
Di tempat lain, dimana di kampus terkenal kota New York, Elena baru saja menyelesaikan jam kuliah hari ini. Jam kuliah nya hari ini memang selesai sampai siang tepat pukul 01.00, Elena tersenyum girang dan bahagia hendak pergi ke mall untuk melampiaskan rasa bosan nya.
"Aku bebas juga dari penjara pelajaran hehhe," gumam Elena yang melangkah hendak menuju parkiran.
"Heyy primadona kampus," tiga orang cowok yang sok cool datang mendekat pada Elena. Mereka bertiga ikut berjalan di sisi kiri dan kanan Elena.
Elena tetap diam tidak menyahut karena ia tahu ketiga cowok itu adalah cowok playboy yang suka mainin hati cewek. Sehingga Elena terus menjauhkan diri dari banyaknya cowok di kampus yang terus mendekati dirinya.
" Hay manis, mengapa diam saja?" ucap seorang dengan nada menggoda. Ia hendak menyentuh dagu Elena, namun dengan sigap Elena menjauhkan wajahnya.
" Kalian menjauh atau tidak ha? apa kalian tidak tahu aku siapa?" ucap Elena tampak murka.
" Kami tahu, kamu adalah wanita yang menjadi primadona kampus disini kan?" balas mereka dengan santai.
Elena baru teringat bahwa ia memang tidak membuka identitas nya bahwa putri dari seorang konglomerat dan adik dari seorang pengusaha terbesar di New York.
' Bagaimana ini? bukankah aku harus bisa mandiri tanpa mengandalkan kekuasaan? tapi mengapa aku jadi mengerti bagaimana caranya melawan mereka?' batin Elena.
" Aku antar pulang aja bagaimana?" tawar yang lain dengan merayu Elena.
Elena semakin risih sekali dimana mereka bertiga semakin mendekat pada Elena dan terus merayu dirinya.
" Menjauh!!!!" jeritan Elena sontak membuat ketiga cowok tersebut jadi jengkel.
" Berani bersuara keras keras?!!!" mereka tampak murka hendak melakukan sesuatu pada Elena, namun itu tidak terjadi saat suara seseorang mendekati mereka.
" MENJAUH!!!"
Elena menengadah menatap heran, ternyata suara itu berasal dari Gino.
" Ginoo,,," Elena terkejut bukan main, ketiga pria tadi langsung berlari meninggalkan Elena dan Gino yang saling pandang.
" Hay Ele,,," ucap Gino dengan melangkah mendekat pada Elena.
" Emmm,,, yaa,,," Elena tampak gugup dan juga jadi sedikit aneh.
__ADS_1
" Tidak perlu gugup, aku tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin berteman saja dengan mu," tutur Gino tanpa rasa enggan sedikit pun.
' Kemarin dia memang brutal mengajakku ikut dengan nya. Tetapi sekarang lain ceritanya, ia jadi terlihat baik seperti ini dan dia juga yang membantuku sehingga bisa lepas dari cowok cowok brengsek tadi. Tapi waktu itu saat ketemu di Resto, Kak Eder tampak tidak senang melihat Gino seperti asa sorotan lain. Aku jadi sedikit janggal akan semua ini, mengapa Kak Eder terlihat begitu tidak suka dengan Gino? buktinya ia saja membantuku.Dan sekarang malah minta berteman dengan ku, apa aku iyakan saja atau bagaimana ya?' batin Elena.
" Heyyy,,, mengapa diam saja?" sikap Gino memang sangat berubah di hari hari sebelumnya bahkan sekarang bersikap begitu manis sekali pada Elena.
" Emm,, makasih buat yang tadi," seru Elena sambil tersenyum kecil.
" Ayolah, itu tidak seberapa. Aku hanya ingin menebus kesalahan ku karena di lain hari aku yang bersikap tidak sopan padamu dan terus memaksamu untuk ikut dengan ku. Apakah kamu ingin memaafkan ku Ele?" suar Gino yang seolah olah tidak ada memperlihatkan bibit sesuatu yang jahat.
Elena yang begitu baik hati, merasa tidak tegaan dan berpikir apa salahnya jika hanya berteman, toh Gino juga sudah membantunya. " Baiklah, aku sudah maafkan kamu. Dan aku bersedia menjadi teman mu," imbuhnya tanpa rasa curiga.
Gino menyunggingkan senyuman miring dimana sesuatu dalam benaknya telah berhasil sedikit.
" Makasih, berarti mulai sekarang kita teman bukan?" seru Gino tampak tulus.
" Friend," balas Elena.
" Kalau begitu apa kamu mau ikut makan siang bersamaku Ele? emm itung itung merayakan pertemanan kita. Bagaimana?apa kamu setuju?"
" Baiklah, aku setuju!" ucap Elena mengiyakan.
" Ayo,,," mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran.
' Edward,,,Eder,,, aku sudah punya senjata ampuh untuk melawan kalian nantinya. Perlahan tapi pasti, buktinya sekarang Elena adik yang begitu kamu cintai telah masuk dalam perangkapku.' Batin Gino.
Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada beberapa orang yang telah mengawasi gerak gerik mereka. Mereka adalah orang orang yang Eder perintahkan.
' Tuan, Nona Elena pergi bersama Pria itu sepertinya akan pergi makan siang. Tetapi dia tidak ada bersikap yang aneh aneh pada Nona Elena, Nona Elena juga sepertinya setuju.' Seorang dari mereka mengirimkan pesan pada Eder.
" Ting,,," di tempat lain, Eder yang baru saja menerima notif pesan tersebut semakin marah sekali.
" Ada apa Eder?" tanya Edward yang tengah bermainan jinak dengan harimau peliharaan nya. Mereka masih berada di tempat tadi.
Eder tidak berucap selain memberikan ponsel nya pada Edward.
__ADS_1
" Kurang ajar!!!!" Edward memang murka, namun ia terlihat santai sehingga Eder jadi keheranan.
" Apa perlu saya kesana Tuan?" seru Eder karena tidak ada tindakan dari Edward.
" Tidak perlu," balas Edward masih tetap bermain dengan harimau.
Eder keheranan merasa tidak sejalan dengan pikiran Edward.
" Mengapa Tuan?" imbuhnya.
" Gino tidak ada melakukan hal yang nekad bukan? dan jika kamu pergi kesana menyusul mereka maka pasti dia curiga, secara Elena tidak ada memberitahumu ataupun saya. Kita lakukan dengan pelan pelan, Gino juga pasti tidak akan berani melukai Elena karena saya lihat dari titik pandangannya pada Elena bahwa ia jatuh hati pada adikku. Sejujurnya saya juga ingin mencabik cabik Gino sekarang juga, namun hari itu belum tiba. Saya juga sangat tidak seorang Pria lain yang tidak saya setujui menaruh hati pada adikku seorang. Tetapi, jikalau setitik luka saja terjadi pada Elena, maka bersiaplah menanggung akibatnya. Adikku tercantik itu memang begitu baik hati, dia tertipu oleh cara muslihat Gino yang bersikap seolah olah tampak tulus. Elena juga tidak tahu apa apa, maka untuk sekarang biarkan saja semuanya berjalan seperti air mengalir. Tujuan kita hari ini adalah Perusahaan LU, para binatang bodoh yang bisa kelabui oleh Keluarga Gao." Tutur Edward.
Eder mencerna semua perkataan Edward yang memang sangat benar dan mungkin memang harus ia tahan amarah nya.
" Setelah Perusahaan LU bangkrut, pasti Keluarga Gao akan curiga. Lalu bagaimana langkah selanjutnya, Tuan? kita tahu sendiri bahwa Keluarga Gao adalah Keluarga yang miris dan licik. Pastinya mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan," Ungkap Eder.
" Itu tidak lah berpengaruh, setelah Perusahaan LU bangkrut memang akan terkabar ke Keluarga Gao. Tetapi mereka tidak akan mengetahui dasar apa yang membuat Perusahaan LU bangkrut selama kita tidak ada jejak sedikit pun. Dan satu lagi, saya sangat tahu otak licik Gino dia pasti bertanya tanya banyak hal pada Elena tentang kita. Ingat, jika Elena bertanya kita di Perusahaan atau tidak? jawab saja kita selalu di Kantor supaya Gino berpikir bahwa kita tidak ada bertindak namun semuanya telah di susun dalam suatu strategi." Tutur Edward dengan tegas.
"Baiklah Tuan," Eder mengangguk.
" Saya ingin kita kembali ke rumah," ucap Edward mengingat Lea dan Hansel.
" Dan saya akan kembali lagi ke apartement, mengenai gajinya seperti yang saya janjikan pada Lea, mungkin akan saya transfer padanya tiap bulannya." Seru Edward dengan sendu.
Ia memang akan kembali ke apartement karena untuk saat ini mengenai Lea dan Hansel belum ada yang tahu terlebih Elena. Edward akan menyiapkan kata katanya untuk berbicara pada Lea nantinya.
Eder mengerti itu, dan ia juga sudah tahu apa tujuan Edward melakukan hal tersebut karena tidak ingin Lea dan Hansel menjadi sasaran selanjutnya.
____
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM^^
_____
__ADS_1