Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Mencoba Membuka Hati


__ADS_3

Esoknya....


" Da Mom,,," Hansel melambaikan tangannya setelah mengecup pipi Lea. Ya, hari ini Lea memang sengaja mengantar Hansel kesekolah dan juga Eder seperti tidak datang, bukannya ia berharap hanya saja lantaran sebelumnya Eder yang mengantar jemput Hansel.


" Da sayang,,," balas Lea yang ikut juga melambaikan tangannya. Ia menatap punggung Hansel sampai menghilang dari tatapannya.


Menghela nafas kasar karena ia harus segera kembali ke rumah supaya bersiap siap untuk mencari pekerjaan.


Kebetulan ada ojek yang lewat sehingga ia bisa naik supaya cepat sampai ke rumah.


" Makasih ya Pak," berucap setelah turun lalu memberi bayaran.


Langkahnya terhenti memasuki rumah ketika mendapati Edward yang telah berdiri tepat di depan pintu rumah.


" Mengapa kamu bisa disini?" dengan rasa gugup dan ketakutan.


" Menunggumu, awal nya sih ingin bertemu dengan Putraku tapi sepertinya kamu sudah mengantarnya ke sekolah." Sahut Edward dengan santai.


" I,, iya! aku memang sudah mengantar Hansel." Lea hendak masuk kedalam rumah namun cengkeraman Edward menyudahi langkah nya.


Lagi dan lagi kembali gemetaran, sungguh Lea menjadi tidak suka pada dirinya sendiri.


" Ku mohon lepaskan aku,," bibir nya bergetar karena ketakutan yang semakin membuat Edward tersenyum picik. Ia malah menarik Lea masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Dengan akal liciknya ia berhasil menyelipkan kedua tangan kekar nya di pinggang Lea.


" Berhenti! ku mohon lepaskan!" Tubuh Lea semakin lemas dan tak dapat ia kendalikan lagi.


" Mengapa? apa yang salah?" Edward semakin menarik pinggang Lea lebih dekat dengan tubuhnya.


" Aku bisa mati jika kamu terus memeluk ku seperti ini. Aku masih belum siap mati karena ketakutan," tutur Lea dengan nafas tersenggal senggal.


" Siapa yang bilang kamu akan mati? itu tidak lah mungkin sayang! aku hanya memelukmu begini saja." Ucap Edward semakin menggoda Lea.


" Ku mohon lepaskan aku,," Lea sungguh tak kuat lagi menopang tubuh nya.


" Tidak akan!"


" Bugh" Lea terjatuh tepat di dada Edward yang membuatnya jadi keheranan.


" Lea,,, Lea,,,," ucap nya yang menjadi kewalahan.


" Astaga! berarti benar yang dia ucapkan, jangan jangan! jangan sampai kamu mati Lea. Lea,, bangun bangun,,,," Edward langsung menggendong Lea membawanya masuk kedalam kamar.


" Lea,,, Lea,,," berulang kali Edward menepuk pelan pipi Lea.

__ADS_1


Seketika pikirannya tiba tiba teringat akan ucapan Lea waktu itu bahwa ia trauma akan sentuhan oleh Pria mana pun yang terutama adalah Edward.


" Ckk,, pasti dia trauma! aaaa,,, tidak! kamu belum saat nya mati Lea, kamu belum menikah denganku, kita juga memberi Hansel adik, kamu jangan mati dulu." Kata Edward dengan asal, ucapannya lolos begitu saja. Seandainya ada Eder disitu mungkin gelak tawa akan memenuhi kamar Lea.


Edward melihat ada minyak kayu putih di meja dan langsung mengarahkan ke hidung Lea.


" Huf,," yang di tunggu sadar pun akhirnya terbangun. Lea mengedip ngedipkan matanya untuk mengedarkan pandangannya.


" Kamu sadar juga, saya pikir kamu sudah mati tadi," kata Edward dengan asal.


Lea tidak bergeming akan ucapan Edward tetapi malah memperlihatkan ekspresi kesedihan.


" Ada apa? mengapa raut wajah mu begitu?" tambah nya lagi.


" Aku memang trauma akan sentuhan pria terutama setiap sentuhan darimu, bukannya aku egois untuk tetap menanam kebencian dan dendam untukmu tetapi hatiku masih belum bisa ku tata kembali. Dan kamu tahu? setiap kali kamu menyentuh ku, kejadian pahit itu selalu membayangiku. Aku sulit untuk itu, mungkin hatiku terlanjur hancur saat itu sehingga tidak ada ruang untuk memperbaikinya. Aku sudah memikirkan semuanya, aku juga tidak ingin seperti ini dan menjadi single Mama sampai selamanya, bagaimana pun aku adalah manusia biasa yang membutuhkan seseorang untuk menemani hidupku membangun masa depan yang indah. Sudah berulang kali aku terus mencoba untuk menguatkan diriku pada setiap sentuhan darimu, tapi bayangan luka itu terus menghantui ku Ed. Sama seperti yang kamu ucapkan, sejujurnya aku ingin mencoba melangkah di jalan yang baru, jika kamu berhasil membuatku terbiasa akan sentuhan mu aku akan mencoba untuk menerima kehadiranmu dalam hidupku. Aku tidak memaksamu untuk setia bertahan sampai aku benar benar bisa menerimamu, jika kamu ingin mencari wanita yang lain itu hak mu." Tutur Lea dengan lirih. Itulah semua jawaban yang telah ia kumpulkan dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk ia ucapkan pada Edward.


Mungkin saja Edward bisa untuk itu, tapi yang ia ragukan adalah Lea jika nantinya Lea tidak berhasil akankah semuanya akan berakhir? entahlah Edward menjadi terbebani untuk itu.


Melihat Edward yang terdiam membuat Lea menjadi ragu dan berpikir bahwa Edward tidak akan bisa. " Jika kamu tidak bisa aku bisa maklumi itu," ucapnya sehingga menyadarkan Edward dari diamnya.


" Tidak! aku bisa, dan aku akan lebih sering menyentuhmu sampai rasa trauma mu itu akan hilang pada waktunya." Bantah Edward meyakinkan Lea.


"Kamu yakin?"


" O,, baiklah," sekilas ada lengkungan senyum yang begitu mempesona dari wajah Lea.


" Aku,, aku harus segera pergi!" Lea kembali tersadar akan tujuannya.


" Mencari pekerjaan bukan?" tebak Edward seraya menahan langkah Lea menuju lemari pakaian.


" Iya, aku harus segera mencari pekerjaan,"


" Tidak perlu,"


" Apa maksudmu?" intonasi ucapan Lea sedikit naik.


" Aku sudah siapkan pekerjaan untukmu," kata Edward dengan tegas.


" Pekerjaan? jangan bercanda!" Lea mengganggap itu suatu lelucon.


" Aku tidak pernah bercanda! kamu memang butuh pekerjaan bukan? aku sudah menyiapkan nya untukmu,"


Sungguh menambah kebingungan pada Lea, ia berpikir bahwa Edward sudah tidak waras lagi.

__ADS_1


" Mungkin hari ini tidak perlu langsung aku beritahu padamu, karena besok weekend. Agar lebih mudah menghitung bulanannya akan lebih baik senin depan, bagaimana? apa kamu setuju?" tambahnya lagi.


" Apa kamu memang serius?" tanya Lea masih ragu.


" Berhenti meragukan ku! kamu mau kan apapun pekerjaannya?"


" Iya, APAPUN! asalkan jangan di bar lagi," ucap Lea dengan menekankan kata kata 'APAPUN'.


" Baiklah, apapun bukan? hari ini kita dirumah saja menghabiskan waktu," senyuman maut telah terlemparkan bagi Lea.


Bulu kuduk Lea berinding seketika saat mendapatkan senyuman dari Edward. Pikirannya sudah tranveling entah kemana mana.


" A,, apa maksudmu?"


" Kita ulangi lagi bagaimana?" Edward mendekatkan tubuhnya kepada Lea sontak membuatnya jadi ketakutan sendiri.


" Apanya di ulangi?"


" Kita ulangi lagi,," Edward semakin mendekat kepada Lea.


" Apa yang kamu katakan? jangan macam macam," ancam Lea meski masih dalam perasaan campur aduk.


" Ckk,, pikiranmu begitu ngeres sekali! aku hanya ingin mengulangi bagaimana aku menggedongmu tadi itu," cletuk Edward tanpa menunggu balasan dari Lea ia langsung menggendong Lea bak bridal princess.


" Turunkan aku!" teriak Lea meronta ronta.


" Tidak mau!"


" Turunkan!"


" Tidak!"


" Turunkan!"


" TIDAK!!!"


______


Aua,,, jadi baper deh aku Edward😍


LIKE KOMEN DAN VOTE


SALAM^^

__ADS_1


__ADS_2