
"Kamu ingin berpergian?"
Pertanyaan yang barusan terucap itu mengalihkan perhatian Lea yang tengah sibuk merapikan surai panjangnya. "Berpergian kemana?" sahutnya kembali menatap dirinya di cermin.
Edward yang baru saja keluar dari ruang ganti mendaratkan bokongnya diatas ranjang sambil menghela nafas panjang. "Ck! Kamu tidak ingin berpergian gitu? Atau kemana hmm," tuturnya.
Lea diam sejenak. Tampak menimang-nimang ucapan Edward barusan. Dirinya sendiripun tidak merasa ingin pergi kemana, malah ingin menghabiskan waktu dirumah saja.
"Emm, kurasa tidak ada. Hanya ingin dirumah saja," ucap Lea. Ia kembali melanjutkan rutinasnya sebagai seorang wanita sebagaimana biasanya ketika bertemu dengan cermin.
"Hmm." Edward bergumam pelan. Sorot matanya kini teralihkan kepada Lea yang dimana wajah cantik itu dapat ia lihat melalui pantulan dari cermin besar didalam kamar.
"Beautiful," gumamnya.
"Apa?" Seakan sadar, Lea segera beranjak dari tempatnya, menghampiri Edward yang kini berdecak sebal pada diri sendiri.
"Aku tidak mungkin salah dengarkan Tuan Edward Scrith?" tutur Lea dengan senyuman yang mengembang sesempurna mungkin. Tentu saja hal itu mampu membuat Edward terdiam membeku. Sebab sangat jarang sekali dirinya asal berucap demikian, itu artinya dia kebablasan, sekalipun itu yg memang kebenarannya si.
"Hmm." Edward hanya bergumam pelan. Lea berdecak sebal, padahal tadi itu sudah sampai tersipu malu ditempatnya ketika mendengar gumaman pelan yang samar-samar ditelinganya. Dan jangan lupakan, wajah cool dan dingin Pria itu tidak berubah juga. Benar-benar menyebalkan sekali bukan?
"Ck! menyebalkan!" gerutunya dengan kesal.
Mendengar itu Edward tersenyum miring. Entah mengapa ia sangat suka membuat Lea kesal seperti sekarang. Menarik tubuh kecil itu hingga kini Lea terduduk tepat di pangkuannnya.
Lea yang menyadari hal itupun lantas menutup matanya dengan kedua tangan mungil itu. Jujur, jantungnya sudah tidak aman lagi. Berusaha untuk tamil tenang dan biasa saja agar tidak kelihatan gugupnya. "Ck! Suasana macam apa ini!" celetuknya dalam hati.
"Hai nona manis," bisik Edward dengan lembut.
Lagi dan lagi jantungnya tak aman. Ingin terbang saja sekarang juga. "A-apa maksudmu Ed?" rengkuhnya saat merasakan nafas Edward yang benar-benar tepat di jenjang lehernya.
__ADS_1
Edward menyeringai dengan penuh kepuasan. Tidak salah juga ia melakukan trik ini hingga dapat mengunci Lea dalam aksinya. "Bagaimana kalau hari ini kita habiskan didalam kamar saja sayang? Hmm? Seperti yang tadi kamu katakan,ingin menghabiskan waktu dirumah saja seharian ini. Bukankah demikian? Maka alangkah baiknya kita bermain hm?" bisik Edward dengan suara sexinya.
Deg!
Bermain?
Oh tentu tidak. Lea sudah tahu apa maksud licik dari Pria yang saat ini bersamanya. "Ck! Kamu licik sekali Ed," decaknya. "Aku tidak mau," tolaknya mentah-mentah.
Tak sampai disitu juga, tentu Edward tidak akan menyerah begitu saja. Kesempatan tidak datang dua kali, maka untuk sekarang ia akan pergunakan waktu sebaik mungkin. "Oh ayolah sayang. Kita belum pernah bermain dengan lembut bukan? Maka bagaimana kalau kita coba saja hm?" Tak habis juga akal busuk Pria ini.
Lea benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Pria seperti calon Suaminya ini. Ralat, lebih tepatnya Ayah dari anaknya. Menyebalkan sekali, pikirnya.
"Dia benar-benar licik, shitt!" Batin Lea.
"Bagaimana hm?" tanya Edward kembali.
"Tidak!" Lea tetap bersikukuh menolak dengan bersikeras. Bagaimana mungkin sekarang mereka akan bermain sementara dirinya saja sudah penuh dengan rasa malu.
"Kamu mesum sekali ternyata! Ck! gerutunya lagi.
"Mesum? Bagaimana mungkin kamu mengatakan ku mesum, padahal aku hanya mengajakmu bermain sayang," balas Edward.
Lea terkesiap. Sebenarnya apa lagi maksud Pria ini. "Aku tahu kelicikanmu itu Ed huh!" geramnya.
"Memangnya kamu mengira aku akan melakukan apa?"
"Ber-bermain kan?" Kini ia sendiri yang malah jadi gugup tidak jelas.
"Ya, benar."
__ADS_1
"Nahkan! Dasar me-" Tak sampai ia selesai berucap, bibirnya sudah dibungkam lebih dulu oleh Edward.
mphhh!
"Kamu itu yang mesum. Aku mengajakmu bermain bukan berarti melakukan hal seperti yang kamu pikirkan itu," kesal Edward.
"Ma-maksudnya?"
"Ck! Ayo berangkat!" Edward bangkit dari ranjang yang membuatnya pun ikut bangkit.
"Kemana?"
"Supermarket."
"What?"
"Kamu lupa?"
Lea kembali terdiam. "Astaga! Oh iya!" Menepuk jidatnya mengakui kebodohannya sendiri.
"Stok dapur kan sudah habis, ditambah lagi dengan Asisten rumah yang sedang pulang ke kampung," batinnya mengingat kembali.
"Ck! Masih mau berdiri disitu?" teriak Edward dari arah pintu kamar.
"Tunggu!!"
____
AYOO MASIH MAU NUNGGU LANJUTANNYA GA? AYO DONG KASIH AUTHOR SEMANGAT LAGI 🥺 AUTHOR DOWN BANGET MKANYA NOVEL INI MASIH DIGANTUNG TERUS:( KASIH LIKE KOMEN DAN VOTE YA SAYANG kuu🤍
__ADS_1
SEUUU