
Indah nya dunia kembali hadir di nyaman, dan hangat nya sang surya mentari menyinari bumi. Sejuknya angin menghadirkan udara segar menenangkan jiwa setiap insan yang merasakan nya. Hadirnya hari baru adalah penantian setiap penduduk bumi.
" Makan yuk," Lea yang baru saja selesai memasak, mengajak Hansel untuk sarapan pagi lantaran sekarang sudah jam 06.15.
Dengan senang hati Hansel mengangguk lalu ikut sarapan berdua dengan Lea.
" Mommy memang ahli nya memasak," puji Hansel di tengah aksi makannya.
"Pasti donk, Mommy gitu loh,,," sahut Lea belagak bangga.
" Mom,,"
" Yes boy,"
"Seandainya Hans sudah dewasa, apa Hans bisa wujudin cita cita Hans sendiri?" ucap Hansel tiba tiba.
" Mengapa bertanya ke Mommy? jelas,,, jika Hans memang punya cita cita, ya kejar saja cita cita kamu sampai dapat." Tutur Lea sedikit lucu akan perkataan Putranya.
" Benarkah Mom?" mata Hansel langsung berbinar bahagia. Pikirannya terbuai kepada bayangan Jelyta. Perkataannya semalam pada Jelyta memang terlihat hanya suatu lelucon saja, namun ia sudah membuat tekad akan memenuhi perkataannya itu.
" Memangnya apa cita cita anak Mommy ini?" tanya Lea jadi penasaran.
" Nikah!" jawab Hansel dengan enteng.
Seketika gelak tawa Lea pecah tanpa ampun, ia berpikir bahwa Hansel hanya bercanda saja. Bahkan usia masih bocah sudah memikirkan nikah, pikirnya.
" Berhenti bercanda Hans," ucap Lea di sela tawanya yang hampir habis.
Hansel berdecak kesal pasalnya ia malah dianggap bercanda padahal yang ia ucapkan adalah kebenarannya. " Hans gak bercanda Mom!" cletuknya penuh rasa kesal.
" Sudahlah, kamu mungkin salah alur bicara karena sedang makan. Lebih baik kamu lanjut saja makannya ya," tutur Lea dengan mencoba untuk menyegarkan kembali suasana. Baginya perkataan Hansel tadi cukup memberi suatu hiburan di pagi hari.
' Mengataiku bercanda?Mommy sendiri yang tidak percaya padaku. Aku memang masih bocah tapi aku tidak akan main main dengan ucapan ku. JELYTA! aku menantikan kita dewasa,' di dalam hati Hansel seakan terbang di angkasa karena bahagia.
Seusainya mereka makan, Lea segera membereskan kembali meja makan bekas makan mereka. Hansel yang begitu bijak juga ikut membantu sang Mommy tanpa berat hati.
Namun yang tiada mereka duga malah terlihat yaitu dimana kini seorang Pria bertubuh kekar dengan sejuta pesona dan sikap arogannya melangkah mendekat kepada Lea dan Hansel. Seulas senyuman kecil terbit di wajah cantik Lea dengan jantung yang seperti maraton saja. Sedangkan Hansel, dengan rasa bahagia berlari masuk ke dalam dekapan Edward.
" Daddy!" ucapnya penuh kebahagiaan.
__ADS_1
" Hans,,,"
" Daddy datang juga ternyata," kata Hansel dengan melepas diri dari dalam dekapan Edward.
" Wau,,, pasti donk! Daddy pasti datang kemari temui Putra Daddy yang sangat tampan ini," balas Edward dengan ujung matanya melirik Lea yang jadi salah tingkah sendiri berdiri di belakang Hansel.
" Cuma ingin temui Hans saja? tidak kah Daddy ingin bertemu juga dengan Mommy?" lirih Hansel yang berpikir bahwa Edward dan Lea masih berjarak.
Senyuman licik tergambar jelas di wajah Edward. " Tentu saja! Daddy kemari juga karena ingin bertemu dengan Mommy," perkataan Edward seakan mencekik Lea saja saat itu juga.
Jantungnya kembali berdetak tak karuan ketika Edward melangkah lebih dekat lagi kepadanya.
" Cup,,," kecupan lembut melayang untuk pertama kalinya di kening Lea. Sungguh memberi suatu hal lain yang tak dapat Lea gambarkan dengan jelas, disatu sisi ada perasaan bahagia namun disisi lain tubuhnya kembali gemetaran seperti biasa. Edward yang sudah mengerti itu segera menggenggam jemari tangan Lea dengan berbisik sesuatu. "Tenanglah, aku akan terus seperti ini sampai pada akhirnya rasa trauma mu akan segera lenyap," bisik Edward untuk meyakinkan Lea.
Lea hanya dapat mengangguk mengerti berusaha kuat dengan bersikap manis.
" Cieee,,, cuma Mommy saja kah di cium?" perkataan Hansel memberi rona malu kepada Lea.
" Apa Hans ingin Daddy cium juga?" balas Edward tidak kalah santainya.
" No!" tolak Hansel dengan cepat.
" Mengapa begitu?" pertanyaan bersamaan dari Edward dan Lea yang membuat Hansel semakin cepat menggeleng kepala.
" Hans udah gedek, bukan hanya Daddy saja yang bisa pamer kemesraan di depan Hansel. Hansel juga bisa," Hansel berkata dengan bangganya. Seolah olah ia bemar benar sudah dewasa sekali.
" Hey boy, sejak kapan anak kecil lima tahun bisa bisa pamer kemesraan? heheh,,," sindir Edward yang membuat Hansel semakin manyun.
" Untuk sekarang memang belum bisa Dad, tunggu setelah Hans dewasa." Tutur kata Hansel begitu dewasa sekali sungguh memberi dampat keheranan pada Edward dan Lea. Tapi lebih tepatnya pada Lea, karena Edward ia sudah meyakinkan satu hal.
"Benih Scirth yang satu ini sangat unggul! masih lima tahun saja Putraku sudah begitu dewasa sekali dan malah berucap seolah olah memang sudah dewasa. Siapa yang bisa meragukan keunggulan benih keluarga Scrith? eleh,,," bisik hati Edward penuh kebanggaan.
" Baiklah, karena Daddy tahu Hans memang masih kecil jadi bagaimana jika kita pergi jalan?" ucap Edward tiba tiba yang sontak mengagetkan Hansel dengan mata yang membulat.
"Jalan? kita akan pergi ke suatu tempat begitu Dad?" tanya Hansel memastikan.
" Hu um," Edward mengangguk.
" MAUUU!!!" teriak Hansel karena inilah yang ia nanti nanti kan sedari tadi.
__ADS_1
" Bagaimana sayang?" Edward berahli bertanya pada Lea.
" Apa kamu yakin?" tanya Lea. Ia masih ragu karena berpikir apa Edward memiliki duit untuk membawa mereka ke suatu tempat.
" Kamu meragukanku?"
" Bukan begitu, tapi,,, tapi,,," belum sempat Lea mengucapkan kalimatnya Hansel langsung merengek memaksa Lea sehingga tidak ada pilihan lain selain ikut saja.
" Baiklah, aku ikut." Seru Lea dengan sangat terpaksa. Sejujurnya ia masih sangat meragukan Edward, bukannya ia matre ingin lelaki yang punya banyak duit, hanya saja untuk apa pergi jalan entah kemana sementara apapun tidak ada dimiliki.
Edward seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Lea, dan mungkin hari ini juga ia memang akan mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya. Karena tidak ada juga artinya bersembunyi dalam identitas, toh pada akhirnya Lea dan Hansel akan tahu juga. Namun tidak untuk indentitas satunya lagi, yaitu MR. MAFIA. Mungkin akan butuh waktu yang begitu tepat untuk memberitahu akan hal itu pada Lea dan Hansel. Tetapi itu semua masih memiliki perjalanan waktu yang panjang, intinya ia memang harus memikirkan segalanya dengan matang lebih dulu.
" Ayo Dad, Mom, kita terjun!!!!" ucap Hansel yang sudah tak sabaran lagi kemana mereka akan pergi.
" Tenanglah Hans! ayo,," ucap Edward. Namun Lea memberhentikan langkahnya sehingga Edward dan Hansel jadi keheranan.
" Mengapa?" tanya Edward.
" Aku merasa tidak pantas, lihatlah pakaianku," tutur Lea dengan lirih sembari menatap penampilan nya sendiri dari atas sampai bawah.
Edward menyunggingkan senyum miring dan baru teringat dengan apa ia bawa.
" Ini, pakai lah!" Edward menyerahkan bungkusan kepada Lea.
" Apa ini?"
" Buka, lalu pakai! kami menunggumu di dalam mobil," ucap Edward lalu membawa Hansel keluar untuk masuk ke dalam mobil.
Lea yang sangat tidak mengerti dan kebingungan hanya menurut lalu masuk kedalam kamarnya.
Sementara Hansel, ia juga diberikan oleh Edward pakaian terkeren dengan senang hati ia langsung mengganti pakaiannya di dalam mobil. Sungguh kini keduanya terlihat tiada lagi bedanya. Tinggal menunggu kedatangan Lea saja untuk melengkapi mereka.
____
Jadi makin cinta deh sama Edward😍😄
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^
__ADS_1