Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
SWALAYAN


__ADS_3

Sekarang ini tepat dimana Lea dan juga Edward yang telah berada di supermarket. Ya, tepat seperti swalayan bukan? Dimana banyak menjual macam kebutuhan dapur, cemilan dan lain sebagainya ada disana.


Dua insan itu melangkah masuk secara perlahan dan kini diawali oleh Edward yang langsung dengan sigap mengambil sebuah troli yang sudah tersedia disana kemudian mendorongnya mengikuti Lea yang melangkah lebih dulu disana.


"Em kita mulai beli dari rinso, sabun cair dan shampo dulu ya?" ujar Lea ingin bertanya dulu sebelum akan benar-benar melakukan hal tersebut.


Edward yang berjalan disampingnya sekarang mengangkat alis sebelah kemudian mengangguk kecil. "Apapun buatmu sayang," balas Edward terdengar berbisik. Ya! Itu tepat ditelinga Lea yang langsung menepuk pelan pundak pria itu. Tidak habis pikir, bisa-bisanya Edward masih sempat berbisik seperti itu diantara banyak orang yang berlalu lalang mencari kebutuhan masing-masing. Aaaa! Dia sangat malu sekali, malu malu dan malu. Namun demikian tetap disembunyikan raut wajahnya dengan terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


"Huft!" Lea menghela nafas lebih dulu.


Tanpa pikir panjang lagi kini mulai melangkah menuju etalase rinso disana, ah! Lebih tepatnya kumpulan daia yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.


Setelah berhasil mencapai tempat tersebut,kini ia malah tampak bingung sendiri menyaksikan banyak macam pilihan disana.


"Kenapa?" Edward yang seolah peka langsung menghampirinya dengan kening yang berkerut seakan paham apa keluhan dari wanitanya.

__ADS_1


Sebelum akan menjawabnya langsung, Lea menarik nafasnya lebih dulu sambil tersenyum kecil. "Menurut kamu, ambil yang ini atau yang ini." Dia menunjukkan dua macam deterjen kepada Edward yang seketika terpelongo mendengar. "Kalau bingung, ambil dua-duanya saja," jawabnya enteng tanpa beban.


Arghh! Bukannya mendapatkan jawaban, ia malah dibuat kesal atas jawaban barusan. "Kan aku nanya, kamu tinggal jawab pilih yang mana satu, bukan malah ambil dua-duanya," celetuknya dengan sebal.


Edward tetap saja menunjukkan bahwa tampang santai tanpa rasa bersalah. "Ingat! Aku paling tidak suka wanitaku sampai lelah hanya untuk berpikir saja. Jadi bila perlu kita borong semua etalase deterjen disini biar kamu ga cape-cape mikir lagi," tuturnya dengan mantap.


Lea kembali menghela nafas panjang. Ya, dia tahu bahwa pria ini bisa saja membeli semuanya, namun tetap saja, dalam dirinya menerapkan apa yang perlu itu saja, sebab sesuatu yang terlalu berlebihan itu tidak baik, benar bukan?


"Kamu menyebalkan Ed!" celetuknya lagi dengan malas. Mungkin inikah alasan mengapa setiap wanita paling malas jika berbelanja dengan lelaki? Ya, mungkin berbeda jika tentang shoping. Masalahnya ini untuk keperluan rumah, jadi ya harus sesuai.


"Kenapa sayang? Apa jawabanku masih kurang memuaskan hmm?" balas Edward sambil menyunggingkan senyum tipis. "Terserah kamu saja." Lea menggelengkan kecil kemudian mengambil salah satunya saja dan menaruhnya didalam troli.


Sedangkan Edward, pria itu masih setia mendorongku troli belanjaan. Sekarang telah berhasil menuju etalase sabun cair lagi. Lea yang sibuk membandingkan harga yang satu dengan yang lain, ingat! Sekalipun ia tahu dengan siapa dia sekarang bukan berarti itu menjadi alasan untuk dia bisa hidup asal dengan boros. Toh, ia beli ini itu pun memperhatikan kandungan dalamnya yang memang sesuai dan cocok untuk melembabkan kulit.


"Menurut kamu, tiga atau empat saja Ed?" tanyanya lagi. "Nanti kalau aku jawab pasti salah lagi, lebih baik diam dan ikut kamu saja." Kali ini sepertinya dia sudah mulai menyerah dan tidak ingin mencari masalah lagi. Cukup sadarkah?

__ADS_1


Mendengar itu, Lea antara lucu, kesal atau perasaan yang seperti apa saat melihat tampang pasrah dari laki-laki itu. Menggelengkan kepalanya pelan lalu mulai melangkah lagi setelah mengambil beberapa sabun cair tersebut.


"Tisu!" Lea kembali lagi bergumam saat telah berada diantara deretan tisue kering-basah disana sambil manggut-manggut kecil.


"Hansen sekolah, banyak gerak jadi perlu tisu," ucapnya pelan.


Mendengar nama putranya itu disebutkan, kali ini Edward yang langsung turun tangan sembari berucap, "untuk putraku ambil yang harganya paling mahal, tidak perlu pakai diskon-diskon segala!" tegasnya dengan serius.


"Tidak ada bedanya Ed-" Tidak lagi selesai dia berucap, Edward sudah menatapnya lekat. "Dia putraku Lea!" tekannya. Ah! Ada rasa yang menjadi campur aduk saat ia mendengar kalimat yang terlontar barusan dari Edward.


"Aku yang melahirkannya kalau kamu lupa." Lea tersenyum miring seolah menunjukkan kemenangan.


"Kalau tidak ada olahragaku, kamu tidak akan melahirkannya sayang,"balas Serasa tidak mau kalah juga.


Ckckck! Jika sudah seperti ini ia rasa lebih baik diam dan mengalah saja. Sudah tahu tabiat dari pria itu, tidak mau kalah jika topik mereka sudah kesana.

__ADS_1


____


Halo semua, apa kabar? maaf ya author baru muncul lagi:) Masih setiakan nunggu ceritanya? Yuk komen hhe


__ADS_2