
... "Aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu, sebab telah sejauh ini aku berjuang untuk semuanya, namun apakah semudah ini caramu memintaku untuk pergi dari sisimu?"...
HAPY READINGG🤍
***
Sebuah mobil sport bermerek berwarna hitam mengkilap, kini telah terparkir dipinggir jalan tepat disamping sebuah taman yang tampak asri dan indah dipandang mata.
Seorang gadis masih terdiam didalam mobil tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, pasalnya dirinya dibawa ke tempat ini tanpa sepengetahuannya. Ya, sebab dirinya hanya menyerahkan tujuan pada seorang Pria yang sekarang telah turun dari mobil dan kini membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan nona." Suara itu. Ya, itu adalah suara yang selalu berhasil menghangatkan hatinya dan memberikan desiran lembut dalam hatinya. Eder. Ya, itulah dia, pria itu yang saat ini berdiri disamping pintu mobil, menanti wanita cantik itu segera turun.
Elena lantas segera turun sambil tersenyum kikuk. Demi apapun, dirinya sangatlah gugup sekali sekarang ini. Pasalnya ini termasuk pertemuan antar mereka berdua setelah kejadian mengenaskan waktu itu.
"Terimakasih kak Ed," balas Elena dengan kepala yang ditundukkan olehnya.
Eder mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Tepat ketika dia tersenyum, manik mata gadis itu tak dengan menangkap senyuman manis itu. Ah, katakan saja ia hampir saja mabuk ketika melihat senyuman indah itu.
"Arghh! Siapapun tolong tahan aku agar tidak terbang saat ini juga," batinnya.
"Ki-kita kenapa kesini kak Ed?" tanyanya. Ia sedang mencoba untuk menetralkan kembali dirinya seperti semula agar tidak kelihatan gugup.
Eder hanya menatap manik mata gadis cantik itu dan kemudian menariknya dengan lembut, kemudian membawanya masuk kedalam taman.
Elena sontak dibuat kaget dengan perlakuan Eder yang demikian. Ia kembali meraung keras dalam benaknya, sejujurnya ia sudah tidak ada bisa lagi mengendalikan dirinya. Namun sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Shitt! Apa-apaan ini? Kenapa dia mendadak bersikap seperti ini?!" batinnya lagi.
"Silahkan duduk nona," ucap Eder sembari mempersilakan dirinya untuk duduk di bangku panjang dalam taman.
"Ckk! Tolong jangan panggil aku NONA lagi Kak Ed! Sudah berapa kali ku katakan?!" Lontar Elena dengan kalimat NONA yang ditekankannya.
Eder tersenyum kecil dan kemudian ikut duduk disampingnya.
Menyaksikan aksi yang Eder lakukan, tentu membuat Elena terkesiap seketika. Dia terdiam sambil tersenyum kikuk, rasanya jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga.
"Tolong! Apa maksudnya ini? Aku benar-benar gugup sekali ya Tuhan."
Cukup lama mereka berdua sama-sama terdiam dalam benak masing-masing. Dalam pikiran masing-masing yang perlahan membuat mereka berdua saling tatap yang mempertemukan tatapan mereka berdua.
Elena pun lantas mengalihkan tatapannya dengan wajahnya yang sudah pasti memerah bagai kepiting rebus saat ini. Jujur, ia sangat malu sekali, ia semakin gugup bukan main.
" Rasanya ingin menghilang saja saat ini juga di tempat ini," batinnya.
Ah, bukan menghilang. Katakan saja ia hanya ingin terbang karena tidak bisa lgi bertahan dengan senyum dan tatapan yang diberikan oleh Pria disampingnya ini.
__ADS_1
"Ele."
DEG!
Demi apapun, panggilan itu berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik.
"I-iya kak Ed? Ada apa?" balasnya. Ya, tanpa menoleh lagi kepada Pria tersebut.
Eder yang merasakan perubahan aneh pada Elena tentu membuatnya jadi lucu dan malah sedikit terkikik dalam benaknya. Namun sebisa mungkin dia tetap terlihat cool dan dingin seperti biasanya.
"Mengapa kamu terlihat kaku sekali? Apakah tubuhmu masih terasa sakit setelah kejadian waktu itu?" tanya Eder seolah terlihat khawatir. Walau sebenarnya ia hanya mencoba untuk menggoda Elena.
Elena terdiam sambil menggeleng cepat.
"Tidak. Ele sudah merasa lebih baikan dari sebelumnya kak."
"Oh, benarkah demikian?"
"Hu um." Elena mengangguk membenarkan.
"Jika itu benar, mengapa kamu terlihat seperti tidak nyaman? Atau kamu tidak suka tempat ini Ele?" tanya Eder lagi, untuk sekedar basa-basi. Dia sendiripun tidak tahu akan kemana lagi membawa wanita cantik ini.
"Bukan." Elena menggeleng. "Ele nyaman kok disini kak, udaranya sejuk dan pemandangannya terlihat indah juga," lanjutnya lagi. "Apalagi berada didekat kamu, aku merasa lebih nyaman," sambungnya dalam hati.
"Ya."
"Syukurlah. Maaf kalau tidak sesuai dengan yang kamu harapkan. Sejujurnya aku bukan Pria yang tahu kemana tempat untuk membawa wanita pergi. Dan jujur, ini adalah pertama kalinya aku membawa seorang wanita berdua denganku dan orang itu adalah dirimu Ele," ungkap Eder jujur. Demi apapun, dia sudah tidak kaku lagi untuk melontarkan kalimat tersebut. Pandangan tampak lurus kedepan dengan mimik wajahnya yang terlihat datar nan dingin.
Elena kembali terkesiap dibuat oleh Pria itu dengan kalimat tersebut. Dia benar-benar bungkam. Sekalipun ia sudah tahu akan hal itu, namun entah mengapa ia tetap merasa ada hal aneh yang membuatnya sampai seperti saat ini.
"Terimakasih."
Hanya kalimat itu yang dapat ia lontarkan setelah apa yang Eder ucapkan tadi.
"Elena," panggil Eder lagi.
"I-iya kak?" Elena menoleh sekilas pada Eder sambil tersenyum kecil.
"Boleh saya bertanya?"
"Bo-boleh, silahkan kak," sahutnya.
Eder tampak menarik nafasnya cukup dalam, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Elena. "Saya ingin mengatakan sesuatu hal padamu Ele."
Deg!
__ADS_1
Apa itu? Itulah sekiranya pertanyaan yang saat ini menyelimuti hatinya.
"Katakan saja kak."
Eder kembali menarik nafasnya amat dalam. Untuk beberapa detik kembali sunyi diantara mereka.
"Saya tahu tentangmu dan semua tentangmu. Ah, katakan saja saya memang sudah mengenalmu sangat lama, mulai dari dirimu lahir, saya sudah ada disisimu dan melihatmu menangis ketika masih bayi. Bisa dibayangkan, mengapa sampai saat ini saya juga masih ada disini? Ditempat ini? Dan terlebih-lebih itu bersama denganmu," Eder tampak menjeda kalimatnya. Sementara Elena mulai merasa ada yang sedikit aneh dan semakin sulit untuk mengembalikan detak jantungnya seperti semula lagi.
"Namun, itu semua tidak lebih karena aku memang sangat menyayangimu, menganggap mu sebagai adikku. Ya, adikku!" lanjutnya lagi.
DEG!
Adik? Sebatas itukah Eder menganggapnya? Sakit. Ya, itulah yang saat ini Elena rasakan, dadanya mendadak tercekat saat itu juga. Ia sampai tidak sanggup lagi untuk sekedar bernafas pun terasa begitu sulit. Namun dia masih tetap diam tanpa melontarkan atau mengucapkan kata untuk memberikan respon atas kalimat Eder barusan.
"Tapii," Eder kembali menjeda kalimatnya lagi.
"Aku tidak tahu semakin kesini rasanya semakin beda. Aku tahu, aku memang sangat menyayangimu sebagai adik, ya adik. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku menyadari bahwasanya aku juga telah menaruh rasa padamu Ele," sambungnya dengan lirih, tetapi dapat didengar oleh Elena.
DEG!
Dan demi apapun, Elena tidak tahu situasi macam apa ini. Dia bahkan enggan untuk berbicara atau sekedar menoleh kepada sosok Pria yang telah berhasil mencuri hatinya sejak dulu sampai sekarang. Bahkan ia sendiripun tidak tahu, apakah ia harus senang, bahagia, atau malah sebaliknya.
Eder kembali menarik nafasnya dengan sangat dalam dan kemudian sedikit tegap dalam posisi duduknya. Kemudian menyentuh bahu wanita itu dengan lembut, seolah memberi isyarat supaya Elena melihatnya. Dan ya, seperti itulah sekarang posisi mereka. Dengan tatapan yang menyatu dan jantung yang berdegup kencang.
Sial! Elena malah ingin menangis saat ini juga. Entahlah, ia merasa bahwa ini bukan awal yang baik, ia malah merasa ini akan menjadi lebih menyakitkan.
"Ele." Eder mencakup dagu Elena dengan sangat lembut, dengan wajah yang sangat dekat, hanya berjarak satu jengkal saja, sehingga keduanya dapat merasakan desiran lembut nafas diantara keduanya.
"Maafkan aku," lontar Eder.
Maaf?
Sial! Elena kembali dibuat hanyut dalam hal yang membuatnya sulit untuk bergerak dan bernafas. Dia hanya memberikan respon melalui minim wajahnya, seolah bertanya 'apa maksudnya itu?'
"Maaf karena telah lancang menaruh rasa padamu," lanjut Eder lagi.
Deg!
*****
Hayo, penasaran ga ni bagaimana kelanjutannya? yuk dikepoin terus yaaa. tolong kasih komen mo lanjut apa enggak ni gayys?😍
Yang setuju Eder dan Elena bersatu beri komentar EDER WITH ELENA
Yang tidak setuju, boleh beru Komentar TIDAK COCOK!
__ADS_1