
Matahari kembali datang, menyapa bumi dengan indahnya dunia. Burung-burung yang berkicau diatas pohon dengan merdunya menambah suasana indah kala pagi ini. Ditambah lagi dengan indahnya bunga-bunga yang bermekaran seolah menampilkan senyum akan gambaran bagaimana perasaan masing-masing. Ya, demikianlah.
Di pagi yang cerah ini, seorang wanita tengah duduk bersantai ditengah-tengah sebuah taman yang indah. Lea. Ya, dia, wanita cantik itu. Senyumnya mengembang dengan sempurna, menatap keindahan alam ciptaan Tuhan yang saat ini berada di depan mata. Tiada habisnya ia memanjatkan rasa syukur dan doa pada Tuhan, sebab ia masih bisa merasakan kenikmatan dan menyaksikan indahnya ciptaan yang maha Kuasa.
"Humm, sungguh indah ciptaan mu Tuhan," gumamnya sambil tersenyum. Memejamkan matanya untuk merasakannya angin yang berhembus pelan menyentuh lembut kulitnya.
"Hei!"
Panggilan itu lantas sedikit mengejutkannya, sehingga membuatnya tersentak dan menoleh ke asal suara. "Ed?" Mengembalikan ekspresinya seperti sebelumnya.
Edward menyeringai kecil kemudian ikut duduk disampingnya. "Huff!" Pria itu tampak menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.
Lea hanya memperhatikan dia saja tanpa menggangu. "Apa yang membawamu kemari Tuan Edward?" tanyanya setelah merasa Edward lebih fresh.
"Hem?" Pria itu menoleh kearahnya. "Apa perlu alasan untuk aku berada disisi nona?" balasnya tak kalah formal juga.
Lea sedikit tersipu dengan panggilan yang barusan ia dengar. Berusaha untuk tetap santai, dia kembali berucap, "hem, memang tidak perlu. Hanya saja, aku tidak begitu yakin seorang Tuan Edward Scrith mau berada ditengah taman kalau bukan karena satu alasan. Benar bukan?"
Edward meliriknya sekilas kemudian menatap lurus kedepan. "Kamu ingin tahu apa alasannya?" ucapnya.
"Hem, tentu!"
"Kamu."
"What?"
__ADS_1
"Ya, kamu. Apakah kurang jelas?"
Lea terdiam seribu kata. Satu kata KAMU itu bahkan membuatnya kebingungan seribu hal dan berkutat bodoh dengan otaknya.
"Ada apa dengan saya?" balasnya.
Edward bergeming, tidak bersuara lagi. Hal itu tentu membuat Lea semakin penasaran dan ingin tahu lebih jelas.
"Tuan Edward Scrith?" panggilnya dengan nada sedikit ditekan karena tak kunjung mendapatkan jawaban juga.
"Kamu terlalu bodoh Lea."
'What? Mengatai saya bodoh?' batinnya.
"Apa maksudmu Ed? Mengapa mengataiku demikian, ck!" decaknya dengan sebal. Mukanya kini sudah ditekuk dengan rasa kesal yang menyelimuti diri.
"Listen to me!"
Lea hanya diam sambil mengangguk pasrah. Jujur, dia tidak suka suasana seperti ini, tampak canggung dan malah seperti orang yang tidak saling kenal.
"Kamu adalah alasan untuk semua hal yang aku lakukan sejak malam itu," lontar Edward.
Lagi dan lagi Lea dibuat bungkam dengan kalimat Edward. Sungguh, sepertinya kelemotan otaknya ini sudah melebihi kapasitas untuk menampung banyak pertanyaan dan argumen yang tidak ia pahami.
"Lea, kamu tahu? Setiap kali aku melihatmu rasanya aku ingin membunuh diriku sendiri. Setiap kali aku melihatmu, rasanya aku ingin mengulang malam itu kembali supaya berbicara baik-baik dari awal padamu agar hal itu tidak terjadi. Rasanya kunang-kunang masa lalu itu terus menghantuiku dengan penuh rasa bersalah yang tiada habisnya. Setiap malam aku selalu berpikir, apakah aku masih dapat menebus semua kesalahanku dimasa lalu atau tidak. Dan nyatanya saat ini kamu berada dihadapanku, bahwa dapat kulihat dengan jelas setiap inci dari wajahmu. Kamu tahu? Aku ingin menangis dan bertemu Tuhan saja karena aku merasa dosaku dimasa lalu itu sangat tidak pantas lagi untuk diampuni siapapun. Menodai seorang wanita tanpa tahu dia siapa. Aku tidak tahu lagi sebesar apa dosaku itu," tutur Edward panjang lebar. Jujur, ia bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya lagi. Apalagi ketika melihat wajah Lea yang sekarang tepat didepan matanya.
__ADS_1
Lea diam seribu bahasa. Matanya memanas seketika, jujur, ia ikut sakit mengingat kejadian waktu itu. Hatinya bahkan itu sakit, dadanya terasa sakit berkali-kali lipat ketika kembali mengingat hal itu lagi.
"Namun, sekarang kamu berada dihadapanku, bersamaku dan juga dengan anakku. Membesarkan Putraku seorang diri tanpa ada aku disampingmu kala waktu itu. Bukankah aku melebihi dari seorang pria yang begitu buruk dan bodoh? Aku bahkan lebih bodoh dari orang bodoh sekalipun. Aku selalu berdoa agar Tuhan memberiku umur yang panjang hingga kita menua bersama, jujur, aku memang sangat egois. Tapi aku ingin menebus semua kesalahanku dimasa lalu itu. Maafkan aku jika terkadang caraku mencintaimu seolah tidak masuk akal menurutmu. Tapi percayalah, aku seperti ini karena aku takut kehilanganmu sayang," lanjutnya. Kini air mata pria itu jatuh begitu saja dengan derasnya. Sakit rasanya mengingat semua kebodohan dan keegoisan dirinya sendiri untuk kebahagiaannya saja.
Lea yang sudah tak kuasa lagi menahan tangis, lantas berhambur kedalam pelukan Pria itu, berusaha mencari kenyamanan dan ketenangan yang sudah ia rindukan dan ia harapkan selama ini. Dan ya, kini ia mendapatkannya, tangisnya pecah seketika dalam dekapan Edward.
"Aku tidak mempermasalahkan itu lagi Ed. Berhenti mengingat masa lalu lagi, sekarang fokus ke masa depan kita selanjutnya. Aku hanya minta satu hal darimu. Jangan pernah tinggalkan aku dan Hansel lagi. Apapun itu masalahnya, tolong beritahu aku agar kita bisa lewati bersama. Aku tidak akan sekuat ini kalau bukan karena putraku-Hansel," tutur Lea dengan Isak tangis.
Edy mengangguk seraya menghapus kasar air matanya, memeluk erat tubuh wanitanya dengan ketulusan dan juga cinta.
"Aku berjanji. Aku berjanji akan setia padamu sayang, aku berjanji akan menjadi pelindung bagimu dan juga Hansel. Itu janjiku."
"Stay with me forever." ~Lea
"I will always be with you even until God finally picks me up." ~Edward
"I will always love you Lea."~Edward
"Likewise with me Mr Edward. Love you to." ~Lea
SELESAI 🤍
*****
TAPI BOONG HHE
__ADS_1
Gimana ²? Mau di selesaikan aja ceritanya sampe sini atau lanjut lagi guys? Yuk kasik like dan komen ya beb, author butuh dukungan dari kalian biar author semangat lagi:(
SEUUUU