Lutfi Gilang

Lutfi Gilang
12. Masalah Baru


__ADS_3

Pantulan cahaya mentari mulai tenggelam ke ufuk Barat. Sinarnya menerangi sebuah tempat bobrok dengan segala penghuni yang kehidupan sosialnya telah hancur. Suasana Ibu kota Indonesia berubah: temaram. Teriakan para napi menggelegar ke tiap sudut ruang pelatihan otot, mungkin pula menembus keluar menuju hingga ke seantero raya. Kaki-kaki dari Bos beserta bawahannya dan para napi pemberontak saling kejar dengan tujuan sama: membunuh.


Kepalan tangan, senjata dari kayu, besi, dan batu membentur tubuh yang hanya dilindungi oleh baju usang berwarna jingga. Beberapa dari terjangan itu menimbulkan darah yang keluar akibat kulit sobek atau melalui lubang-lubang pada tubuh, terkecuali bagian anus.


Aku, seorang pria dalam kerumunan itu harus kembali menghadapi Slamet Gundul seakan menyelesaikan pertandingan sebelumnya yang belum berakhir. Tapi ketika aku kewalahan dan brewok berhasil mencengkram leherku, salah seorang napi pemberontak menghantam keras tengkuk pria kekar di hadapanku hingga pingsan menggunakan pemukul baseball.


"Makasih," kataku.


Pria itu mengangguk kemudian melempar senjatanya kepadaku. "Ambil. Kau tidak boleh kalah karena kau yang memimpin kami, bocah."


Aku menyeringai. Entah harus bangga atau takut, karena bagaimanapun seseorang bakal disalahkan akan kejadian ini.


Kakiku saling kejar, menuju Burhan di mana para bawahannya melindungi dia dengan ketat. Namun langkahku terhalang oleh Lucas dan orang-orangnya. Dengan bantuan kelima napi pemberontak aku berhasil memukul wajah Lucas hingga membuatnya terpental dan jatuh, lalu disusul tendangan-tendangan dari para napi pemberontak.


Ketika aku berlari dan kembali dihadang, seketika Jaja telah berada di sisiku. Dia menggenggam batangan besi kecil yang cukup panjang.


"Kupikir kau tidak ada di sini," ucapku.


Si Tahanan Baru menyeringai. Dengan napas berat dia berkata: "Detektif, bantu aku. Aku ada urusan dengan Herman. Dia harus membayar perbuatannya di tempat makan waktu itu."


"Ah," Anggukku. "kau bisa menghadapi anak buahnya yang cungkring itu?" Aku menunjuk


Jaja menggerakkan kepalanya naik turun.


"Baik, urus orang itu dulu. Aku bakal membantumu melawan Herman." tambahku.


Aku dan Si Tahanan Baru adu balap sebelum akhirnya melawan musuh masing-masing, Jaja menghadapi Ateng, sedangkan aku melawan Yusuf. Tidak butuh waktu lama untuk kami mengalahkan mereka berdua. Sampai akhirnya, kami berdiri menghadap Herman yang baru saja membuat pingsan napi pemberontak. Mengambil balok kayu yang tergeletak di sisinya kemudian menggeram: "Maju kalian, brengsek!"


Aku menyerang dari sisi kanan sedangkan Jaja dari sisi sebaliknya, tapi semuanya berhasil Herman hindari dan tangkis. Bahkan sesekali dia membuat serangan kami mengenai satu sama lain. Sungguh, dari cara bertarungnya dia benar-benar orang yang hebat. Kalau saja waktu itu aku tidak berhasil membuat Herman pingsan seketika tentu saja aku bakal babak belur, atau dikirim ke klinik.


Sewaktu kami hampir dibikin pingsan oleh Herman mendadak tahanan 101 mementung kepala Herman menggunakan barbel hingga berdarah.


Pria itu merintih dengan tangan kanan memegangi jidatnya. "Sialan kau...." Lalu ambruk.


Aku masih saja terperangah. Sulit memercayai apa yang baru saja terjadi. "Kenapa dia melakukan itu?" tanyaku sendiri.


Dengan kaki gemetar Jaja bangkit, kemudian menyalami tahanan 101. "Detektif," panggilnya. "dia Eddie, intel kami."


Aku tergelitik mendengarnya. Tiada kusangka, aku tidak bisa menebak siapa orang itu sebenarnya. Aku berdiri sempurna dan menyalaminya sambil berterima kasih.


"Aku tidak habis pikir, pria yang mengalahkan brewok justru kewalahan menghadapi Herman." Dia berkata.


"Aku hanya beruntung." jawabku. "Sebelum kita bicara panjang lebar, aku harus menyelesaikan semua ini." ujarku sambil melempar pandang ke arah Burhan.


"Kau harus mengejar Penja," ucap Eddie menggagalkan langkahku dengan menepuk pundak kananku. "aku yakin orang itu punya hubungan dengan Kusnandar."


"Pria tanpa nomor tahanan?" tanyaku memastikan.


"Ya." Angguknya sambil menendang orang-orang yang berlari ke arah kami. "Raden Penja Rosyadi, dia punya aset untuk keluar masuk penjara."


"Keturunan keraton?" tanyaku lagi.


"Barang kali," jawab Eddie.


Rasanya sulit untuk memercayainya. Selama ini, setahuku, orang-orang Yogyakarta adalah masyarakat yang berbudi luhur makanya jarang melakukan kejahatan. Jadi, benarkah Penja itu keturunan keraton? Benarkah dia asli orang Yogyakarta? Benarkah orang itu punya hubungan dengan Kusnandar? Untuk mendapatkan jawabannya, aku harus menanyakannya secara langsung.


Kulihat ke arah Jaja, dia mengangguk dan berkata: "Kami akan mengurus Si Homo." Jadi aku berlari meninggalkan mereka berdua. Melalui kerumunan para napi untuk menjegal Raden Penja Rosyadi.


Ketika aku baru saja selesai menumbangkan bawahan pria tanpa nomor tahanan, dia berlari melalui pintu Utara. Aku mengejarnya den seketika ada seorang pria yang menghantam keras tengkuk leherku dengan balok besi. Dalam pandangan yang makin samar aku melihat orang itu, dia Jupri!


"Sesuai dugaan. Si Brengsek itu memang berusaha menjebak kami!" Aku hanya bisa berkata-kata sendiri.


Dari arah lain, Penja mendekat lalu menendang wajahku dan berkata: "Ingat ini bocah sialan! Kau tidak akan bisa mendapatkanku seperti halnya kau tidak bisa mendapatkan Lutfi tunanganmu itu."


Aku tersentak. "Dari mana dia tau tentang Lutfi?!" Memejam mata berulang kali. Memaksa supaya segera memperjelas pandanganku, meski hasilnya percuma. Balok keras itu kembali menerjang tubuhku berulang kali sampai aku benar-benar pingsan.

__ADS_1


🚢🚢🚢


Aku mengerdip mata di ruang serba hitam. Seberapa keras usahaku tetap saja tidak ada yang terlihat. Apa yang sebenarnya terjadi? Di mana aku?


Kedua kaki mencoba melangkah menyusuri tempat ini. Berusaha untuk segera keluar. Dan seketika aku merasa kakiku masuk ke dalam air, yang saat kugerakkan semakin berat dan mulai terdengar deburnya. Itu tidak membuatku berbalik arah, justru aku semakin memercepat langkah setelah melihat sepercik cahaya yang mungkin hanya sejauh seratus meter.


Awalnya air itu hanya semata kaki, kemudian selutut, dan sekarang telah mencapai dadaku. Apakah aku mendekati cahaya itu membuatku semakin masuk ke dalam air? Tapi di mana aku? Tempat apa ini?


Aku tetap menggerakkan kaki, berusaha meraih sepercik cahaya di sana, sampai kemudian air itu memaksa aku untuk mengapung. Dengan gerakan renang gaya bebas, aku berhasil berada di depan cahaya yang lebarnya tak lebih dari 5 cm.


"Apa itu kunang-kunang?" pikirku.


Aku meraihnya dan seketika tubuhku terseret masuk ke dalam air. Aku mencoba berenang ke atas, tapi arusnya sangat kuat, tetap menarikku untuk lebih tenggelam, bak sebatang korek dalam kolam renang yang baru saja dicabut penyumbat airnya.


Aku hampir kehabisan napas di arus air yang mulai tenang. Dan ketika punggungku menubruk permukaan terdalamnya cahaya di atas sana kembali bersinar yang perlahan kian membesar hampir menerangi seluruh tempat ini. Dengan gelagapan aku mencoba kembali keluar. Namun akhirnya aku tersedak dan kehabisan napas.


"Apa aku akan mati sekarang?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


Samar telinga mendengar seseorang memanggilku. "Siapa dia? Apa dia Lutfi?" Semakin lama semakin keras, hingga terdengar sangat jelas. "Gilang!"


Aku tersentak dengan bola mata melebar, bangkit dari alam mimpi. Di sekelilingku, aku bisa melihat Jaja dan Kusnadi memasang raut wajah terkejut yang kemudian berubah senang.


"Syukurlah Bung, kau sudah siuman." kata pria tua.


Dengan napas menggebu aku bertanya: "Apa yang terjadi?"


"Kau pingsan. Seseorang membuangmu ke sumur, dengan pemberat pada kaki." Si Tahanan Baru menjelaskan.


"Siapa yang melakukannya?" tanyaku lagi sembari berusaha duduk.


"Penjaga," ucap Jaja membuatku terkejut.


"Mustahil!" Aku berseru.


"Itulah kenyataannya, Detektif." tanggap Si Tahanan Baru.


"Aku takkan berani membohongimu, Detektif." timpal Jaja.


"Pram benar. Banyak napi yang juga melihatnya, Bung. Percayalah." Kusnadi menambahkan.


Aku menunduk, lalu mencengkram kepala menggunakan tangan kiri. Berusaha menampilkan kembali kejadian-kejadian sebelum aku pingsan. Dan.... "Aku melihat Jupri!"


"Jupri?" ulang kedua pria di depanku.


"Ah," Anggukku. "Dia memukuliku sampai pingsan."


"Apa?!" seru pria tua. "Brengsek! Apa dia mencoba menipuku?"


"Mungkin saja. Aku sudah memeringatkanmu suapaya tidak dekat dengannya, Kakek." jawab Si Tahanan baru.


"Dasar, bocah kurang ajar!" geram Kusnadi.


"Jadi, selain itu. Apa yang kau lihat lagi, Detektif?" tanya Jaja.


Aku mengatur napas dan memejam mata. Aku ingat pria tanpa nomor tahanan mengatakan sesuatu kepadaku, tapi aku tidak akan memberitahukan kepada mereka akan hal itu. Sekarang, aku hanya perlu mengingat sesuatu yang ada pada Jupri. Dari pemandangan dalam khayalan yang hitam putih, aku melihat pria itu memanggul balok besi pada pundak kirinya. Dia memakai atasan bersaku dua pada dada tanpa nomor tahanan, ikat pinggang, celana panjang, dan sepatu boots bertali seperti petugas. Mungkin saja! "Dia bukan petugas," kataku akhirnya.


"Apa maksudmu, Detektif?" tanya Si Tahanan Baru.


Aku menghembus napas. "Sebelum pingsan, aku sempat melihat dia memakai sepatu petugas dan atasannya bersaku tanpa nomor tahanan."


"Ja-jadi?" tanya pria tua. "Dia yang membuang Bung ke dalam sumur."


"Ah," Anggukku.


"Kurang ajar! Berani-beraninya dia melakukan hal itu dan mencuri seragam petugas!" geram Jaja.

__ADS_1


"Bisa jadi, dia memang petugas, bukan?" tanyaku menbuat kedua tahanan di depanku terkejut.


"Itu asumsi yang tidak keliru," ucap Si Tahanan Baru.


"Ah," Anggukku. "lalu, apa yang terjadi di sana?"


"Berhasil imbang. Tapi semua pimpinan blok berhasil dikalahkan. Aku yakin, mereka akan sibuk mencari penggantinya." Jaja menjelaskan.


"Soal Burhan?" Aku bertanya.


"Oh, pria homo?" Si Tahanan Baru balik bertanya untuk memastikan.


"Ah," Anggukku.


"Dia tidak tau apa pun soal Kusnandar. Dia hanya mendapat kiriman surat dan sejumlah uang yang banyak. Lalu di pindahkan ke sini." terang Jaja.


"Bagaimana tahanan lain?" tanyaku lagi.


"Kacau Bung!" seru Kusnadi. "Petugas menutup klinik, saking banyaknya napi yang sekarat. Mereka menyuruh napi untuk mengurus temannya sendiri di kamar huni masing-masing. Dan kami hanya dibekali seember air, kain, dan sebotol air. Cuih! Mereka sangat pelit! Sangat tidak manusiawi."


Aku menunduk, merasa bersalah telah membuat banyak orang hampir mati.


"Itu bukan salahmu, Detektif." kata Si Tahanan Baru seakan mendengar rintihan hatiku. "Kau hanya menjelaskan tujuanmu, dan mereka mengikutimu dengan keinginan sendiri."


"Itu benar, Bung!" tambah pria tua. "Ibarat zaman penjajahan dulu, kau ini Jendral yang mau menghadapi musuh seorang diri. Dan mereka, rakyat yang butuh seorang pimpinan pemberani sepertimu."


"Aku merasa terhormat mendapat gelar itu darimu pria tua." kataku mencoba senyum. "Apa kau masih menyimpan rokok?"


"Ada Bung." jawab Kusnadi. "Tapi untuk sekarang, kau tidak bisa menyogok petugas."


"Kenapa?" tanyaku.


"Kepala Petugas memberlakukan isolasi untuk menghindari kejadian seperti sebelumnya. Dan kau bisa tenang, Detektif. Karena hanya pimpinan blok yang harus mempertanggungjawabkannya." ujar Jaja berargumen.


"Hanya pimpinan blok katamu? Sudah pasti mereka bakal menyalahkan semuanya padaku." keluhku.


"Tidak Bung," sangkal pria tua. "Para pimpinan blok sudah bergabung denganmu."


Aku tersentak. "Apa makusdmu pria tua?"


"Eddie sudah menjelaskan pada Herman dan Lucas, mereka sudah sadar kalau mereka hanya diperalat oleh Burhan." kata Si Tahanan Baru.


"Hmmm...." gumamku. "bagaimana dengan orang tua itu?"


"Penja maksudmu?" tanya Jaja.


"Ah," Anggukku.


"Dia sudah keluar dari sini." ucap Si Tahanan Baru membuatku terkejut.


Aku menghembus napas. "Sayang sekali, aku membiarkan Penja lolos."


"Bukan salahmu." kata Jaja akhirnya. "Lagi pula, kau sudah kerepotan dengan serangan pengecut dari Si Brengsek itu!"


"Benar, itu yang jadi masalah kita sekarang, Bung." Kusnadi menanggapi. "Kita perlu tau, ada urusan apa sampai Jupri membuat Bung sembilan-lapan-nam pingsan dan mencoba membunuh Bung."


"Kau benar," jawabku.


"Kalau kau tau sesuatu, katakanlah." pinta Si Tahanan Baru.


"Jupri bekerja untuk Penja. Dan seperti apa yang Eddie bilang sebelumnya. Penja memang ada hubungannya dengan Kusnandar. Aku sangat yakin itu." kataku dengan kepala tertunduk.


Kudengar Jaja menghela napas. "Ini jadi semakin sulit."


"Kita hanya perlu keluar dari penjara sesegera mungkin untuk bisa menangkapnya." tanggap Kusnadi.

__ADS_1


"Ah, aku harap kau mempercepat bayaranmu." ujarku.


Si Tahanan Baru tergelitik. "Tentu saja!"


__ADS_2