
DEG!
"Dad!" kali ini Edwrad benar benar marah sekali, ia tekankan kata katanya dengan gelengan kepala. Dirinya sendiri ikut terluka akan perkataan dan hinaan dari Evans yang diberikan untuk Lea.
"Jangan membantah!bukankah kamu mau Putramu menjadi bagian Keluarga kita? lalu mengapa sekarang membantah?" tegas Evans dengan mimik wajah tampak serius.
Edwrad mengusap kasar wajahnya, "Ed memang mau begitu Dad! tapi bukan berarti Lea harus pergi. Lea juga berhak bahagia bersama Ed dan Hansel, mereka berdua adalah bagian dalam hidup Edwrad. Apa Daddy tega memisahkan Putraku dengan Mommy nya? hari siapa yang tak terluka Dad?! Ed sendiri terluka akan keputusan Daddy kali ini. Daddy boleh kecewa dan marah pada Edwrad tetapi disini Edwrad yang salah! bukan LEA! dia korban disini Dad, berhenti menambah luka padanya. Sudah cukup selama lima tahun ini Edward yang membuatnya terluka karena perbuatan Edwrad. Bukankah dia pantas menjadi bagian dari Keluarga Scirth? Lea wanita yang tangguh yang Edwrad temui setelah Mommy. Dia yang membesarkan darah daging ku sampai sebesar dan sepintar Hansel saat ini. Tidak kah ada ibah pada dirimu Dad? tidak ada wanita mana pun yang akan menjadi Nyonya Edwrad selain LEA! hanya LEA! hanya dia yang pantas menyandang status itu bahkan sampai aku mati sekalipun!" Penuturan kata dari Edwrad benar benar sepenuh hati dan penuh perlawanan ia lakukan untuk membela Lea. Selama ini ia tak pernah membantah apapun yang Evans katakan, namun kali ini itu telah goyah saat Evans telah melukai perasaan wanita yang ia sayangi melalui penghinaan menyakitkan.
Semuanya semakin merasa getir dan ketakutan, apalagi Anyer. Saat ini ia benar benar tak tahu harus memihak pada siapa lagi, dia juga seorang Ibu tentunya tahu bagaimana perasaan jika dipisahkan oleh anak sendiri. Namun rasa kecewa yang sampai detik ini membuat dirinya keluh tuh bergerak bahkan lidahnya keluh tuh berucap lagi.
Lea semakin tak tahu lagi harus apa, di satu sisi ia sangat ingin Putranya itu mendapatkan kehidupan yang layak karena ia tak ingin nasib Hansel sama dengannya, dalam kehidupan yang sudah. Namun di sisi lain, hatinya terluka jika harus terpisah dengan Putranya itu, anak yang ia besarkan seorang diri harus ia lepas begitu saja. Tentu saja ia tak bisa akan itu, namun dalam keadaan kali ini sungguh menyudutkan dirinya bahwa dia tidak diterima oleh Keluarga Edwrad selain pandangan rendah dan hinaan yang ia dapat.
"Benar! tidak ada yang mengatakan dia tidak membesarkan Putramu! tetapi tetap saja dia harus memilih, untuk melepaskan Hansel dan dia pergi angkat kaki dari sini sekarang juga. Atau dia mau hidup gelandangan di jalanan sana ha? pilihan di tangan kalian!" Titah Evans.
"Jika Daddy memang maunya itu! maka lebih baik Edwrad juga hidup gelandangan bersama Lea dan Putraku, aku tidak akan bisa hidup dengan mereka!" Bantah Edwrad benar benar nekad. Ada rasa kecewa yang terselip dalam hatinya kepada Evans.
"Baik! itu pilihanmu, Daddy tidak ada memberikan tawaran itu tetapi kamu yang menginginkan nya maka Daddy kabulkan.Kalian bertiga boleh angkat kaki sekarang juga, dan jangan harap namamu masih ada di Keluarga Scirth. Dan Daddy akan mengirimkan mu ke pulau terpencil, dan lakukanlah bagaimana caramu bisa menghidupi mereka tanpa ada kehidupan yang layak di Pulau terpencil sana." Balas Evans dengan serius.
Lea menggeleng, tidak menyangka malah akan berakhir seperti itu, "jangan Om, jangan lakukan itu. Biar saya saja yang angkat kaki, saya memang tidak pantas di Keluarga ini, tapi tolong jaga baik baik Putra saya dan jangan keluarkan Edward." Pinta Lea penuh harap, dengan bangkit berdiri kini menatap hampa kepada Pria yang telah berhasil merenggut hatinya itu, yaitu Edward.
"Tidak akan! sudah ku katakan Lea, aku tidak akan bisa hidup tanpa mu, aku akan tetap pada tekadku. Lebih baik hidup di Pulau terpencil denganmu dan Putra kita daripada aku harus kehilangan mu," bantah Edwrad seraya menyeka lembut air mata yang semakin menyakiti dirinya itu. Bahkan air matanya sendiri jatuh begitu saja.
"Dad, jangan begitu! hiks hiks, Kak Lea adalah wanita yang baik, Ele kenal dengannya, dia tulus, tolong jangan lakukan itu Dad. Elena juga gak bisa bahagia tanpa ada Kak Ed, Kakak satu satunya yang Elena miliki, Kak Ed yang terbaik bagi Ele, hiks hiks, ku mohon Dad," kini Elena memberanikan diri membuka suara dalam Isak tangis.
"Tidak ada bantahan Ele, Kakak mu yang minta akan hal itu, Daddy hanya menuruti saja," balas Evans tak goyah dari kata katanya. Hal itu semakin memilukan hati Elena sebagai seorang adik, baru saja ia merasakan kebahagiaan karena bisa bertemu dan berkumpul dengan Keluarga nya namun sekarang kebahagiaan itu hanya sebentar saja. Elena melangkah, mendekat kepada Edward, sosok Kakak yang amat ia sayangi itu dan langsung masuk dalam dekapannya.
"Kak Ed, Elena sayang sama Kakak, Ele gak mau kehilangan Kak Ed, Ele gak mau Kak Ed pergi. Tetap disini ya Kak, Elena hanya punya Kakak seorang Pria yang menjaga Elena disini, tolong Kak, jangan pergi hikss hikss," ucapnya dengan Isak tangis. Suasana di ruang tamu kali ini benar benar pilu dan menyedihkan sekali. Bahkan Eder dan Erdo sampai menangis dalam diam, melihat tangisan Elena yang begitu pilu sekali. "Ele sayang, adik cantiknya Kakak, jangan menangis sayang, kamu adalah adik tercantik ku, Kakak tidak mau melihat setetes air mata mu pun jatuh dihadapan Kakak. Ini sudah takdir sayang, Kakak juga sebaliknya tidak akan bahagia jika Ibu dari anakku tidak bersamaku. Kakak harap Ele bisa mengerti itu," balas Edwrad meregangkan pelukan Elena padanya. Ia seka lembut air mata adik cantiknya itu dengan air matanya yang juga jatuh.
"Tuan," Eder juga beranjak berdiri, serasa hari itu semuanya begitu cengeng sekali.
"Bahagia lah Eder, kurasa selanjutnya kamulah yang harus menjaga adik cantikku ini," saat seperti itu pun Edwrad masih sempatnya memberikan godaan di akhir kalimat nya. Eder tahu itu bukan sekedar godaan saja melainkan suatu perintah yang tak terungkapkan secara langsung.
Saat bersamaan, dalam isak tangisan mereka semua, tiba tiba ada suara yang mencuri perhatian. "Daddy, Mommy," sosok yang mereka perebutkan kini berlari memeluk erat Mommy nya itu.
"Hansel sayang," tak hentinya Lea menghujani banyak kecupan pada Hansel.
"Mommy mengapa menangis?" Hansel yang polos menyeka lembut air mata Mommy nya itu.
"Tidak sayang, hanya kelilipan saja, Hans mau kan ikut dengan Daddy dan Mommy?" balas Hansel.
__ADS_1
"Mengapa Mom? bukankah jual disini kita bahagia?"
"Hans kita bisa bahagia di tempat lain," kini Edwrad yang membalas dan berjongkok memeluk Putranya itu.
"Kalian sudah boleh pergi," kata kata dari Evans langsung Edwrad angguki.
"Dad, Mom, Ele,Paman, Eder, kami pergi," ucapnya yang semakin menambah isak tangis yang semakin besar.
Ia bawa Putranya itu dan Lea, melangkah bersama meninggalkan mereka, namun baru saja tiga langkah tiba tiba,,
"EDWRAD!" Anyer yang sedari tadi diam dalam isak tangis langsung berlari mendekati mereka dan memeluk Hansel, yang berada diantara Lea dan Edwrad.
"Cucuku,' ucapnya dengan isak tangis.
Tanpa Edwrad sadari, saat ia menoleh kebelakang ternyata,,
"Kamu adalah Pria sejati Boy!" sangat tidak di sangka, Evans memeluknya dengan hangat seraya menepuk pundak.
Sontak semuanya pun mengernyit heran.
"Apa maksud Daddy?" balas Edwrad mewakili rasa pertanyaan yang lain.
Edward sangat tidak menyangka akan hal itu, ia tersenyum dalam guyuran air mata. "Berarti Lea juga bisa menjadi bagian Keluarga Scirth?" tanya Edwrad memastikan.
"Itu pilihanmu Boy, jadikanlah dia sebagai ratu yang kamu inginkan," balas Evans.
Semuanya pun bernafas lega termasuk Lea yang tadinya sangat terluka sekali, tidak menyangka begitu hebatnya Keluarga Scirth memberikan jebakan sampai membuat seseorang begitu hancur.
"Buatmu, terima kasih nak sudah melahirkan seorang Cucu bagi kami. Benar kata Putri dan Putra ku, kamu adalah wanita yang tulus," ucap Evans kepada Lea.
"Saya yang berterima kasih Om, sudah mau menerima saya dalam Keluarga ini," balas Lea mengangguk gugup dan canggung.
Sedangkan Anyer, ia sudah pastikan itu, ia tahu betul sikap Suaminya itu, tidak mungkin tega melakukan hal itu makanya ia tak perlu mengatakan apa apa lagi karena saat ini ia hanya ingin memeluk Cucunya itu dengan erat.
"Kakak Ipar," Elena tampak bahagia sekali dan langsung memeluk Lea dengan hangat.
"Belum lagi, masih dalam proses," bisik Edward kepada adiknya itu.
"Biarin! ya udah tentuin tanggal nikahnya aja, bukankah begitu Mom? Dad?" ucap Elena tak sabaran lagi.
__ADS_1
"Itu biar mereka yang bicarakan, kesiapan atau tidaknya," balas Evans memberikan semuanya kendali pada kedua insan itu.
"Ayo Kak tentuin donk!" ucap Elena sedikit mendesak.
"Untuk sekarang belum bisa dipastikan Ele, kapan pun harinya pasti Kakak akan beritahu pada semuanya," balas Edwrad sehingga Elena mengerucut kan bibirnya.
"Mengapa begitu?apakah kamu juga ingin cepat menyusul begitu?" goda Edwrad seraya melirik Elena dan Eder bergantian.
"Kakak," Elena tersipu malu begitu juga dengan Eder namun tidak kelihatan sekali rona malunya.
"Dan sekarang, bagian Keluarga Scirth telah bertambah lagi." Ucap Erdo membuka suara.
"Selamat Tuan, telah memiliki seorang Cucu yang tampan nyaris begitu mirip tak berbeda dengan Putra anda," ucap Erdo memberi selamat.
"Tentu saja Erdo!"
Ia juga memeluk Hansel, begitu juga semuanya berkeliling memeluk hangat tubuh kecil itu yaitu Hansel yang ditengah kerumunan mereka.
"Aku telah memiliki seorang Cucu!" Teriak Anyer dan Evans bersamaan.
"Aku telah memiliki seorang keponakan!" teriak Elena.
"Dia adalah Putraku," ucap Lea dan Edward bersamaan.
"Bertambah nya seorang Tuan kecil lagi," ucap Erdo dan Eder bersamaan.
__________
kalau nantikan cerita yg ini pasti bakal nunggu lama jadi author saranin mending ke dua apl yg author buat itu ok😌
Yuhuu,🤗gimana readers? dah puas blom? ada kok titik kebahagiaan itu. Selamat ya Ed, udah berhasil dijebak sama Evans wkwkk😌
Dan buat readers yang komentar "Malas bacanya,, Lea tersakiti Mulu, kecewa Thor"
hey, Author juga maunya semua tokoh itu bahagia Tetapi bukan berarti langsung bahagia begitu saja jika tak ada tahapannya.
Ok, sampai sini paham? bisa follow Ig AUTHOR
JEL4237 👈 BISA DM AUTHOR OK:)
__ADS_1
SALAM^^