
Pagi ini di rumah besar nan mewah itu, telah berkumpul beberapa anggota keluarga di meja makan. Diantaranya adalah, Lea, Hansel dan juga Elena.
Ya, tentunya Elena masih menginap di rumah kakaknya itu, lebih tepatnya dirumah calon keluarga kecil Kakaknya, yang tak lain adalah Edward sendiri.
"Ayo silahkan dimakan sayang. Anak Mommy pasti sudah sangat lapar kan?" ucap Lea. Wanita dengan senyuman yang mengembang diwajahnya itu, menyodorkan piring yang tentunya sudah berisikan nasi dan juga lauknya kepada sang Putra.
Hansel mengangguk sambil tersenyum sumringah. "Tentu Mom. Hansel pasti menghabiskan semua ini," balasnya penuh semangat.
Lea tersenyum tipis seraya mengusap pelan rambut Putranya itu. Tak hentinya ia terus tersenyum menatap sang Putra. Dan ya, setiap kali ia melihat kebahagiaan di wajah Hansel, itu benar-benar mengalihkan dunianya sekalipun harus bertemu dengan banyaknya cobaan.
"Hansel benar-benar mirip sekali dengan kak Edward." Elena membuka suara.
Sedari tadi perhatiannya juga tak kunjung teralihkan dari pergerakan dua orang itu. Antara anak dan juga ibunya.
"Hu um." Lea menganggu canggung mendengar penuturan kata dari calon adik iparnya itu. Bingung harus menyahut dalam bentuk kalimat yang seperti apa lagi. Sehingga lebih memilih untuk tersenyum kecil saja.
"Ayo Ele, kamu makan juga, yang banyak. Supaya semakin membaik dan lebih bersemangat lagi," lontar Lea. Sengaja mengalihkan pembicaraan, alih-alih juga memberikan sedikit perhatian pada gadis itu dengan tatapan yang amat dalam.
Elena mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun tak lama kemudian, ia sedikit mengernyit karena merasa ada yang kurang diantara mereka. "Kak," panggilnya. Lea mendongak, menoleh kepadanya dengan dahi berkerut. "Kak Edward dimana?" lanjutnya.
Edward?
Astaga.
__ADS_1
"Iya Mom, Daddy dimana?" Hansel mengurungkan niatnya yang tadi hampir saja melahap makanannya. Kemudian menatap kearah wanita cantik yang berstatus sebagai ibunya.
Lea lantas memejamkan matanya untuk beberapa saat, ia sendiripun baru teringat pada Pria itu yang tak kunjung turun juga dari kamarnya. Sementara Elena yang masih setia menunggu jawaban darinya, semakin penasaran dan juga keheranan akan reaksi dari calon Kakak ipar.
Merasakan tatapan Elena yang semakin lekat padanya, lantas membuatnya berupaya untuk terlihat tenang dan santai. "Em, tadi katanya dia ingin mandi dulu. Sebentar lagi pasti akan turun," jelasnya dengan santai.
"Ouh, baiklah, kita tunggu Daddy baru kita makan bersama," putus Hansel. Dan dibalas anggukan oleh mereka berdua.
"Ck! Kak Edward menjengkelkan, seharusnya dia cepat turun. Tidak tahukah bahwa kita sudah lapar?" celetuk Elena sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Lea hanya tersenyum kecil menanggapi kalimatnya gadis itu. Sebab untuk sekarang, ia malah kepikiran kepada Edward yang tidak kunjung turun juga. "Sudah pasti lama, dia pasti harus menyelesaikan rutinitasnya itu sebelum turun dulu," jawabnya dalam hati.
"Kalau begitu, coba aku panggilkan saja." Lea hendak beranjak dari kursinya. Namun ia urungkan niatnya saat netranya tertuju pada sosok Pria yang sekarang telah berjalan mendekat kearah mereka. Dia adalah Pria yang sedari tadi mereka tunggu dengan setia.
"Pagi Dad." Hansel tersenyum lebar.
"Mengapa kakak lama sekali? Huh, padahal kami sudah kelaparan menantikanmu kak Ed," cetus Elena pada sang kakak yang sekarang telah mendaratkan bokongnya di kursi samping Lea.
Edward tersenyum tipis. "Sudahlah Ele, adik kakak yang paling cantik, masa iya kamu marah-marah pada kakakmu yang tampan ini," lontarnya dengan bangga.
Lea yang berada tepat disamping Pria itu, memutar bola matanya dengan malas. Ya, dia akui Pria itu memang tampan, tapi tidak harus juga mengakui diri sendiri. Ck, menyebalkan.
"Sudahlah, kakak memang selalu menang. Ele sudah lapar, dan keponakan tampan ku juga sudah sangat lapar pastinya." Elena beralih menatap Hansel. "Benarkan Hans?" lanjutnya.
__ADS_1
"Iya Aunty. Tapi kita bisa kan segera lanjutkan makan sekarang?" sahut Hansel dengan mata berbinar.
"Tentu!" balas kakak beradik itu bersamaan.
Sementara untuk satu insan, wanita itu sedari tadi hanya diam saja tanpa membuka suara. Selain hanya melebarkan senyum kecilnya saja. Sebab masih sedikit kesal dengan ulah Edward pagi tadi yang ceroboh, tidak mengunci pintu. Yang alhasil hampir saja menodai mata anak mereka sendiri.
"Huf! Menyebalkan!" gerutunya dalam hati.
Sedangkan Edward, sedari tadi ia terus curi-curi pandang pada wanita disampingnya itu dengan senyuman miring.
"Baiklah, karena tadi itu adalah kecerobohan ku sendiri, maka tidak masalah harus berakhir di kamar mandi. Tapi tidak dengan selanjutnya lagi, akan ku pastikan kita sama-sama merasakan kehangatan bersama," batin Edward. Senyuman licik terbit diwajah tampannya itu.
__________
Hoka readers šmasih stay ga dengan ceritanya ini?
Oh iya, author mau kasih tahu beberapa hal, kalau cerita ini secepatnya akan selesai. Dan akan digantikan dengan cerita baru dari ide author sndiri. Maaf ya udh buat kalian menunggu lama:)
And ya, author juga udh sedikit lupa alur ceritanya ini, sehingga tidak memicu akan adanya konflik lagi.
Senang kan, kalau mereka hidup bahagia heheheš„°
SEU
__ADS_1