
Karena panggilan Hansel tadi itu, kini menimbulkan keheningan di dalam rumah. Hansel tengah duduk di anatara Edward dan Lea atau lebih tepatnya di tengah.
Sedari tadi tatapan Lea terahlikan dengan menatap kosong ke samping, sedangkan Edward terus tertawa senyum ria dengan Hansel. Keduanya begitu akrab sekali dan sesekali bergelitik geli, Lea sungguh tidak suka dengan keadaan seperti ini dimana ibaratkan ia yang terpojokkan.
' Kalau bukan karena Hansel yang maksa maksa sampai mohon mohon aku gak bakal sudi duduk disini apalagi hanya berjarak karena Hansel yang di tengah.' Batin Lea.
Sesekali ia melirik kesamping tapi hal yang tidak terduga malah terjadi, dimana tatapan nya dan Edward bertemu.
Ide picik seketika terbesit di otak Edward, " sayang,,, mengapa kamu diam saja sedari tadi?" goda Edward.
" Benar Mom, mengapa Mommy diam saja? ayolah Mom kita bermain bersama. Bukankah Mommy yang pernah bilang ke Hans kalau kita perbanyak senyum dan lupakan masalah pasti jalan baru akan terbuka. Tapi mengapa Mommy diam saja, ayo Mom,,,, selagi Daddy masih disini kita habiskan waktu bersama," tutur Hansel dengan bijak, ia menyunggingkan senyum manis penuh harap pada Lea.
Mengehela nafas panjang, dengan rasa terpaksa mengangguk sambil tersenyum kecil pads Hansem.
Mata Hansel berbinar bahagia sekali, Edward mencuri curi pandang pada Lea dengan melemparkan senyuman maut.
' Sekarang aku mengerti, cara ter-ampuh untuk menaklukkan Lea adalah melalui Hansel. Ya Hansel, Hansel adalah jalan satu satunya untuk mendekatkanku dengan Lea, dengan terus mendekat pada Hansel pasti Lea tidak akan bisa mengelak lagi.' Batin Edward.
" Emm,, bagaimana jika kita main,,,," belum sempat Hansel menyelesaikan kalimatnya, Lea malah menyela, " em,, Hans, Mommy mau mandi dulu tidak kah bisa nanti saja di lanjut? soalnya Mommy sudah gerah sekali," sela Lea untuk memastikan Hansel percaya.
Hansel tampak murung, karena ia sudah bayangkan bagaimana serunya nanti saat mereka bermain bersama dan bercanda ria. Namun ia juga tidak ingin egois karena yang di ucapkan Lea memang benar adanya, ia pun mengangguk sehingga menerbitkan senyum bahagia dari Lea.
__ADS_1
" Cup,,," Lea mengecup pipi kiri Hansel.
" Kalau gitu Mommy ke kamar dulu ya biar langsung mandi, Hans ke kamar aja belajar karena Mommy akan sedikit lama." Tutur Lea sembari tersenyum menang dengan melirik Edward.
" Mommy ke kamar dulu ya," Lea beranjak berdiri lalu melangkah memasuki kamar nya.
Lea berdecih, merasa di permainkan oleh jawaban Lea tadi. Padahal ia sudah menyusun strategi jika ada permainan maka akan ia usahakan Lea yang terus kalah sehingga ada sebuah topik percakapan diantara keduanya. Namun semuanya gugur, hanyalag harapan semata yang tak terjadi.
" Dad, mengapa Daddy dan Mommy masih diam diam-an?Hans pengen sekali kita tertawa bersama. Apa Daddy dan Mommy bertengkar?" kata Hansel dengan sendu. Ia sudah berusaha untuk mencari sebuah topik yang panras agar keduanya saling berkata tetapi malah di luar dugaan. Terkadang Hansel merenungi segalanya di dalam kamar, yang Lea pasti Hansel baik baik saja saat ia pergi entah kemana. Tapi yang ia pikirkan sangatlah miris jauh berbeda dengan yang sebenarnya Hansel rasakan. Ia sering memeluk lututnya di lantai kamar dengan isak tangis, ia selalu berharap dan memanjatkan doa pada Tuhan agar Lea dan Edward bisa saling berdekatan. Karena dari semua yang Hansel lihat dan saksikan Mommy dan Daddy nya seakan begitu renggang sehingga menimbulkan sedikit rasa minder padanya.
" Tidak! Mommy mu saja yang tidak ingin berbicara dengan Daddy, padahal Daddy sampai bela bela-in datang kemari untuk bertemu dengan kalian berdua tapi Mommy tidak pernah menghargai Daddy. Mungkin kehadiran Daddy hanyalah sebuah musibah dan mengusik ketenangan kalian kan?" balas Edward, ia sengaja mengucapkan kata kata itu supaya rencananya berhasil dan membuat Hansel berniat untuk ikut bekerja sama dengannya.
" No Dad! Daddy jangan ngomong seperti itu, Daddy bahkan sebuah kebahagiaan bagi Hans karena kehadiran Daddy menambah banyak warna dalam hidup Hans. Tapi Hans juga sepemikiran dengan Daddy mengenai Mommy, Hans juga gak ngerti kenapa Mommy begitu dingin pada Daddy. Bukankah Mommy dan Daddy saling mencintai?" pertanyaan yang Hansel lontarkan begitu menusuk urat nadi terdalam oleh Edward.
" Emm,, itu sih dulu Hans, tapi semenjak Daddy pergi jauh mungkin Mommy udah gak cinta lagi sama Daddy, makanya jadi dingin begitu." Dusta Edward, tidak ada lagi jawaban yang pantas ia ucapkan selain kata kata muslihat itu.
" Ouhh,,, begitu ya Dad, emmm apa Daddy masih mencintai Mommy?" tanya Hansel dengan polosnya.
Edward terdiam, menelan salivanya dengan kasar. Mana mungkin ia menjawab ya sementara ia belum mengerti perasaannya.
" Dadd,,," Hansel sudah menunggu jawaban dari Edward.
__ADS_1
" Em,,," lamunan Edward terbuyarkan seketika.
" Mengapa malah diam Dad? apa Daddy masih mencintai Mommy?" tanya Hansel kedua kalinya.
" Daddy,,, begini saja. Hans inginkan Daddy dan Mommy lebih dekat dan tidak dingin?" Edward mengahlikan pembicaraan, Hansel mengangguk. "Kalau begitu Hans harus bantu Daddy, gimana setuju?" kata Edward sambil menaik turunkan alisnya
Hansel mengangguk setuju, dan sebuah ide pun Edward bisikkan pada Hansel.
" Gimana? Hans bisa?" Edward tersenyum miring setelah membisikkan idenya.
" SETUJU!!!"
" Tos,,,"
Keduanya saling tepuk tangan, dan tunggu saja apa yang sebenarnya mereka berdua rencanakan, apakah berhasil atau tidak?
_____
PENASARAN? MANA VOTENYA:) mampir yuk di karya author sebelah.
" Early Marriage "
__ADS_1
" Kisah cinta Aurora "
SALAM^^