Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Sadar!


__ADS_3

"ELENA!"pagi pagi buta sekali pekikan Evans membangunkan semua yang menginap di kamar inap Elena. Semua terkaget bukan main saat melihat mimik wajah Evans yang begitu khawatir sekali.


"Ada apa Hubby?"Anyer yang langsung sadar seratus persen mendekat kepada sang suami yang tampak ngos-ngosan sekali tanpa sebab.


"Ternyata hanya mimpi," gumam Evans dengan tampang yang masih begitu khawatir sekali.


"Kamu kenapa Hubby?" tanya Anyer lagi sembari menyerahkan segelas air kepada Evans.


"Hanya mimpi saja darling, mimpi buruk yang begitu menyedihkan," balas Evans setelah meneguk habis air minum itu.


"Mimpi buruk seperti apa?" tanya Anyer keheranan.


"Aku bermimpi Putri cantikku sudah tiada," tutur Evans disisa nafasnya yang masih tersengal-sengal, peluhnya bahkan masih bercucuran.


Ternyata pekikan Evans tadi disebabkan mimpi buruknya yang hampir saja membuat nya seperti didalam dunia nyata yang sebenarnya. Namun itu hanya bunga bunga tidur saja, ia coba untuk menarik nafas dalam dalam kemudian berucap. "Edward," panggilan yang Evans katakan untuk pertama kalinya keluar setelah ia sampai di New York dan baru sekarang ia memanggil nama sang Putra tunggalnya itu.


"Yes Dad," Edward benar benar menyiapkan dirinya apapun konsekuensi nya nanti, ia harus bisa untuk itu. Memberanikan diri mendekat kepada sang Daddy.


Sedang Anyer undur diri duduk di sofa sendiri lantaran Eder kembali ke apartemen karena merasa tidak enak jika bermalam di sana bersama keluarga Elena dan juga Erdo baru sampai tadi malam menyusul makanya keduanya ke apartement Eder saja.


Evans menatap lekat wajah Edward, entah apa yang ada didalam benaknya sampai saat ini, apapun itu Edward sudah siap. Tanpa aba aba Evans sudah menggerakkan tangan kanannya seolah olah hendak menampar pipi Edward saat itu juga. Ia menarik nafas dalam dalam menanti apa yang akan dilakukan Evans padanya. Namun nihil! diluar dugaannya, apa yang terjadi?


"Jangan pernah menyalahkan dirimu Boy, jadilah Pria yang kuat dan sejati, jangan pernah merasa tiada berarti lagi." Yang ia dapatkan adalah perkataan yang membuat nya tak bisa berucap lagi. Evans malah memeluk hangat sang Putra setelah sekian lama tak bertemu karena perpisahan antara jarak tempat.


Air matanya jatuh seketika, sungguh ucapan Evans sangat diluar nalurinya yang berpikir Evans akan memaki maki nya namun itu salah.

__ADS_1


"Dad," katakan saja kedua Pria itu tampak cengeng saat ini dipandang oleh wanita yang mencintai kedua Pria yang sedang berpelukan itu. Pemandangan seperti itu jarang terjadi, karena Edward yang sudah besar dan juga sikap Evans yang begitu tegas padanya sejak kecil tak jarang seperti tiada menyayangi tetapi pada kenyataannya bukanlah seperti itu. Meskipun sikap Evans yang begitu dingin pada Putranya itu tetapi ia adalah caranya ia untuk mengajari bagaimana caranya menjadi Pria yang sejati dan teguh tanpa seorang ya memberi perhatian.


Dan hal itu berhasil hingga kini mendidik Edward benar benar menjadi Pria seperti yang ia inginkan. "Kamu adalah Putra Daddy seorang, dan Elena adalah Putri Daddy seorang. Kalian berdua begitu besar nilainya dalam hidup Daddy dan Mommy," ungkap Evans pada kenyataan yang sebenarnya.


Bahkan Anyer yang menyaksikan itu sampai tak sadar air matanya yang jatuh seketika, pemikirannya tadi sama seperti Edward namun setelah melihat kejadian ini benar benar menyentuh hatinya.


"Dad,Mom,Kak Ed," panggilan lirih itu sontak membuat mereka bertiga terkaget. Mencari asal suara dimana suara yang berasal dari gadis yang sampai saat ini mereka tunggu kepulihan nya.


"Elena," mereka bertiga sungguh tak menyangka akan hal itu. Saat bersamaan Evans langsung mengecup hangat kening sang putri dengan perasaan yang campur aduk.


"Daddy," mendengar suaranya saja sudah membuat mereka bertiga begitu berbinar bahagia disertai air mata yang terus jatuh.


"Mommy," panggilan itu dengan sigap Anyer mendekat dan langsung tersenyum manis kepada Cinderella nya mereka itu.


"Kamu sudah sadar sayang! Puji Tuhan," ucap Anyer dengan rasa syukur dan bahagia.


"Elena adik cantikku," tak dapat ia ungkapkan lagi rasa bahagianya. Bahagia karena Elena sudah sadar tetapi merasa sedih karena mengingat semua terjadi karena dirinya. Namun ia tetap berusaha untuk memahami keadaan. Elena sendiri merasa bersyukur masih dapat melihat ketiga orang yang ia sayang berkumpul saat ini.


"Elena sayang Kakak, Mommy, Daddy, Kakak jangan merasa bersalah lagi. Sekarang bukan waktunya untuk menangis Dad, Mom, Kak! apa kalian tidak ingin melihat Ele sadar? atau ingin Ele tutup mata lagi seperti sebelumnya?" ucap Elena sedikit bercanda, tetapi sedikit kekehan kecil diujung kalimat nya.


Tentu saja mereka menggeleng cepat sembari menyeka air mata masing masing, melihat senyuman Elena membangkitkan kembali suasana sepi menjadi suasana penuh senyum.


"Gitu donk," Elena mencoba untuk duduk dengan sendiri untuk melatih tubuhnya yang sempat kaku karena tiga hari terbaring tak bergerak, meskipun ras perih masih terasa di perutnya lantaran bekas operasi itu masih ada terasa setelah ia sadar.


"Jangan banyak gerak dulu Ele, istirahat saja dulu jangan paksakan dirimu," nasihat Edward namun Elena menggeleng. "No Kak! justru kalau Ele terus berbaring yang ada Ele gak bakal bisa gerakin otot otot Ele lagi seperti sebelumnya. Tenang saja, Ele kuat!" bantah Elena meyakinkan mereka bertiga.

__ADS_1


Edward menghela nafas panjang, yang penting sang adik bahagia terserah nya saja, mereka pun ikutan bahagia juga.


Elena mengedarkan pandangannya ke seisi kamar inap seolah olah sedang mencari sosok seseorang. Namun tak ada ia temukan sosok itu membuat mereka bertiga mengernyit keheranan.


"Ada apa sayang?" tanya Evans melihat reaksi aneh pada sang Putri.


"Em, tidak Dad!" elak Elena sambil menggeleng.


"Hmm, mencari Eder kah?" tebak Edward yang membuat rona malu pada Elena jadi timbul sendirinya. Ia seperti tahu ada perasaan yang timbul diantara kedua insan itu, namun ia selalu bersikap seolah olah tiada yang terjadi. Tetapi kali ini sikap Elena meyakinkan nya bahwa adiknya itu ada rasa lain pada Eder.


"Kakak, bukan begitu! hanya saja salah jika bertanya dan mencari Kak Eder?" balas Elena malu malu.


Evans dan Anyer melototkan mata mereka menatap Kakak adik itu secara bergantian.


"Ada apa maksudnya ini Ele?" tanya Evans dengan tatapan mengintimidasi.


"Tidak Dad! jangan hiraukan Kak Edward, dia suka bercanda hehe," elak Elena namun Edward mengangkat bahunya saat Anyer menatap dirinya seolah olah meminta penjelasan.


"Ehem, apakah disini Cinderella nya Daddy sudah mulai kasmaran?" goda Evans dengan senyuman miring menggoda sang Putri.


"No! Dad, Mom, Kak! berhenti menggoda Ele!" celetuk Elena berdecak kesal.


"HAHAHAHHA!!" Gelak tawa memenuhi kamar inap itu saat mereka berhasil menyudutkan gadis cantik yang menjadi Ironman.


________

__ADS_1


HAPPY ENDING OR SAD ENDING?:)


SALAM^^


__ADS_2