
Setelah menghabiskan waktu sekitar lebih dari satu jam, Lea merasa cukup kelelahan. Ya, sekalipun dalamnya dingin namun tidak menutup kemungkinan juga bahwa ia merasa cukup gerah karena harus menunduk, berjinjit untuk memilih keperluan yang pantas menurutnya. Ia tidak bilang kalau Edward tidak membantunya, pria itu membantunya hanya saja semakin ia meminta pertolongan darinya, itu membuat waktu semakin lama terbuang, pikirnya.
Sekarang, wanita cantik itu tengah berdiri di etalase pembal*t. Ia mengamati satu persatu dengan mimik wajah yang tampak polos disana.
Sedangkan Edward, pria itu setia berdiri dibelakang dan diam saja. Namun untuk apa yang disaksikannya kali ini sepertinya cukup menarik. Ia melangkah perlahan guna mendekat kepada Lea yang tengah berdiri disana. "Kamu ngapain disini sayang?" bisik Edward amat lembut. Sialnya itu berhasil mengejutkan Lea yang bungkam sambil menoleh keasal suara.
"Ed!" decaknya pelan sambil menarik nafas dalam.
"Kenapa hmm?" Edward mengangkat sebelah alisnya sambil menunjukkan senyum terbaik cowok itu.
Lea lagi-lagi dibuat diam sambil menggeleng pelan saja. "Mau beli kue bantal," jawabnya pelan.
Kue bantal? Edward dibuat bingung seketika atas kalimat barusan. "Apa sayang? kue bantal?" beonya mengulang kembali kalimat tadi dan dibalas anggukan cepat oleh Lea dengan amat mantap.
"Ini makanan?" tanya Edward lagi. Ah! Sejak kapan pria seperti Edward malah mengatakan lelucon? oh shitt! Jangan bilang demikian, dia tidak becanda kan?
"Menurutmu?" Sudah tampak malas sambil berdecak sebal. Kini Lea mulai menatap satu persatu merk di etalase tersebut sambil sesekali menggigit kecil bibir bawahnya. "Jangan bercanda sayang," celetuk Edward yang tampak kesal karena tidak dihiraukan sudah.
__ADS_1
Mendengar itu, Lea pun diam sejenak sambil menggeleng kecil. "Kamu ada-ada saja, logikanya ga mungkin dong ini tuh makanan Tuan Edward Scrith!" celetuknya sewot. Sepertinya untuk kali ini dua insan itu terlihat tidak akur, apa yang harus diperbuat?
"Itu artinya kamu berbohong padaku." Edward kembali berdecak sebal. "What? Sejak kapan?" balas Lea pula.
"Barusan tadi," sinis Edward yang langsung ditanggapi lucu oleh Lea yang terus memperhatikan ekspresi dari pria itu.
Ia lantas berbalik agar dapat menyamakan posisinya dengan Edward sekarang ini. "Aku tidak berbohong sayang, kue bantal bukan berarti makanan. Itu hanya pengalihan atas nama barang hebat itu, kamu mengerti kan?" tuturnya sangat lembut. Shitt! Itu adalah kalimat yang seketika berhasil membuat seorang Edward terdiam membisu. Bahkan seolah tidak tahu untuk menunjukkan ekspresinya bagaimana sekarang. Bahkan senyumannya itu tampak lucu dipandang oleh Lea yang masih setia berdiri dihadapannya.
"Kenapa diam suamiku? Hmm?" ujar Lea lagi dengan nada yang semakin menggoda. Oh shitt! Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Edward sekarang, rasanya seperti mati matian menahan diri untuk tidak memakan wanitanya itu sekarang juga, kalau bukan mengingat ini adalah tempat umum.
"Oke My wife! Aku tidak akan diam, tunggu saja setelah ini selesai, hmm?" balas Edward. Oke, sekarangkan Lea paham bagaimana cara mengembalikan mood pria itu.
"Sejak kapan aku menjadi istrimu?" Dan ya, kini nada bicaranya sudah kembali terdengar datar dan biasa saja. Wanita itu sudah berbalik cepat dan kembali lagi mengamati macam kue bantal disana dengan baik.
"Apa kamu sudah tidak sabaran?" balas Edward dengan kening yang berkerut. Lea menoleh sebentar sambil menjawab, "kurasa demikian, hmm?" Mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.
"Nanti malam kita atur tanggalnya." Sial! Kalimat barusan terdengar sangat lantang dan serius, Lea yakin bahwa kalimat barusan bukanlah kalimat main-main semata.
__ADS_1
"Ed-" Ia menggigit kecil bibir bawahnya. Jujur, ia tidak bermaksud meragukan atau bagaimana, tadi itu ia hanya ingin membalas secepat otaknya berpikir.
"Kenapa?"
"Aku tidak bermaksud, jangan memaksakan, semuanya ada waktunya tidak perlu terburu-buru," lanjutnya dengan lirih.
Edward tersenyum kecil. "Tidak sayang, aku bahkan tidak merasa demikian. Untuk kali ini aku serius dengan kalimatku, aku pun tidak ingin membuatmu seperti ini terus terusan. Kita harus segera mempunyai status yang jelas, setelah semua tragedi yang telah terjadi aku rasa aku tidak boleh terlalu banyak menunda waktu lagi. Setidaknya kamu benar-benar mempunyai status yang jelas didalam keluargaku dan Hansel pun mempunyai hak dan tempat yang tepat didalam keluarga ku. Kamu dan Hansel adalah aset berhargaku," tutur Edward serius.
Sial! Mendengar itu saja berhasil membuatnya bungkam tidak bisa berkata-kata lagi.
"Tuhan kumohon, jangan biarkan bahagia ku hanya sementara saja," batinnya.
_____
Dukung author yaaa
SALAM^^
__ADS_1