
i
Selesai rapat Mas Beni mengajakku untuk berunding sejenak. Aku cukup khawatir sebenarnya karena dia terus saja terdiam sewaktu rapat.
Apa mungkin dia tidak setuju dengan cerita yang akan kugarap? Atau mungkin dia sedang mengamati agar lebih tahu bagaimana proses dan akhir dari rapat tadi? Atau sebaliknya, otaknya berunding dengan urusan lain seperti apa yang kulakukan sebelumnya?
Yang manapun, aku tidak masalah, karena begitulah pribadi Mas Beni, misterius. Seperti kisah yang sering dibuatnya. Iya! Kisah para hantu.
Dia pernah bilang padaku: "Kalau kau ingin menjadi penulis yang hebat, kau harus bisa benar-benar memahami karakter tokoh yang sedang kau buat. Dan itu juga berlaku untuk tokoh seperti para hantu, jadi kau harus bisa berpikir layaknya seorang hantu sejati."
Semoga dari apa yang dia bilang padaku sebelumnya, kau bisa memahami orang seperti apa itu Mas Beni.
"Begini Mas Danu, sebenarnya ada masalah yang harus Mas Danu tahu." katanya. "Kawanku yang tidak terlihat,"
Aku langsung menebak kalau dia sedang membicarakan hantu. Mungkin Mas Beni sedang menggarap naskah seperti itu sekarang. Kisah seorang yang bisa berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata, seperti indigo barang kali. Dan mungkin saja, secara tidak sengaja, Mas Beni mendapat kemampuan itu. Hmmm.... rasanya mustahil.
"mengasih tau, kalo pasangan Mas Danu sudah diganti." Dia menambahkan.
"Ha?" Aku terkejut.
"Betul Mas. Pasangan Mas Danu mengundurkan diri tepat sehari sebelum Mas Danu menyerahkan lembar kontrak."
"Kenapa, itu Mas?" tanyaku.
Mas Beni mengangkat tangan, meminta waktu sebentar sambil bergaya seperti orang yang sedang dibisiki. "Oh, hmm.... iya. Iya. Terus? Ooh.... iya. Aku paham sekarang."
Aku diam, membiarkan dia pada aksinya. Ya, memang aneh kalau Mas Beni menjadi penulis bukannya menjadi aktor film horor. Aktingnya benar-benar bagus dan natural!
"Kata kawanku yang tidak terlihat, penulis Kambing Betina—"
"Kambing Jantan," Aku menyela.
"Ah, ya! Kambing hitam—"
"Kambing Jantan, Mas." Aku menyela lagi.
"Ah, ya itu! Kambing Hutan—"
Aku mendengus, sedikit kesal dengan indra pendengarannya. Tidak! Aku tidak mengejeknya dengan sebutan orang budeg. Kalian kali, kan kalian yang baca. He....
"Hah? Apa sih? Apa yang salah?" Dia gelagapan.
Aku menggeleng, memintanya untuk melanjutkan penjelasan.
Mas Beni mengambil napas panjang, seakan berusaha memindahkan isi perutnya yang buncit ke bagian dada, supaya tubuhnya seimbang. Tapi tidak, itu jelas kembali seperti semula. "Kita ke bagian percetakan," ajaknya sambil menepuk pundakku.
Aku mengangguk sambil kebingungan dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ah, sampai sekarang, aku masih belum mampu memahami cara berpikir orang gendut. Ups.... kelepasan. Maafkan aku Mas Beni. He....
🌹🌹🌹
ii
Aku sampai di ruang percetakan setelah menggunakan lift untuk menuju lantai terbawah kedua, setelah parkiran. Di sana aku langsung melihat tumpukan kertas, dan alat-alat besar pencetak buku.
Aku terkejut setelah mendengar Mas Beni berteriak: "Mas Dodiiit!!!"
"Do-Dodit? Jangan-jangan...."
Dan sesuai dugaan, pria berjenggot dengan rambut gondrong yang baru saja menghampiri kami adalah seorang yang dulu pernah mengikuti lomba Stand Up Comedy. Dia, Dodit Mulyanto!
Aku membalas jabat tangannya.
"Kenapa, loh, ini Mas Gendut manggil saya kayak lagi teriak: 'Maliiiing!!!'" kata Mas Dodit dengan nadanya yang khas.
Mas Beni mendengus. "Saya ga gendut, Mas Dodit. Ini perut saya aja yang agak maju dikit." Dia mengelus perutnya.
"Oooh.... Mas Gendut belum lahiran juga? Kasian anaknya, loh Mas, udah hampir dua tahun ga lahir-lahir." sambung Mas Dodit membuatku terkekeh.
Mas Beni tampak kesal. Dia mengalihkan pandangan dengan menyilang tangan di atas tumpuan perutnya.
__ADS_1
"Oh iya, ini Mas Beni bawa siapa?" tanya Mas Dodit.
Dia memukul jidatnya. "Sampai lupa. Ini Mas Danu, yang ga jadi nulis bareng RD."
"RD?" tanya Mas Dodit. "RD apa SD?"
"RD, Mas. Itu, loh, Mas Raditya Dika." jawab Mas Beni.
"Oooh.... R-A-DITYA, Raditya. Orang biasa yang belum menikah?"
Aku kembali terkekeh, seakan mengingat tayangan Stand Up Comedy Mas Dodit dulu.
"Eh, sudah, Mas." ucap Mas Beni. "Mas Radit udah nikah."
"Loh, udah bukan Presiden Jomblo lagi, sekarang?"
Mas Beni menanggapi tanya Mas Dodit dengan gelengan kepala.
"Oya, ada urusan apa penulis sampai repot-repot datang ke sini?" tanya Mas Dodit. "Bukan buat ngomel karena salah halaman lagi, kan?"
Kami menggeleng.
"Jadi, begini, Mas, untuk masalah Mas Radit yang mengundurkan diri—"
"Oooh, iya, betul." serobot Mas Dodit. "Tapi, saya bukan Radit, saya Dodit Mulyanto, yang baru kerja dan dapet bagian paling penting di perusahaan ini."
"Mas Dodit orang penting, di sini?" Aku nanya karena kaget, bukan karena menghina. Sekali lagi, aku nanya karena kaget.
Dia mengangguk.
"Emang, kerja di bagian apa, Mas?" tanyaku lagi.
"Tukang nyetak buku." jawabnya dengan nada angkuh.
"Itu termasuk penting?" tanya Mas Beni dengan nada mengejek.
"Jelas!" tegas Mas Dodit. "Ga bakal jadi buku kalo ga dicetak. Ga bakalan ada yang beli kalo bukunya ga ada. Dan ga bakal pada digaji kalo ga ada yang beli buku. Jadi, saya orang paling penting di sini." katanya menjelaskan sambil menepuk-nepuk dadanya bak pahlawan menantang penjahat.
"Kalo nyari Mas Radit jangan di sini. Rumahnya bukan di sini Mas Beni, Mas...."
"Danu," jawabku.
"Mas Danu," sambung Mas Dodit.
"Bukan, bukan." kata Mas Beni. "Mas Dodit tinggal ngasih tau alasan Mas Radit mundur, ke Mas Danu."
"Oooh...."
"Mas Dodit bisa, kan?"
"Bisa apa?" tanyanya.
Mas Beni menepuk jidatnya yang lebar. "Ngasih tau ke Mas Danu alasan Mas Radit mundur. Kan baru bilang, masa udah langsung lupa?" gerutunya.
"Ya ga lupa Mas Beni. Saya memastikan, siapa tau disuruh yang lain. Nanti kalo saya salah, siapa yang mau tanggungjawab. Emang, Mas Beni mau tanggungjawab kalo saya salah?" Mas Dodit bersua membuat Mas Beni terperangap. "Hayooo? Hayooo? Ga bisa jawab, toh...." tambahnya.
Aku lagi-lagi terkekeh, meski kali ini gara-gara melihat Mas Beni kebingungan.
"Begini Mas Danu," Mas Dodit menghadap ke arahku. "Mas Radit batalin kontrak karena dia sakit."
"Sakit apa, Mas?" Aku nanya.
"Banyak, Mas. Demam pas bayi, pilek pas SD, batuk pas SMP, diare pas SMA, sama pusing pas kuliah." Dia menjelaskan membuatku bingung harus menanggapi apa.
"Kalo sekarang, Mas Radit lagi sakit apa?" Mas Beni menyambung. "Bukannya dia udah punya istri?"
"Kalo sakit ga ada hubungannya sama istri Mas Gendut. Makanya, Mas Gendut nikah biar tau rasanya punya istri kayak gimana repotnya."
Dia mendengus. "Besok nyari, siapa yang mau sama aku."
"Apa sekalian aja, Mas, bikin pengumuman."
__ADS_1
"Pengumuman?" Aku menanggapi kalimat Mas Dodit.
"Iya, pengumumuan: 'Dicari wanita yang mau nikah sama Mas Gendut'."
Aku tergelitik mendengarnya.
"Ga usah ditulis Mas Gendut juga, kali. Mas Beni aja, cukup." katanya.
"Oh, ya. Mas Beni yang badannya gendut karena ga lairan juga."
Aku kembali terhibur dengan lawakan Mas Dodit. Sedang Mas Beni tampak lebih kesal.
"Saya cuma usaha loh, supaya Mas Beni laku." ucap Mas Dodit kemudian.
"Iya, iya." ucap Mas Beni. "Jadi, sakit apa, tuh, Mas Radit?"
"Loh, kok, jadi nanyanya ke saya, saya kan bukan istrinya Mas Radit."
Aku tersentak mendengar omongan Mas Dodit. Dan di sisiku, Mas Beni, mengerang kesal. Sebelum akhirnya mengatur napas. Berusaha untuk tidak marah.
"Mas Dodit kapan terakhir kali ketemu Mas Radit?" Aku nanya.
"Tadi," Dia jawab.
"Ngapain, dia?" Mas Beni menyambung.
"Nanya hasil rapat,"
"Mas Dodit emang tau hasil rapatnya gimana?" Aku kembali bertanya.
Dia ngangguk.
"Tau dari siapa Mas?" Aku penasaran.
"Dari Bos. Bos saya, kan, di bawahnya Mas Anton."
"Oooh...."
"Iya. Menurut saya, sih, Mas Danu coba nulis bareng yang lain aja."
"Kenapa, Mas?" tanyaku lagi.
"Lah, Mas Radit, kan udah mengundurkan diri." jelasnya. "Nah, coba Mas Danu nulisnya bareng Mba-Mba aja yang cantik, siapa tau ada yang jadi jodoh, kan?"
Mas Beni berdehem. "Mas Danu udah punya pilihan sendiri,"
"Oh, kalo gitu, buat cadangan, Mas."
"Cadangan?" tanya Mas Beni.
"Iya, siapa tau yang dipilih ilang, kan udah siap penggantinya."
Aku tersentak mendengar ucapan Mas Dodit barusan. Membuatku kembali mengingat hal yang sejenak kulupakan. Tapi aku tidak bisa menerima saran Mas Dodit untuk menyiapkan pengganti kekasihku, meski bagi kebanyakan orang itu adalah hal yang wajar.
Aku ingin berbeda dari pria lain, aku benar-benar tidak mau disamakan dengan pria pada umumnya. Bukan hanya itu, dulu, aku pernah berjanji untuk setia, bagaimanapun badai yang melanda hubungan kami. Dan, menghilangnya Lutfi tanpa jejak, adalah badai yang harus kulalui, meski seorang diri!
Benar, mungkin Lutfi pergi demi menilai seberapa besar kesetiaan cintaku untuknya. Lagi pula, Selama kami berhubungan sejak kelas X SMA, belum pernah sekalipun Lutfi mengkhianatiku, belum pernah sekalipun dia sengaja dekat dengan pria lain, dan belum pernah sekalipun dia membohongiku.
Itulah, hal itulah yang membuatku berubah, membuatku harus yakin dengan hubungan kami, membuatku harus tetap setia seperti apapun kondisinya, membuatku harus selalu tegar dengan kepergiannya.
"Mas Danu," panggil Mas Deni. "malah ngalamun!"
Aku senyum.
"Hayooo.... lagi mikirin siapa, ya?" tanya Mas Dodit.
"Saya mau ketemu Mas Radit, dulu." ucapku.
Dia mengangguk, kemudian memberiku alamat rumahnya serta saran buat aku membawa banyak bawang putih dan garam laut sebagai penangkal setan agar aku terhindar dari gangguan makhluk halus yang ada di rumahnya Mas Radit, soalnya tempat itu berhantu. Kata Mas Dodit.
Aku mengiyakan dan berterimakasih, lalu pergi sembari otak berunding pasal bawang putih yang setauku cuma ngaruh buat Vampir. Terus, soal garam, kalau kebiasaan masyarakat Jawa, setiap malam Jum'at Kliwon pasti selalu menebar garam di sekeliling rumah. Dan terakhir, soal Dodit Mulyanto yang bekerja sebagai tukang cetak buku di perusahaan 0000.
__ADS_1
Apa benar dia kerja sambilan di sini? Apa Mas Dodit sudah tidak jadi pelawak lagi? Maksudku komikus. Atau ada sesuatu yang lain? Hmmm.... mungkin aku terlalu banyak khawatir tentang banyak hal.