Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
Bab 11. Berakhir di Rumah Sakit


__ADS_3

El yang baru saja sampai di rumah melemparkan tasnya ke atas kasur. Gadis itu tertunduk lesu saat mengingat apa yang terjadi di apartemen Arduino tadi. Ar memakan hasil masakan el hingga habis padahal makanan itu sungguh tidak enak rasanya. El merasa sangat bersalah kepada Arduino.


" Entah apa yang terjadi pada pria itu sekarang. Argggggh kenapa sih harus khawatir. Siapa tahu dia bakalan kapok dan besok udah nggak minta buat dimasakin lagi."


Elisa menjatuhkan tubuhnya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal. Namun tak berselang lama ia pun bangkit dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. El pun secepatnya keluar dari kamar. Ia tersenyum lebar saat melihat sang bunda berada di dapur.


" Bund, bisakah El belajar memasak?"


Jasmin mengerutkan kedua alisnya. Sejak kapan anak gadisnya itu jadi tertarik dengan pekerjaan dapur. Tapi Jasmin kemudian tersenyum. Ia pun mengangguk menuruti keinginan putri semata wayangnya itu.


" Ada angin apa El tiba-tiba ingin bisa memasak."


" Pengen aja, katanya mekipun jadi wanita karir wanita juga harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah?"


" Ehmm benar juga sih. Tapi bunda seneng El mau belajar sesuatu yang baru."


Elisa tersenyum kaku. Alasan sebenarnya tentu saja bukan itu. El pun mulai mengikuti instruksi-instruksi yang disampaikan oleh sang bunda. Paling tidak besok jika harus memasak kembali oleh Arduino, gadis itu sudah punya gambaran.


Sedangkan di sisi lain, si sebuah apartemen Arduino tengah meringis kesakitan merasakan perutnya yang begitu sakit. Pria itu penyuka pedas akan tetapi entah seberapa cabai yang dimasukkan dalam masakan yang dibuat gadis itu sehingga membuat Ar kesakitan sekarang. Karena tidak mau mengecewakan Elisa, Ar bahkan memakan semuanya tanpa sisa. Namun yang terjadi saat ini adalah ia benar-benar merasakan sakit di perutnya.


" Rok, kesini cepat. Bawa obat sakit perut ya."


Roki yang baru saja sampai di tempat tinggalnya kembai meluncur ke luar menuju apartemen sang bos. Tidak banyak bertanya ia pun mengikuti permintaan Arduino.


" Bos are you Ok?"


Roki sedikit khawatir pasalnya Arduino nampak pucat. Keringat dingin memenuhi seluruh tubuhnya. Roki pun berpikir sakit Arduino ini tidak akan sembuh dengan hanya obat. Tanpa persetujuan Ar, Roki kemudian menggendong Ar yang sudah sangat lemas untuk dibawa ke rumah sakit.


Sekitar setengah jam berlalu Ar sudah berada di depan pintu IGD. Roki bernafas lega saat melihat dr. Dika yang tidak lain kakak ipar Ar.


" Dok ...!"


" Roki, ar kenapa?"

__ADS_1


" Tidak tahu dokter tadi dia nelpon saya minta dibawakan obat sakit perut. Tapi saya khawatir jadi saya bawa saja ke sini.


Dika mengangguk. Ia kemudian meminta Roki untuk meletakkan Ar ke atas brankar dan membawanya masuk ke ruang tindakan. Roki selama ini tidak pernah melihat Ar sesakit itu. Bahkan terkena tembakan peluru, sabetan belati, Ar tidak pernah kesakitan seperti saat sekarang.


" Apa yang kau makan tadi ar?"


" Hanya mie goreng tapi cabe nya nggak ketulungan banyaknya. Kali ada tuh cabe setengah kilo dimasukin semua."


" Hati-hati, aku tahu kamu suka pedes tapi kira-kira. Kalau tidak usus mu yang kena."


" Baiklah kakak ipar. Tapi tunggu, jangan beritahu Sisi ataupun mommy dan daddy ok. aku tidak ingin mereka khawatir."


" Baik, istirahatlah beberapa hari disini. Jangan membantah atau aku akan mengatakannya."


Ar hanya diam lalu mengangguk. Ternyata jika sudah berada di keluarganya ia bukanlah pemilik tahta tertinggi. King mafia itu tetaplah anak paling kecil dan adik kecil. Bahkan dengan kakak iparnya Arduino tidak bisa membantah ataupun melawan. Padahal usia mereka hanya terpaut satu tahun saja. Akan tetapi Dika benar-benar berlaku seperti seorang kakak.


" Haih, jadi tidak bisa bertemu dengan bocah itu sementara waktu."


*


*


*


" El, kemarin kamu kemana sih. Kabur gitu aku ditinggal sendiri."


" Eh, sorry Lind. aku ada urusan sebentar. Mungkin beberapa waktu aku akan sering pergi. kamu nggak pa-pa kan."


" Santai aja, setiap orang pasti punya urusan pribadi. Oh iya kemarin aku bertemu dengan senior mu. Si Edzar. Aku lihat-lihat kayaknya dia suka kamu tuh."


Elisa hanya mendengus pelan. Ia benar-benar tidak ingin lagi berhubungan dengan Edzar. Entah apapun itu urusannya gadis itu tidak ingin lagi terlibat dengan Edzar.


Tapi saat ini ia merasa bingung kenapa Olind tiba-tiba membahas mengenai Edzar. Bahkan Olind terkesan membujuknya untuk kembali dekat dengan Edzar. Tidak mau berpikiran yang aneh-aneh, ia berusaha menanggapi setiap kata yang keluar dari mulut temannya itu.

__ADS_1


Kuliah pun berlangsung dengan lancar. Elisa sangat lega karena selama dosen mengajar Olinda berhenti membicarakan Edzar. tak ingin mendengar ocehan Olin, El bepura-pura ingin pergi ke toilet. Akan tetapi dia tetap membawa tasnya.


" Anak itu kenapa sih tiba-tiba ngomongin soal Edzar."


" Apa sedang memikirkan ku?"


" Astagfirullah."


El sungguh terkejut saat menjumpai Edzar berdiri tepat dibelakangnya. Sejak kapan pria itu tiba-tiba muncul. Sudah macam hantu saja.


" maaf, aku tidak pernah memikirkan mu."


" Oh ayolah El jangan mengelak, baru saja kau menyebut nama ku."


" Maaf kak, aku tidak ada waktu untuk basa-basi. Dan, aku tidak ingin pacarmu itu ngamuk. Ntar dikira aku godain kakak lagi."


" Tapi kau memang menggoda El, sungguh."


Elisa mengerutkan kedua alisnya. Ia tak habis pikir mengapa pria ini semakin agresif terhadapnya.Elisa pun dengan langkah seribu meninggalkan Edzar yang masih berdiri ditempatnya sambil tersenyum. mood El seketika langsung hancur. Tadi dia yang sangat senang karena berhasil karena kemarin berhasil membuat makanan dengan sang bunda, seketika berganti rasa kesal dengan ulah Edzar. Akhirnya El memutuskan untuk ke toko bunga sang bunda dan membantu bundanya di sana.


" Lho El, kok sudah pulang."


" Iya bund, hari ini hanya satu kelas saja. Jadi El pulang cepet. Ada yang bisa El bantu?"


Jasmine tersenyum, ia kemudian meminta sang putri untuk mengelompokkan bunga-bunga yang baru datang itu sesuai jenis bunga dan memotong tangkai yang terlalu panjang.


Di sela-sela kegiatannya el kembali bertanya kepada sang bunda mengenai ayahnya. El khawatir ayahnya akan datang dan menganggu bundanya. Tapi Jamine menggeleng, terakhir baskoro datang adalah waktu itu. El pun bernafas lega, ia bersyukur akan hal tersebut.


Kling ...


Sebuah bel yang ada di pintu toko bunga Jasmine berbunyi menandakan ada pembeli yang datang. El berinisiatif untuk berdiri dan melayani pembeli tersebut.


" Selamat datang di Jasmine florist, ada yang bisa saya bantu tuan?"

__ADS_1


" Adrina??"


TBC


__ADS_2