Mafia Somplak & Cewek Anyep

Mafia Somplak & Cewek Anyep
BAB 26. Apa Yang Harus Aku Katakan?


__ADS_3

Ar sungguh lupa bahwa dia sudah berjanji kepada sang kakak ipar untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit. Bahkan semalaman dia begadang melihat rekaman kamera pengawas yang diberikan Drake. Tak ingin melakukan sendiri, Ar tentu menarik Roki untuk ikut memelototi layar laptop tersebut.


“ Please atulah bos udah ya. Mata udah nggak sanggup ini. Besok kan aku kudu kerja di perusahaan bos, jadi please aku butuh istirahat bos.”


Itulah rengekan yang Roki lontarkan kepada Ar. Akhirnya Ar menyetujui Roki untuk Tidur namun tidak dengan dirinya. Sampai subuh Ar masih betah terjaga. Namun tampaknya usahanya tidak sia-sia. ia menemukan sebuah petunjuk disana.


“ Get it!!”


Ar pun kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa. Bukan hanya sekedar tertidur tapi ternyata Ar pingsan tak sadarkan diri. Tentu saja Roki yang hendak beranjak ke kamar mandi terkejut dibuatnya. 


“ Ar … Ar …!!!”


Roki berusaha membangunkan Ar namun nihil, pria itu sama sekali tidak bergerak. Bahkan denyut nadi Ar melemah. Roki yang sedikit bingung langsung menghubungi Benjiro. Beruntung tempat tinggal Benjiro tidak jauh dari apartemen Ar. Hanya butuh waktu 15 menit Benjiro sudah berada di apartemen Ar.


“ Roki, At kenapa?”


“ Nggak tahu gue. Ayo bawa ke rumah sakit aja.”


Benjiro menggendong Ar dibantu dengan Roki. keduanya berlari sebisa mungkin menuju ke mobil. di perjalanan Roki menghubungi dr. Dika, tampak nada cemas dari seberang sana saat menanyakan kondisi terkini Ar.


“ Apa bos punya sakit serius?”


“ Entahlah aku nggak tahu Ben. Waktu kapan Ar masuk rumah sakit dan dirawat 3 hari karena salah makan. Lalu dr. Dika memintaku untuk mengawasi obat yang dikonsumsi Ar tapi beliau tidak menjelaskan apapun mengenai keadaan Ar.”


Benjiro menatap wajah orang yang sudah dikenalnya lama itu dengan seksama. Ar terlihat pucat bahkan bibir Ar tampak putih kebiruan. Ia pun memeriksa denyut nadi Ar yang terlihat lemah.

__ADS_1


“ Roki lebih cepat lagi!”


Roki mengangguk, tampak rona kesedihan dan kecemasan di wajah Roki maupun Benjiro. Keduanya benar-benar merasa takut saat ini.


“ Ar, aku harap tidak terjadi apa-apa denganmu,” guman Roki lirih.


“ Ar please, lo jangan sakit begini Ar. Gue nggak bisa lihat lo sakit,” Benjiro pun bermonolog sambil mengusap wajah Ar yang bercucuran keringat dingin.


Di pintu IGD, Dika sudah bersiap dengan brankar dan beberapa tim medis. Kebetulan malam ini Dika mendapat jaga malam. Seharusnya pagi ini dia sudah pulang, namun ketika mendapat panggilan dari Roki ia pun urung. 


Dika memilih tetap berada di rumah sakit dan menunggu kedatangan Ar. Ia sungguh cemas. Peringatan beberapa hari yang lalu untuk cek up menyeluruh diabaikan oleh Ar. Sebenarnya Dika enggan membuat praduga, namun sebagai dokter tentu ia tahu dan paham serta sudah bisa memprediksi bahwa ini pasti akan terjadi.


Mobil Roki berhenti tepat di depan pintu IGD. Benjiro yang berada di kuris belakang bersama Ar berusaha mengeluarkan Ar. Dika pun ikut membantu mengangkat tubuh tak sadarkan diri Ar dan menaruhnya di atas brankar. Dika langsung mendorong brankar tersebut ke ruang tindakan.


Roki dan Benjiro tentu sangat cemas.  Hal yang sangat langka, keduanya masih mengenakan piyama mereka saat datang ke rumah sakit. Keduanya acuh menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana. Boro-boro mau ganti baju, baik Roki dan Benjiro sudah sama-sama panik dengan kondisi Ar.


" Apa kau baik-baik saja Ar? Kau sungguh bebal, aku sudah menyuruhmu dari kemarin untuk datang tapi kau sama sekali tak mengindahkan itu."


" Kakak ipar, atulah please orang sakit jangan dimarah-marahi."


" Tahu sakit masih aja ngeyel."


Ar hanya nyengir, dengan tubuh yang lemah pria itu masih bisa bicara dengan candaan kepada Dika. Sebenarnya Ar terkejut saat terbangun ia sudah berada di ruangan rumah sakit tersebut. Baru saja ia menemukan petunjuk orang yang menyerangnya tapi dia sudah harus berada di tempat ini sekarang.


Ar yakin kali ini ia tidak akan lolos dari kakak iparnya yang dokter itu. Ar menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


" Punya ipar dokter tuh ngeri-ngeri sedap. Ya begini ini ujung-ujungnya. Sakit dikit aje hebooh minta ampun."


" Jangan mengataiku Ar, kuadukan kau pada Sisi."


Cep, Ar langsung kicep diam seribu bahasa. Ancaman iparnya itu tentu membuat dirinya tidak bisa berkutik. Dika kemudian keluar memberitahu Roki dan Benjiro mengenai keadaan Ar. Keduanya tampak lega. Dika juga menjelaskan bahwa sementara ini Ar akan berada di rumah sakit untuk pemeriksaan. Benjiro dan Roki tentu paham. Mereka lalu kembali untuk berangkat ke perusahaan.


Dika juga menghubungi Radi. Sang kakak harus tahu bahwa mahasiswanya itu tengah berada di rumah sakit. Awalnya Ar menolak, tapi bagaimanapun sebagai mahasiswa harus memberitahu keadaannya jika sakit kepada dosen agar dianggap tidak bolos.


" Ya ampun aku benar-benar tidak bisa berkutik. Heiii aku ini king mafia lho. Sungguh aku dinistakan begini."


" King mafia mu tidak berlaku di sini."


Jleb, kata-kata Dika bagai pedang yang menghujam jantung Ar. Tajam, menusuk, meskipun tidak berdarah tapi sakit. Itulah perumpamaan yang Ar katakan pada Dika. Dika hanya memutar bola matanya jengah mendengar adik iparnya yang sangat lebay saat ini.


Tiba saatnya Ar dibawa ke ruang MRI. Ar benar-benar pasrah saat ini. Badan tinggi berotot itu kini tampak lemah tak berdaya dengan pakaian pasien. Dika membawa Ar dengan kursi roda. Tadinya Ar hendak  protes. Dia masih bisa berjalan namun Dika tetap memaksa Ar memakai kursi roda. Lagi-lagi Ar hanya bisa pasrah dengan pengaturan sang kakak ipar. 


Tubuh Ar mulai dibaringkan dan masuk ke alat MRI. Dika mengamati melalui layar monitor. Berkali-kali Dika berdoa agar praduganya salah. Tapi fakta itu tidak bisa dibantah. 


Dia adalah dokter, diagnosa awal yang ia lakukan tidak mungkin salah. Selama ini berprofesi sebagai dokter, bahkan mendapat predikat dokter bedah terbaik baru kali ini ia berharap diagnosanya salah.


" Ulang sekali lagi!"


Dika meminta pemeriksaan ulang. Namun hasilnya tetap sama. Ar yang tidak tahu hanya patuh saja saat tubuhnya kembali dimasukkan ke alat MRI. Sedangkan Dika ia membuang nafasnya kasar. Ketika ia menunduk.


" Apa yang harus aku katakan kepada sisi, daddy dan mommy."

__ADS_1


Hanya itu yang keluar dari bibir Dika. Lidahnya sungguh kelu, tubuhnya begitu lemas. 


TBC


__ADS_2