
Rumah Sakit Jason, dimana semua orang sudah kembali dari atas air menjadi berada diatas tanah. Mata Jason berbinar, senyum tak lepas dari bibirnya saat ia mendapatkan banyak sekali bahan percobaan. Salah satunya adalah Malvis.
Siapa yang akan mengira bahwa ketua klan mafia Rogno Velenoso yang merupakan salah satu klan mafia besar itu menjadi salah satu dari bahan percobaannya. Ar menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Jason. Bagai anak kecil yang mendapatkan mainannya, Jason sungguh begitu bahagia.
" Apakah sesenang itu?"
Jason mengangguk ke arah Ar. Semua tentu menatap heran pada dokter tersebut. Dean yang dari tadi masih penasaran dengan Mesa alias Janella pun hanya dibuat tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Kini semuanya berada di rooftop rumah sakit milik Jason. Bangunan 3 lantai itu memang tidak sebesar rumah sakit kebanyakan. Namun disana Jason mampu menampung lumayan banyak pasien. Bukan hanya pasien dengan penyakit umum akan tetapi di satu lantai yakni lantai paling atas Jason menempatkannya sebagai lantai untuk pasien yang mengalami depresi. Sedangkan lantai 3, di sana Jason menempatkan pasien yang memiliki ketergantungan obat-obat terlarang.
Jason pun membedakan dokter dan perawat untuk jenis pasien tersebut dan pasien umum. Semua benar-benar terorganisir dengan rapi.
Beberapa cangkir kopi tersaji di atas meja. Beratapkan langit malam dengan jutaan bintang sungguh menambah syahdu. Keberhasilan menggagalkan ulah Malvis bahkan berhasil menangkap Malvis itu sendiri menjadikan wajah-wajah puas itu tergambar di sana.
Terlebih Janella, ia sangat puas sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sangat puas bisa membalas pria bajingan maniak sekss tersebut.
" Sekarang jelaskan pada kami. Jas, sejak kapan kau punya adik dan mengapa aku tidak pernah tahu soal itu bahkan kita sudah bertahun-tahun bersama. Separuh umur kita, kita habiskan bersama tapi mengapa kau tidak tahu fakta bahwa kau punya adik. Dan kau Jan, apa tujuan kamu melakukan hal tersebut. Kau bukanlah anggota klan mafia lalu mengapa kau tampak begitu dendam dengan Malvis."
Janella dan Jason saling pandang. Mereka berdua kompak mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. keduanya terlihat sama-sama menyimpan sesuatu dalam diri mereka.
“ Baiklah, aku akan bercerita terlebih dulu Tuan Ar. Dan Tuan Dean, mungkin inilah awal mula mengapa saya bisa tuan beli dari pasar gelap.”
__ADS_1
Janella mulai menceritakan kronologisnya mengapa dia sangat membenci Malvis. Saat itu Janella dengan sahabatnya berada di negara pizza untuk menempuh bidang spesialis di salah satu universitas yang berada di sana. Suatu ketika Jan dan sahabatnya yang bernama Leana berkunjung di sebuah pameran. Saat itulah Lea bertemu dengan Malvis. Lea yang memiliki wajah cantik langsung menarik perhatian Malvis.
Malvis pun kemudian dengan gencar mendekati Lea. Singkat cerita, Lea berhasil tunduk oleh pesona Malvis. Gadis itu sangat senang.tapi siapa sangka Malvis rupanya adalah seorang yang keji. Pria itu melemparkan Lea ke dunia malam. Ya, Malvis menjual Lea kepada pria-pria hidung belang. Jan yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Lea menganggap Lea menjalani kehidupan yang bahagia dengan Malvis, karena setelah keduanya bersama Jan dan Lea menjadi hilang komunikasi.
Hingga suatu ketika Lea berhasil menghubungi Jan dan meminta tolong. Jan pun berusaha menolong sang sahabat. Tapi nahas, sehari setelah Lea meminta tolong gadis itu sudah tidak bernyawa. Jan sungguh marah dan memikirkan cara bagaimana bisa mendekati Malvis.
Rupanya ia kurang beruntung, saat malam diadakannya pesta universitas beberapa orang tiba-tiba menculiknya. Dan dia baru tahu bahwa dia dijual di pasar gelap saat ia berada di dalam sebuah kapal. rupanya orang yang melakukannya adalah Malvis juga. Dari apa yang ia dengar, dia memang mencari mangsa gadis-gadis yang berasal dari luar negara tersebut dan menjualnya di pasar gelap untuk dijadikan budak sekss. Semakin marahlah Jan, ia bertekad menghabisi Malvis saat itu.
Tapi lagi-lagi takdir berkata lain. dia berhasil terjual, dan siapa sangka dia dibeli oleh Dean. Beruntung Dean hanya menggunakannya untuk memperdaya tikus bukannya untuk dijadikan pemuas hasrat.
“ Haah jadi begitu ceritanya. Dan kau mengapa kau bisa tahu bahwa kami akan menyerang kapal Malvis. Dan kau Jas, apakah karena Jan kau bersikukuh ikut?”
Jason mengangguk saat Ar bertanya. Sebenarnya ia sangat khawatir saat tahu jan menyusup ke kapal Malvis meskipun itu dengan cara terang-terangan. Malvis yang tidak terlalu mengenali wajah Jan tentu bisa sedikit ditipu dengan Make up yang dibuat oleh Jan pada wajahnya.
“ Kau sungguh melakukan hal yang berbahaya, bagaimana waktu itu jika bukan aku yang membelimu. Apa kau akan berakhir di dunia malam itu hah!”
Semua orang tentu terkejut dengan rekasi Dean yang seperti itu. Tapi kemudian Jan tersenyum. Gadis itu menangkap rona kekhawatiran dalam diri Dean. Dengan berani Jan meraih tangan Dean dan menggenggamnya.
“ Tapi nyatanya Anda yang menemukan aku tuan. Apakah mungkin kita berjodoh.”
Jason menepuk pelan keningnya dengan telapak tangan melihat kelakuan sang adik. Sedangkan Dean wajahnya sudah bersemu merah. Beruntung cahaya di rooftop itu temaram jadi wajah Dean tidaklah terlihat.
__ADS_1
“ Jas, kayaknya bakalan dapat adik ipar. Keren nggak tuh. Adik iparnya penjual narkobaa kakak iparnya dokter yang menolong orang ketergantungan narkobaa hahaha.”
Ar tertawa puas setelah mengatakan hal tersebut kepada Jason. Ini semua benar-benar seperti garis takdir yang sudah ditentukan. Kini giliran Jason yang bercerita. Jason memang sebenarnya masih memiliki keluarga. Namun keluarganya bukanlah dari kalangan mampu. Waktu kecil saat dia berada di jalanan sebenarnya bukan hilang. Tapi dia dibuang oleh ibu tirinya.
Jason disuruh memilih antara dia atau Jan yang harus meninggalkan rumah. Pada akhirnya tentu Jason memilih dirinya sendiri. Ia tidak mungkin membiarkan adik perempuannya itu menjadi gelandangan. Biarlah dia saja yang menjalani kerasnya hidup dan bukanlah sang adik.
Maka dari itu meskipun bagaimana caranya Ar membantu Jason mencari keluarganya tidak akan pernah ketemu karena Jason memberi informasi palsu. Dapat bertemu dengan Ar merupakan sebuah keberuntungan.
“ Maafkan aku Ar, aku sudah berbohong sejauh ini padamu.”
Bukannya marah Ar malah memeluk jason dengan erat. Ia tentu tahu rasanya berpisah dari keluarga karena paksaan. Jika Jason diusir maka Ar diculik. Sungguh ironi sekali cerita hidup mereka.
Maka dari itu Jason selalu menganggap Ar sebagai penolongnya. Aia akan melakukan apapun untuk Ar. Bahkan jika Ar menginginkan nyawanya maka tanpa ragu Jason akan memberikannya.
“ Baiklah, sudah tidak usah dibahas. yang lalu biarlah berlalu. Mari kita jalani masa depan dengan lebih baik. tapi aku sedikit heran, kalian berdua memiliki kegilaan yang sama. Haduuh bisa pusing gue kalau kalian jadi satu.”
Jason dan Janella saling pandang dan tertawa bersama. Apa yang dilakukan Janella tentu tidak lepas dari pengajaran Jason.
TBC
__ADS_1