
TIGA HARI KEMUDIAN........
Hari ini Evans, Anyer dan Erdo akan kembali ke Australia, semuanya sudah dipersiapkan baik jet pribadi yang siap terbang membawa mereka pergi. Tentunya selama seminggu sejak Elena di RS, hari ini pun akan kembali pulang meninggalkan Putra dan Putri mereka, tentunya itu bukanlah hal yang bahagia melainkan kesedihan bagi mereka terutama bagi Elena. Putri manjanya Evans dan Anyer, sedari tadi tak habisnya Elena menangis dengan memeluk erat tubuh Anyer dan Evans. Suasana semakin pilu sekali, Lea sendiri yang menyaksikan itu ikut sedih, selama tiga hari ini tinggal seatap dengan Anyer, calon mertuanya itu ia benar benar merasa nyaman sekali. Ia bisa pastikan bahwa Anyer memanglah wanita yang tulus dan baik hati sehingga ia sungguh menyayangi wanita yang tinggal sedikit lagi akan ia panggil Mertua, untuk saat ini ia masih risih jika memanggilnya Mommy meski Anyer sudah menyarankannya namun ia menolak halus, sehingga mereka bersikap dimana saling nyaman. Tetapi untuk Evans, tentunya siapapun akan merasa canggung jika berkomunikasi dengan calon Ayah mertua, itu sudah lumrah bagi gadis manapun, dan Evans juga merasa biasa saja dan malah menganggap Lea Putrinya juga meski akan menjadi calon menantunya.
"Mom, Ele belum puas beberapa hari ini dengan Mommy, tidak bisakah seminggu lagi Mommy dan Daddy kembali ke Australia?" Tawar Elena yang masih memeluk sang Mommy dengan isakan tangis.
Anyer tahu betul sifat Putrinya itu, selalu ingin bermanja manja dengannya seperti Elena kecil dulu, namun keadaan masa kecil dengan sekarang ini tidaklah sama. Terlalu memanjakan anak pun salah karena ia tahu usia Elena sudah lumayan dewasa, meski masih terselip sifat manjanya.
"Ele, Mommy dan Daddy tidak bisa berlama-lama disini lagi sayang, Mommy dan Daddymu juga sudah tua, dan Grandma dan Grandpamu sudah lanjut usia. Mommy dan Daddy sering diminta ke Korea untuk menemui mereka yang memilih menghabiskan masa tua mereka disana. Mereka sudah sakit sakit-an nak, Mom dan Dad yang kini menjaga mereka jika mereka butuh. Grandma dan Grandpamu juga sangat merindukan kalian berdua, Cucu kesayangan mereka, jika ada waktu kalian bisa kembali ke Australia dan kita temui mereka ke Korea," balas Anyer untuk memberikan suatu pengertian bagi Elena.
Mendengar kata Grandma dan Grandpa, Elena semakin sedih sekali, ia juga sudah sangat rindu sekali. Namun pendidikannya yang saat ini masih di tengah jalan belum terselesaikan sehingga ia pendam rasa rindu itu.
"Hiks, Ele juga rindu sekali dengan Grandma dan Grandpa, ingin video call tapi tetap saja ingin bertemu secara langsung," lirih Elena dalam tangisannya. Ia bahkan sampai tak tahu malu lagi bahwa semua yang di ruang tamu menyaksikannya terutama Eder yang merasa lucu melihat reaksi manjanya dan sedih juga melihat air mata Elena. Mungkin jika dibandingkan dengan dirinya, nasibnya lebih memilukan lagi, tidak ada mendapatkan kasih sayang dari Ibu kandung sendiri.
'Mendadak aku merindukanmu Ma, sejak aku lahir bahkan sampai sebesar ini tak ada sosok mu dalam keadaan nyata yang aku dapatkan, selain kasih sayang dalam halusinasi. Ingin rasanya aku memelukmu erat-erat Ma sepertinya Elena yang memeluk Bibi Anyer dihadapan ku, tetapi aku tetap bersyukur telah dilahirkan oleh sosok Mama yang begitu tulus dan baik hati sepertimu, Papa selalu bilang Mama adalah yang terbaik. Aku berjanji jika urusan disini selesai,aku akan berkunjung ke makammu Ma. Maaf untuk saat ini aku belum bisa mengunjungi makammu,' batin Eder. Tanpa ia sadari air matanya jatuh seketika bersamaan saat Erdo melirik kepada Putranya sehingga menyaksikan butiran bening itu jatuh.
"Eder," ucapnya dengan pelan, Eder menggeleng cepat sambil tersenyum hangat pada Papanya yang berhati mulia itu. Sampai dirinya sebesar sekarang ini tak ada niatan untuk mencari sosok Mama baginya, dan ia bersyukur akan itu karena baginya biarlah hanya satu MAMA dalam hidupnya. Meski Anyer pernah mengatakan bahwa ia juga adalah Mamanya karena bersahabat baik dengan Ria. Tetapi baginya tetaplah satu orang MAMA untuknya.
'Ria, mendadak aku merindukanmu padahal disana setiap Minggu aku selalu mengunjungi makammu, aku juga bisa merasakan bahwa Putra kita merindukanmu. Seandainya takdir lebih indah dari masa lalu mungkin sekarang ini kita bisa berkumpul bersama, dan juga dengan Keluarga Tuan Evans. Tetap hanya namamu yang terukir di hatiku tidak ada seorang lagi selain mu,' lirih Erdo dalam hati.
"Ele, Daddy dan Mommy juga ingin seperti yang Ele pinta terus bersama kalian tetapi kalian sudah punya tujuan masing masing nak. Mommy dan Daddy juga tinggal menikmati masa tua ini karena kami juga sudah memiliki seorang Cucu dari Kakakmu," kali ini Evans membuka suara. Elena kembali memeluk Daddy-nya itu dengan erat.
"Baik Dad, kita akan bertemu kembali, Ele hanya merasa kurang puas untuk bertemu dengan Daddy dan Mommy," balas Ele seraya melepas diri dari dekapan Evans.
Hansel yang sedari tadi duduk diantara Edwrad dan Lea terdiam menyaksikan hal itu.
"Aunty, jangan terus menangis, Oma dan Opa pasti juga ingin terus disini tetapi kita juga bisa kan menyusul ke sana? Jangan menangis lagi ya Aunty, disini ada Hansel. Ingat aja wajah Hansel pasti Aunty gak sedih lagi," sungguh perkataan yang begitu dewasa sekali dari Hansel membuat mereka semua terkesan sekali apalagi Elena yang merasa kagum seketika pada keponakannya itu.
"Hansel sayang," Elena beranjak memeluk keponakannya itu dengan hangat.
"Aunty jangan menangis ya," ucap Hansel lagi seraya menyeka lembut air mata Elena seolah olah ia begitu dewasa sekali sebelum waktunya.
"Terima kasih Lea, sudah melahirkan Cucu yang sangat hebat bagi kami, kami yakin pasti kamu juga sangat hebat nak sehingga hadirlah sosok Hansel yang sangat pintar dan dewasa," ucap Anyer dengan tulus.
__ADS_1
Lea tersenyum manis, "saya hanya wanita biasa yang diberi kekuatan oleh Tuhan, Tan," balasnya dengan tulus.
Semuanya pun tersenyum puas, kesejahteraan dan kehangatan keluarga saat ini sungguh memicu banyak hal positif yang akan terjadi.
"Halo Tuan, kami sudah di bandara," seorang anak buah Evans memberi informasi bahwa mereka telah tiba dengan jet pribadi yang akan mereka gunakan hari ini juga.
"Mommy, Daddy dan Eder harus kembali ke Australia, kalian baik baik ya disini," ucap Evans dengan beranjak berdiri.
"Opa pergi ya Hans," Evans memeluk hangat tubuh Cucunya itu.
"Hati hati ya Opa," balas Hansel.
"Da Cucuku, dilain hari kita pasti bertemu," kini Anyer yang memeluk hangat tubuh Hansel.
"Iya Oma, sehat sehat ya," jawaban yang begitu bijak sekali.
"Mom, Dad," tetap saja ada rasa sedih Elena peluk mereka berdua dengan erat.
"Jaga diri baik baik ya Ele sayang, Cinderellanya Daddy," ucap Evans begitu juga dengan Anyer yang melepas pelukan mereka.
"Yes Dad," Edwrad tidak ingin terlihat cengeng lagi dan hanya tersenyum mengangguk.
"Jaga mereka ya Ed, dan juga Cucuku itu," kini Anyer yang memeluk sang Putra. Setiap kali ada lirihan dalam setiap perkataan Mommy nya itu pasti butiran bening itu jatuh begitu saja namun segera ia seka.
"Iya Mom, itu pasti," Edwrad mengangguk setelah melepas pelukan mereka.
"Calon menantu, kalian baik baik ya disini," kini memeluk Lea dengan hangat.
"Iya Tan, hati hati ya Tan," balas Lea yang kembali merasakan kehangatan seorang Ibu yang tulus.
"Eder, Bibi dan Uncle pergi ya," kini Anyer hanya menepuk pundak Eder dengan senyuman hangat.
"Iya Bi, hati hati ya di jalan," balas Eder.
__ADS_1
"Papa pergi ya Boy, jaga Nona manja itu dengan baik," kini Erdo yang memeluk sang Putra.
"Yes Pa," balas Eder tak dapat membendung air matanya yang jatuh seketika.
"Kami kembali ya Eder," kini Edwrad yang bergantian memeluk dan menepuk hangat tubuh Eder.
"Yes Uncle,"
"Baiklah, kalian semua jaga diri baik baik disini, kami pergi," mereka bertiga melangkahkan kaki meninggalkan mereka semua namun mereka antar sampai depan rumah karena di halaman sudah menunggu anak buah Evans untuk membawa mereka ke bandara.
"Mom, Dad, Paman Eder, kami antar sampai sini karena tidak bisa antar sampai ke bandara. Kalian hati hati ya," ucap Edward mewakili perkataan semuanya.
"Dad, Mom," lagi dan lagi Elena menangis memeluk kedua orang yang ia sayang itu.
"Jangan menangis lagi Ele, seperti yang keponakanmu katakan," goda Anyer seraya melepas pelukan Putrinya itu.
"Hati hati ya Mom, Dad, Paman," ucapnya.
"Iya Ele, Cinderellanya Daddy baik baik ya disini," balas Evans sedikit pilu.
"Daa Mom, Dad, Paman," lirih Elena dan semuanya saat menyaksikan mereka telah masuk kedalam mobil.
"Daa," mereka melambaikan tangan kemudian mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Kak," Elena tanpa segan langsung memeluk sang Kakak dengan hangat. Ia memang masih belum tega jika kedua orang yang ia sayang itu pergi.
"Ele, malu donk terus nangis dilihat keponakan kamu, bukankah begitu Hans?" ejek Edward.
"Hu, Kak Ed,"ujung ujungnya ia berdecak kesal dalam air mata.
_______
Ya, tetap setia menanti EPS selanjutnya meskipun lama up kasih like komen dan vote
__ADS_1
SALAM^^