
Baik Baskoro maupun Elisa terkejut dengan kemunculan seorang pria asing yang mengaku sebagai kekasih Elisa. Terlebih Baskoro, pria paruh baya itu seakan kehabisan nafasnya saat melihat tatapan tajam si pria asing.
" Jangan mengelak, jika mengelak maka kau akan bersama ayah durjana mu itu," bisik pria tersebut.
Elisa hanya diam tanpa bereaksi apapun. Sedetik kemudian pria itu dengan berani meraih pinggang Elisa dan merapatkan ke tubuhnya. Sungguh terlihat begitu posesif.
" Siapa kau?"
" Aku sudah bilang dia wanitaku berarti aku kekasihnya."
Baskoro memicingkan matanya. Dia tahu selama ini El tidak pernah memiliki kekasih. Sedangkan El sudah mengumpat pria tampan berwajah bule itu di dalam hatinya.
Dasar bajingan, dia seenaknya sendiri memelukku. Awas saja nanti, huh.
" Baiklah perkenalkan namaku Arduino pak tua atau lebih nyaman memanggilmu calon ayah mertua. Bukan begitu sayang."
Elisa membulatkan matanya, ia menatap tajam seakan melancarkan protes pada pria yang memeluk erat pinggangnya itu. Namun tampaknya Ar acuh dengan tatapan protes El. Saking kesalnya El mencubit pinggang Ar, namun pria itu sungguh tidak bereaksi apapun. Cubitan Elisa malah seperti gelitikan baginya.
" Itu tidak sakit nona tapi malah geli, dan kau membangunkan sesuatu di bawah sana," bisik Ar tepat ditelinga membuat Elisa meremang seketika.
" Baik yah, aku harus segera pergi. Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Elisa menjauh dari Baskoro, ia ingin segera lepas dari pria yang tidak dikenalnya itu. Baskoro hanya menatap heran ke arah sang putri. Hingga sampai di luar pekarangan kantor Ar tetap tidak melepas pinggang ramping El membuat gadis itu kesal.
" Lepaskan!"
" Tck, galak amat. Lagian kamu ini sudah ku tolong dua kali tapi nggak ada makasih-makasihnya."
" Dua kali, dua kali dari ma~"
Ucapan Elisa berhenti seketika saat ia melihat wajah Ar dengan seksama. Ia pun menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia ingat, pria itu adalah pria yang menolongnya saat malam hujan deras beberapa bulan yang lalu.
" Apakah sudah ingat? Baiklah jika sudah ingat, waktunya kau memenuhi janjimu yang akan membalas kebaikanku waktu itu karena menyelamatkan nyawamu."
" Tck, pamrih."
" Terserah, bodo amat dengan apa yang kau pikirkan. Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis nona."
__ADS_1
Elisa mendengus kesal. Ya dia memang pernah mengatakan akan mengucapkan terimakasih yang benar tapi sepertinya pria di depannya itu tidak akan puas dengan ucapan terimakasih saja.
" Lalu apa mau mu?"
Ar menyeringai, ia benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun dalam hati terdalam Ar bersyukur karena dia langsung meminta seseorang untuk mengawasi El diam-diam. Dan tadi saat El memasuki perusahaan ayah nya Ar yang masih berada di perusahaannya langsung pergi menyusul El saat mendapat laporan dari anak buahnya.
Sebelumnya Ar sudah menyelidiki seluruh hal yang berkaitan dengan Elisa termasuk mengapa kedua orang tua El berpisah. Dan hal yang membuat Ar sedikit terkejut yakni El adalah sepupu dari iparnya Silvya. Haish, sungguh dunia tidak selebar daun kelor begitu yang ada dalam pikiran Ar.
" Syukurlah kau tidak apa-apa bocah," monolog Ar dalam hatinya.
🍀🍀🍀
" Bagaimana apakah sudah di distribusikan."
" Siap sudah bos!"
" Bagus."
Seseornag tersenyum menyeringai. Benar kata sang kakak Dean bahwa di negara ini mudah sekali membuat seseorang mengeluarkan uang untuk mengonsumsi berbagai jenis narkotika. Namun yang paling diminati adalah jenis ganja.
" Baiklah kalau begitu, apakah rival kita sudah kelihatan?"
" Sudah bos, dia sepertinya sedang mendekati seorang gadis."
Anak buah orang itu memberikan laporannya lengkap dengan foto-foto yang di dapat. Ornag tersebut menyeringai lebar , ia mendapat sesuatu dari foto tersebut.
" I got you, wanita itu pasti akan jadi kelemahan mu. Baiklah, mari kita mulai bermainnya."
Ia meletakkan kembali foto-foto tersebut dan keluar pergi meninggalkan markas yang dia gunakan untuk menyimpan semua barang dagangannya.
*
*
*
Elisa sudah berada di kelasnya. Sungguh hari ini dimulai dengan hal yang tidak menyenangkan. Beruntung ia hanya punya satu kelas jadi suasana hatinya yang buruk tidak akan banyak mempengaruhi belajarnya.
__ADS_1
" Hei, ngelamun aja El."
" Oh Olin, dari mana kamu?"
" Tadi dari perpus nyari buku untuk matkul Bu Irene."
Elisa hanya mengangguk mendengar penjelasan sang teman. Tak berselang lama Bu Irene pun datang. Dosen matkul Bahasa Indonesia tersebut selalu datang sesuai jadwal. Tidak sekalipun ia membolos. Bahkan setelah menikah pun Bu Irene langsung mengajar.
" Kenapa sih kita harus belajar bahasa indonesia padahal kan kita dari sekolah dasar sudah diajarkan? Mengapa sudah duduk di bangku kuliah masih tetap harus mempelajari bahasa Indonesia. Siapa yang tahu dan bisa menjawab maka akan ada nilai tambah buat kalian."
Bu Irene memulai kuliahnya. Semua mahasiswa dalam mode diam, ada yang benar-benar berpikir tapi ada juga yang berusaha menghindari tatapan sang dosen agar tidak disuruh menjawab.
" Karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan. Dan masih banyak yang tidak menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Terbukti dari pembuatan makalah dan skripsi yang tidak kunjung selesai karena tata bahasa yang berantakan."
" Bagus Elisa, poin tambah untuk kamu."
Semua mahasiswa di kelas bernafas lega. Akhirnya ada juga yang menjawab pertanyaan Bu Irene. Kuliah hari ini berlangsung dengan lancar. Tidak ada yang berani ribut di kelas. Meskipun Bu Irene bukan lah dosen yang killer akan tetapi beliau adalah dosen yang tegas dan tidak segan-segan memberi nilai buruk. Bahkan Mahasiswa yang tidak memperhatikan mata kuliahnya bisa dipastikan tidak bisa mengikuti ujian dan harus mengulang di semester depan.
" Baiklah hari ini cukup sekian, tugas kalian adalah meresensi buku. Untuk bukunya terserah kalian mau fiksi atau non fiksi. Tugas dikumpulkan minggu depan tepat sebelum jam masuk. El, kamu yang mengkoordinir tugasnya."
" Siap bu!"
Semua bernafas lega saat dosen tersebut keluar dari kelas.
" Cieee asisten dosen nih bentar lagi kayaknya," ledek salah satu teman kelas Elisa.
" Jangan aneh-aneh. Selesaikan tugas kalian dan nilai kalian akan aman."
Cep, orang itu terdiam seketika. Elisa benar-benar menanggapi ornag itu dengan datar bahkan tanpa ekspresi. Ia pun melenggang keluar diikuti oleh Olin.
" Gilaa tuh cewek kenapa sekarang jadi nyeremin gitu ya?"
" Iya nggak kayak pas maba dulu. Sekarang sikapnya anyep bener."
Elisa masih bisa mendengar kasak kusuk di belakangnya. Namun dia acuh, biarkan saja mereka mau berbicara apa. Bagi Elisa saat ini adalah fokus terhadap kuliahnya dan lulus tepat waktu.
TBC
__ADS_1