Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Susunan Rencana Antara Daddy & Putranya


__ADS_3

Pagi yang indah menyapa kembali dunia, angin sejuk menerpa pepohonan hijau nan rindang memberikan oksigen yang begitu segar. Lea baru saja selesai membersihkan diri lalu terjun ke dapur untuk segera memasak.


" Pukul 05.30, semalam kata Ibu itu jam masuk kerja pukul 07.30, masih ada waktu," gumam Lea dengan semangat, ia terus berkutat dengan peralatan di dapur melanjutkan aksi memasaknya.


Ditengah keasikan Lea memasak, tiba tiba ia merasakan tangan seseorang yang memeluknya dari belakang, sekujur tubuhnya langsung gemetaran dengan hebat.


" Lepaskan,,," ucap nya dengan getir, ia memang langsung lemah dan tidak punya kekuatan lagi setiap ada sentuhan Edward padanya.


" Ssst,,, lanjutkan saja memasak nya sayang, aku tidak mengganggumu, hanya memeluk kamu sebentar saja," tutur Edward sembari menekuk wajahnya di bahu Lea. Perlakuan Edward kali ini sungguh memancing amarah dan sakit hati itu pada Lea.


Sendok yang berketepatan masih ia pegang, hendak melayang ke kepala Edward namun tangan Edward segera menyekal sehingga tidak kesampaian.


" Jangan niat! memasaklah, aku tidak mengganggu kamu." Kata Edward lalu menurunkan tangan Lea untuk kembali memasak.


Lea masih belum percaya akan hal saat ini, ingin rasanya ia pingsan saat itu juga dengan perlakuan Edward yang semakin menjadi jadi.


" Lepaskan aku,,, aku harus segera memasak sebelum Hansel bangun," tutur Lea mencoba untuk bertahan dan kuat.


Edward semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lea meski masih di bahu Lea, " cepatlah, masak saja sayang,,, semakin kamu banyak bicara maka waktumu juga akan terbuang. Maka dari itu, focus saja memasak! aku tidak mengganggu kamu. Cepatlah masak, keburu Hansel bangun dan akan melihat kita seperti ini," ucap Edward dengan intonasi yang sexi.


' Deg!' jantung Lea seperti mau copot rasanya mendengar ucapan Edward, ia benar benar mati kamus dibuatnya. Lea tak berani lagi membuka suara selain kembali memasak, karena semua yang Edward ucapkan memang lah benar dan ia mencoba membuang rasa takut nya itu.


"Bau nya begitu mengunggah selera makan ku sayang," puji Edward dengan tulus, ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya tanpa ada pemaksaan. Tapi berbeda dengan Lea yang menganggap pujian Edward adalah sebuah ejekan baginya.


" Mengapa diam?" sargas Edward keheranan.

__ADS_1


Lea hanya menggeleng dengan tangan kirinya yang gemetaran.


Edward langsung menyambar jari jari Lea tangan sebelah kiri dengan ia satukan dengan jemarinya.


Sontak Lea terkaget, bola matanya hampir keluar membulat sempurna menatap tangannya yang telah di genggam Edward dengan tangan kirinya juga.


" Lanjutkan saja memasaknya, aku tahu pasti kamu gemetaran dan ketakutan kan jika berada di dekat ku? maka dari itu aku akan terus menerus menyentuh mu sampai kamu sendiri akan terbiasa," kata Edward semakin menggenggam erat jemari Lea.


' Mengapa dian bisa tahu?tetapi yang dia ucapkan seperti ada benarnya. Semakin dia menyentuh ku dengan sentuhan apapun seakan membuatku sedikit kehilangan rasa ketakutan dan gemetaran itu. Tapi,,,,, bisa saja ini hanya akal akalan dia, atau hanya sebuah kebetulan saja,' Batin Lea.


Entah perasaan apa yang kini terjadi pada Lea, yang jelas ia tidak ingin tahu. Yang terpenting saat ini adalah ia harus segera menyelesaikan tugasnya.


Setengah jam berlalu sudah, aktivitas Lea pun akhirnya selesai. Ia hendak menghidangkan makanan di meja, ia lupa kalau Edward masih menggenggam jemari nya. Sontak ia pun malah berbalik ke belakang dan berhadapan telak dengan jarak beberapa senti meter saja.


Hal yang tidak terbayangkan olehnya pun terjadi, " hmphhh,,,"


Kedua kalinya hal itu terjadi, Lea tampak terengah engah dengan menarik nafas dalam dalam. Bisa bisanya Edward mengambil kesempatan dalam kesempitan, pikir Lea.


" Brengsek!" maki Lea dengan dada yang masih naik turun karena terengah engah.


" Ini akan menjadi canduku," Edward meletakkan jarinya di bibir Lea.


Lea hendak membantah dan sudah menarik nada, namun Edward langsung menggeleng.


" Stsss,,, jangan membantah atau aku akan melakukan lebih," ancam Edward penuh kemenangan.

__ADS_1


" Awas, aku harus memanggil Hansel," Lea hendak melangkah namun kembali mental kebelakang pasalnya jemarinya masih tergenggam oleh Edward.


" Percuma sayang, sebelum kamu bangun pun Hansel sudah tidak ada," kata Edward dengan santai.


" Apa maksud mu?" pikiran Lea sudah melayang layang entah kemana.


" Hansel itu sudah pergi dengan Eder, aku yang minta dan dia juga nurut. Mungkin saja saat ini Hansel sudah di sekolah," suar Edward sambil tersenyum miring.


Ya, sekitar pukul 05.10 tadi mereka telah menyusun rencana, antara Daddy dan Putranya. Sehingga inilah yang terjadi.


" Maksud mu Hansel sudah tidak di rumah lagi?" kata Lea memastikan.


" Hu um,,," Edward mengangguk santai.


" Dasar breng,,,"


" Mphhh,,,"


Ketiga kalinya!


______


LIKE KOMEN DAN VOTE


SALAM^^

__ADS_1


__ADS_2