
Di meja makan, suasana begitu hening. Lea melahap kasar makanannya tanpa menoleh pada Edward, ia sangat kesal karena kelakuan Edward tadi itu. Sementara Edward, senyum terus mengembang dengan sempurna di wajahnya. Ia merasa sangat menang sekali pagi ini, masakan Lea juga seakan cocok untuk nya.
' Masakannya cukup enak, dan terasa nyaman di mulutku. Mungkin sudah takdir, aku akan menjadikan mu istriku dan tidak akan bisa menolak lagi,' Batin Edward.
' Brengsek! sangat pintar sekali mencari kesempatan, awas saja kau.' Batin Lea.
Sesaat tatapan mereka kembali bertemu, Lea menatap kesal kepada Edward dan di balas dengan angkatan bahu saja.
" CIH,,," setelah melahap habis makanannya, Lea langsung melangkah hendak keluar dari rumah karena ia harus segera ke toko roti itu.
" Mau kemana?" pertanyaan Edward sontak memberhentikan langkah Lea untuk membuka pintu.
" Ada urusan nya sama kamu?" balas Lea sinis.
Edward melangkah mendekat lagi pada Lea, " mau kemana?" tanya nya kedua kalinya.
" Kerja," jawab Lea dengan dingin, ia membuka pintu rumah, namun tidak bisa terbuka.
Berulang kali Lea mencoba membuka namun tak kunjung bisa.
" Kenapa gak bisa sih," Lea semakin nekad membuka pintu namun tetap tidak terbuka.
Edward yang masih berdiri di belakang Lea, melipat tangan di dada sambil tersenyum puas karena usaha yang Lea lakukan tak kunjung berhasil juga.
Tak ingin putus asa, Lea melangkah kembali ke kamar mencoba mencari cari kunci cadangan, namun tetap saja tidak ada.
__ADS_1
" Dimana sih? aku harus segera ke toko roti itu," gumam Lea sedikit frustasi yang tetap tak menemukan kunci rumah.
Ia tampak berkacak pinggang dengan frustasi, ia mengancak acak rambutnya.
" Dimana sih kunci itu? semalam seingat ku di laci ini, tapi sekarang kenapa gak ada?" lirihnya putus asa.
" Aku harus segera pergi! tapi gimana caranya keluar?" Lea sudah frustasi sekali.
Ia kembali melangkah keluar dari kamar menuju pintu depan,mencoba mendobrak pintu itu tapi tetap tidak bisa.
" Bagaimana ini?" Lea tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Sedangkan Edward masih setia berdiri di depan pintu itu, menyaksikan setiap usaha yang Lea lakukan.
" Sudah lah sayang, toh pintu itu tidak akan terbuka sekalipun kamu dobrak dengan tenaga mu yang tidaks beberapa itu. Mungkin saja ini memang sudah takdir kita berdua berduaan di dalan rumah." Tutur Edward dengan santai.
Lea menoleh kepada Edward dengan tatapan mengintimidasi.
" Apa semua ini rencana kamu?" tebak Lea.
Edward hanya mengangkat bahu dengan santai. " Entah," jawabnya.
" Cepat jawab!" desak Lea.
" Heyy hey,,, apa kamu ada buktinya sayang? hem?? jangan asal menuduh." Ujar Edward dengan miris.
__ADS_1
" Kamu kan yang rencanakan semua ini? kamu yang sengaja merencanakan ini?"
" Jika ada bukti baru jelas sayang, ini kamu tidak ada buktinya." Tutur Edward dengan acuh.
" AAAAAAA!!!! dasar brengsek!!!!" Maki Lea penuh kekesalan.
" Berhenti memakiku sayang, atau kamu akan ku terkam," ancam Edward dengan melangkah mendekat pada Lea.
" BERHENTI!" Bentak Lea.
" No,, aku tidak mau," bantah Edward tidak peduli. Ia semakin melangkah mendekat pada Lea.
" Apa sih mau mu?" Lea sudah mentok di dinding, tidak tahu lagi harus melangkah kemana.
" Mau ku? kamu mau tahu mau ku?"
" Iya,"
" KAMU! KAMU YANG AKU MAU!"
______
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM^^
__ADS_1