
" Adrina??"
" Maaf tuan?"
Orang tersebut kembali sadar saat El berbicara. Sesaat ia terpana melihat El yang berdiri di depannya seperti seseorang yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Sedangkan El sedikit tidak nyaman saat melihat pria tersebut begitu intens menatapnya.
" Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?"
" Ah maaf, bisa tolong carikan saya bunga. Terserah nona apa saja untuk saya berikan kepada adik saya."
El mengangguk, meskipun sedikit bingung tapi El berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada pembeli. El kemudian berjalan menuju bunga-bunga nya dan mengambil beberapa
" Apakah Anda menyukai ini tuan?"
Elisa memperlihatkan setangkai lili putih. Ia akan mengambilkan sebuket jika orang itu menyukainya. Bukannya menjawab pria tersebut malah kembali tertegun. El bahkan harus memanggil sekali lagi sang pembeli hingga pembeli tersebut menganggukkan kepalanya. El lalu mengambilkan beberapa tangkai lagi untuk disusun menjadi sebuah buket.
" Silahkan tuan, bunga anda sudah siap."
" Terimakasih nona. Pilihan nona sangat bagus saya menyukainya. Maaf jika saya lancang, bolehkan saya tahu nama nona?
" Ahh, nama saya Elisa."
" Nama saya Dean. Terima kasih atas bantuan nona."
Elisa mengangguk, stelah membayar pria itu yang ternyata adalah Dean Benicio melenggang keluar dari toko. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.
" Adrina, aku menemukanmu kembali."
Rex sedikit terkejut melihat Dean yang keluar dari toko bunga dengan penuh senyuman. Akan tetapi ia tidak berani bertanya. Namun Rex heran semenjak meninggalnya Adrina, tuannya itu tidak pernah lagi membawa bunga lili putih bahkan ia sangat benci dengan bunga tersebut. Akan tetapi kali ini Dean bahkan terlihat bahagia saat membawa bunga tersebut. Berkali-kali Dean bahkan menciumi bunga lili putih tersebut.
" Selanjutnya kita akan kemana tuan?
" Langsung menuju ke tempat adikku."
Rex mengangguk mengerti. Ia kemudian menekan pedal gasnya dan berlalu dari depan toko bunga tersebut. Dean sekilas masih melihat ke belakang. Ia sangat penasaran dengan gadis yang bernama Elisa itu.
__ADS_1
Di sisi lain Elisa sedikit merasa heran, pasalnya sudah hampir sore tapi Ar tidak menghubunginya.
" Kemana pria tua itu, mengapa dia tidak menghubungiku?"
Baru saja El bergumam ponselnya sudah berbunyi. Buru-buru ia melihatnya. Dan benar, itu adalah pesan dari Ar.
" Bocah, beberapa hari ini aku ada urusan di luar kota. Jadi kamu tidak perlu memasak untukku."
Elisa mengerutkan kedua alisnya. Mengapa tiba-tiba Ar ke luar kota. Feeling nya pun berjalan, merasa sedikit aneh karena setelah makan makanan buatannya Ar tiba-tiba menghilang. El berpikir jangan-jangan pria tersebut sakit gara-gara dia.
" Kamu tidak sakit karena masakan ku kan?"
" Ehh tentu tidak. Aku baik-bak saja. Tapi memang aku sedang ada urusan kerjaan di luar kota. Jangan terlalu banyak berpikir."
El bernafas lega mengetahui Ar baik-baik saja. Ia pun kemudian melanjutkan kegiatannya membantu sang bunda.
Di rumah sakir Ar benar-benar kesal. Ia tidak bisa bebas bergerak. Namun hal yang membuatnya paling kesal yakni tidak bisa menemui gadis nya itu.
Dika yang melihat Roki jadi bulan-bulanan Ar hanya menggeleng pelan. Kelakuan Ar sama absurd nya dengan sang istri ketika di rumah.
Ar memperlihatkan wajah memelas nya kepada sang kakak ipar. Sedangkan Roki ia hanya terkekeh geli. Sang king mafia menciut saat berhadapan dengan suami dari saudara kembarnya itu.
" Bisakah aku pulang sekarang, pleaseee?"
Tawa Roki meledak seketika melihat tingkah manja Ar. Sungguh tidak mencerminkan mafia garang yang ditakuti banyak orang. Terlebih kata 'aku' yang diucapkan Ar membuat Roki semakin terbahak-bahak.
" Tunggulah 2 hari lagi. Kau masih diobservasi. Jika tidak ada gejala lain yang muncul maka kau boleh pulang. Menurut Lah, jangan menyusahkan Roki. Aku akan visit ke pasien yang lain dulu."
Ucapan panjang lebar dari kakak iparnya itu membuat Ar diam ditempat. Bahkan Roki yang tertawa cekikikan pun tak bisa ia balas.
" Awas kau Rok. Tunggu pembalasanku."
Ar sungguh kesal kepada asistennya itu. Ia benar-benar dianggap seperti anak kecil oleh Dika. Dika yang mempunyai dua adik tentu tahu bagaimana bersikap. Sekarang ditambah Ar, ia merasa mempunyai tambahan satu adik lagi.
Tring
__ADS_1
Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Roki. Pria itu mengerutkan kedua alisnya. Ar yang melihat tentu langsung tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tatapan Ar yang ditujukan kepada Roki membuat Roki meremang. Roki ragu untuk mengatakan hal tersebut kepada Ar.
" Katakan, atau seluruh gaji mu hingga akhir tahun ini aku hold.
" Huft, ini bos. Drake melihat Dean Benicio datang ke tanah air."
Ar tentu terkejut mendengar laporan Roki. Ia kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Drake, Ar memastikan apa yang sudah dikatakan oleh Roki, dan Drake membenarkan semuanya itu.
" Retas seluruh cctv yang bisa diretas. Jangan biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan."
" Siap King, apa perlu memberitahu Queen?"
" Jangan, biarkan dia fokus kepada Nataya dulu. Ini aan jadi urusanku. Laporkan kepadaku atau roki setiap pergerakan Dean. Jika dia berani macam-macam maka aku tidak akan segan."
Drake yang berada di markas Wild Eagle tentu mengerti apa yang dimaksud oleh Ar. Ia pun segera melakukan apa yang diinginkan oleh saudara kembar Queen tersebut.
Ar dan Roki sama-sama terdiam. Keduanya sama-sama tengah berpikir mengenai kedatangan Dean yang tiba-tiba. Setelah penyelundupan barang haramnya berhasil digagalkan, pria itu langsung terbang menuju tanah air.
" Apa yang dia inginkan?"
Ar kali ini harus waspada. Ia merasa Dean punya keinginan lain. Tidak mungkin pria itu sangat ngotot menjadi negeri ini sebagai sasarannya dalam memperdagangkan kan obat-obat terlarang jika tidak ada maksud lain.
Kartel Magna Arbor begitu terkenal di dunia bawah. Dia menguasai perdagangan barang haram itu tidak hanya di pasar benua Amerika tetapi juga di benua Eropa.
" Rok, selidiki asal-usul Dean. Aku merasa ada sebuah rahasia antara dia dan tanah air. Aku melihat obsesinya sungguh besar terhadap negara kita tercinta ini."
" Baik K, aku juga merasa ini tidak sesederhana ingin menjual obat-obatan terlarang. Ada hal lain yang membuatnya ingin menguasai perdagangan gelap di tanah air.'
" Ada apa sebenarnya?"
Jika Ar masih berpikir mengenai banyak kemungkinan. Roki sudah melenggang pergi meninggalkan ruan rawat Ar. Dia merasa harus bertemu dengan Benjiro. Saat ini Benjiro lah yang bisa ia ajak untuk berunding. Meskipun Ar tampak sehat-sehat saja namun Roki tidak mau membuat Ar berpikir terlalu banyak dulu, Itu akan mengganggu proses penyembuhannya.
Dean Benicio. Pict by pinterest
__ADS_1
TBC