
Seorang wanita tengah duduk dengan bermalas-malasan diatas sofa. Setelah tadi pagi Hansel diantar ke sekolah oleh supir Pribadi, Lea memilih untuk stay dirumah saja. Tanpa ada niatan ingin beranjak dari sana. Toh, ia sendiripun tidak tahu harus melakukan apa. Pekerja rumah sudah sepenuhnya diambil alih oleh ART, sehingga hanya sedikit kemungkinan untuk ia melakukan pekerjaan rumah lainnya.
"Huf!" Wanita itu menghela nafas panjang sembari memejamkan matanya.
"Kakak ipar."
Panggilan itu lantas mengalihkan perhatiannya. Lea lantas mendongak dan menoleh ke asal suara, dimana saat ini seorang gadis melangkah mendekat padanya.
"Ele." Membenarkan posisi duduknya dengan tenang sambil tersenyum tipis.
Elena pun lantas demikian, mendaratkan bokongnya tepat di sofa yang di duduki oleh Lea. Menatap lurus ke depan dengan satu tangannya mengambil banyak sofa dan menaruh atas pahanya.
Lea masih diam, tadinya ia kira Elena akan berangkat ke kampusnya. Namun seperti kenyataan saat ini, ia sudah tahu jawabannya. Hanya ingin tahu saja apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu.
"Kak." Elena kembali memanggilnya. Dan tentu ia langsung membalas tatapan yang dimana saat ini Elena meliriknya untuk beberapa detik.
"Iya, ada apa Ele?" sahutnya.
Elena terdiam. Gadis itu tampak seperti memikirkan sesuatu hal, namun tidak menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa dia akan berbicara. Sehingga dengan itu, Lea kembali dibuat bingung dengan ekspresinya itu.
"Kamu kenapa Ele? Apa kamu masih merasa lelah? masih kurang istirahat, iya? Maka lebih baik kamu istirahat saja dulu di kamar. Jangan banyak gerak dulu, biar lebih pulih lagi," tuturnya dengan lembut. Hanya dengan cara demikian yang sekarang dapat ia berikan, pasalnya gadis itu tak kunjung juga membuka suara.
Namun alhasil ia malah mendapatkan gelengan kepala dari gadis yang sebentar lagi akan menjadi iparnya itu. Tentu karena hal tersebut membuatnya semakin kebingungan. "Tidak kak. Aku baik-baik saja," tolaknya dengan halus.
Lea mengernyit heran. "Lalu?"
Elena kembali menghela nafas panjang. Menoleh sekilas kepada Lea dengan tatapannya yang amat dalam. Namun Lea malah semakin tidak paham dengan perubahan ekspresi darinya. "Kamu yakin Ele? Tapi mengapa kamu seperti tengah memikirkan sesuatu?" tebak Lea.
__ADS_1
"Right."
"Katakan saja."
Elena mengalihkan pandangannya lurus ke depan dengan mimik wajah yang kembali terlihat datar. "Apa kakak benar-benar mencintai Kak Edward?"
What?
Lea tidak salah dengar?
Pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh gadis itu benar-benar membungkam mulutnya seketika itu juga. Entah mengapa ia serasa tiada berdaya dan tidak sanggup untuk menyahut pertanyaan dari Elena. Dirinya sendiripun malah ikut bimbang, antara keluh tuk berucap, atau merasa bahwa dirinya tengah diintimidasi oleh calon iparnya itu.
Lea masih belum menjawab. Masih mengunci mulutnya, tetapi ketahuilah, didalam hatinya ia sudah mengiyakan pertanyaan tersebut. Namun tidak secara langsung didepan gadis ini.
Merasa dirinya belum mendapatkan jawaban, Elena kembali tersenyum tipis.
"Tanpa kakak menjawab pun sebenarnya aku sudah tahu jawabannya kak. Aku sudah bisa tebak bahwa kakak benar-benar sudah jatuh hati pada Kak Ed. Aku tahu itu dan begitu juga sebaliknya, kak Edward benar-benar jatuh sangat dalam padamu kak. Dia benar-benar mencintaimu dengan setulus hatinya." Elena menggantung kalimatnya, lalu menarik nafasnya dalam-dalam. "Terbukti saat pertemuan pertama dengan Daddy dan Mommy. Ele lihat sendiri bagaimana perjuangan dan tekadnya kak Ed saat membela kakak dan juga Hansel untuk menunjukkan keseriusannya pada kalian. Saat itu juga Ele sadar dan baru mengetahui sisi terhebat dalam diri Kak Edward. Ketika dia benar-benar menyayangi seseorang, dia tidak akan pernah menyerah. Dia akan terus berupaya. Semuanya terbukti jelas. Dan ya, aku benar-benar kagum kepadanya. Bukan karena Kak Edward kakakku, hanya saja aku ingin memberitahukan hal yang seharusnya kakak ketahui juga. Pribadi Kak Edward benar-benar luar biasa," lanjutnya lagi dengan tulus.
Lea lantas bungkam. Semakin terdiam tak berkutik dan tak bergeming dari posisinya, selain hanya berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Jadi, disini aku memutuskan bahwa kakak benar-benar pantas dengan Kak Edward. Dan aku mendukung kesegeraan pernikahan kalian berlangsung. Karena aku tahu, semakin lama ditunda, maka akan semakin besar juga hambatannya." Elena berbalik dan kini saling tatap dengan calon iparnya itu.
"Kakak memang wanita yang hebat, berhasil menjadikan kak Edward lebih baik lagi dan sedikit terbuka. Aku hanya tidak ingin ada pengganggu didalam hubungan kalian, karena Ele tahu bahwa diluar sana, banyak wanita yang rela-relaan melakukan apapun demi mendapatkan kak Edward dengan cara apapun. Tentunya dengan cara yang sangat licik, terlebih teman masa kuliahnya dulu masih banyak yang menaruh rasa padanya. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kakak dan juga kak Edward," sambungnya lagi.
Sungguh, penuturan kata panjang lebar itu, sangat dan sangat sangat menyentuh hati Lea paling dalam. Dia mencerna semua kata-kata dari Elena dengan baik-baik sambil berulang kali mengangguk kecil sambil tersenyum.
"Terimakasih Ele. Kakak mengerti maksudmu, terimakasih sudah mau dekat dengan ku," balasnya.
__ADS_1
Elena menggeleng cepat. "Tidak. Jangan begitu kak, malah aku benar-benar bersyukur karena yang menjadi ibu dari keponakan ku adalah wanita baik dan hebat sepertimu. Aku suka sisi itu dari dirimu kak, bahkan sejak awal pertemuan kita."
"Kamu juga gadis yang sangat baik. Sudah cantik, pintar, kuat dan sangat bijak sekali."
"Heheh, kakak ipar juga. Bagaimana kalau kita healing?"
"MASIH CALON!"
Mereka lantas menoleh ke asal suara tersebut dengan melongo heran.
"Edward."
"Kak Ed."
"Masih calon, jadi jangan harap bisa ajak-ajak wanitaku pergi begitu saja." Edward melangkah mendekati mereka berdua.
"Heh, kak Ed, kau sangat menyebalkan sekali. Biar saja, setidaknya sebelum menjadi kakak ipar, aku harus memanfaatkan waktu ini supaya bebas jalan dengan kakak ipar. Karena kalau nanti sudah menikah, pasti kakak tidak kasih waktu," celetuk Elena dengan kesal. Mengerucutkan bibirnya ke depan, sehingga membuat Edward semakin penuh kemenangan menatap sang adik.
"Ele, kamu lebih baik keluar bersama Eder. Kamu bilang, kamu pengen healing kan? Maka kakak rasa ada baiknya kamu pendekatan saja dengan Pria kaku itu hahaha," ejek Edward. Pria itu melangkah dan kemudian menarik Lea untuk bangkit berdiri, memeluk wanitanya itu dengan senyuman licik.
Mendengar itu, tentu saja Elena bersemu malu, menahan diri untuk tidak terlihat gugup didepan Edward.
"KAK EDWARD MENYEBALKAN!"
"Hahahaha."
********
__ADS_1
Ayo dukung ayy ya sayš„°kasih star vote dan hadiah jangan lupa:)
SALAM^^