
Malam Hari....
Lea memilih untuk menikmati angin malam yang kencang untuk saat ini, berulang kali ia mengusap lembut lengannya karena hembusan angin yang menerpa pori pori kulitnya. Tapi ia senang, ia tengah duduk di bangku depan rumahnya sembari memandangi langit dan bulan dengan bintang yang bersinar begitu indah. Senyuman tak kalah terlepas dari raut wajahnya, betapa indahnya bumi ini.
Sunyi malam terus menemani,setia dalam bingkai kehidupan menjadi saksi atas luka derita. Menyeruak seluruh isi bab cerita, hingga sang fajar datang tak mengusir kesunyian. Namun kelak kan menyerah untuk datangnya sang malam, yang terus mengetuk hati dalam kesunyian.
Penatnya hari akan segera berganti, menjadi malam dingin dan sunyi. Terus bergantian sepanjang waktu, dengan banyaknya hiasan indah membuat kita terlena pada hal yang fana. Hingga waktunya telah datang, kematian tak segan tuk memakan dan malam menjadi saksi atas sebuah penyesalan.
" Malam sunyi membawa sebuah memori yang terus menghantui setiap jengkal pikiran. Membawaku hanyut kepada masa yang jauh yang tak dapat ku raih atau ku sentuh. Ingin rasanya malam cepat berganti menjadi fajar yang menghangatkan, tidak terjebak dalam ilusi masa lalu yang sudah lama berlalu. Namun terus menempel dalam ingatanku. Kenapa kau terus menghantuiku, dengan setiap hal masa lalu ku ingin lepas dari semua ini. Dari bayangan malam yang terus mengejarku." Lirih Lea yang terus memutar mutar otaknya.
Terus melangkah herap kaki tak dapat dicegah, hidup terus berjalan dengan saling bergantian. Yang terlahir kelak kan tumbuh, yang mati tak akan kembali. Ketika waktunya tiba sang mentari akan mengalah pada malam yang gelap, hanya bulan dan bintang yang akan berkuasa. Jika waktu terus berganti kemana kelak jiwa akan menepi, apakah kelak ada kebahagiaan pada akhirnya? atau sebuah derita diatas sebuah penyesalan.
_______
Sementara disisi lain, Edward berbaring di ranjang king size nya dengan kedua tangan di bawah kepala. Menatap kosong langit langit kamar dengan sebuah ilusi kehidupan.
" Apa tanda unik dari sebuah kehidupan? siang dan malam saling mengisi untuk memberikan warna. Dan sebuah tanda kebenaran akan sebuah penciptaan yang sangat indah sempurna tanpa cacat. Tuhan masukkan siang di atas malam,dan dia gantikan siang menjadi malam, semuanya saling mengisi dan berganti untuk sebuah pesan bukan sekedar ilusi. Logika tak dapat menjawab, hati yang murni bisa melihat bahwa tak ada yang sia sia. Semua terjadi atas kehendaknya," ungkapan lirih yang terobos keluar begitu saja Edward ucapkan di malam yang sunyi itu. Hanya lampu tidur yang menerangi dan bantal bantal yang menemani di malam sunyi nan sepi itu.
Hatinya benar benar berkecamuk dalam benak, antara menyerah atau tetap melangkah. Benaknya terus tertuju pada Lea dan Hansel. Kata kata yang Lea ucapkan saat ia menyelamatkan Lea di pulau terpencil itu.
" Sekalipun kami menyelamatkan ku, aku tetap membencimu. Pria brengsek yang telah menghancurkan hidupku."
Kata kata itu terus tergiang dalam otaknya, ia tidak habis pikir ternyata begitu dalamnya kah rasa luka sakit hati yang harus Lea pendam padanya.
__ADS_1
Bahkan setelah Edward mengakui kesalahannya pun tetap saja tidak mengubah pendirian Lea yang semakin berubah padanya. Ungkapan demi ungkapan sudah Edward layangkan, tapi mengapa takkunjung ada ruang tuh menerobos luka itu? Edward terdiam merenungi segalanya.
" Haus,,," Edward merasakan haus di tenggorokan, ia melirik teko di meja tapi sudah kosong. Dengan malas ia pun beranjak turun ke bawah.
______
Di tempat lain, yaitu di apartement Elena, ia meringkuk malas di ranjangnya. Pikirannya terbuai pada kejadian tadi siang, ya benar saja, Eder dan Gino bahkan sampai berkrlah.
Flashback off...
" Cih!!" Eder berdecih penuh kekesalan.
" Mengapa? apa ada yang salah Eder?" Gino berucap sembari menatap Elena dengan aneh, hal itu membuat Elena menjadi kurang nyaman.
" Hentikan tatapan mu itu!" Tegas Eder, ia tidak suka akan tatapan yang Gino berikan pada Elena.
" Kau mengenal Elena karena pernah bertemu denganku membawa Elena sewaktu di kampus. Dan bukan berarti itu patokan buatmu mencari alasan," tutur Eder mengepal tangan penuh amarah.
" He,,,, tapi bagaimana jika aku terlanjur jatuh hati padanya?" ucap Gino terang terangan.
Elena mengerjak kaget, ia tidak menyangka pertemuan sekali saja ternyata mampu menumbuhkan akar cinta.
Ya, dulu sewaktu Eder dan Edward kuliah, Elena dengan manjanya minta ikut. Berulang kali ia terus merengek sampai akhirnya mereka mengiyakan, dan ternyata ia malah bertemu dengan Gino seorang musuh di kampusnya. Disitulah awal pertemuan antara Elena dan Gino.
__ADS_1
Dan sekarang Gino tanpa rasa malunya mengungkapkan isi hatinya begitu saja.
" Diam!!" Bentak Eder, Elena menggeleng kepala. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
" Mengapa ha? aku menunggu jawaban dari Elena," Gino mencoba menyentuh tangan Elena namun dengan kasar Elena menepis dan beranjak berdiri.
" Kurang ajar!" Eder hendak melayangkan tinjuan di wajah Gino, namun dengan sigap Elena menggeleng sehingga Eder mengurungkan niatnya.
Sedikit ada kebahagiaan yang Elena rasakan saat Eder mencoba untuk menjauh Gino dari dirinya.
" Awas jika kau berani memperlihatkan wajahmu lagi!" Ucap Eder menekankan kata katanya.
Dengan penuh amarah, ia menarik tangan Elena berjalan meninggalkan Gino.
" Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki Elena, Eder!" Gumam Gino dengan licik.
Flashback on...
Dengan guling gulingan Elena senyum senyum sendiri mengingat bagaimana Eder menggenggam tangannya, walaupun Eder marah tetapi cengkeraman lembut yang ia berikan pada Elena.
' Aaaa,,, Kak Eder begitu keren tadi siang!' Batin Elena meronta ronta bahagia.
_________
__ADS_1
like komen dan vote
SALAM^^