
"Drtt,,,drt,,,drt,,," bunyi ponsel Edward yang bergetar di meja membangunkannya dari mimpi indah.
Masih dengan keadaan kurang sadar, ia mengambil ponsel lalu mengangkat sambungan telfon tanpa mempedulikan nama yang tertera.
" Hmmmm,,," suara khas bangun tidur.
" Hmmm???? begitu cara kamu menyahut Mommy?" Ternyata sambungan telfon dari Anyer.
Edward yang semula masih memejamkan mata, kini terbelalak kaget, bola matanya hampir keluar. Sudah pasti salah lagi, pikirnya.
" Emm,,, halo Mom,,, Mommy apa kabar?" intonasi suara yang semula begitu malas kini berubah menjadi selembut sutra.
" Mommy apa kabar?" Anyer mengulangi ucapan Edward dengan cebikkan kesal pada sang Putra.
" Mom, Ed minta maaf. I'm sorry my Mom my love, tadi itu Ed gak sempat baca siapa yang telfon hehehe. Karena Ed kira yang biasa telfon pagi pagi kegini pasti Eder, jadi Mommy jangan marah ya." Suara Edward dengan nada memelas.
' Jika Mommy masih kesal, habis lah, pasti bakal di omelin sepanjang telfon.'Batin Edward.
" Ckk, kamu sama saja dengan Daddymu, kalau soal merayu, minta maaf paling pintar." Anyer berdecak kesal.
" Jelas donk Mom, namanya juga Daddy dan anak nya, emangya kenapa tumben Mommy telfon?"
" Enggak, Mommy cuma ingin dengar suara kamu saja Ed soalnya Mommy kangen sama anak anak Mommy," terdengar suara lirih Anyer dari seberang sana.
" Mom, kalau ada waktu pasti Ed bakal ke Australia, tapi untuk saat ini Edward semakin di sibukkan dengan Perusahaan yang semakin menambah cabang cabang nya maka dari itu Ed mana bisa asal cuti. Yang ada nanti hal hal terkait mengenai para klayen Ed bakal bermasalah. Tapi kalau ada waktu tiga hari aja pasti Ed usahain," balas Edward.
' Dan juga setelah masalah Lea dan Hansel terselesaikan dulu baru aku akan kesana. Sebelum semua selesai aku tidak akan bisa tenang,' tambah Edward dalam hati.
" Huff, baiklah Ed, Mommy akhiri ya sambungan telfon nya, daa,,," Anyer menghela nafas panjang.
" Iya Mom,"
__ADS_1
" Tutt,,,,"
Edward melemparkan ponselnya di atas ranjang dengan putus asa.
" Aaaa,,, maafin Ed, Mom. Masalahnya Edward harus menyelesaikan masalahku lebih dulu," gumam Edward frustasi.
" Huf,, tidak ada waktu untuk putus asa, aku harus segera bersiap siap dan menemui Lea pagi ini juga,," Edward bangkit berdiri memasuki kamar mandi.
_______
Disisi Lain...
Lea baru saja selesai memasak dan membereskan rumah, ia memang sudah bangun subuh subuh sekali karena ia harus segera bersiap untuk mencari pekerjaan yang baru.
Sembari memakai pakaiannya, sesekali Lea melirik dirinya di depan kaca lemari kain di dalam kamar.
" Emm,,, kalau pakai yang ini cocok gak ya," ia bingung harus memakai baju yang mana, semua pakaiannya sudah tampak kusut dsn setiap ia memakai nya pasti tampak lusuh.
" Jika memakai pakaian yang sudah usang seperti ini apa ada yang akan menerimaku di dunia pekerjaan? huff,, terkadang cerminan seseorang itu hanya di pandang dari sudut penampilan bukan kreasi. Pantas saja banyak orang orang yang sampai rela menjual diri hanya demi mendapatkan uang dan bisa membeli pakaian untuk mendapatkan perhatian banyak orang. Ternyata dunia memang begitu sulit untuk di artikan, sikap sudah jarang di nilai dalam norma kehidupan yang baru ini. Semua yang mereka nilai hanya dari materi dan penampilan terlebih dari kecantikan. Padahal kecantikan yang hakiki adalah berasal dari hati yang tulus dan bersih," lirih Lea.
Bukan semua itu benar? terkadang bahkan perbuatan yang baik di balas dengan kejahatan karena cenderung tidak termasuk dalam kategori yang mereka inginkan. Namun hal itu tidak mampu menembus gawang pertahanan Lea untuk tetap semangat menjalani kehidupan.
Walau terkadang putus asa namun kembali bangkit lagi, sudah memilih dan memilih sampai akhirnya ia menemukan pakaian yang menurutnya sudah pas.
" Mungkin pakaian yang ini jauh lebih baik," gumamnya yang kini mengenakan baju kemeja berwarna biru dan celana LI panjang.
" Semangat Lea!!!" menyemangati diri sendiri mungkin cara terbaik baginya.
Lea keluar dengan membawa berkas berkasnya yang termasuk surat tanda kelulusannya sewaktu sekolah. Yang pastinya sudah termasuk KTP dan lain lain.
" Hans,,,," Lea yang baru saja keluar sudah menemukan Hansel di meja makan.
__ADS_1
" Mom,, Hans lapar," balas Hansel.
" Ya sudah makan saja nak," tutur Lea.
Tetapi Hansel terdiam, ia melirik makanan yang terhidang di meja makan hanya nasi putih dan ikan hanya satu ekor yang tergoreng.
" Mengapa cuma satu saja Mom ikan nya? trus Mommy makan apa?" Tanya Hansel dengan lirih.
'Maafin Mommy Hans, Mommy memang sangaja hanya menggoreng satu ekor ikan saja karena Mommy harus pengiritan sebelum Mommy dapat pekerjaan. Cukup kamu saja yang makan itu juga sudah membuat Mommy kenyang,' Batin Lea.
" Emm,,, Mommy,, Mommy sudah makan lebih dulu dari Hans, makanya tinggal satu ekor lagi ikannya. Hans gak masalah kan makan sendiri?" tutur Lea sambil tersenyum manis.
Hansel sedikit ragu akan ucapan Lea namun ia tetap percaya apda sang Mommy.
" Baiklah Mom, Hans percaya sama Mommy," kata Hansel.
" Mommy pergi dulu ya sayang, soalnya Mommy mau cari pekerjaan yang baru," tutur Lea menyunggingkan senyum tulus.
" Mommy hati hati ya," Hansel mengecup pipi Lea kiri dan kanan.
" Iya sayang, daaa,,," Lea melambaikan tangan nya sembari melangkah hendak keluar.
Namun saat pintu terbuka, ia malah bertemu dengan sosok seseorang.
" Ka,,, kamu,,,"
" Hei sayang,,,"
______
TETAP LIKE KOMEN DAN VOTE
__ADS_1
SALAM^^