Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Tragedi dalam Gudang


__ADS_3

Di kediaman Lea dan Hansel saat ini, kedua nya tampak menunggu dan menunggu. Penantian sejak jam 18.00 di meja makan bahkan sampai pukul 19.19 tak kunjung ada sosok yang berjanji akan datang, keduanya semakin kecewa yang mendalam.


Lea berenguh di sela penantian nya yang sudah membosankan dan melebihi batas kesabaran menunggu. Sementara Hansel semakin murung, Lea mengatakan bahwa Daddy nya akan makan bersama dengan nya namun buktinya apa? bahkan sampai makanan hampir dingin tak kunjung juga datang.


Lea benar benar semakin kecewa sekali, padahal tadinya ia berharap Edward akan memberikan penjelasan malam ini namun semua di luar dugaan. Dengan berat hati Lea pun menyuruh Hansel untuk makan saja.


"Makan saja Hans,"titah Lea dalam keadaan yang tak bersemangat lagi.


Tidak ingin membantah, karena pada dasarnya Hansel memang sudah lapar sekali. Tanpa menyahut lagi, ia segera menguyah makanan yang terhidang dalam keadaan hening. Lea sendiri tak berucap bahkan tak menyentuh makanan tersebut sedikit pun, rasa laparnya hilang seketika karena kekecewaan.


"Mommy naik ke kamar deluan ya Hans," beranjak dari kursi,melangkah menapaki tangga memasuki kamar tanpa menoleh kebelakang. Tak kelihatan lagi oleh manik mata Hansel sebab ternyata Lea menitikkan air mata sebelum benar benar memasuki kamar.


Hansel hanya seorang anak, tidak mengerti masalah orang tuanya selain diam dan jangan banyak bicara. Ia sendiri tidak tahu siapa yang bersalah dan siapa yang benar? karena baginya kedua orang tuanya adalah yang benar baginya. Namun pada hakekatnya setiap orang tetap memiliki tumpuan kesalahan. Makanan memang di kunyah di dalam mulut namun tidak selahap pada biasanya. Hansel berasa begitu cepat kenyang sehingga ia memutuskan untuk kembali ke kamar nya.


"Good night Mom!" bisik hati Hansel sebelum memasuki kamarnya.


" Daddy dimana?" pertanyaan lirih di dalam hati yang tak dapat ia ungkapkan.


______


Namun di sisi lain??


"DORRRR!!!"


Bunyi letupan peluru yang sontak mengangetkan Gino terutama Elena, keduanya mendongak menatap kaget ke asal suara. Ternyata letupan peluru itu berhasil meleset sedikit mengenai lengan Gino.


" Argg!!!" rintihnya menahan perihnya timah panas itu.


Elena semakin tak menyangka semua ini, namun sebelum terlambat Gino langsung mengarahkan pistol tepat di kepala Elena karena ia melihat bahwa yang menancapkan peluru itu adalah Edward yang kini berdiri tak jauh dari mereka. Edward memang telah berhasil mencapai tempat itu dengan bantuan para anak buahnya yang memberi informasi.


Sesaat ada kebahagian dan senyum bahagia di wajah Elena namun tak begitu lama telah kembali sirna saat pistol itu begitu dekat dengan kepalanya. Dirinya semakin gemetaran sekali, ia sangat ketakutan dan bergidik ngeri.


" GINO!!" Teriakan menakutkan dari Edward dengan gumpalan amarah yang siap di lakukan.

__ADS_1


" Mengapa? hay,,, Edward,,, SCRITH!!apa kamu berpikir akan memenangkan perihal kali ini?" dengan santainya Gino berucap seperti tiada salah dan benar benar membuat Edward semakin marah.


" Gino brengsek!! kamu bahkan telah melewati batas, aku sudah pernah janjikan seujung kuku saja adikku terluka maka kamu tidak akan ada ampun. Dan sekarang, kamu bahkan menyekap adikku di sini sampai mengikatnya dengan tali itu?!kau tidak akan termaafkan!" perkataan penuh emosi dan kebencian yang menjadi satu.


Edward sudah sangat marah sekali, berulang kali ia menggertakkan giginya, rahang nya mengeras, wajahnya merah padam seperti siap menelan seseorang sekarang juga.


Gino memang sudah habis akal sehat, ia bahkan tak mempedulikan perkataan Edward lagi.


" Aku tidak meminta maaf darimu dan sangat tidak menginginkan maaf itu. Tidak pernah ada kata bagiku untuk siapa pun terutama untukmu! Pria yang telah menyebabkan kematian Ayahku dan para anak buahnya, maka dari itu kau juga harus menerima balasan yang setimpal karena hal itu. Ayahku tidak akan bisa tenang di alam sana sebelum aku membalaskan kematian nya padamu, dan sekarang lebih pantasnya yang menjadi balasannya adalah adikmu yang cantik ini. Supaya kau juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang di sayang. Aku ingin kau kau merasakan itu!! dan sekarang kau akan merasakan itu!! EDWARD SCRITH!" suar Gino yang benar benar nekad, ia juga berhasil mengambil tombol bom yang sempat terjatuh tadi dan tinggal menekan tombol saja.


Elena semakin ketakutan, ia tak bisa apa apa lagi selain menangis dan terus menangis. Harapannya seakan lenyap seketika, ia pasrah jika malam ini memang akan menjadi malam terakhir baginya.


" Jangan membawa bawa adikku kedalam masalah ini!Elena tidak tahu apa apa, jangan memancing ku nekad untuk menghabisimu Gino!" ancam Edward mencoba untuk mengelabui Gino.


Gino berdecih, pikirannya di hantui oleh obsesi cinta dan dendam. Kedua hal yang bertentangan menjadi satu.


"Siapa bilang? Elena juga masuk kedalam masalah ini! karena dialah yang membuatku sampai tergila gila padanya. Tetapi sayang, cintaku tak ada balasan dari bidadari cantik ini, maka sampai kapan pun tidak boleh ada yang memiliki nya selain aku seorang, tidak boleh!" sargas Gino sambil tersenyum miring.


" Kurang ajar! BINATANG!kau tidak berhak sedikit pun untuk menentukan siapa yang berhak memiliki adikku. Kau hanya sampah kotor yang pantas di injak semua orang dan terpuruk dalam kebodohan mu. Cintamu begitu gila!sangat gila! sekarang juga lepaskan adikku!" berucap sambil melangkah pelan supaya lebih dekat lagi.


"Berhenti! atau saat ini juga adikmu akan tewas di depan matamu!" ancam Gino.


" Lepaskan adikku!"teriak Edward lagi.


" Ingin di lepaskan? caranya mudah! kau tinggal pilih apakah mau menjadi saksi untuk pernikahan kami maka aku tidak akan membunuhnya tetapi akan membawanya pergi bersamaku ke tempat yang jauh. Tenang saja, aku tidak akan mengambil sepeser pun harta keluarga mu, apa kau terima EDWARD SCRITH?" tawar Gino mengambil kesempatan karena berpikir sekarang adalah waktu yang sangat tepat.


Edward terdiam, ia sangat hancur melihat keadaan Elena saat ini yang begitu ketakutan dan kusut. Disatu sisi ia sangat menyayangi Elena dan tidak ingin adiknya itu tewas karena dendam terbalik dari Gino, namun di sisi lain ia tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya Elena menikah dengan Pria sebejat Gino. Lalu bagaimana dengan reaksi kedua orang tuanya nantinya? Edward tidak bisa akan hal itu. Ia tetap nekad akan berhasik membawa Elena keluar dari tempat itu.


" Aku tidak akan pernah menyerahkan adikku pada Pria sepertimu! sampai mati pun itu tidak akan pernah terjadi!" tegas Edward dengan menatap sendu kepada Elena.


" Baiklah! itu mau mu Edward!lihat lah kematian adikmu di depan matamu!"


" Jangan coba berani!" teriak Edward seraya mengangkat pistolnya.

__ADS_1


" Sekalipun kamu menancapkan peluru itu, tetap saja adikmu akan tiada karena apa?serangkaian kabel dan bom telah kuselipkan di ikatan tali tali itu. Hanya dalam lima detik saja maka hancurlah semuanya," begitu mudahnya ia berucap tiada rasa peduli.


Edward semakin emosi, ternyata semuanya telah disusun oleh Gino. Jika ia tetap nekad maka begitu cepatlah semuanya akan sirna.


Edward tak peduli,ia hendak melangkah lebih dekat lagi namun suara Elena mengentikan niatnya.


" Kak Ed berhenti! jangan melangkah lagi hiksss hikss,,, aku tidak ingin Kakak juga habis di tempat ini. Ikhlaskan saja kepergianku Kak, biarkan aku yang membayarkan semuanya, biarkan aku. Pergilah Kak HIKSS HIKSS," sela Elena yang begitu rapuh.


Edward menggeleng semakin mendekat, namun bunyi tancapan peluru tepat menembus dada Gino, sontak membuatnya bergelimpang lempar ambruk di lantai. Ternyata pelakunya adalah Eder yang menancapkan peluru dari belakang.


" Argg!!!" tombol boom itu telah tercampak tepat di kaki Edward dan langsung ia ambil.


Gino merasakan sakit yang mendalam, tak dapat mengambil nafas lagi. Sementara Edward langsung bertindak melepaskan tali yang melilit tubuh Elena.


Mereka bertiga langsung menjauh karena ternyata rangkaian kabel itu tak dapat di sentuh, hanya tersisa lima detik sebelum bom itu juga bersamaan meledak.


Namun tak sampai mereka berhasil keluar, ternyata Gino masih memiliki kekuatan untuk melangkah dan berdiri lalu,,,


" Argg!!!" rintihan Elena ternyata ada sebilah pisau yang menancap di perut Elena.


" Bugh!!" saat bersamaan Elena dan juga Gino jatuh tersungkur.


Edward dan Eder terkaget dan langsung membawa Elena keluar, lalu,,,,


" DUAR!!!!!!!"


lenyap sudah gudang itu, Gino terbakar habis di dalamnya. Sementara Elena?


" ELENA!!!!!!"


_______


LIKE KOMEN DAN VOTE

__ADS_1


SALAM^^


__ADS_2