
Sudah seharian full bahkan sampai petang ini Lea tetap tidak mendapatkan pekerjaan, ia sudah mondar mandir kesana kesini mencari pekerjaan namun tidak ada satu toko pun yang menerimanya. Ya, karena ketidakhadiran nya semalam di toko roti akhirnya ia di pecat sehingga Lea harus kembali melarat mencari cari yang baru. Peluh kian bercucuran di dahinya, berulang kali menyeka dengan kasar karena sangking lelahnya.
" Huff,,,, sudah sampai sore begini tetap tidak ada yang menerima ku," lirihnya. Manik matanya menatap jam di tangannya yang kini sudah pukul 15.58. Sedikit ada rasa keputus-asaan pada dirinya karena merasa tidak berguna.
" Jika aku masih tidak mendapatkan pekerjaan bagaimana caranya aku menafkahi anakku?jika aku tidak bisa, berarti aku bukanlah Ibu yang baik."Berucap dengan mengedarkan pandangannya menatap langit yang sedikit mendung.
" Tuhan tolong berikan aku jalan keluarnya, aku harus segera dapat pekerjaan,," suar nya dengan sendu.
Suatu harapan terbesarnya adalah mendapatkan pekerjaan agar dapat memenuhi segala kebutuhan Hansel, Hansel adalah bunga cinta nya yang akan selalu ia utamakan.
" Hufff,,, aku tidak mengerti lagi,,," berulang kali menghela nafas panjang. Rasa inginnya mendapat pekerjaan lebih besar dari rasa lelahnya.
Di tengah harapan dan tujuan, suatu hal terlintas dalam pikirannya. " Aku begitu penasaran sebenarnya siapa dia? pada saat aku dan Hansel di Pulau terpencil ia mempunyai nyali yang begitu besar bahkan sampai membawaku naik ke atas genteng genteng rumah tanpa ada ketakutan sedikit pun. Bahkan sekali tembakan saja selalu tepat sasarannya, seolah olah dia memang ahlinya. Emm tidak tidak tidak! lebih tepatnya seperti kebiasaanya atau dalam artian memang sudah bakatnya atau bagaimana? aaa mengapa aku jadi penasaran begini?ini sangat penuh dengan misteri. Saat aku pergi pagi mencoba melarikan diri dari New York, tapi dia bisa tahu keberadaanku hanya dalam waktu dihari yang sama, sementara saat itu bukankah dia sedang ada urusan penting di Negara lain? tapi mengapa bisa secepat itu? ini sungguh penuh dengan teka teki. Dan dengan mudahnya sudah menyusun strategi lebih dulu dengan mudah menyelamatkan Hansel tanpa ketahuan sedikit pun. Ini sungguh menghantui pikiran ku, tidak mungkin dia hanya seorang dari kalangan bawah saja. Lalu dia dari kalangan atas? cih! itu tidak mungkin! sikapnya yang arogan seperti itu dari kalangan atas? No no no! dia hanya orang biasa, TITIK!" Bahkan dirinya sendiri yang meninggikan malah merendahkan seseorang yang ia maksud yaitu Edward. Lea benar benar bingung akan situasi semuanya yang ia alami saat ini di tambah lagi dirinya yang terus di hantui oleh semua sikap dan perilaku Edward yang sulit untuk ia mengerti.
" Tapi mengapa hati kecilku mengatakan bahwa dia bukanlah orang biasa?" bertanya pada diri nya sendiri dengan menyentuh dadanya.
" Apa aku bisa menata hatiku kembali dengan rapi?semua ungkapan yang ia ucapkan semalam membuatku tidak dapat berkutik. Aku tidak bisa meyakinkan hatiku, bahkan setiap disentuh olehnya selalu mengingatkanku dengan kejadian pahit itu. Lalu bagaimana caranya aku bisa menjalani semuanya bersama dengan dia? aku begitu trauma akan sentuhan Edward padaku."
__ADS_1
Untuk saat ini memang begitu sulit baginya untuk menjawab semua yang Edward ungkapkan semalam baginya, walau sejujurnya ia memang sangat ingin membuka lembaran baru dengan melupakan kejadian pahit itu, tapi mungkin hatinya memang begitu hancur sehingga sulit unruk itu. Dirinya bukanlah pendendam, namun ada alasan di balik semua itu yaitu kejadian yang menghantui dirinya sendiri. Entahlah, akankah ia terus terpuruk dalam masa lalu sehingga sulit menatap masa depan, atau berhasil lolos dari semua itu.
Dengan lungai ia menapaki jalan dengan langkah pendek untuk kembali ke rumah. Mungkin hari ini memang belum di takdirkan untuknya mendapat pekerjaan, dan akan ia coba kembali besok.
Dua puluh menit Lea berjalan kaki akhirnya sampai juga ke kediamannya. Memang cukup lama karena di perhentian Lea tadi sudah begitu jauh dari kediamannya sehingga memang waktu yang banyak. Tadinya ia hendak naik ojek, namun mengingat belum ada penghasilan sehingga ia urungkan niatnya.
Pintu ia buka lalu masuk kedalam rumah namun sosok Putra nya tidak ia temukan.
Hatinya terbelenggu dengan pikiran yang tidak, tidak. Lantaran siang tadi ia yang menjemput Hansel ke sekolah dan berpesan supaya Hansel tetap dirumah dan tidak kemana mana, tapi sekarang ia tidak temukan sosok Putranya.
" Hans,,," ia bahkan sampai mencari ke kamarnya sendiri namun tetap tidak menemukan Hansel.
" Hans,,," Lea semakin frustasi, akal sehatnya seolah olah tidak bekerja lagi.
" Mom,," tiba tiba ada suara dari arah pintu belakang, Lea yang bekertepatan sedang di dapur akhirnya menoleh ke belakang, saat itu juga hatinya pun kembali normal.
" Hans,," dia langsung berlari memeluk erat sang Putra seakan takut kehilangan. Tanpa ia sadari air matanya bahkan sudah jatuh.
__ADS_1
" Mommy kenapa menangis?" tanya Hansel saat lepas dari dekapan Lea.
" Mommy,, Mommy gak kenapa napa, Mommy pikir Hans pergi entah kemana. Memangnya Hansel kemana?" ujar Lea seraya menyeka air matanya lalu tersenyum bahagia.
" Tadi itu Hans cuma ke halaman belakang saja Mom, Hans bosan di rumah sendirian sehingga Hans cari ketenangan saja. Di situ enak untuk bersantai, apalagi tadi itu angin sejuk menerpa kulit Hans sehingga menambah ketenangan," jelas Hansel dengan jujur.
" Tapi lain kali jangan buat Mommy hampir copot jantung ya nak, Mommy takut Hans kenapa napa." Seru Lea dengan penuh kasih sayang dan rasa takut kehilangan.
" Iya Mom, kalau Hans gak di rumah berarti di halaman belakang. Kemana lagi Hans pergi, pintu rumah dari luar saja Mommy kunci, halaman belakang sampai depan rumah ada pagar besi, lah Hans mau lari kemana?!" ucap Hansel sambil memperlihatkan gigi putihnya.
" Hehehe,,," Lea jadi terkekeh dan kembali memeluk Hansel penuh kasih sayang.
____
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^
__ADS_1