lembar soal. Kembali belajar.


Aku ga mau kalah, apalagi dari siswa pemalas sepertinya. Hatiku berseru.


🌹🌹🌹


ii


Sewaktu istirahat, aku agak heran dengan teman-teman yang masih duduk manis di kursi mereka. Tidak biasanya.


Tak lama kemudian Kelvin melangkah ke depan dan menghadap ke arah kami.


“Baik. Terima kasih teman-teman semunya, karena sudah memberiku waktu untuk berbicara hal yang sangat penting.”


Hal penting apa sih? Udah deh diem, berisik. Aku lagi mau belajar.

__ADS_1


“Hari ini, aku akan memberikan pengumuman dan sumpah.”


Kulirik ke arah Gilang, dia tak peduli. Pria itu tetap fokus pada buku paket biologi.


Aku bingung. Hari ini, Gilang tidak tidur seperti biasanya, dia terus membaca buku paket dari tadi pagi.


Aduh! Apa dia sungguh-sungguh pengin nilainya lebih besar dari aku? Bisa gawat kalau gitu. Tapi, aku emang ga bisa konsen kalau berisik begini.


“Aku, Kelvin Bastiant, ketua kelas sepuluh sebelas berjanji, akan menembak Lutfi Nurtika jika lolos seleksi.”


Aku kaget setengah mati mendengarnya. Dari sudut mataku, tampak Gilang juga terkejut. Bahkan bisa dibilang dia sedikit marah. Sedang teman-teman kelas memberikan tepuk tangan meriah. Kebanyakan dari mereka bangkit dan menyalami Kelvin, memberi semangat barang kali.


Sialan! Bagiku, itu adalah sebuah penghinaan paling besar.


Di tengah hiruk-piruk kelas, Gyan mendadak membalikan badan, menatap ke arahku. “Ssstt.... dia ga waras apa, ya?”


“Mungkin!” seruku setuju sekaligus geram.


“Dia pikir, kayak gitu keren? Enggalah, ya?”


“Iya!”


Gilang tiba-tiba bangkit entah kenapa, lalu berkata dengan keras: “Guru datang!” Dan duduk dengan cepat lalu membuka bukunya.


Sontak, kerumunan membubarkan diri. Kembali pada wilayah mereka masing-masing. Namun, ketika ditunggu. Semenit, lima menit, dan terus menunggu. Tidak ada seorangpun yang masuk, membuat mereka saling melempar pertanyaan yang sama: “Mana?”


Kulirik ke arahnya yang ternyata kembali belajar. Aku senyum, senang rasanya, dia menolongku secara diam-diam.


Tapi, aku sadar, setelah bel berbunyi, aku harus mendapat nilai lebih tinggi dari Kelvin. Aku, tidak akan membiarkannya lolos seleksi!


🌹🌹🌹


iii


Bel tanda pelajaran terakhir berbunyi. Tak perlu menanti terlalu lama, Bu Yuni memasuki ruang kelas bersama guru lain. Dia Pak Maskur, guru BP yang terkenal galak karena sangat disiplin memaksa setiap siswa untuk menjalankan semua aturan sekolah.


Beliau menyampaikan salam, kemudian mem-berikan komando agar siswa yang duduk di sisi kiri meja untuk pindah ke kelas sebelah. Karena saat ujian sebenarnya nanti, maksudku bulan depan, semua peserta akan duduk satu per satu dan diawasi oleh tiga orang guru. Juga saat itu, kelas X-10 sedang pelajaran di lab kimia. Jadi kelasnya kosong, ga kepake.


Ketika Gilang beranjak dari duduknya, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tapi, sebelum dia pergi, dia bilang: “Kamu tahu kenapa banyak siswa bisa dapat seratus?”


“Kenapa?” Aku tanya karena memang penasaran.


“Ada dua hal.”


“Apa?


“Karena sugesti dan kehendak Tuhan.”


“Maksudnya.”


“Mereka yakin kalau soal yang keluar mudah, terus pasrahin hasilnya sama Tuhan.”


Mendengar itu membuatku jauh lebih ber-semangat. Entah mengapa, rasanya kepercayaan diriku akan mendapat nilai sempurna melejit begitu dahsyat.


Aku senyum sama Gilang yang juga senyum sama aku.

__ADS_1


__ADS_2