
" Mengapa cepat sekali pulang nya?" Lea yang baru saja turun dari atas telah mendapati Edward telah duduk di ruang tamu. Mereka baru saja sampai siang ini, Eder juga ikut duduk di depan Edward.
Lea yang kebingunan tambah penasaran sekali pada kedua Pria tersebut. " Hey,, mengapa tidak menjawab ku?" cebik nya sedikit protes.
Edward memberi isyarat dengan menepuk sofa di samping supaya Lea ikut duduk bersama nya.
"Ada apa?" ucap Lea setelah ia duduk di samping Edward.
" My Queen, kamu masih ingat bukan mengenai pekerjaanmu sebagai asisten pribadiku?" perkataan Edward membuat kedua alis Lea tertaut keheranan. Apakah Edward datang hanya karena ingin Lea mengurusnya?sementara pagi tadi Edward yang melarang nya, Lea semakin kebingungan.
" Tentu saja, bagaimana mungkin aku melupakan pekerjaan ku? jadi ini alasan nya kamu kembali cepat hanya karena ingin aku ikut denganmu dan mengurus panda besarku?" ungkap Lea seadanya.
Eder yang menjadi saksi perbincangan mereka, menjadi terkikik geli dalam diam. Meskipun masih banyak masalah yang harus di urus, namun setiap mengingat sebutan konyol itu apalagi Lea berucap seperti itu membuat ada sedikit suasana baru.
" Sebenarnya memang seperti itu, tetapi ada alasan yang lebih tepat lagi," raut wajah tampak serius dengan menatap lekat kepada Lea.
Melihat perubahan ekspresi dari Edward, Lea menjadi merasa bahwa akan ada sesuatu yang berbeda akan terjadi. " Katakan!" seru nya.
" Kamu tidak perlu menjadi asisten pribadiku lagi, cukup jaga Hansel dengan baik dan tenang berdiam diri di dalam rumah ini jangan pernah berpegian kemana mana pun tanpa ada kata IZIN dariku," tegas Edward penuh penekanan. Mendengar itu, makna yang Lea ambil masih tampak janggal dalam pengartian nya.
' Apa maksudnya? jika aku tidak menjadi asisten pribadi nya, maka darimana aku bisa memiliki gaji dan pekerjaan lagi?apa dia begitu tega?' batin Lea.
" Aku tidak mengerti maksudmu, apa kamu ingin aku pergi cari pekerjaan baru lagi?" balas Lea yang sulit mengerti.
Edward menggeleng seraya mengeluarkan sesuatu dari dalan saku jas nya. Sebuah kartu berwarna hitam ia berikan pada Lea, Lea semakin keheranan bukan kepalang. Tangannya menerima namun dirinya masih penuh tanda tanya.
' Kartu apa ini? bukan kah ini kartu tanpa batas?ini palsu atau bagaimana?' batin Lea.
" Itu adalah kartu tanpa batas, kamu tidak perlu bekerja kemana pun untuk mendapatkan gaji. Cukup gunakan saja kartu itu kemana pun kamu pergi,inhin seberapa banyak pun yang ingin kamu gunakan tidak ada pernah habis. Dan mengenai kebutuhan di rumah semuanya para ART disini yang akan mengurus segalanya, tidak ada yang perlu kamu khawatir kan. Kartu ini khusus untukmu jika kamu memang ingin membeli sesuatu dan kebutuhan pribadimu dengan Hansel." Tutur Edward dengan jelas.
Lea terdiam tak berkutik, seolah olah dia sudah seperti ratu saja di dalam rumah berdiam diri sudah mendapatkan banyak uang tanpa bekerja atau melakukan apapun. Seperti mimpi saja baginya, namun ia bukanlah seorang yang boros dan begitu gila uang. Ia malah berpikir bahwa Edward seperti kasihan padanya.
" Jangan bilang kamu melakukan ini karena dasar rasa kasihan kan?" raut wajah Lea berubah tampak kecewa hendak memberikan kembali kartu itu kepada Edward. Namun Edward langsung menggeleng dan kembali menyerahkan kepada Lea seraya menyentuh tangan Lea.
" Lea, mengapa setiap apa yang aku lakukan selalu bertopik atas dasar kasihan yang ada di pikiran mu?aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Tetap jelas, aku melakukan ini karena dasar keinginan sendiri secara pribadi dariku. Aku tidak ingin kamu dan Hansel terlantar lagi sementara aku hidup dengan seluruh harta, aku sangat menyayangi kalian berdua. Apa kamu bisa mengerti itu Lea?" ucap Edward kembali meyakinkan Lea.
__ADS_1
Perkataan Edward seperti menyentuh hati Lea, ia menjadi merasa bersalah pada Edward.
" Maaf,," lirihnya sambil menunduk.
" Stss,, tidak perlu minta maaf. Aku sudah memaafkan mu setelah kartu ini kamu terima dengan tulus, apa kamu bisa terima semua in?" balas Edward, Lea mengangguk sambil tersenyum manis.
Edward segera memeluk Lea dengan rasa syukur karena pada akhirnya rencana nya telah berhasil.
" Tetapi mulai malam ini aku tidak akan tinggal bersama kalian lagi," seru Edward setelah melepas pelukannya.
" Maksud nya?"
" Aku dan dirimu belum terikat oleh tali pernikahan dan belum sepantasnya tinggal satu atap apalagi satu kamar. Maka dari itu aku akan kembali me apartement ku," tutur Edward yang tidak sesuai dengan alasan yang sebenarnya. Sesungguhnya tanpa menikah pun ia bisa saja dengan bebas tinggal satu atap dengan Lea namun tetap ada alasan yang lebih kuat daripada sudut pandang siapa pun. Untuk saat ini rasa kasmaran dua insan mungkin memang belum saatnya untuk tercipta karena dunia gelap nya telah menanti kedatangan dirinya.
Lea tampak kecewa dan merasa ada sesuatu yang hilang. Bukan nya ia menyalahkan Edward, namun itulah kebenaran nya namun mengapa setelah pernah tidur satu kamar baru sekarang Edward mengatakan hal tersebut.
" Bagaimana?apa kamu bisa terima?"seru Edward karena tak kunjung ada jawaban dari Lea.
Lea tersenyum getir dengan berusaha menguatkan hatinya lalu berucap. " Baiklah, aku tidak bisa melarang mu dan perkataan mu juga memang ada benarnya." Imbuhnya dengan berat hati.
" Ingat pesanku,jangan pergi kemana pun jika belum ada izin dariku. Dan setiap kali aku mengirim pesan setidaknya berikan balasan yang lebih jelas jangan seperti tadi," ucap Edward sedikit menyindir.
Memutar bola matanya dengan malas, kembali lagi kepernyataan tadi pagi. " Iya,,," balasnya dengan santai.
" Awas saja jika berbohong jika aku bertanya, setiap sudut rumah ini di lengkapi oleh CCTV, jadi apapun yang kamu lakukan akan dapat aku dapatkan karena cip nya ada denganku," suar Edward seolah olah menekankan Lea.
" Dasar picik," cebik Lea.
Edward tiba teringat pada Hansel, karena pasti Hansel sudah pulang dari sekolah.
" Dimana Hansel?" tanya Edward dengan tampang mencari cari.
" Sepertinya dia sedang belajar di kamar, tadi dia sempat bertanya dan ingin bertemu denganmu ke Kantor namun ya,,,, aku nolak karena gak mungkin Hansel datang ke Kantormu," jelas Lea dengan apa adanya.
" Aku ingin bertemu dengannya," Edward beranjak melangkah menaiki tangga menuju kamar Hansel. Lea juga ikut menyusul Edward dari belakang.
__ADS_1
" Hans,,," Edward dan Lwa memasuki kamar Hansel mendapati Putranya itu tampak sedang belajar.
" Daddy,," Hansel berlari masuk kedalam dekapan Edward.
" Boy,,, mengapa semanja ini?" goda Edward sehingga Hansel jadu sedikit manyun.
" Daddy apaan sih," celetuk Hansel.
" Daddy tumben datang ke kamar Hans," seru Hansel penasaran.
" Daddy rindu saja dengan Putra Daddy yang tampan ini," balas Edward.
" Katakan Dad," Hansel semakin penasaran.
" Em,,, untuk sementara waktu Daddy tidak tinggal bersama Hans dan Mommy, jadi Hans tinggal bareng Mommy. Okey?" Tutur Edward meski dengan berat hati mengatakan itu.
Hansel tampak murung dan kecewa. " Mengapa Dad? apa Daddy tidak sayang lagi dengan Hansel dan Mommy?"
" Bukan begitu Boy, Daddy sangat menyayangi Hans dan Mommy namun ada sesuatu yang lebih kuat alasannya," seru Edward meyakinkan Hansel.
" Baiklah, selama Daddy gak ada, maka Hans yang bakal jagain Mommy gantiin Daddy." Ucap Hansel dengan bijak.
" Itu baru anaknya Daddy!" Edward mengacungkan jari kelingking nya.
" Tentu saja!" Hansel membalas sambil tersenyum.
Rasa sedih Lea tergantikan dengan rasa bahagia setiap melihat keakraban diantara kedua Pria tersebut.
Hansel menarik tangan Lea agar mereka bisa berpelukan bersama.
' Dunia ku telah menantiku Hans, Lea, semoga kalian tidak kecewa jika suatu hari nanti akan tahu yang sebenarnya,' lirih Edward dalam hati.
_______
LIKE KOMEN DAN VOTE
__ADS_1
SALAM^^