Mafia And Me 2

Mafia And Me 2
Saya Hanya Wanita Lemah Yang Tidak Punya Kekuasaan


__ADS_3

"Hay,,,, sayang,,,,"


Suara dengan nada menggoda senyuman miring.


Lea melangkah mundur menjauh dari Edward, berulang kali ia menoleh kebelakang bahkan semakin dekat Edward melangkah padanya.


" Stop!" tegas Lea dengan tubuh gemetaran.


Edward mengangkat bahu sambil tersenyum kecut. " Mengapa? aku kemari ingin bertemu dengan Ibu dari anakku dan terlebih dengan Putraku," imbuhnya dengan santai.


" Jika ingin bertemu dengan Hansel itu terserahmu karena untuk hari ini ia belum masuk sekolah. Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda, saya undur diri," balas Lea hendak melangkah keluar namun belum sempat ia keluar dari pintu Edward malah menahannya.


Menepis dengan kasar dan melemparkan tatapan tidak suka pada Edward. " Tolong bersikap sopan pada seorang yang di bawah anda," kata kata penuh penekanan.


Edward sedikit tidak suka akan ucapan Lea padanya, " mengapa begitu terburu buru? memangnya ingin kemana?" balas nya.


" Saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda, saya harap aanda bisa mengerti itu." Ucap Lea dengan tubuh gemetaran.


Entah mengapa setiap mendengar sebutan yang Lea ucapkan padanya seakan memancing amarah Edward.


" Hormati aku! aku adalah Ayah dari Hansel, apa kamu tidak tahu tata krama?" Edward sudah terpancing amarah.

__ADS_1


" Hormati? Ayah dari Hansel? prokk prokk prok,,, anda benar sekali. Maaf jika saya lancang dan ngasal berbicara pada TUAN! anda yang terhormat TUAN! saya hanya wanita lemah yang tidak punya kekuasaan apapun. Saya minta maaf jika saya memang salah pada TUAN, saya permisi," ucapan dengan penekanan diiringi dengan air mata yang hampir jatuh.


' Deg!' Edward seakan tersambar petir di pagi hari akan ucapan Lea. Padahal ia tidak bermaksud untuk Lea mengucapkan kata kata itu bahkan sampai merendahkan dirinya.


" Tuan masuk saja ke dalam dan temui Hansel, saya permisi,,," kata Lea lagi lalu melangkah pergi setengah berlari.


Melewati jejalanan penuh isak tangis. Yang di pikirannya saat ini adalah hanya kebencian dan kebencian yang terus menerus mengalir dan tak pernah terluapkan pada Edward. Rasa benci dan dendam nya semakin mendalam tak dapat ia ungkapkan lagi.


" AAAAAAAAA!!!" Teriak frustasi di pinggiran jalan yang sepi.


" Aku sangat membencimu EDWARD!!!!" isak tangis Lea, ia tak kuasa lagi untuk melangkah dan malah terduduk di rumputan hijau penuh air mata.


" Hikss hikss,,, aku sangat membencimu!" Pekikan Lea berusaha untuk meluapkan segala yang ia pendam selama ini.


Duka semesta tak mampu lagi menahan tangis, raungan pecah mengagetkan pertiwi yang baru tersadar. Terlalu banyak kesedihan yang ia tanggung tak dapat terbagi. Begitu mengerti tentang cerminan hati, masa lalu hadir bagai potongan film. Yang datang dengan jelas membawa banyak air mata.


Berganti air mata deras mengalir mengagetkan lamunan meremas dada terkoyak. Suatu masa tumbuh cepat, menyumbat aliran udara. Sesak dan sakit seakan ingin memecahkan paru paru.


" Kuat, hatiku harus kuat seperti Matahari yang terus bersinar tanpa henti," bisik hati nya menenangkan diri sendiri.


______

__ADS_1


Tidak terasa waktu begitu cepat berputar, yang tadinya pagi kini sudah menjadi senja hampir gelap. Lea berhasil mendapatkan perkerjaan di sebuah toko roti dan diterima menjadi seorang pelayan disitu.


Bersyukur? tentu saja itu adalah panjatan utama yang ia ucapkan dengan bahagia, walaupun toko roti itu memang tidak terlalu besar tapi gaji bulanan yang di tawarkan cukup lah untuk kebutuhan sehari hari dengan anaknya.


Dengan perasaan senandung ria bahagia ia berlari lari di pinggir jalanan seakan lupa dengan rasa sesak di pagi tadi, karena baginya kesedihan sesaat biarlah sesaat dan buka jalan yang baru dengan senyuman.


" THANKS GOD," kata batin penuh rasa syukur.


Ia melangkah dengan rasa syukur sampai tidak terasa telah mencapai depan rumah, tanpa ada rasa keraguan ia membuka pintu rumah, namun,,,,,


" BERTEMU LAGI," Suara dingin yang berasal dari seorang Pria yaitu Edward yang masih berada di dalam rumahnya.


" Mengapa masih disini?" Dadanya naik turun menahan sesak sakit hati setiap kali melihat Edward.


" Apa ada yang salah?" Tanya Edward dengan santai.


" Sa,,,"


" MOMMY, DADDY,,"


_____

__ADS_1


TETAP LIKE KOMEN DAN VOTE


SALAM^^


__ADS_2