
Edward menelan salivanya dengan kasar ketika mendapati penampilan Lea yang kini baru saja keluar dari rumah benar benar seperti cinderella di pagi hari. Dres indah berwarna merah dengan bagian lengan yang sedikit terbuka, terlebih lekuk tubuh Lea yang sangat indah membuat Edward sangat tidak menyangka segitu cantiknya Lea padahal hanya dibumbui oleh make up tipis saja dan lipstick pink yang hanya sesuai warna bibir saja.
' Pemandangan apa ini? tidak sia sia semalam aku menyuruh pemilik boutiqe menyiapkan dress tercantik. Jika seperti ini seakan ingin menikahinya saja sekarang juga,' batin Edward.
Lea masuk kedalam mobil duduk di depan bersama dengan Edward sementara Hansel duduk sendiri di belakang. Mata Edward bahkan sampai tak berkedip menatap Lea sampai sekarang.
Tatapan Edward membuat Lea sedikit risih dan kurang nyaman, sejujurnya tadi itu ia sudah tak ingin mengenakan dres itu namun karena menghargai Edward sehingga ia pun nekad mengenakan dres tersebut. Pikirannya masih di hantui dengan banyak pertanyaan. Mengapa Edward bisa memberi dres secantik dan semahal itu bahkan harganya masih tertera di dres itu. Dan kedua, kemana mereka akan pergi. Lalu yang terakhir, siapa sebenarnya Edward.
" Mommy cantik sekali," puji Hansel sehingga membuyarkan pandangan Edward yang sedari tak kunjung lepas dari Lea.
Lea menoleh kebelakang, ia baru sadar bahwa Hansel juga mengenakan stelan baju yang sangat elegan. " Hans,, mengapa kamu bisa berganti style?" pertanyaan bertubi tubi menghantui diri Lea. Masih banyak yang belum ia ucapkan.
" Mommy kepo aja," balas Hansel dengan bahagia.
" Kamu sangat cantik," pujian itu lolos begitu saja dari bibir Edward untuk Lea.
Pujian itu menyungguhkan perasaan aneh yang kembali timbul dalam hati Lea. Pipinya merona karena malu bahkan sampai terlihat merah sekali.
" Sebenarnya kita akan kemana? dan mengapa kamu memberikan dres sema,,,"
"Stsss!! jangan pikirkan itu, yang sekarang ini kita akan pergi ke suatu tempat jadi jangan bertanya dengan hal sekecil itu," sela Edward memotong perkataan Lea yang tak sempat terucap dengan sempurna.
" Tapi,,,"
" Hans,, siapkan untuk kita pergi?" lagi lagi Edward berhasil memotong perkataan Lea.
" Siap donk Dad!" balas Hansel bahagia.
Dengan penuh kebanggaan Edward langsung menyetir mobil meninggalkan pekarangan rumah.
Sepanjang perjalanan Lea benae benar di hantui dengan banyaknya pertanyaan yang hendak ia lontarkan. Ia mencoba menenangkan dirinya dan akan bertanya di saat yang tepat dan pastinya saat Hansel tidak bersama mereka.
__ADS_1
Sedari tadi senyuman tak lepas dari wajah Edward dengan berulang kali melirik Lea yang sangat cantik sekali hari ini ia lihat.
' *Sebenarnya ini mau kemana? aku sangat dihantui rasa penasaran. Terlebih yang paling utama, siapa dia yang sebenarnya?' Batin Lea.
Memakan* waktu empat puluh lima menit akhirnya mobil mereka berhenti di depan sebuah Restoran yang sangat besar sekali bahkan sampai menjulang ke atas.
Mereka bertiga turun bersamaan karena tidak ada rasa sabaran terutama Lea dan Hansel.
Mereka tampak kagum sekali menatap tempat itu, perkarangan yang di tumbuhi banyak bunga yang tumbuh rapi dan indah di pandang mata. Seakan dunia mimpi yang mereka rasakan saat ini.
" Ini sangat indah sekali," gumam Hansel penuh rasa kagum.
" Ayo,," Edward memeluk pinggang Lea dari samping tampak begitu mesra sekali. Sementara Hansel, ia berjalan ditengah antara Edward dan Lea dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celananya. Mereka bertiga benar benar seperti keluarga kecil yang sangat harmonis.
Namun sayang, Resto itu tampak sepi. Tentu saja, Eder sudah membooking Resto besar itu atas nama Edward sehingga hanya para pelayan yang menunduk hormat mempersilahkan kedatangan mereka bertiga.
Ketiganya memasuki lift untk menuju tempat yang paling atas alias lantai atas. Lea hanya bisa bertahan dalam pertanyaan yang semakin banyak sekali.
" Ting,," lift terbuka, dengan tampang arogannya Edward merangkul pinggang Lea lebih dekat dengan tubuhnya sampai mereka di persilahkan duduk di meja kasa dan kursi yang sudah di hias sungguh terlihat begitu indah.
" Silahkan Tuan, Nyonya," ucap banyak pelayan dengan serentak.
Lea semakin kagum pada semua ini, sementara Hansel langsung melahap saja makanan dengan santai.
Di piring tersedia pisau, dan dua sendok bagaimana pada biasanya orang kalangan atas makan menggunakan ketiga alat itu untuk makan. Lea melirik Hansel, betapa terkejutnya ia saat menyaksikan Putranya itu dengan lihai menggunakan ketiga alat itu. Sungguh di luar dugaannya, ia sendiri masih tampak kebingungan menggunakan ketiga alat itu. Edward mengerti itu sehingga memegang kedua tangan Lea untuk mengajarinya.
" Pertama potong dagingnya sesuai ukuran yang kamu mau lalu gunakan sendok untuk menyuapkannya ke dalam mulut," tutur Edward dengan sabar mengajari Lea. Lea termasuk seseorang yang mudah mengerti, dengan mudahnya ia menangkap semua yang Edward ajarkan sampai kini akhirnya ia pun berhasil mengenakan ketiga alat itu.
Edward melirik Hansel yang terlihat semakin bahagia menikmati macam makanan tersebut.
' Sudah ku tebak, kamu begitu mirip sekali dengan Daddy Hans. Kamu bahkan bisa lebih mudah menggunakan ketiga alat itu untuk makan daripada Mommy mu. Dan aku semakin yakin untuk mengajarimu dengan banyak hal lain lagi,' Batin Edward.
__ADS_1
" Bagaimana, enak?" tanya Edward memecah keheningan.
" Sangat lezat Dad, Hans suka" balas Hansel dengan bahagia.
Perutnya bahkan sampai sedikit membuncit karena kekenyangan sehingga menyudahi makannya.
Begitu juga dengan Edward dan Lea yang akhirnya menyelesaikan aksi makan.
Edward tidak sengaja melirik bibir Lea dan menemukan sisa bumbu daging di mulut Lea, dengan mesranya ia mengambil tisue lalu mengelap bibir Lea.
" Kalau makan itu yang bersih," kata Edward dengan nada menggoda.
" I,, iya,," Lea sungguh malu sekali dan merasa nyaman dengan perlakuan Edward padanya.
" Saatnya,,," Edward membunyikan sebuah isyarat hanya dalam satu menit Helikopter telah berada di udara tepat di samping dinding kaca itu.
" Ya Tuhan,,," Lea menemukan suatu yang baru lagi. Jantungnya serasa hampir copot saja melihat semua itu. Dinding kaca lantai atas itu terbuka dengan remote, ternyata yang mengemudikan Helikopter itu adalah Eder. Ya, dia memang lihai dalam hal itu.
" Uncle Eder," kata Hansel yang semakin terkagum kagum.
Tangga sudah langsung tersedia menuju masuk kedalam Helikopter tersebut. Dengan mesranya Edward menggandeng Lea membawa masuk kedalam Helikopter tersebut. Sementara Hansel jadi paling akhir yang masuk.
" Saatnya kita bersenang senang," kata Edward yang membangunkan semangat Lea dan Hansel. Senyuman manis tak kunjung lepas darinya, entah karena apa tangannya dengan mudah begitu saja malah memeluk Edward dan semakin mendekatkan tubuhnya duduk berdekatan dengan Edward. Sementara Hansel, ia jadi duduk menyendiri namun rasa bahagia tidak hilang hanya karena kedua insan yang bermesraan itu.
Sungguh hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Lea, ia semakin yakin untuk menaruh hatinya pada tempat yang benar. Semakin merasakan kenyamanan di dekat Edward dengan menaruh wajahnya tepat di dada Edward, begitu juga dengan Edward semakin erat merangkul pinggang Lea.
' Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman dengan sosok wanita lain. Mungkinkah semua ini karena pengaruh bahwa tubuh kami memang sudah pernah bersatu? entahlah intinya ada kenyamanan dengannya,' batin Edward.
_____
TETAP kasih vote donk:(
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTE OK
SALAM^^