
"Direktur, ini data dan laporan mengenai karyawan bulan lalu," seorang wanita yang terlihat berkelas memasuki ruangan Edward dengan membawa Map besar menyerahkannya pada Edward.
Lea yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa tidak enak saat memperlihatkan dirinya padahal Edward dan wanita itu sedang mengobrol.
" Oh, hay Nona," wanita yang bernama Uli itu tersenyum ramah sambil menunduk pada Lea. Dia adalah seorang Ketua yang di percayakan Edward untuk mengawasi semua karyawan setiap harinya dan akan memberikan laporan kepada Edward setiap bulannya. Ia hanya bertugas mengawasi dan melaporkan semua tentang karyawan terlebih jika ada orang baru yang melamar pekerjaan.
" Tuan, Nona, saya permisi," Uli langsung melangkah keluar dengan sungkan.
" Eh,, tung,,,"
" Mengapa sayang?untuk apa memanggilnya? apa kamu cemburu?" goda Edward namun Lea bukan berpikiran seperti itu. Ia hanya merasa tidak enak saja karena menganggu perbincangan diantara keduanya apalagi mengenai Perusahaan.
" Bear,,, apa kamu begitu percaya diri sekali?" nada dengan sinis sekali kepada Edward.
" Tentu saja," Edward tak habisnya kehilangan jawaban.
' Jika terus melawannya pasti akan menjadi perbincangan yang tak ada habisnya,' batin Lea.
" Dimana sekretaris Eder?" Lea yang sedari tadi tidak ada mendapati Eder.
" Di ruangannya," jawab Edward dengan malas.
" Ouh,,," Lea mengerti dari nada bicara Edward pasti ia tidak suka jika Lea mengucapkan nama Pria lain di hadapannya.
Edward jadi terdiam dengan memeriksa laporan yang Uli berikan tadi dengan seksama, tidak ada seorang karyawan pun yang berbuat ulah karena memang semua karyawan di situ tidak ada yang berani macam macam, semuanya tunduk pada perintah.
Lalu kembali memeriksa beberapa proposal lainnya yang begitu banyaknya mengajukan permintaan kerja sama. Begitulah tugasnya sehingga kadang lelah bahkan hampir ketiduran.
Sampai pukul 11.58, Edward masih menyibukkan dirinya, Lea yang sedari tadi duduk di sofa merasa kasihan pada Edward dengan melirik jam di Ponselnya yang sudah waktunya untuk makan siang. Ya, Lea memang telah di hadiahkan satu unit Ponsel baru bermerek iphone, ia sudah menolak waktu itu namun Edward tidak habisnya cara sehingga Lea pun terpaksa menerima itu.
" Bear,,, sudah waktunya makan siang," ucap Lea dengan melangkah mengampiri Edward yang masih focus menatap laptop.
__ADS_1
Sedikit perhatian Edward terahlikan dengan menoleh kepada Lea, sejujurnya ia masih belum merasakan lapar tetapi setelah melihat Lea seolah olah ada rasa lapar yang timbul. Namun berbeda dari rasa lapar pada umumnya, tetapi rasa lapar yang lain.
" My Queen," Edward langsung bangkit berdiri lalu merebahkan setengah tubuh Lea di meja.
Jantung keduanya berdegup lebih kencang bak habis maraton sembilan musim. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Edward langsung melahap indah bibir merah Lea dengan begitu lembut.
Ia terus memperdalam sampai tangan kirinya juga berkerja mengusap lembut punggung mulus Lea dengan aksi yang tak berhenti. Kedua seolah olah terbuai dalam keinginan masing masing, " huf,,huf,,," nafas mereka berdua tampak tersenggal senggal dan kembali melakukan nya.
Namun, tak sampai berlanjut suara ketukan pintu dari luar menyambar seluruhnya. Sehingga dengan cekatan Lea langsung beranjak dan kembali duduk di sofa sedangkan Edward kembali focus menatap laptonya.
" Masuk," ucapnya.
Ternyata yang masuk adalah Eder dengan membawa macam makanan untuk kedua insan yang tadi itu.
" Ini makan siang nya Tuan, Nona silahkan dinikmati," ucap Eder seraya menaruh makanan di dalam plastik itu ke meja.
" Saya permisi, maaf menganggu waktunya," Eder mengerti mengapa bisa selama itu Edward menjawab dirinya sebelum masuk ke dalam ruangan Edward.
Lea semakin merona karena ucapan Eder dan lagi lagi ia tidak bisa menenangkan jantung nya yang semakin berdegup kencang. Setelah Eder keluar Lea pun baru bisa kembali menghirup udara seolah olah tadi itu ia tidak ada bernafas sedikit pun.
" Mau apa?" tanya Lea dengan nafas tersenggal senggal.
" Melanjutkan yang tadi," ucap Edward hendak melakukannya namun tangan Lea menahan aksi Edward. " Berhenti! aku sudah lapar dan ingin makan," ucap Lea agar tidak ada lagi yang terjadi.
Edward berdecih kesal, lagi lagi ia harus mengurungkan niatnya padahal tadi ia berpikir akan mendapatkan lampu hijau, namun semuanya pupus seketika.
" EDER! semua karenamu, awas saja" ia malah menyalahkan Eder di dalam hatinya.
Sedangkan Lea ia bernafas legah karena Edward menurutinya sehingga kini mereka berdua menikmati makanan yang nikmat itu dengan santai walau terkadang keduanya saling curi curi pandang.
' *Untung sekarang selamat! Lea, kamu harus menggunakan akal sehat mu, untungnya hanya Eder yang masuk dan tidak ada berpikiran yang aneh aneh.' Batin Lea.
__ADS_1
' Gagal lagi! aaa!!!' Batin Edward.
_____
"Silahkan Tuan, Nona," ucap Eder setelah membuka pintu mobil. Mereka memang sudah pulang dari Perusahaan sehingga kini telah sampai di perkarangan rumah mewah itu.
Lea turun lebib dulu daripada Edward, dan juga berucap yang sama. " Silahkan turun Panda besarku," perkataan Lea sontak membuat Eder hampir lupa diri karena tawanya hampir saja lepas seketika.
Panda besarku?itu adalah sebutan terkonyol yang pernah Eder dengar dan terlebih di berikan pada bos besar itu. Ingin tertawa tapi takut dosa, pikirnya.
Dengan rasa jengkel Edward pun turun dari mobil karena merasa bahwa Eder pasti akan menertawainya.
" Sekretaris Eder, kamu langsung kembali saja ke apartement biar aku yang urus panda besar ku ini." Lea berucap dengan begitu manis sekali, seolah olah ingin membuat Edward kapok.
Eder semakin ingin tertawa namun tidak sampai tertawa ia harus menyekalnya saat tatapan tajam Edward seakan menyiratkan bahwa ia akan menerkam Eder bak serigala yang akan menghabisi musuhnya.
Terlebih ia semakin kesal pada Lea, ia melirik Lea dengan rasa ingin menerkam Lea juga namun dalam artian yang berbeda.
' Mati kutu kan? uluh uluh panda besarku seperti tampak kesal.Sorry panda besarku,' batin Lea.
" Baiklah Nona, tolong jaga baik baik ya panda besar itu," perkataan dengan nada menyindir yang Eder ucapkan. Sebelum mendapati kemarahan dari Edward, Eder bergegas masuk ke dalam mobil lalu segera menyetir meninggalkan kedua insan itu.
Kini Lea tersenyum puas dengan menatap penuh kemenangan kepada Edward. " Panda besarku, ayo masuk," dengan sikap begitu manis Lea menggandeng Edward hendak membawa masuk. Namun belum lagi melangkah, Edward langsung menarik pinggang Lea lebih dekat dengan tubuhnya.
" Ada apa Panda besarku?" tanya Lea bersikap seolah olah tidak ada rasa bersalah.
" Mphhh,,," tanpa menjawab Edward langsung beraksi yang membuat Lea lagi lagi terkaget dan mengikuti saja. Ingin malu tapi dengan siapa? toh hari juga sudah malam dan tidak akan ada yang melihat mereka berdua.
____
Semuanya, maaf ya mungkin sampai satu minggu ini author gak bakal up dan hiatus dulu:( soalnya ini pun up pakai hp orgš semoga kalian setia menanti yaš¢
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^