
..."Seperti apapun caramu memintaku untuk pergi, aku akan tetap disini. Disini sebagai pengagummu dan terus mencintaimu."...
...***...
HAPPY READING 🤍
"Maaf karena telah lancang menaruh rasa padamu," lanjut Eder lagi.
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, Elena kembali diam membisu. Bukankah itu hal yang bagus untuk mereka berdua kedepannya? Toh, perasaan mereka akan saling terbalaskan bukan? Lalu untuk apa Eder minta maaf?
"Aku bodoh karena telah terlambat menyadari ini, sampai-sampai aku harus menyatakan ini padamu. Aku tahu perasaan mu padaku juga demikian. Namun aku lebih memilih untuk menghilangkan rasa ini," tutur Eder dengan lirih.
Deg!
Lagi dan lagi Elena semakin membeku di tempatnya. Air matanya bahkan setitik demi setitik jatuh begitu saja.
Apa maksud Eder melontarkan kalimat yang awalnya manis, kini malah menancapkan pisau tajam kedalam hatinya? Lalu, seperti apa yang pria ini inginkan lagi?
Eder bahkan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan kalimatnya. Dadanya mendadak tercekat dan sakit saat melihat setetes butiran bening jatuh membasahi wajah cantik wanita itu. "Aku merasa tidak pantas untukmu Ele. Aku tidak cukup pantas dan sekasta untuk bersanding denganmu. Katakan saja, bahwa aku memang bodoh dan idiot karena telah lancang jatuh hati pada anak Bosnya sendiri." tutur Eder lirih.
Lagi dan lagi Elena merasakan sakit. Bukan fisiknya, melainkan hatinya, hatinya benar-benar sakit sekali saat ini juga. Bahkan ia sendiri masih belum menyangka bahwa Pria yang telah lama ia kagumi dengan sejuta bahkan berjuta-juta hal kini malah membuatnya menangis sesakit ini.
Tak tahan lagi membendung air matanya. Ia bangkit berdiri, hendak berjalan tanpa arah. Namun tak sampai itu terjadi, Eder menahannya sehingga langkahnya kembali terhenti.
__ADS_1
"Maafkan aku Elena. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk melukai hatimu. Aku hanya merasa bahwa aku bukanlah Pria yang pantas untuk seorang Elena Scrith apalagi jika sampai menjalin hubungan denganmu. Biarlah aku menanggung semuanya ini akibat ulahku sendiri. Aku tidak ingin kamu menaruh rasa lebih dalam lagi padaku. Berikan saja hatimu untuk Pria lain yang lebih sekasta dan sepadan denganmu, aku akan belajar ikhlas tanpa harus melibatkan siapapun untuk melupakanmu dari dalam hatiku." Eder kembali melontarkan kalimatnya.
Semua yang telah ia pendam selama ini ia ungkapkan saat ini juga. Ia benar-benar tidak sanggup menahan ini semua sendirian. Bahkan iapun lelah berpura-pura terlihat biasa saja saat gadis itu menyatakan tentang perasaan untuk dirinya.
Elena kembali terisak. Air matanya semakin tak terbendungnya lagi. Lagi dan lagi butiran bening itu jatuh semakin deras.
"Setelah sekian lama kamu menunjukkan perhatianmu, kepedulian mu padaku dan seperti apa kamu memanjakan ku juga, kamu malah menyuruhku untuk pergi? Itu bukan maksudmu?" balas Elena dengan isak tangisnya.
Ia kembali mengatur nafasnya yang sudah memburu, ia benar-benar sudah getir sekali dan sangat gemetaran sangking sakit yang ia rasakan. "Aku tahu, dulu ketika masih SMA mungkin kamu masih menganggap ku sebagai gadis kecil yang belum pantas tahu tentang cinta. Dan setelah sekarang? Diumur ku yang sekarang? Apakah aku masih bisa dibodohi dengan kalimat bahwa kamu hanya sebatas Kakak yang dimana selalu ada untukku setelah Kak Edward?" ungkapnya lagi.
"Hahahaha!" Elena tertawa gambar bersamaan dengan rasa sakit dalam hatinya.
"Aku tidak bodoh Kak Ed. Sejauh ini aku berjuang, berpura-pura seperti gadis kecil yang kamu anggap agar selalu mendapatkan perhatian darimu. Namun apakah disini hanya aku yang salah? Salah jika aku juga menaruh rasa padamu Kak? Salah jika aku mencintaimu sedalam ini? Salah? Tolong katakan padaku bahwa ini tidak salah!" tuturnya lagi dengan nafas yang memburu. Tangisnya benar-benar pecah seketika itu juga.
Untuk sesaat Elena merasakan kehangatan dan ketenangan dalam dirinya. Namun didalam hatinya? Tentu saja tidak. Terasa masih begitu sakit sekali.
"Kamu jahat Kak Ed. Kamu jahat!" ucapnya tak berdaya sembari memukuli dada bidang Eder dengan sangat frustasi.
"Aku pikir setelah kamu mengatakan bahwa kamu juga menaruh hati padaku, itu akan menjadi awal yang baik untuk kita kedepannya. Namun nyatanya? Kamu menghancurkan diwaktu yang sama saat aku terbang dan terjatuh saat mengetahui bahwa kamu memintaku untuk pergi dan melupakan mu? Dan dengan mudahnya kamu juga mengatakan bahwa kamu akan melupakan ku? Membuang rasamu untukku?"
"Sakit kak! Sakit! Ini bahkan lebih menyakitkan dari awal saat aku tahu kamu hanya menganggap ku sebagai seorang adik. Ini sangat menyakitkan."
"Aku terluka dengan ini semua. Aku terluka dan sakit ketika harus menerima bahwa semua perjuanganku untukmu malah menjadi butiran debu yang tak berharga lagi. Aku mencintaimu dengan tulus kak, tanpa memandang kamu itu siapa. Mau kamu anak buah anak buahnya Daddy sekalipun, cinta tetaplah cinta. Apa cinta harus terbalas saat keduanya satu pangkat? Apakah demikian yang disebut cinta?" Elena kembali berucap dengan penuh penekanan dan rasa sakit.
"Ele pikir Kakak yang lebih mengerti tentang perasaan. Namun nyatanya? Aku harus terjatuh dan terluka dengan ini semua. Sakit, sakit sekali sekali kak," lanjutnya masih dalam dekapan Eder.
__ADS_1
Eder sendiri hanya bisa diam, mencoba menetralisir perasaannya saat ini. Hatinya mencolos ikut sakit saat mendengar isakan gadis cantik itu bersamaan dengan semua yang dilontarkan olehnya.
"Maafkan aku Ele, maaf. Aku hanya mencoba memberitahu,bahwa aku tidak pantas untukmu," lontar Eder. Mencoba memberikan jawaban sekaligus penjelasan dari semua maksud ucapannya tadi.
Elena melepaskan diri dari dekapan tersebut. Menatap Eder dengan tidak percaya. "Sedangkal itukah caramu mencintaimu seseorang kah? Semudah itukah kamu berpikir dan memutuskannya dengan satu pihak saja? Hahaha!"
"Apanya yang tidak pantas? Masalah kasta? Haha!" Elena tertawa hambar.
"Jika dibandingkan dengan diriku dan dirimu, aku hanyalah gadis lemah yang tidak bisa berbuat apapun. Masalah harta? Kekayaan? Itu bukan milikku, itu adalah hasil pencapaian oleh kedua orangtuaku, bukan hasilku. Lantas, hal seperti apa yang pantas dijadikan sebagai masalah antara tidak pantasnya kamu dengan aku?" tuturnya dengan nada yang semakin melemah. Dia benar-benar semakin tidak paham dengan jalan pemikiran Eder.
"Aku hanyalah gadis lemah yang tidak berdaya tanpa bisa melakukan apapun. Namun aku hanya beruntung terlahir di keluarga serba ada dan harga yang berlebihan. Ingat! Hanya beruntung! Bukan berarti aku adalah penghasil atas semua kekayaan itu Kak," lirihnya semakin tak terdengar lagi.
Eder yang tak kuasa lagi. Menarik gadisnya kembali masuk dalam dekapannya, berulang kali mengecup kening Elena dengan rasa sakit yang kini ikut menghujaninya.
"Maafkan aku Ele."
"Kamu jahat Kak!"
"Iya, aku jahat. Aku jahat! Katakan semuanya padaku Ele, sampai kamu lega. Aku siap untuk semuanya itu! Maki aku, bila perlu benci saja aku," ucapnya dalam dekapannya yang begitu erat.
"Aku bahkan semakin mencintaimu kak."
Eder hanya mampu terdiam tanpa mampu berucap lagi.
"Akan ku coba untuk mengerti dirimu dan menyamakan antara kita berdua Ele," batinnya
__ADS_1