
Ar kembali dibawa ke ruang perawatan sedangkan Dika menuju ke kantor direktur yakni ruangan milik sang Om Bisma.
“ Ada pa Ka?”
Tanpa basa-basi Bisa bertanya kepada keponakannya itu. Meski mereka hanya terpaut 5 tahun namun Bisma adalah adik Sekar, ibu Dika. Sehingga Dika pun menaruh hormat kepada om nya tersebut.
“ Ini tentang adik iparku om. Ar, saudara kembar Silvya.”
“ Kenapa memangnya dia?”
Dika kemudian memberikan rekam medis milik Ar. Ia juga memberikan laporan hasil tes MRI yang dijalani oleh Ar baru saja. Bisma sedikit terkejut dengan hasilnya.
“ Lalu apa keluhan yang dia rasakan?”
“ Itulah anehnya Om, Ar tidak merasakan sakit atau mengeluh apapun. Dia tadi pagi-pagi dibawa kesini dalam keadaan pingsan. Tapi saat ku anya apakah merasakan sakit, dia hanya menggelengkan kepalanya.”
Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh ini sangat aneh. Apa mungkin kekuatan fisik Ar yang bagus sehingga apa yang terjadi pada organ dalam nya tidak terasa oleh Ar. Namun meskipun begitu seharusnya tetap terasa.
“ Lalu bagaimana kondisi ginjalnya?”
“ Buruk, ginjal Ar benar-benar berada dalam kondisi sangat buruk.”
“ Jadi solusinya?”
“ Transplantasi.”
Ya hanya cara itu yang harus dilakukan untuk menyelamatkan hidup Ar. Selama ini Ar tidak pernah tahu bahwa tubuhnya sakit. Dika yang hanya sekali lihat bisa mengetahui bahwa adik iparnya itu mengalami keadaan yang berbahaya.
Bisma mengangguk, Ia paham maksud dari Dika. Namun Bisma memberi saran kepada Dika untuk dia menyampaikan semuanya ini kepada Ar. Dika pun mengangguk, bagaimanapun juga ar harus tahu kondisi tubuhnya saat ini.
Dika berjalan keluar dari ruangan Bisma dengan gontai. Mau tidak mau ia sepertinya harus menyampaikan hal ini kepada keluarga istrinya dengan atau tanpa persetujuan Ar.
“ Ar, bagaimana perasaanmu?”
“ Feeling good. Jangan menampakkan wajah begitu kakak ipar. Aku tahu apa yang akan kakak ipar katakan. Pleasee jangan kasih tahu orang rumah. Aku kan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri.”
__ADS_1
“ Caramu sendiri? Mati maksudmu dan mereka hanya akan menerima jasadmu nanti, begitu?”
Dika sedikit terbawa emosi dengan sikap santai Ar. Sungguh adik iparnya itu begitu kurang ajar, apa ia tidak merasa bahwa dia begitu membuat Dika khawatir saat ini.
“ Wohooo santai dr. Dika. Enak saja mati, ya enggak lah. Apa kabar cewek gue nanti.”
“ lo punya cewek?”
“ Laaah belum tahu die?”
Dika menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah hospital bed milik Ar. Kali ini keduanya berbicara santai. Dika melepas atributnya sebagai seorang dokter dan berbicara kepada Ar layaknya seorang teman.
Disela-sela obrolan itu Dika memberitahu keadaan Ar yang ternyata adik iparnya sudah tahu. Dia hanya acuh karena tidak merasakan apa-apa.
" Lalu siapa yang akan jadi donormu? Sisi pasti cocok, dia kembaranmu."
" Tidak!! Tidak boleh sisi, dia wanita. Suatu hari pasti akan hamil lagi. Aku tidak boleh membebankan ini kepada Sisi. Tolong jangan kasih tahu Sisi. Mommy dan daddy juga tidak, mereka sudah tua. Aku akan cari donor ku sendiri?"
" Dengan cara membunuh orang?"
Ar kemudian menjelaskan rencananya. Salah satunya yakni dengan mencari donor dari para anak buahnya. Tentu saja ia akan memberikan sejumlah uang sebagai imbalannya.
" Aku juga akan mencari di bank donor. Siapa tahu ada nanti."
" Jangan kak, aku yakin mereka lebih membutuhkan daripada aku biarkan bank donor itu diperuntukkan bagi pasien di sini. Aku akan mencari untukku sendiri kak."
Dika menghela nafasnya berat. Ar persis seperti sang istri yang begitu keras kepala jika mempunyai kehendak. Dika hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua itu terhadap Ar.
" Baiklah, kau boleh pulang. Tapi jangan sampai kau lupa meminum obatmu. Kali ini kau benar-benar akan bergantung dengan obat itu."
Ar mengangguk mengerti. Semakin terbatas saja ruang gerak Ar kali ini. Ia sungguh kesal dengan dirinya sendiri yang lemah. Banyak persoalan yang harus diselesaikan tapi tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi.
" Apakah ini merupakan hukuman untukku karena sudah sangat jahat sebagai manusia. Jika memang benar, aku pasrahkan hidupku pada-Mu. Karena sejatinya aku adalah milik -Mu maka sudah sepatutnya aku kembali pada -Mu."
🍀🍀🍀
__ADS_1
Roki bersama Benjiro datang ke rumah sakit untuk menjemput Ar. Mereka berdua tentu terkejut dengan penjelasan dokter Dika mengenai keadaan Ar saat ini.
Roki tanpa berkata apa-apa langsung menghubungi Bruno yang berada di kota P. Ia meminta rekannya itu untuk mengumumkan kepada seluruh anak buahnya agar melakukan tes kesehatan dan mencari siapa pun yang bersedia menjadi donor sang King.
Roki juga mengatakan bahwa akan ada imbalan yang tidak sedikit untuk mereka yang bersedia jadi pendonor. Dengan catatan memang cocok dengan tubuh Ar.
" Dok, apakah aku dan Ben bisa menjadi donor juga?"
" Tentu bisa Roki, asalkan kalian berdua cocok dengan golongan darah Ar. Intinya harus melakukan tes dulu agar bisa diketahui cocok atau tidaknya"
Roki dan Benjiro bahkan langsung meminta dokter Dika untuk melakukan tes. Namun sayang keduanya tidak bisa jadi pendonor dari golongan darah saja baik Roki maupun Benjiro tidak sama dengan Ar.
Wajah keduanya seketika murung. Mereka merasakan kesedihan yang mendalam. Ar yang melihat kedua asisten sekaligus teman dekatnya itu hanya mengerutkan kedua alisnya.
" Hei, apa-apaan wajah lo pada. Gue masih hidup, jangan seolah-olah gue bakal mati besok deh."
Ar berteriak kesal. Ia kesal jika dianggap sebagai orang berpenyakitan meskipun fakta tidak bisa dipungkiri bahwa dia memang sakit.
" Udah ayook, gue pengen balik. Males gue disini mulu, bau obat."
Ar bangkit dari duduknya, kedua orang itu menatap ke arah dr. Dika dan kakak ipar Ar itu hanya mengangguk kecil.
Benjiro dan Roki juga diberitahu bahwa emosi Ar akan menjadi agak kurang stabil. Mereka berdua harus bisa memahami lebih.
" Hasih, nggak sakit aja itu bos emosinya labil apalagi sakit, bakalan lebih-lebih ini mah," ucap Roki.
" Ho oh, bener tuh," sahut Benjiro.
" Ho ah, ho oh. Ente mah kagak menangin dia tiap hari, ane nih yang tiap hari ngejogrok di depan doi. Dan berasa naik wahana kadang naik kadang turun secara dadakan."
Benjiro terkekeh geli mendengar setiap apa yang terlontar dari mulut Roki. Ia cukup tahu bagaimana repot nya Roki dengan semua kemauan Ar.
Tapi meskipun begitu Roki sangat menyayangi Ar. Begitu juga Benjiro, ia juga begitu menyayangi Ar. Mengetahui kondisi kesehatan Ar keduanya tadi sempat menangis. Tapi tentu saja tidak mereka lakukan di depan Ar. Mereka tahu Ar paling tidak suka orang disekitarnya menangis karena dia. Maka dari itu Ar kukuh untuk mencegah Dika memberitahu kondisi tubuhnya terhadap keluarganya.
TBC
__ADS_1