Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Elena & Eder


__ADS_3

"Drttt,,,drttt,,," bunyi ponsel Edward yang bergetar di meja.


" Siapa sih?" ia berdecak kesal dengan malas turun dari ranjang.


"Haloo,," menjawab tanpa memperhatikan nama yang tertera.


" KAK ED!!!!!" jeritan yang memekakan telinga dari seberang sana. Edward menjauhkan ponselnya dari telinga lalu membaca nama yang tertera, ternyata Elena.


"Ada apa Ele?" intonasi suaranya berubah selembut sutra.


" Kakak kenapa lama banget angkat telfon nya?" suara Elena yang begitu kesal.


' Masalah lagi, untung sayang! kalau enggak, hadeh,,,,' Batin Edward.


" Kakak baru selesai mandi, lah ada telfon dari kamu sayang, makanya jadi lama dikit," dusta Edward padahal ia sendiri malas mengangkat telfon.


" Okey,,, okeyy Ele maklumi."


" Memangnya ada apa telfon Kakak malam, malam?"


" Kak,, Ele bisa gak minta tolong ke Kakak?" terdengar nada lirih dari seberang sana.


" Minta tolong apa sayang?" Edward sedikit keheranan.


" Jadi tadi itu waktu di kampus, Dosen suruh semua siswa buat beli bunga yang sering di beli orang orang untuk nikahan gitu karena tema jam kuliah besok kayak drama drama gitu. Jadi semuanya disuruh buat beli," jelas Elena.


" Trus?"


" Lah Kakak kan tahu sendiri kalau Ele mana pernah beli bunga. Kakak kan cowok, pasti paling ngerti gitu gimana motof motif bunganya yang cantik gitu, secarakan seringan cowok yang beli bunga. Kakak mau kan temani Ele ke toko bunga?" pertanyaan dengan harapan.


' Beli bunga? jangankan beli bunga, singgah ke toko bunga sekalipun gak pernah. Bagaimana tahu bentuk yang indah?' Batin Edward.


" Kak,,, kenapa diem??" intonasi Elena yanf begitu mendesak.


" Emm,, Kakak gak bisa sayang,, kamu kan tahu sendiri bahkan sampai malam saja Kakak banyak pekerjaan kantor yang harus di periksa. Jadi Kakak gak ada waktu," elak Edward, dimana jawaban tidak sesuai dengan kebenaran. Atau lebih tepatnya ia berbohong, tadi sewaktu di kantor urusannya sudah selesai semua, tapi yang menjadi masalah adalah ketidaktahuannya mengenai beli bunga.


" Kakak jahat! memang begitu sulitnya buat temani Ele sebentar saja, paling lama dua jam doank sudah ikut waktu perjalanan. Kenapa Kakak pelit sekali ngasih waktu ke Ele?" suara lirih Ele bercampur dengan kekesalan.


' Salah lagi! bagaimana ini! ouhh,, EDER!' batin Edward.


" Bagaimana kalau Ele sama Eder saja beli bunganya? Ele mau kan?" tawar Edward.


Elena yang mendengar nama Eder disebut membuat ia berbinar bahagia seketika.


" Memangnya Kak Eder pinter pilih bunga?"


" I,, iya! kamu saja Eder saja ya sayang,"


" Huff,,, baiklah! tapi Kakak yang bilangin ke Kak Eder biar jemput Ele di apartement,"

__ADS_1


" Iya sayang,, Kakak akan kasih tahu Eder. Udah ya,, byee,,"


" Byee,,,"


Seusainya percakapan akhirnya Edward bisa menghela nafas lega.


" Untung saja Ele percaya, aku saja tidak mengerti bagian bunga apalagi membeli. Yang ada akan memalukan diriku sendiri saja di depan Ele," gumam Edward.


' Pergi ke apartement Ele sekarang juga, bawa dia ke toko bunga untuk membeli bunga. Pilihkan bunga yang terindah untuk nya, awas saja jika sampai membuat dia tidak puas akan pilihanmu.'


Isi pesan menyuruh disatukan dengan ancaman kepada Eder.


" Selesai!" ia melemparkan ponselnya di ranjang lalu meringkuk malas di atas ranjang. Ia begitu lelah sehingga bisa langsung terlelap.


Sementara di tempar lain, Eder yang baru saja hendak memejamkan matanya harus mengurungkan niatnya ketika mendapat notif pesan tersebut.


" Lagi dan lagi!" membantah juga tidak ada artinya, padahal Eder sudah mengenakan piayama untuk tidur dan harus mengganti pakaiannya lagi.


_____


Suara deruan mobil dari luar apartement membuat Elena terperanjak dan sudah bisa menebak bahwa itu adalah Eder.


Ia langsung melangkah keluar dan benar dugaannya, kini Eder tengah berdiri di samping mobil menanti Elena.


" Silahkan Nona,," kata Eder seraya membuka pintu mobil belakang.


Setelah Elena masuk, Eder juga ikut masuk lalu segera menyetir mobil dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka selain dengusan kesal yang berulang kali Elena ciptakan.


' Aku benci situasi ini! kenapa sih Kak Eder ini begitu dingin sekali? entah tanya tanya gitu ke Ele, menyebalkan!' ia mengutuki Eder dalam hatinya, tidak untuk dalam keadaan nyata.


Untuk mengusir kebosanan dan kekesalannya, Elena mengambil ponselnya ahli ahli mencari sesuatu yang membuatnya lebih tenang.


Eder yang sedang focus menyetir tidak sengaja melirik kaca di dalam mobil sehingga dapat melihat Elena yang asyik memainkan ponsel.


' Begitu asyiknya memainkan ponsel, bahkan mengucapkan sepatah kata pun atau sekedar menyapa untukku tidak ada. Stop Eder! berhenti berharap yang tidak tidak, dia adalah majikanmu, maka sepatutnya ingat posisimu.' Batin Eder.


' Kan begitu dingin, entah marahi aku kek main HP biar ada topik pembicaraan. Dasar manusia es!' Gerutu Elena dalam hati.


Tidak terasa dalam keheningan mereka akhirnya mereka sampai di toko bunga. Eder turun dengan cekatan namun malah menemukan Elena sudah turun dari mobil dengan ekspresi muka di tekuk.


" Sorry Nona karena saya telat turun nya," kata Eder dengan menunduk.


" Stop Kak! kenapa sih Kak Eder gak bisa bersikap formal saja ke Ele? sudah berulang kali Ele katakan jangan terlalu sungkan. Ele gak suka situasi seperti ini membuat mood Ele hancur saja," cebik Elena yang malah tidak senada dengan pikiran Eder.


" Bukankah saya sudah lakukan itu Nona? anda adalah majikan saya jadi saya harus menghormati anda Nona," balas Eder dengan nada datar yang semakin menambah kekesalan Elena.


" Berhenti menyebutku Nona! panggil saja aku Ele seperti Kak Edward memanggil ku," suar Elena dengan manyun.

__ADS_1


" Maafkan saya Nona, saya adalah anak dari bawahan Uncle Evans dan saya tidak ada hak menyebut nama anda sembarangan. Saya dengan Tuan Edward berbeda, saya hanya bawahan dan dia adalah atasan saya." Tutur Eder yang memberi suatu retakan kecil dalam hati Elena.


' Apa begitu sulitnya mengucapkan namaku saja? apa derajat antara majikan dengan bawahan begitu penting? jika itu penting maka lebih baik Kak Eder jangan menjadi bawahan. Lebih baik dia menjadi orang biasa pada umumya,' Lirihan perih dalam hati Elena yang tak dapat ia ungkapkan secara langsung.


" Ayo Nona,," kata Eder sehingga membuat Elena tersadar lalu melangkah memasuki toko itu.


Elena dan Eder menatap begitu banyak bunga yang indah dengan kreasi dan bentuk yang berbeda beda.


" Silahkan di pilih Tuan, Nona,," tutut penjaga toko itu dengan ramah.


Eder memang cukup lihai dalam memilih bunga karena dulu sewaktu kuliah Edward sering menyuruhnya membeli bunga lantaran banyaknya para fens mereka. Dan bunga bunga itu akan mereka lempari dengan asal kepada semua fens mereka mungkin dengan alasan sebagai imbalan bagi mereka.


Dari macam banyaknya bunga, mata Eder berbinar tak karuan ketika sorot matanya tertuju pada satu ragam bunga yang berbeda dari yang lain.


Ia langsung beranjak dan mengambil bunga itu, "bunga ini indah sekali bentuknya, pantas sekali untuk bunga pernikahan atau lamaran untuk seorang wanita. Seandainya aku bisa memiliki mu Elena, tapi aku sadar derajat antara kita berbeda kasta." Bisik hati Eder.


" Kak,," ucapan Elena membuyarkan lamunan Eder.


" I,, iya,," Eder memejamkan matanya berulang kali.


" Ini,, mungkin bunga ini lebih pantas," kata Eder seraya memberikan bunga yang ia pegang pada Elena.


Demi apapun, untuk pertama kalinya jantung Eder berdebar sekecang ini, padahal hanya memberi bunga saja pada Elena sudah membuat ia seakan melamar saja. Dan begitu juga sebaliknya, Elena juga merasakan hal yang sama bahkan melebihi Eder. Entah mengapa hatinya seakan berbunga bunga bahagia.


' Hanya dalam menemani memilih bunga dan memberi saja sudah membuatku *seperti habis maraton saja jantungku. Hanya memberi karena menemani saja Eder bukan melamar.' Batin Eder.


' Aaa,, seandainya ini pemberian Kak Eder karena dasar cinta untukku,' Batin Elena*.


" Tuan,, Nona,, kalian pasangan yang serasi," kalimat yang penjaga toko itu ucapkan sontak membuat keduanya tersadar pada lamunan masing masing.


" Emm,, maaf maaf,," ucap Elena dan Eder bersamaan.


" Makasih Kak," kata Elena setelah mengambil bunga itu dari tangan Eder.


" Hu um,, sama sama," Eder menjadi canggung sendiri.


_____


CieeešŸ˜„


LIKE KOMEN DAN VOTE


Ayo mampir di karya author sebelah.


" Early Marriage "


"Kisah cinta Aurora "


SALAM^^

__ADS_1


__ADS_2