
"Mommy, Hans mau beli fried chicken," makanan yang Hansel sukai pasti selalu ia pinta kemana pun mereka pergi. Ya, sudah dua jam lebih mereka berdua berjalan jalan menyinggahi banyak tempat sambil menikmati banyak nya harmoni yang tercipta di setiap tempat. Tentunya membuat keduanya lupa akan rasa luka dan rindu tetapi tergantikan dengan senyuman bahagia.
Lea yang begitu mengerti sang Putra, segera beranjak ke jualan di pinggir jalan, ya itu rasanya lebih menyenangkan karena Hansel juga bukan sosok yang pilih pilih. Ia beli khusus untuk Putra nya saja, ia sendiri masih merasa kenyang. "Ini sayang," ia berikan kepada Hansel, dengan senang hatinya tentunya Hansel terima sambil menikmatinya sambil duduk. Lea tersenyum sumringah, seolah olah tiada beban yang ia tanggung. Tetapi saat dalam lamunannya menatap Hansel, tiba tiba pikirannya merasa ada yang aneh. Seolah olah dirinya ingin pulang secepatnya, namun melihat Hansel yang masih lahap menyantap makanannya ia urungkan niatnya sampai Hansel benar benar sudah merasa puas. Tak ingin mengecewakan sang Putra lagi, meski kini perasaannya benar benar tidak enak.
'Apa yang aku pikirkan? tertegun tetapi berperasaan aneh, oh Tuhan apakah yang sebenarnya terjadi?' batin Lea.
Sejenak Hansel memalingkan perhatiannya menatap Lea dengan lekat lantaran mendapati ekspresi berbeda dari sang Mommy. "Mommy, Mommy kenapa?" imbuhnya keheranan.
"Tidak, Mommy tidak mengapa, Hans lanjut saja makannya," elaknya sambil berusaha tersenyum manis.
Hansel balas dengan senyuman kemudian kembali menikmati yang ia santap dengan lezat.
_________
Di tempat lain, tak disangka ternyata sudah satu jam lebih Keluarga Scrith kini berada di rumah yang Edward belikan untuk Lea dan Hansel. Ya, mereka tampak berkumpul duduk bersama di sofa ruang tamu, seolah olah ada hawa hawa mencengkam yang membuat Edward dan Eder sungguh tak berani berucap sepatah katapun. Terlebih saat Evans menatap lekat kepada sang Putra, yaitu Edward sedari tadi tatapan itu tak berubah sampai detik ini membuatnya was was dan siaga akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu juga dengan Erdo yang menatap tajam kepada Eder, seolah olah kedua Pria yang sudah tua itu sedang mengintimidasi Putranya masing masing. Sedangkan Anyer dan Elena di suruh masuk ke kamar tamu yang ada di bawah, dan mungkin Evans dan Anyer akan tidur juga di kamar tamu yang lainnya.
Berawal saat mereka masuk ke rumah itu, semuanya tampak berbeda, apalagi saat Anyer menatap seisi rumah hampir seluruh bentuk dan hiasan dinding yang wanita sukai. Dan lebih mengherankan nya ketiga kamar yang ada di atas semuanya di kunci, tentunya mereka pun menjadi penasaran.
Edward berusaha bernafas seperti pada umumnya, ia tahu tentunya ini adalah yang ia rencanakan, dan pasti ia sudah siap akan hal itu, apapun resiko nya ia yang memilih.
Dalam suasana yang mencengkam, tiga puluh menit kemudian terdengar bunyi handle pintu yang terbuka, sontak semua kata mengarah ke asalnya. Menatap dengan seksama, mereka lihat dengan lekat, apa yang mereka lihat?
__ADS_1
Inilah jawaban dari semua yang mereka pikirkan yaitu Edward dan Erdo, sosok seorang wanita membawa seorang Pria kecil melangkah masuk kedalam rumah.
"Daddy,," panggilan dari sosok yang mereka lihat dengan tertegun. Anak kecil yang tak ada bedanya dengan Pria yang saat ini duduk dihadapan Evans, ibaratkan pinang di belah dua.
"HANSEL!" tentunya Putra tunggalnya yang kini berlari dan masuk dalam dekapannya dengan erat, sebagai tanda pelepasan rindu antara kedua Pria itu. Edwrad peluk dengan erat Putranya itu, tak bertemu hampir dua Minggu rasanya seperti ada yang kurang dan sekarang bisa lepaskan rasa rindu dan ketakutan itu walau hanya sesaat.
"Hans rindu Daddy,"
"PRAK!!" saat bersamaan ucapan dari Hansel keluar, saat itu juga gelas jatuh terpecah di lantai bersih. Anyer! wanita yang sudah berumur memiliki seorang Putra tunggal, kini di suguhkan dengan suatu hal yang sangat tak ia sangka.
Kembali lagi, semua tatapan tertuju padanya, ia langkahkan kakinya mendekat kepada sosok yang baru saja mengatakan DADDY kepada Putranya. Entah itu mimpi atau tidak, tetapi butiran bening itu jatuh begitu saja saat kini ia telah berdiri hanya berjarak satu meter dari Hansel. Hansel memalingkan perhatiannya ia tatap dengan lekat wanita yang kini di guyuri butiran bening di wajahnya, dengan polosnya ia mendekat naik ke sofa supaya sampai untuk menyeka air mata Anyer. Betapa tersentuh nya hati Anyer saat itu juga, air matanya semakin banyak jatuh begitu saja.
"Oma, mengapa menangis?"
Bagai tersambar petir di siang hari, kata kata barusan adalah kata yang selama ini ia nantikan, mendapatkan panggilan OMA dari Cucu nya kelak. Tetapi hari ini? kata itu terdengar begitu jelas ditelinga, ia seka dengan kasar air matanya mencoba duduk di samping Edwrad saat ini.
"Apa? Oma? mengapa memangil saya Oma?" Anyer mencoba mengulangi perkataan itu.
"Em, maaf Oma, tapi Hans memang gak kenal sama Oma makanya Hans panggil saja OMA. Karena Hans di ajari oleh Mommy supaya menghormati semua orang yang lebih tua apalagi sudah berumur, begitu juga dengan Daddy yang meminta supaya Hansel menjadi anak yang hebat dan cerdas. Tidak boleh bodoh, itu adalah nasihat dari Mommy dan Daddy," berucap dengan ujung manik matanya melirik kearah Edwrad dan juga Lea yang kini telah berdiri dengan menundukkan kepalanya. Tidak bisa ia duga ternyata semuanya begitu cepat terjadi, pantas saja tadi itu perasaan nya tidak tenang ternyata inilah yang terjadi. Bahkan air matanya sudah jatuh setelah Hansel berlari memeluk Edwrad.
Anyer mengikuti arah yang Hansel tunjukkan, menatap Edwrad dengan gelengan kepala dan air mata yang kembali jatuh kemudian baru sadar bahwa ada sosok yang lain juga yaitu LEA!
__ADS_1
Ia tertegun, terdiam sejenak, bangkit berdiri melangkahkan kakinya mendekati sosok yang kini berdiri menunduk tak ada membuka suara sedari tadi. Ia angkat dagunya sampai kini tampaklah wajah cantik itu di guyuri air mata sehingga membasahi pipinya.
"Siapa kamu?" pertanyaan lembut yang Anyer berikan kepada Lea. Ia benar benar ingin tahu semua penjelasan hanya dari mulut kedua orang yang Hansel tunjukkan tadi.
"Saya Lea Tante," jawabnya dengan lirih.
"Lea?" Anyer mengulangi kembali kata kata itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
Lea mengangguk semakin penuh dengan air mata.
"EDER, BAWA ANAK KECIL ITU KE KAMAR!" Suatu kata kata yang begitu menakutkan segera Eder lakukan membawa Hansel ke kamarnya.
Saat bersamaan Elena juga keluar dari kamar, betapa terkejutnya ia saat melihat Hansel bersama Eder. Ia hendak berucap namun ia kembali tertegun saat melihat Lea.
" Ya Tuhan, apa ini?" Elena mendekat berdiri dengan tampang yang begitu keheranan.
"SEMUANYA DUDUK!" Suara dingin dari Evans membuat semuanya duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
_______________
Ayo say, apakah semuanya akan terjadi?:) gregetan gak sih heheh,😍
__ADS_1
ayo kasih hadiah dan vote
SALAM^^