
"Mommy, mengapa mata Mommy tampak bengkak?" Hansel yang baru saja turun dari atas menemui sosok Mommy nya telah duduk di sofa ruang tamu dengan mata yang tampak bengkak, terlihat bahwa Lea baru saja menangis. Bahkan terlihat merah sekali, ia seka dengan kasar air matanya tak ingin membuat sang Putra semakin kecewa lagi.
"Mommy,,, Mommy hanya kelilipan saja kok Hans," dusta Lea sambil mencoba tersenyum paksa.
Hansel ikut duduk disampingnya sembari menempatkan tangan kanannya di dahi Lea, seolah olah ingin tahu apakah Mommy nya sakit atau tidak. "Mommy sedikit demam, berhenti berbohong Mom. Hans gak mau lihat Mommy sakit, Hans takut gak punya siapa siapa lagi," imbuhnya dengan lirih.
Lea tersenyum getir bertapa beruntung nya ia memiliki Putra sebaik dan setulus Hansel, membuatnya tak tega menatap reaksi kecewa dari sang Putra. Tetapi yang menjadi kesulitannya saat ini adalah Edward, berasa sulit untuk bangkit seperti sebelumnya lagi.
'Edward apa begini caramu menyayangi Hansel dan peduli pada kami? bukan peduli tetapi tidak dipedulikan lagi. Apa aku harus kembali dalam hati yang kelam? ingin rasanya aku berteriak kencang kencang tetapi aku tak kuasa untuk itu,' batin Lea.
"Mommy, Mommy tidak akan berbohong lagi ke Hansel, Mommy cuma demam biasa karena sedikit pusing gitu. Hans gak sekolah kah hari ini?" tanya Lea mengalikan pembicaraan.
Hansel tersenyum lega, seenggaknya menatap senyuman sang Mommy membuatnya lebih merasa bersama, tidak sendiri. "Hari ini libur sekolah Mom, kan tanggal merah," imbuhnya seraya menunjuk calender di meja.
Lea mendongak kaget, ia sampai tak memperhatikan tanggal merah tentunya semua sekolah akan libur. "Em,, oh iya Mommy lupa Hans, biasa kalau pusing gini rada rada lupa gitu nak," dusta nya sedikit gugup. Beruntung Hansel tak banyak tanya lagi karena sama saja akan menggali segala lukanya saat ini.
"Mom, sekarang kan hari libur, bagaimana jika kita pergi keluar gitu, udah lama gak pernah jalan lagi kan Mom? selagi udara segar kegini," ajak Hansel. Ia tahu bahwasanya Lea pasti akan terus berdiam diri dirumah padahal dirinya ingin juga melepas segala sedih karena kabar yang tak kunjung datang dari sang Daddy.
Mungkin saja tawaran Hansel cukup menarik, tetapi yang menjadi masalahnya ia kembali teringat akan perkataan Edward tempo hari.
"JANGAN PERGI KEMANA PUN TANPA SEIZIN KU!" membuat dirinya jadi plin-plan untuk menjawab. Di satu sisi ia juga ingin melepas luka walau hanya sesaat setidaknya ada hal baru yang mengisi hari yang sempat rapuh tetapi di sisi lain ia tak ingin mengingkari janjinya pada sosok yang benar benar sudah ia tempatkan di hatinya.
"Mommy, mengapa Mommy diam? apakah Mommy tidak ingin terima ajakan Hansel?" ucap Hansel dengan sendu. Dirinya benar benar penuh harap, menatap Hansel seperti itu membuat hati Lea luluh dan langsung mengiyakan kemauan Hansel sehingga Putra nya itu tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Thanks Mom, Hans ke kamar dulu ganti baju, tunggu Hans ya Mom,", punya Hansel kemudian menaiki tangga menuju kamar.
Sedang Lea memilih untuk tetap duduk diposisi nya saat ini, toh pakaian yang ia pakai juga sudah cukup pantas dikenakan.
"Aku dan Hansel akan keluar sebentar, jaga dirimu baik baik dimana pun kamu berada," Lea menyelipkan pesan kepada Edward. Dibalas atau tidak dibalas setidaknya ia sudah mengabari, ya walaupun belum ada izin tetapi kali ini ia memang akan membantah. Bukan berniat ingin membantah tetapi keadaan yang memaksa, toh semua ini juga karena Edward yang tanpa kepastian.
"Mom, ayo," Pria tampan turun dari tangga mengenakan style bak orang dewasa benar benar mirip sekali dengan sosok yang Lea rindukan yaitu Edward. Tetapi sayang yang saat ini bersamanya adalah benih Pria yang ia rindu itu.
"Kamu begitu tampan sekali sayang, memangnya kita ingin party atau ke acara besar hehe,' goda Lea sembari melangkah mendekat kepada sang Putra.
"Hans memang tampan Mom, tidak harus ke acara party, tetapi inilah Hans yang sesungguhnya," balas Hansel penuh kebanggaan.
Lea senang, melihat senyuman sumringah dari Hansel saja sudah cukup buatnya lupa akan segala yang ia rasakan saat ini.
___________
Sementara disisi lain, Elena sudah di perbolehkan pulang ke rumah supaya berobat jalan saja. Tentunya semuanya bahagia akan hal itu, tetapi mereka dibingungkan akan kembali kemana tidak mungkin ke apartemen yang hanya ada dua kamar saja di apartemen Edward maupun Elena.
Semuanya tampak berpikir selain Elena yang sedari tadi tak hentinya tersenyum sejak kedatangan Eder dan Erdo ke kamar inapnya.
Begitu juga dengan Eder, rasa bahagia dan sedikit risau bersatu dalam benaknya. Risau akan semua yang ia pikirkan, karena bagaimana pun semuanya itu belum lah selesai sampai ada yang benar benar menggantikan posisi dirinya dan Edward atau mungkin sampai ajal yang menjemput.
'Elena, rasa sayang dan cintaku mungkin begitu besar untukmu, tetapi rasa takutku akan kehilangan dirimu lebih besar dari itu. Baru permulaan saja kamu sudah menjadi sasaran akan duniaku dan Kakakmu. Tetapi inilah hidup kami, mustahil dapat kami lepaskan begitu saja.'Batin Eder.
__ADS_1
'Selama beberapa hari tidak sadar, aku kembali menatap sosok yang sering membuatku kesal dan bahagia. Kak Eder, mengapa ekspresi mu hari ini seakan berubah ubah. Entah bahagia atau bagaimana,' batin Elena.
"Lalu bagaimana? tidak mungkin kita semua menginap di apartemen Elena," Evans membuka suara lantaran sedari tadi semuanya berpikir dalam benak masing masing.
Edward terdiam sesaat, kemudian sesuatu hal terbesit dalam otaknya. 'Ya! kediaman Lea dan Hansel, mungkin inilah saatnya semuanya terbongkar, aku akan melepas semua identitas mereka. Bagaimana pun pada akhirnya Putraku adalah ahli waris segalanya kelak waktunya tiba. Apapun nantinya pandangan Mommy dan Daddy aku siap untuk itu,'batin Edward.
"Ikut dengan Edward! Edward sudah menyediakan satu rumah yang besar dan mewah kita ke sana saja," perkataan Edward memalingkan semua pandangan kepadanya terlebih Eder yang mengernyit kepada Edward.
Ia sudah tampak was was seolah olah tahu apa yang dipikirkan oleh Edward, tidak mungkin ke rumah yang sudah ia siapkan, tentunya rumah yang ia maksud kediaman Lea dan Hansel.
'Apakah hari ini juga semuanya akan terbongkar? apakah Tuan Edward sudah siapkan diri jika semuanya tahu terlebih Uncle Evans dan Bibi Anyer. Semoga pilihan anda ini tidak salah Tuan,' batin Eder.
"Baiklah, tentunya Daddy dan Mommy akan menginap juga dan Elena juga disana,' balas Evans setuju.
Semuanya pun mengangguk percaya akan perkataan Edward, semuanya sudah di kemas tinggal berangkat saja ke rumah yang Edward maksud.
__________
Penasaran? Gimana jadinya kalau Evans dan Anyer akan dipertemukan dengan rahasia besar? lalu bagaimana selanjutnya dengan Lea? akankah ia sanggup menjadi Nyonya Edward sedang semua Keluarga pasti akan mengintropeksi mereka.
Yuk kasih vote like komen dan masukkan ke fav
SALAM^^
__ADS_1