Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Elena Diculik


__ADS_3

" Ele,,,"Gino mencoba menghubungi Elena.


" Iya," suara Elena yang menyahut dari seberang sana.


" Apa kita bisa bertemu siang ini?" tanya Gino dengan was was.


Elena yang baru saja selesai jam kuliah tampak janggal akan permintaan Gino kali ini. Ia benar benar jadi ragu lantaran Gino yang semakin sering mengajaknya bertemu. Tapi untuk kali ini perasaannya seakan tidak enak sehingga dengan berat hati ia menjawab, " maaf, saya gak bisa karena sangat lelah hari ini pulang kuliah. Saya harap kamu bisa mengerti," kata Elena dengan mencoba memperagakan nada lelah.


Gino semakin penuh dengan amarah di apartement nya, namun ia tidak bisa apa selain mencoba untuk terus mengajak Elena.


" Baiklah, kamu lelah bukan? maka,, bagaimana jika kita jalan bareng di taman sore ini sekalian menikmati indahnya senja. Apa kamu mau? setidaknya kamu bisa istirahat siang ini sebelum sore nanti," tawar Gino terus merayu Elena dengan segala tipu muslihat. Entah apa rencananya kali ini, ia tampak berambisi sekali.


Elena terdiam mencoba berpikir, sejujurnya ia merasa malas namun dari nada bicara Gino seperti menginginkan sekali. Dan ia juga berpikir mungkin akan mengatakan sore nanti pada Gino supaya lebih jarang untuk bertemu karena ia tidak begitu bebas untuk keluyuran.


" Baiklah, sore nanti jam 16.15,"


"Makasih banyak Ele," Gino tampak bahagia sekali.


" Tut," Elena mematikan telfon secara sepihak.


" Rencana berikutnya akan berlangsung!" Gino tersenyum picik membayangkan bagaimana indahnya nanti rencana yang telah ia susun.


" Sore jam 16.15!" ia seperti memberitahu seseorang melalui telfon.


" Baik!"


" SELANJUTNYA!!!"


____


Disisi lain...


" Mommy mengapa Daddy tidak kembali lagi kemari? Hans rindu Daddy," Hansel bertanya pada Lea dimana mereka sedang duduk di ruang tamu.


Bingung ingin menjawab apa, Lea memilih untuk diam saja daripada salah bicara. Bukan hanya Hansel saja yang berpikiran seperti itu, tetapi dirinya juga.

__ADS_1


Diam nya Lea membuat Hansel semakin murung dan berpikir bahwa Edward memang telah meninggalkan mereka.


" Apakah Daddy tidak akan kembali lagi Mom?" tanya Hansel lagi semakin lekat menatap Lea berharap ada jawaban yang pasti.


Jangankan jawaban yang pasti, jawaban asal saja tak dapat Lea ucapkan. Ia merasa lelah jika terus menerus berbohong, sebagai seorang Ibu seharusnya ia mengatakan yang sebenarnya. Namun kali ini ia memang tak bisa apa apa, ia bahkan sangat merindukan suara Edward.


" Mom,,,," Hansel semakin kecewa setelah melihat Lea yang tetap tak dirinya.


"Daddy mu,,," belum sempat Lea berucap Hansel langsung menyela.


" Hans ngerti Mom, makanya Daddy bilang biar Hansel yang gantian untuk jagain Mommy. Gak papa kalau Daddy belum kembali, asalkan Mommy tetap disini dengan Hansel itu udah lebih dari cukup Mom. Maaf jika Hans banyak tanya sehingga Mommy jadi rapuh, Hans naik ke kamar Mom," perkataan Hansel yang terasa begitu menyentuh Lea. Ia semakin rapuh saat ini, ia sendiri tidak bisa pastikan bagaimana keadaan Edward saat ini. Hansel beranjak, menapaki tangga menuju kamar tanpa menoleh lagi kebelakang. Lea tetap terdiam menatap punggung Hansel yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Aku coba telfon dia," Lea berinsiatif untuk menghubungi Edward. Di saat panggilan pertama tak di angkat bahkan sampai panggilan ke sepuluh kali tetap tidak ada.


Ia tidak histeris atau emosi, namun ia malah merasa rendah diri dimana pikirannya malah tertuju pada hal hal yang buruk. Berpikir bahwa Edward hanya datang memberikan kenyamanan lalu pergi tanpa sebuah kepastian. Ia malah menyalahkan dirinya sendiri karena merasa bodoh terlalu mudah untuk di taklukan oleh seorang Edward.


" Aku terlalu berharap, untuk apa dia menjawab telfon dan pesanku? apa statusku? kamu terlalu bodoh Lea. Kamu bukan istri nya, bukan juga pacar nya jadi kamu tidak ada hak untuk berharap padanya. Berhenti menjadi seorang yang mudah di bodohi, jadilah bijak Lea." Ia mengutuki dirinya sendiri seraya mengacak ngacak rambut nya. Akhirnya Lea memilih untuk positif thinking saja dengan mencoba untuk menonton film supaya menenangkan sedikit pikirannya.


Hari semakin sore, Lea malah tertidur di sofa sedangkan TV masoh menyala. Mencoba membuka matanya yang masih terpejam sehingga berhasil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya.


" Nyonya,," ucap ART tersebut.


" Iya,," balas Lea.


" Barusan Tuan Edward telfon ke telepon rumah dengan mengatakan bahwa ia akan kembali sebentar malam. Dan meminta supaya Nyonya dan Tuan Hansel menunggu Tuan Edward supaya makan bersama malam ini." Seru ART itu. Barusan saja Edward memang menghubungi telfon rumah, Lea bukannya senang dan malah berpikir bahwa telfonnya begitu tiada arti bagi Edward.


Ia hanya tersenyum sambil mengiyakan lalu melangkah menaiki tangga.


ART itu pun tampak bimbang, tidak terlihat ada kebahagiaan dari diri Lea tetapi malah raut wajah kecewa yang terlihat.


____


Seperti janjinya Elena pada Gino, ia baru saja sampai di taman yang Gino sherlock padanya. Tanpa rasa curiga ia memasuki taman tersebut sambil menikmati indahnya senja di langit.


Namun, tak sampai ia merasakan ketenangan, ia terkaget saat suatu kain menutup mulutnya. Sontak membuat ia terkaget dan meronta ronta hendak melepaskan diri. Namun mulutnya semakin di tutup dengan kain itu.

__ADS_1


" Ampp!!!" tidak ada suara yang dapat ia keluarkan semakin lama ia tak dapat menahan lagi karena sepertinya kain itu di beri obat sehingga Elena jadi pingsan.


" Ayo bawa dia masuk," kedua Pria yang itu membawa Elena masuk ke dalam mobil.


"Tuan, Nona Elena di culik, mereka begitu cepat pergi membawa Nona Elena. Dan sekarang kami sedang mengejar mobil mereka, jika kami menacapkan peluru maka sama saja mencelakai Nona Elea."anak buah Edward memberi informasi melalui pesan pada Eder.


Edward dan Eder yang baru saja hendak kembali ke rumah seperti yang ia katakan pada ART menjadi marah pias.


" Tuan," Eder dan Edward semakin penuh amarah. Niat pun gagal saat itu juga yaitu tidak akan kembali ke kediaman Lea dan Hansel.


" KURANG AJAR!!!!!!!" Teriakan penuh emosi yang Edward miliki sangat mengerikan memenuhi apartement nya. Dadanya naik turun, giginya ia gertakkan.


" Kita harus segera melakukan strategi baru, Tuan," ucap mencoba menenangkan Edward yang hampir kehilangan akal. Ia memang sangat marah sekali saat ini, hal baru telah mengusik orang yang ia sayang yaitu adik tercinta nya.


Edward benar benar tidak waras lagi bahkan dinding tembok nya pun ia pukul sekuat tenaga sampai melukai punggung tangannya.


Darah segar mengalir begitu saja, darahnya mendidih seketika bahkan otak nya tak dapat ia ajak untuk kompromi lagi.


Eder bahkan lebih parah dari Edward setelah mengetahui hal itu, namun jika mereka berdua sama sama dalam keadaana emosi maka tidak akan ada jalan yang tersusun untuk masalah ini. Meski dalam kemarahan dan situasi yang mencengkam, akhirnya Eder memikirkan sendiri strateginya dengan meminta pada anak buahnya supaya terkerahkan untuk melacak penculikan tersebut supaya segera memberikan informasi terbaru padanya.


" ARGGGGG!!!!!!" Kaca di dalam kamar, Edward hancurkan berkali kali melukai tangan nya.


Eder tidak berani menghentikan perbuatan Edward yang melukai dirinya sendiri. Ia hanya bisa menunggu sampai Edward benar benar bisa kembali tenang.


" KITA HARUS SEGERA PERGI!!" Dengan langkah kasar Edward keluar dari apartement nya menuju mobil parkir.


Eder menurut mengikuti Edward dari belakang.


' Siapa pun dalang semua ini tidak akan pernah lepas sekalipun!!!!' batin Eder.


____


LIKE KOMEN DAN VOTE ^^^


SALAM^^

__ADS_1


__ADS_2