
" Hoam,,,," Lea baru saja terbangun dari tidur nya. Melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 04.52.
" Pagi begitu cepat menyapa, mentari begitu cepat kembali,bumi begitu cepat berputar, tapi hatiku masih begitu sulit untuk tertata rapi kembali." Suar nya dengan lirih.
" Huf,,, Lea!! nanti saja itu pikirkan, kamu harus segera melakukan aktivitas mu," gumam nya lalu beranjak dari kasur.
Selang beberapa menit kemudian Lea keluar dari kamar dengan tujuan akan segera memasak seperti rutinitas biasanya. Hansel mungkin belum bangun, sehingga ia bisa leluasa melakukan aktivitasnya.
Di tengah rutinitas nya, suara ketukan pintu dari luar menyambar separuh waktunya. Ia segera beranjak kemudian membukakan pintu, ternyata yang datang adalah Edward.
" Kamu,,,," tanpa menunggu ucapan dari Edward, Lea hendak kembali mengunci pintu. Namun Edward segera menyekal niat Lea dengan melangkah masuk ke dalam.
Belum sempat Lea mengucapkan sepatah kata, tiba tiba di sela oleh Edward. " Aku ingin bertemu dengan Putraku," suara dinginnya membuat bulu kuduk Lea berinding tak karuan.
Tanpa menunggu balasan dari Lea, Edward hendak melangkah menuju kamar Hansel, namun ia urungkan niatnya ketika melihat sosok sang Putra yang tengah berlari ke arahnya.
" Daddy,,,," mata berbinar panggilan bahagia langsung memeluk Edward yang tengah berjongkok.
" Hans,,," ucap Edward seraya melepas pelukannya.
" Hans rindu Daddy, semalam kenapa Daddy langsung pergi gitu aja? Hans pikir Daddy akan pergi lagi tinggalin Hans dan Mommy," kata Hansel dengan sendu.
Pergi? ya mungkin saja itu benar, namun ia tidaklah sebodoh itu meninggalkan Putranya hanya karena perdebatan. " Tidak! mana mungkin Daddy tinggalin Hans lagi, Daddy kan sudah janji pada Hansel," imbuhnya sedikit lirih.
" Trus kenapa Daddy pergi begitu saja semalam?" Tanya Hansel kembali.
Edward menengadah menatap kepada Hansel, tidak mungkin ia mengatakan hanya karena berdebat dengan Lea. Haruskah ia kembali berbohong?
__ADS_1
" Em,,Daddy,, Daddy ada urusan kantor saat itu makanya Daddy langsung pergi saja. Sudah ya, sekarang kan Daddy sudah datang ketemu dengan Hansel, jadi jangan ragu lagi ya sama Daddy," ungkap Edward meyakinkan Hansel. Ia tidak ingin semuanya itu tambah runyam hanya karena antar tanya dan jawab.
Lea yang sedari tadi berdiam diri, bengong tak bergeming di belakang Edward mendadak jadi aneh. Tidak tahu mengapa intinya seakan ada perasaan bersalah padanya, seolah olah ia yang menjadi jahat karena seakan memisahkan anak dengan Ayah sendiri.
" Sesuai permintaan mu Dad," Hansel menghormat layak nya di sekolah yang membuat Edward jadi terkikik lucu. Demi apapun untuk pertama kalinya seorang Edward bisa terkikik geli menyaksikan seorang anak kecil dan orang pertama itu adalah Putranya sendiri. Mungkin Hansel memang alat Tuhan untuk memberi suatu jalan baru bagi Edward.
" Sudah tampan saja ya ternyata, pasti mau ke sekolah kan?" puji Edward dengan tulus.
" Daddy benar, Hans memang akan kesekolah tapi setelah selesai makan," balas Hansel sambil menyentuh perutnya yang sudah bersuara.
Mendengar kata makan, Lea baru tersadar bahwa ia belum ada memasak karena bengong sendirian menyaksikan Putranya dengan Edward.
" Astaga!" Lea menepuk jidatnya hendak melangkah menuju dapur, namun segera beranjak dan menyekal tangan Lea.
" Lepaskan," bentak Lea dengan mengibaskan tangan Edward.
Edward mengangkat bahu seraya melirik kearah kiri, Lea menautkan kedua alisnya tampak keheranan. Mengikuti ujung mata Edwars melirik, ternyata yang dia maksud adalah Eder.
" Sudah selesai Tuan," ucap Eder yang tidak masuk akal bagi Lea.
" Apanya yang selesai?" pertanyaan tersirat dari Lea.
Eder tidak menjawab selain melangkah menuju dapur, Lea sungguh keheranan sekali. Ia mengikuti juga dari belakang, alhasil ternyata sudah terhidang macam makanan mewah di atas meja makan.
Lea melongo keheranan, bola matanya membulat dengan sempurna penuh tanda tanya di raut wajah nya.
" Silahkan dinikmati Tuan, Nona,," kata Eder mempersilahkan dengan sopan.
__ADS_1
" Apa maksud dari semua ini?" Tanya Lea masih kebingungan.
" Nona,, sedari tadi anda sibuk menyaksikan Tuan Edward dengan Tuan kecil, makanya anda tidak sadar lagi bahwa saya sudah masuk ke dalam dapur dan menghidangkan semua makanan. Dan saya lihat ternyata pekerjaan anda menggantung di dapur, untunglah saya langsung siaga." Jelas Eder.
Sungguh semuanya diluar naluri nya Lea, masih tak percaya akan semuanya. Ternyata sebegitu focus nya dia dalam diam menyaksikan Edward dan Hansel, untung bukan pencuri yang masuk.
" Berhenti bengong begitu, ayo makan," ucapan Edward membuyarkan lamunan Lea.
" Mommy, ayo makan," ajak Hansel sambil tersenyum manis.
" I,,, iya, iya," Lea jadi gelagapan dan ikut duduk bersama.
' Semua makanan ini adalah makanan yang mahal mahal dan pasti begitu enak. Hanya orang kalangan atas saja yang mampu membeli ini, sebenarnya dia orang yang sederhana atau bagaimana? aku jadi penasaran sekali. Dan setiap kali datang kemari pasti mengenakan stelan jas yang bermerek dan juga Eder, sebenarnya siapa mereka? Dan setiap kemari pasti memakai mobil mewah itu, apakah dia orang biasa saja atau bagaimana?dari cara jalannya dan sikapnya terlebih dari penampilannya terlihat begitu baik dan seperti orang terhormat. Ckk, sudahlah Lea, jangan pikirkan dia! lagi mana mungkin Pria brengsek sepertinya punya kekuasaan, paling hanya sok terlihat keren saja biar di kagumi, cih!' Batin Lea.
Edward memperhatikan Lea sedari tadi, sepertinya ia bisa membaca apa yang tengah Lea pikirkan.
' Terlihat jelas bahwa kamu masih belum tahu siapa aku sebenarnya, akan ada waktunya Lea.' Batin Edward.
" Hmm,," deheman Edward sontak membuat Lea terkaget.
" Makanya jangan banyak melamun, ayo makan," sindir Edward sambil menikmati makanan nya.
Lea berdecih kesal lalu mencoba melahap makanan itu.
' Semalam aku tidak mempedulikannya tetapi mengapa sekarang dia malah jadi bersikap aneh seperti ini? sungguh Pria yang mempunyai dua kepribadian. Bdw makanan ini nikmat sekali sekali.' Batin Lea.
______
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM^^